
"Sayang, kenapa kau tidak memanggilku?" tanya Bram saat Keinya keluar dari kamar mandi.
"Papih, aku baik-baik saja."
Bram memegang tangan Keinya dan menuntun untuk berjalan ke Walk in closet.
"Papih, pilihkan baju yang tertutup!" pinta Keinya, saat Bram membuka lemari."
Bram menarik satu dress panjang "Apa ini?" tanya Bram sambil menperlihatkannya pada Keinya.
Keinya pun mengangguk dengan pilihan Bram.
Dan dengan perlahan, Bram membantu Keinya untuk mengganti pakaiannya. Sekalipun Keinya kekeh ingin memakai pakaian sendiri, tapi Bram tak menghiraukan celotehan istrinya yang melarangnya.
Setelah selesai membantu memakaikan pakaian untuk Keinya, Bram mengambil handuk kecil "Sayang, duduklah aku akan mengeringkan rambutmu."
Keinya pun duduk dimeja rias. Dengan lembut Bram mengeringkan rambut Keinya.
"Sayang, apa kau tidak gugup?" tanya Bram dengan tangan yang masih mengeringkan rambut istrinya.
"Kenapa harus gugup?" tanya Keinya.
"Sayang, kau akan menghadapi operasi besar, apa kau tidak merasa takut?"
Mendengar ucapan Bram, Keinya merubah posisi duduknya. Dia meraih tangan Bram lalu menggengamnya.
"Ada Allah yang selalu bersamaku." Keinya tersenyum manis pada Bram.
Mendengar perkataan istrinya yang begitu tulus dan tegar mata Bram berkaca-kaca. Betapa beruntungnya dia mendapatkan istri seperti Keinya. Bram menekuk kakinya dan berlutut, dia memeluk pinggang istrinya dan menaruh wajahnya diperut Keinya.
"Maafkan aku, maafkan aku telah membuatmu harus merasaka sakit setelah operasi, maafkan aku karna telah membuatmu tidak nyaman karna mengandung anak-anaku," ucap Bram sambil teriksak. Dia menangis tersedu-sedu. membayangkan rasa sakit yang akan istrinya tanggung setelah operasi membuat Bram merasa amat bersalah pada wanita yang amat dicintainya.
Keinya membelai rambut Bram yang masih terisak. " Papih, aku sungguh tidak apa-apa. Berhenti menangis atau kita akan telat pergi kerumah sakit."
Bram langsung menganggkat kepalanya. Seketika Keinya menghapus air mata Bram.
Cup. Bram mencium bibir Keinya sekikas kemudia dia bangkit dari berlututnya. "Ayo!" Bram menuntun Keinya untuk berdiri
Sementara Aska dan Aysel.
"Mas, ngapain sih mundar-mandir gitu?" tanya Aysel yang sedari tadi sudah pusing melihat suaminya terus mundar-mandir.
Mereka saat ini sedang berada di London. Dan mereka langsung ke rumah Bram yang ditempati oleh Zoya. mereka tak ingin ke Apartemen Bram karna takut mengganggu Keinya.
"Yank, kamu ga khwatir apa, putri kita mau operasi?"
"Ya ampun mass ... kamu mundar-mandir gitu tetep ga akan ngerubah apapun."
"Si Bram sih gercep banget sihh, Keinya masih muda yank. belum juga 20 tahun udah harus ngalamin operasi." Aska terus mundar-mandir. Dia benar-benar mengkhawatirkan putrinya yang akan melakukan operasi sesar. Bayangan dulu saat Aysel melakukan operasi sesar melahirkan Raffa melintas diotaknya. Dulu Aska hampir setres karna melihat istrinya kesakitan setelah operasi dan kini dia juga harus menyaksikan putrinya merasakan sakit pasca operasi.
"Doain aja mas ... Dulu juga aku ngelahirin Keinya umur aku 20 tahun, sendiri lagi ga ada kamu disisiku."
Perkataan Aysel sukses membuat langkah Aska terhenti, Aska menggit bibir bawahnya karna menyadari bahwa dia telah mengungkit luka lama istrinya.
Aska pun duduk disebelah Aysel.
"Ia, ia udah dimaafin." Aysel menyela ucapan Aska yang pasti akan meminta maaf.
"Mass geliii!" teriak Aysel saat Aska menciumi wajahnya secara membabi buta.