Uncle Bram

Uncle Bram
104



Aysel menghampiri keinya yang sedang terbaring diranjang.


"Mommy!" Panggil Keinya. dia merentangkan kedua tangannya agar Aysel memeluknya.


Dengan senang hati Aysel memeluk Keinya yang tengah berbaring.


"Mo-mommy maafkan semua kesalahanku selama ini." Keinya teriksak dipelukan Aysel, sekarang dia tau bagaimana perjuangan seorang ibu.


Aysel juga ikut terisak, putrinya kini sudah menjadi seorang ibu. "Mommy akan melakukan semua untuk anak-anak Mommy, dan kau juga harus melakukan yang terbaik untuk anak-anakmu," ucap Aysel. Lalu melepaskan pelukannya pada Keinya dan mengahapus air mata putrinya.


Aska dan Raffa pun masuk.


"Raffa, peluk kaka mu nak!" titah Aska.


"Kenapa aku harus memeluknya," ucap Raffa dengan nada menyebalkan. Tapi dia terus melangkahkah kakinya dan memeluk kakanya. hanya sebentar Raffa memeluk Keinya. "Ka, jika kau mengomeli anak-anakmu, seperti dulu kau mengomeliku, aku akan membawa semua keponakan ku pergi ke Spanyol," ucap Raffa dengan nada yang super menyebalkan.


Yah, sepertinya memang hubungan kakak-beradik walau umur berapa pun pasti akan tetap selisih paham, seperti sekarang. Keinya ingin sekali menjitak adiknya karna membuka aibnya dihadapan suaminya. Namun kali ini dia hanya bisa tersenyum menghadapi tinggah menyebalkan adiknya. Dan tentu itu tidak disia-siakan oleh Raffael. Diam-diam Raffael menjulurkan lidahnya pada kakanya yang tengah menatap tajam dirinya. Dan tentu interaksi Keinya dan Raffa tak luput dari penglihatan Bram. Bram memalingkan wajahnya dia menahan senyum karna semenjak menikah ini kali pertama dia melihat Keinya yang menurutnya sama seperti Keinya kecil yang sangat menjengkelkan. Bram masih mengingat dengan jelas bahwa Keinya kecil sangat ngin membuat adiknya menangis, bahkan Bram mengingat jelas bahwa dirinya pernah menjadi korban dari Keinya kecil.


Tak lama, pintu ruangan pun terbuka. Dan datanglah putri-putri cantik mereka.


Keinya tersenyum. perawat meletakan Vania disebelah Keinya dan tania digendong oleh Bram.


"Sayang lihat lah dia sangat cantik seperti dirimu," ucap Bram sambil mengecup pipi Tania.


"Dia mirip Keinya kecil Bram," ucap Aysel.


"Hmm," jawab Bram singkat. Dia terlalu asik memandang wajah putri-putrinya.


"Kei, apa asimu belum keluar?" tanya Aysel.


"Sudah mommy, tapi aku belum bisa bangun untuk menyusui mereka.


"Sayang tak perlu memaksakan diri, kita bisa memberi dulu susu formula untuk sikembar,"


"Apa kau tidak keberatan?" tanya Keinya. Pasalnya Bram pernah bercerita bahwa dulu Tya tak mau memberikan Asi kepada Lila. Dan Keinya takut jika Bram kecewa padanya.


Bram tersenyum. "Kenapa harus keberatan sayang, kau sedang kesakitan sekarang."


Malam hari.


Setelah dirumah sakit seharian Aska, Aysel, Raffa dan Lila kembali lagi ke Apartemen Bram.


Dan sikembar juga sudah kembali keruang bayi.


"Papih!" panggil Keinya.


Bram yang sedang melihat hapenya mengecek laporan yang dikirim mark, langsung memandang istrinya.


"Ya, sayang."


"Ini sudah larut, tidurlah."


"Apa perutmu masih sakit?" tanya Bram.


Keinya menggeleng berbohong.


Bram lebih mendekatkan dirinya pada istrinya. "Sayang, apa kau tidak menganggap ku sebagai suami mu?" tanya Bram.


"Maksud mu papih?"


"Berhentilah berbohong padaku. Jika kau sakit, katakan padaku bahwa kau kesakitan, Jika kau takut katakan padaku jika kau ketakutan. Jangan pernah menyembunyikan apapun lagi dariku. Kau mengerti maksudku?"


Mata Keinya berkaca-kaca. Rasa syukurnya semakin bertambah, dia benar-benar bahagia menikahi suaminya walau umur mereka terpaut 27 tahun.


"Maafkan aku, aku tak bermaksud membohongimu. Aku mengerti, aku akan jujur padamu tentang apa yang aku rasakan."