Uncle Bram

Uncle Bram
70



"Mo-mommy?" Keinya langsung berhambur memeluk Aysel.


"Bagaimana kabar cucu mommy didalam sana?" tanya Aysel saat membalas pelukan Keinya.


"Mommy, kau tidak menanyakan kabarku?" balas Keinya sambil melepaskan pelukannya.


"Kei, kau tak membiarkan mommy masuk?" Aysel bicara tanpa menjawab pertanyaan Keinya, membuat Keinya memutar matanya jengah.


"Mommy, kenapa kau tidak mengabariku dulu jika akan Ke London? ... jika tau mommy akan kesini aku bisa menyiapka sesuatu untuk mommy," ucap Keinya saat Aysel duduk dan dia memeluk pinggang Aysel. Rasanya Keinya ingin sekali menangis dipelukan mommynya, tapi dia tak ingin mommy nya tau bahwa dia sedang ada masalah dengan suaminya. Bagaimana pun dirinyalah yang membuat keputusan untuk menikah dengan Bram, jadi dia tak mau ada seorang pun mengetahui masalahnya.


"Mommy merindukan mu, jadi mommy pergi mendadak. dimana Lila?" tanya Aysel sambil mengelus rambut Keinya. Ntah kenapa seminggu belakangan ini Aysel selalu bermimpi melihat Keinya menangis.


"Lila sudah berangkat sekolah. Mommy aku merindukan daddy, kenapa daddy tak ikut bersama mommy.?


"Daddy akan kesini saat menjemput mommy, apa kau tidak mengidam sesuatu?"


"Mommy, aku hanya ingin memeluk daddy," jawab Keinya sambil melepaskan pelukannya pada Aysel.


"Apa kau baik-baik saja kei?" Aysel sangat hapal kelakuan putrinya, dulu jika Keinya ada masalah disekolahnya dia akan langsung mencari Aska dan menangis sesegukan sambil mengadu.


"Mommy, aku baik-baik saja." Keiny menjawB gugup karna Aysel memandangnya dengan pandangan menyelidik. "Mommy ayo sarapan!" Keinya mencoba mengalihkan pembicaraan dan dia buru-buru meninggalkan Aysel menuju meja makan.


Tapi Aysek tak langsung percaya begitu saja. Naluri seorang ibu tak mungkin bisa diragukan.


.


.


.


"Kei, hubungi suami mu, ajak dia makan siang bersama kita!" titah Aysel saat mereka duduk di sofa. Sebentar lagi jam makan siang, Aysel ingin memasakan makan siang untuk Keinya dan makan bersama dengan Bram.


"Ta-Tapi mommy?" Keinya mengigit bibir bawahnya. Bagaimana mungkin dirinya menghubungi Bram terlebih dahulu, sedangkan dirinya sudah tak bicara para Bram selama dua bulan.


"Ah ia mommy aku akan menelponnya." Mau tak mau Keinya pun menelpon Bram.


Sedangkan Bram.


Dua bulan berlalu, Keinya sama sekali gak mengeluarkan satu patah kata pun pada Bram. jika ditanya Keinya hanya menangguk dan menggeleng. Jika Bram menanyakan apa Keinya mengidam sesuatu Keinya hanya menggeleng. Bahkan selama dua bulan mereka tak pernah lagi makan bersama. Jika tidur, Bram memeluk Keinya dari belakang dan jika Bram sudah tertidur, Keinya dengan cepat pindah kekamar Lila.


Kelewatan memang jika Keinya bersikap seperti itu pada suaminya. Namun jika dipikir lagi, wajar sangat wajar Keinya bersikap seperti itu pada Bram. Umur nya masih muda, dan selama hidupnya dia tak pernah diperlakukan buruk oleh siapa pun, dan saat dia diperlakukan buruk oleh Bram, rasa sakit yang didapat Keinya tentu berkali-kali lipat.


Dan siang ini Bram sedang mengadakan rapat bersama para Ceo yang memimpin anak perusahaannya di berbagai negara.


Saat karyawannya akan memulai rapat ponsel Bram berbunyi. Dan betapa terkejutnya Bram saat melihat ID si pemanggil.


"Ha-Haloo." Jawab Bram dengan gemetar. dia ingi sekali berteriak senang saat Keinya menelpon nya dan berbicara untuk pertama kalinya pada Bram.


"Hubby, bisakah kau pulang, aku ingin makan siang bersamamu!" Jawab Keinya ditelpon.


"Baiklah sayang, tunggu aku pulang sekarang." jawab Bram, lalu dia mematikan teleponnya. "rapat kita tunda, kalian bisa kembali ke Hotel tempat kalian menginap. Rapat akan dilanjutkan Besok!" ucap Bram. Dia kembali menjadi Bram yang berkharisma dan berwibawa saat berbicara dengan karyawannya.


.


.


"Mommy lihatkan! aku dan suamiku baik-baik saja," ujar Keinya. Dia sengaja tak mengatakan Aysel ada di Apartemennya, karna takut jika Aysel menganggap jika nantinya Keinya dan Bram bersandiwara, walau faktanya memang begitu, dan sekarang mau tak mau dia harus bersikap biasa saja pada Bram, seolah tidak ada yang terjadi.


"Mommy akan memulai memasak, kau nikmati saja cemilanmu," ucap Aysel. Kemudian dia bangkit dan menuju dapur.


Setelah sekian lama Aysel berktutat di dapur, pintu Apartemen terbuka. Dan Bram lah yang datang. Saat Bram kedapur untuk minum, dia menjatuhkan tas kerjanya karna melihat Aysel ada didapurnya.


"Bel ..."


Guys untuk kalian penggemar novel Uncle Bram, aku minta Vote ya dari kalian, karna ini hari senin hari dimana seluruh author mengumpulkan vote. dan akan kembali up lagi setelah rank Uncle Bram naik . maafkan aku yang suka maksa ya hahaahah, mari kita saling menguntungkan. kalian butuh bacaan aku butuh vote hahahaha