Uncle Bram

Uncle Bram
65



"Kei,lebih baik kau memakai sendal saja darin pada kau memakai flatshoes. Itu akan memperburuk luka di kakimu," saran Laura saat dia melihat Keinya meringis karna memaksakan untuk memakai flatshoes.


"Laura, aku tak percaya diri jika harus memakain sandal.dan aku juga malu jika orang lain melihat luka di kakiku," jawab Keinya sambil mengangkat tangan nya agar Laura membantu nya berdiri.


mereka pun keluar dri Apartemen Laura menuju ke Basement. Mereka harus berjalan pelan-pelan karna Keinya hanya berjalan dengan satu kaki, sedangkan kaki yang satu nya lagi dia angkat kedepan. Karna setiap kaki nya menapak dia akan merasa perih apalagi dia memakai flatshoes.


Saat Keinya dan laura memasuki mobil seseorang memperhatikan mereka dari dekat. Ya orang itu adalah Bram, dia sudah tiba, 20 menit sebelum Keinya dan Laura keluar, beruntung ada tempat kosong yang tak jauh dari mobil Keinya sehingga Bram bisa memarkirkan mobil nya dan bisa melihat mobil Keinya.


"Maafkan, aku sayang!" lirih Bram yang menatap Keinya dengan sendu. Hati nya mencelos ketika melihat Keinya hanya berjalan menggunakan satu kaki.


Saat mobil keinya maju, Bram pun mengikuti mobil Keinya. Apapun yang terjadi dia harus membawa Keinya pulang dan meminta maaf pada istri yang telah dia sakiti.


"Kei."


"Ya laura"?


"Aku akan menemanimu, aku tak mungkin membiarkan mu sendiri," ucap Laura yang merasa tak tega melihat keinya harus masuk ke rumah sakit sendiri.


"laura aku bukan anak kecil, aku tak apa-apa Percayalah padaku." balas Keinya terkekeh. Sepanjang pverjalanan Laura terus saja mengkhawatrikan dirinya.


Setelah Menunggu cukup lama untuk mengantri akhir nya Keinya pun dipanggil.


" Maaf nona Keinya, apa anda datang bersama suami anda atau keluarga anda"?tanya dokter setelah Keinya selesai usg. Saat melihat anak nya pertama kali di monitor dia tak kuasa menahan air mata harunya.


" Maaf dok, apa ada masalah dengan kandungan saya.?


"Hanya sedikit nona, saya perlu berbicara dengan suami atau keluarga anda."


"Saya suaminya Dok!" Suara bariton itu datang dari arah belakang. Membuat keinya memejamkan mata karna dia sendiri tau siapa pemillik si suara itu.


Ya siapa lagi kalau bukan suaminya.


Bram pun duduk Disebelah keinya, Keinya hanya bisa memejamkan matanya, dia meremas kedua tangan nya karna jujur saja dia masih takut pada Bram, bayangan saat dirinya di tarik paksa Bram dan di bentak oleh Bram kembali lagi membuatnya ketakutan saat Bram duduk di sebelahnya. dia tak berani menatap Bram dan dia hanya bisa meremas kedua tangan nya dengan lebih kencang.


"kandungan istri anda ... "


terimakasih untuk kalian yang sudah mendukung uncle Bram dengan ikhlas, Uncle Bram tak akan jadi apa apa tanpa kalian, doakan aku agar bisa terus up dan membahagiakan kalian. sambil menunggu uncle bram up kalian bisa baca ulang kisah aska dan aysel ya.