
Bram memeluk Keinya dari belakang, Keinya tersenyum saat dia melihat pantulan suaminya dikaca. Menurut Keinya ketampanan Bram meningkat saat suaminya memakai Tuxedo dan baju koko.
Hari ini Bram mengajak istrinya untuk menghadiri pesta ulang tahun rekan bisnisnya. Dan ini kali pertamanya Bram akan mengenalkannya pada rekan bisnisnya yang berada di Indonesia.
"Kau, cantik sekali." Bram menatap kagum pada istrinya yang memakai gaun tertutup namun tetap terlihat cantik dan elegant.
Keinya berbalik menghadap suaminya, dia menautkan kedua tangannya pada leher suaminya. "Kau juga terliahat sangat tampan, papih."
"Bolehkan aku menciumu?" pinta Bram, yang merasa terhipnotis oleh kecantikan istrinya.
Keinya menggeleng, "Lipstik ku, akan hilang nanti jika kau menciumku," balas Keinya menggoda suaminya.
Namun seperti biasa Bram tak menghiraukan istrinya. Dia mencium sekilas bibir istrinya. Mungkin jika mereka sedang tidak ada acara Bram akan melakukan hal lebih, karna malam ini ketiga putrinya menginap dirumah Aysel.
Sampailah mereka ditempat tujuan, di sebuah hotel megah di Jakarta.
Keinya dengan setia mengandeng tangan suaminya.
Semua tamu, takjub melihat Bram dan Keinya. Mereka kagum terhadap kecantikan Keinya. Dan semua rekan bisnis Bram juga sudah tau bahwa Bram menikahi anak sahabatnya.
Bram menyapa satu persatu temannya, dia memperkenalkan istrinya pada teman-temannya. Namun saat Keinya ingin membalas setiap uluran tangan, Bram dengan sigap menahannya karna dia tak ingim istrinya disentuh orang. Dan semua hanya menggeleng melihat sikap Bram yang
sangat posesif terhadap istrinya.
Saat mereka akan maju menyapa yang mempunyai acara, Bram menyenggol tubuh seorang wanita. hingga wanita itu hampir terjatuh. Untung saja Bram dengan sigap, Bram menahan tubuh wanita itu dengan satu tangannya.
Hati Keinya memanas melihat apa yang dilakukan suaminya, walau dia tau Bram memegang wanita itu karna reflek.
Keinya pun melepaskan tangannya dalam gandengan Bram, dan terlihat jelas mimik muka Keinya yang berubah.
Menyadari istrinya cemburu, Bram yang sudah dalam posisi semula langsung merangkul, pundak Keinya.
"Maafkan saya, Nona," ucap Bram pada wanita yang telah dia senggol.
Wanita itu tersenyum, "Tidak, apa-apa tuan." Lalu wanita itu berlalu pergi.
Setelah wanita itu pergi, Bram langsung melihat kesampingnya, dia tau bahwa saat ini istrinya sedang cemburu. "Sayang, kau lihatkan aku tidak sengaja memegannya," ucap Bram yang takut jika istrinya salah paham. Apalagi Bram sadar walaupun sikembar sudah lahir, Keinya masih terus fosesif kepadanya dan selalu ketakutan jika Bram tergoda oleh wanita lain.
Keinya tersenyum, "Aku tau," jawab Keinya dengan senyum yang dipaksakan.
Bram menelan ludahnya. Dia tau walau istrinya tersenyum tapi istrinya masih cemburu padanya. Yang ada dipikirannya hanya segera pulang dan membujuk istrinya karna dia tak mau istrinya mendiamkannya lagi.
Setelah menyapa pemilik acara, Bram dengan segera meninggalkan pesta.
Hening
Hening
Hening.
Hanya ada keheningan didalam mobil, Keinya memalingkan wajahnya ke arah jendela. Entah kenapa Keinya masih merasa kesal pada kejadian pesta. Mungkin itulah satu-satunya kekurangan Keinya. Sebagai istri dan ibu dari 3 orang anak Keinya yang masih sangat muda berusaha memberi yang terbaik untuk suami dan anak-anaknya. Tapi dia tak bisa mengontrol diri ketika merasakan cemburu.
Bram yang sedang menyetir, sesekali melirik kearah istrinya. Namun Keinya sama sekali tak bergeming. Dia benar-benar ketakutan jika istrinya mendiamkannya lagi.
Tak tahan karna diacuhkan, Bram langsung meminggirkan mobilnya padahala hanya sebenar lagi mereka sampai kerumah.
"Sayang, apa kau masih marah?" tanya Bram dengan satu tangan menggemgang tangan Keinya.
"Aku hanya lelah dan mengantuk," jawab Keinya datar tanpa mengalihkan pandangannya dari arah jendela.
Keinya langsung mendahului Bram turun dari mobil.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Keinya terbata-bata. Saat suaminya menggendongnya dari belakang.
"Bukankah, kau lelah, sayang," ucap Bram dengan tersenyum.
"Turunkan, aku!" titah Keinya dengan masih bersikap datar.
Namun Bram tak menuruti keinginan istrinya. Dia terus berjalan, dan Keinya terpaksa menautkan tangannya pada leher suaminya. Untung saja mereka tiba saat larut malam hingga semua pekerja sudah istirahat dikamar masing-masing.
Saat sampai dikamar mereka, Bram langsung membaringkan tubuh istrinya diranjang, dia dengan cepat membuka tuxedo dan kemejanya hingga dia hanya bertelanjang dada.
Bram langsung berbaring disebelah istrinya yang masih diam dan tak mau melihatnya.
"Katakan sayang, kenapa kau marah?" tanya Bram dengan satu tangan menopang kepalanya dan satu tangan membelai pipi istrinya.
"Aku hanya lelah," jawab Keinya dengan masih memalingkan tatapannya.
Lalu Bram merubah posisinya, dia menindih tubuh istrinya.
Tanpa aba-aba, Bram menarik dagu Keinya, dan ketika Keinya menghadap ke arahnya. Bram langsung mencium bibir istrinya. Dia Awalnya Keinya tak mau membuka mulutnya. Namun karna permainan suaminya yang lihat, dia pun terbuai.
Namun tak lama Keinya menangis. Dan Bram pun menghentikan ciumannya. Lalu kembali berbaring disisi istrinya.
"Kenapa kau menangis sayang, apa aku mempunyai kesalahan?" tanya Bram dengan satu tangan yang menarik tangan istrinya dan mengarahkan pada pingganya. Dan kini Keinya menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"A-aku cemburu," lirih Keinya dengan pelan namun Bram masih bisa mendengarnya.
"Sayang, lihat aku!" titah Bram.
Keinya memberanikan diri menatap suaminya. Bram langsung menghapus air
mata istrinya dengan ibu jarinya.
"Maafkan aku, aku tak bisa mengontrol diriku ketika aku cemburu, aku takut wanita lain mengambilmu dariku," ucap Keinya yang sudah mulai jujur tentang apa yang dia rasakan.
Bram tersenyum dan mengecup kening istrinya.
"Apa aku menyebalkan?" tanya Keinya lagi.
"Kau tidak menyebalkan sayang, Saat dipesta tadi aku pun merasa cemburu saat teman-temanku memandang kagum kepadamu."
"Papih, maafkan aku, aku berjanji takan cemburu lagi kepadamu."
"Kau tidak akan cemburu lagi padaku? apa kau akan berhenti mencintaiku?"
Tanpa menjawab pertanyaan suaminya, Keinya langsung mencium sekilas bibir suaminya.
"Kau tadi bertanyakan apa salahmu?"
Bram pun menangguk.
"Salahmu, adalah kau terlalu tampan, papih."
Mendengar ucapan istrinya Bram kembali menindih tubuh istrinya dan menghujani istrinya dengan ciuman.
Dan author pun tak tau selanjutnya mereka melakukan apa 😂😂😂😂