
Bram yang sedang duduk di ayunan menoleh kearah belakang. " Pa'an." jawab Bram tanpa minat.
Aysel mendekat dan duduk disebelah Bram.
"Lu, lagi ada masalah Bram sama Keinya?" tanya Aysel.
"Gak, gue ga ada masalah," jawab Bram tanpa minat.
"Bram lu gak lupa, kan, lu nikah sama abg?" tanya Aysel.
Bram yang awalnya mendengarkan tanpa minat langsung menoleh kearah mertuanya. "Maksud lu?" tanya Bram mengernyit heran.
"Bram, umur Keinya masih muda, dia belum tentu tau apa yang lu rasain. Kalau lu ga bilang dimana kesalah istri lu, dia ga bakalan tau. Trus apa dengan lu bersikap cuek anak gue bakal sadar, atau lu bahagia?" tanya Aysel. "Tugas lu, kan, sebagai suami buat nuntun keluarga lu."
Bram merasa tertohok dengan ucapan mertuanya, dia sadar bahwa disini dia yang salah. Padahal istrinya telah memberikan yang terbaik untuknya dan ketiga putrinya. Namun, hanya satu kesalahan istrinya dirinya malah tega mendiamkan Keinya.
"Vania, masih sama Aska, kan? gue nitip bentar, nanti gue jemput," ucap Bram. Lalu dia bangkit dari duduknya, dipikirannya saat ini adalah meminta maaf pada istrinya.
Setelah mengajak Lila masuk, Keinya duduk dimeja makan, dia melihat makanannya tanpa minat, sedikit rasa kecewa pada suaminya yang sudah 3 hari berubah sikap padanya bahkan tak mau makan dirumah.
Keinya mengurungkan makan siangnya karna teringat suaminya yang tak mau makan dirumah. Dia bangkit dari duduknya dan menuju kamarnya.
Saat didalam kamar, Keinya duduk disisi ranjang dengan kaki menjuntai kebawah. Dia mengambil bingkai foto diatas nakas, foto itu diambil saat Bram dan Keinya selesai melakukan ijab kobul.
Setetes air mata jatuh mengenai pipinya. Dia sungguh tak tau dimana kesalahannya hingga suaminya sedikit berubah. Keinya terbiasa hidup berlimpah kasih sayang dari Bram, jadi dia bisa merasakan bahwa sikap Bram sedikit berubah.
Tak lama dia mendengar suara langkah kaki, dan dia tau bahwa itu suaminya. Dengan cepat dia menaruh bingkai foto dan menghapus air matanya.
Saat Bram masuk, Keinya menoleh ke arah Bram sambil tersenyum. Bram dengan cepat duduk disamping istrinya dan langsung membawa Keinya kedalam pelukannya.
"Pa-pih, ada apa?" tanya Keinya terbata-bata. Keinya sekuat tenaga menahan tangisnya agar tidak pecah.
Bram melepas pelukannya dan menangkup kedua pipi Keinya. "Sayang, apa aku melukaimu?" tanya Bram.
Keinya menunduk, lalu tak lama dia terisak. Bram kembali membawa Keinya kedalam pelukannya. Dia membiarkan Keinya menagis di dadanya. Setelah Keinya tenang, Bram melepaskan pelukannya dan menangkup lagi pipi istrinya. "Maafkan aku sayang, aku pasti telah melukai mu."
Keinya memberanikan diri menatap suaminya. "Katakan, apa salahku, hingga kau berubah. Kau bahkan tidak mau makan bersama ku. Kau selalu menyuruh ku untuk jujur tentang apa yang aku rasakan. Tapi, kau sendiri?" Keinya berbicara dengan berlinang air mata. Dia menumpahkan kekecewaanya pada suaminya.
"Maafkan aku, aku terlalu egois hingga tak memikirkan prasaanmu. Aku tak suka melihat kau memeluk lelaki lain."
Seketika Keinya menghentikan tangisannya, dan menatap suaminya. "Ka-kapan aku memeluk lelaki lain?"
"Sayang, aku imam mu, aku yang akan bertanggung jawab akan dirimu dan ketiga putri kita. Aku tak suka kau memeluk Joenathan, kau tak mempunyai hubungan darah dengannya dan itu bukan muhrim mu dan aku akui aku memang cemburu. Aku tak rela kau memegang lelaki lain, walau kau memang menganggap Joe daddy. Kau mengertikan maksudku."
Mendengar ucapan suaminya Keinya sedikit menyunggingkan senyum dia tak menyangka bahwa suaminya sedang cemburu. "Maafkan aku, aku hanya reflek memeluk daddy Joe, aku berjanji tak akan bertindak gegebah lagi."
Bram mencium kening Keinya. "Aku juga minta maaf, maafkan aku yang egois. Kau mau memaafkan ku, kan?"
Seketika Keinya memikirkan rencananya kembali untuk membujuk suaminya agar dia diijinkan kembali mengandung. "Aku memaafkanmu, tapi aku tak bisa memaafkan mu karna 3 hari ini kau makan diluar."
Bram mengernyit heran saat mendengar ucapan istrinya. "Lalu aku harus apa agar kau mau memaafkan ku?" tanya Bram.
Baru saja Bram terhanyut dalam permainan istrinya. Lalu dia sadar bahwa Keinya belum memasang kembali alat kontrasepsinya, dan kini dia sadar bahwa istrinya menggodanya agar Bram lupa dan menumpahkannya didalam.
Seketika Bram menggulingkan Keinya hingga kini dia berada diatas istrinya. Dia mengelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Kau, tidak bisa bisa menggoda ku sayang, Besok kita akan kedokter untuk memasang lagi alat kontrasepsimu." Bram menggulingkan dirinya kesamping istrinya dan memeluk Keinya.
Keinya berbalik membelakangi suamiya. Dia merasa kesal, kenapa suaminya harus ingat tentang hal itu. Padahal Keinya benar-benar ingin mengandung kembali. Bram teringat sesuatu, lalu dia bangkit dari tidurnya.
"Papih, aku sedang marah, kau tidak akan membuju ku?" teriak Keinya saat Bram akan keluar dari kamar.
Bram ingin sekali tertawa terbahak-bahak atas tingkah istrinya. "Sayang, kau belum makan siang dan aku akan mengambil makan siang untukmu, jika kau belum makan, bagaimana kau bisa menjalankan rencanamu pada ku," ucap Bram. Dia tergelak saat melihat istrinya menggodanya karna ingin mengandung lagi. Tapi dia sudah berjanji pada dirinya sendiri, dia tak ingin lagi membuat istrinya kesakitan karna mengandung anak-anaknya lagi.
Keinya mencebik saat mendengar suaminya.
"Kenapa aku selalu gagal mengelabuinya," gerutu Keinya. Namun, tak lama dia tersenyum saat tau bahwa Bram cemburu. Karna selama ini hanya dia yang selalu fosesif pada suaminya.
Tak lama, Bram datang membawa nampan berisi makanan, dia duduk di ranjang berniat menyuapi istrinya. "Sayang, bangunlah, aku akan meyuapimu!" titah Bram.
Keinya pun bangkit dari tidurnya. "Aku akan makan sendiri," ucap Keinya.
Namun, Bram tak menghiraukan keinginan istrinya. Dia kekeh menyuapi Keinya sampai makanan dipiring habis.
Sesudah Keinya beres makan, Bram kembali kebawah untuk menyimpan piring kotor. Kemudian Bram melihat Tania sedang tertidur bersama Lila. Bram pun memutuskan untuk kembali kekamar.
Dia tersenyum saat melihat Keinya telah memejamkan matanya. Namun, Bram tau bahwa Keinya tak benar-benar tertidur.
Dia berbaring disamping istrinya. "Sayang, kau masih marah pada ku?" tanya Bram.
Namun, Keinya sama sekali tak bergeming. Bram tak hilang akal. Dia mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya. Dia mencium dan melummatnya. Awalnya Keinya tak mau membuka mulut. Namun, tangan Bram sudah bergeliya di area tubuhnya. Mau tak mau Keinya pun membuka mata dan mengeluarkan suaranya.
Bram menghentikan aktivitasnya dan memangdang Keinya.
"Papih, jika aku mempunyai kesalahan, tolong tegur aku. Jangan mendiamkan ku lagi," ucap Keinya.
Bram mengelus pipi istrinya. "Baiklah, aku juga minta maaf pada mu karna telah membuatmu menangis."
Keinya memeluk Bram menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Kau, sudah tua masih saja menyebalkan," ucap Keinya.
Bram terkekeh. "Tapi, kau mencintai pria tua ini bukan?" tanya Bram dengan percaya diri.
Keinya mengangkat kepalanya. "Aku sangat-sangat mencintaimu." Keinya mendekatkan wajahnya dan mencium mesra suaminya Baru saja mereka akan melakukan hal yang lebih jauh.
Vania masuk kekamar tanpa mengetuk pintu. Dia diantarkan oleh Aysel pulang kerumah.
Dan gak terjadilah yang seharusnya terjadi gara gara Vania datang. Padahal udah mau menjabarkannya tapi Vania mengahancurkan semuanya hahahahahahahahhaha