
Ini Cinta Sang Abdi negara versi panjang ya, tayang di K**b#m. Info 088222277840 Dengan Judull Cinta Sang Abdi Negara
Bab Laura scroll ya
Bab 1
Devano terus berjalan ke sana kemari, ia terus menelepon adiknya, berharap adiknya mengangkat panggilannya. Namun sayang, Aryan sama sekali tidak mengangkat panggilan darinya.
Ia melihat ke sekitarnya, semua orang tampak panik membuat Devano semakin geram dengan tingkah adiknya yang kabur ketika ijab kabul akan dimulai. Ya, hari ini Aryan yang tak lain adalah adik devano, berencana melakukan ijab kabul bersama kekasihnya, Meilani.
Namun siapa sangka, detik demi detik ijab kabul akan dimulai, Aryan kabur meninggalkan semua yang telah direncanakan, dan tidak ada yang tau alasan Aryan pergi di hari pernikahannya.
Dan sekarang, kedua belah pihak keluarga dilanda kepanikan, apalagi tamu sudah berkumpul.
”Bagaimana, apa adikmu bisa dihubungi?” tanya Gemma sang ayah. Devano menggeleng.
“Belum, Dad. Dia belum bisa dihubungi!” kata Devano, membuat Gemma mengusap wajah kasar, ia langsung melihat ke arah Khalisia yang tampak terdiam, sepertinya istrinya begitu shock, mengetahui bahwa putra mereka kabur.
Sekarang, nama baik kedua keluarga dipertaruhkan. Acara akan berlangsung, dan tidak mungkin dibatalkan begitu saja, saat semua orang sudah berkumpul. Gemma mencoba memutar otak, ia melihat ke arah Meilani, calon menantunya yang sedang duduk lesu didampingi ibunya.
“Mey!” panggil Gemma.
“Om gema!” Hanya itu yang bisa Melani katakan, ia terlalu lemas untuk menjawab.
“Om, tolong bahwa Aryan!” jawab Meylani dengan suara yang bahkan hampir tidak terdengar, jelas-jelas dia sedang putus asa.
Gemma memutar otak, bagaimana semuanya selesai, hingga tatapannya teralih pada Devano, Ia pun langsung menghampiri Devano dan menepuk pundak putranya.
“Devano, ayo ikuti Daddy!” kata Gemma, ia pun. keluar dari ruangan disusul Devano yang juga ikut di belakangnya
“Apa maksud Daddy?” Devano hampir saja berteriak saat mendengar ucapan Gemma yang menyuruhnya untuk menggantikan Aryan menikahi Meilani.
“Kita tidak bisa berbuat banyak Devano, semua dipertaruhkan. Jika kau ....”
“Tapi kenapa Daddy tidak memikirkanku juga?” tanya Devano, ia menatap sang ayah dengan tatapan tak percaya. Bagaimana ayahnya bisa mengusulkan hal yang sangat gila.
Gemma menepuk bahu Devano. “Daddy mengerti. Ini pilihan yang sulit, tapi apakah kau tega nama keluarga besar kita dipertaruhkan dan digosipkan oleh semua orang!” kata Gemma.
“Ingat Devano, ini bukan soal keluarga kita. Tapi juga soal keluar mempelai wanita.”
“Tapi bagaimana dengan Nakesya, Bagaimana dengan hubunganku dengan keluarga Nakesya?” balas Devano. Gemma tampak berpikir, lalu menghembuskan nafas, kemudian menepuk pundak Devano.
“Daddy mengerti, ya sudah. Kita umumkan saja pembatalan pernikahan ini!” Gemma memutuskan untuk tidak meminta Devano lagi lalu ia pun berbalik, meninggalkan Devano.
Ia tidak tega melihat sang ayah seperti ini, terlebih lagi melihat wajah ibunya yang tampak tertekan. “Aryan!” geram Devano, ia menonjok tembok, karena marah dengan kelakuan adiknya.
Jika ia tidak mengikuti ucapan ayahnya, ayah dan ibunya pasti akan tertekan, karena gosip di luar sana dan nama baik keluarga akan tercoreng karena adiknya tidak bertanggung jawab. Tapi jika ia mengikuti saran Gemma. Lalu bagaimana dengannya, dengan Nakesya yang merupakan kekasihnya, wanita yang sudah menemaninya selama 3 tahun ini.
Gemma masuk ke dalam ruangan, tatapannya langsung bersibobrok dengan Khalisia sang istri yang menatapnya dengan tatapan kosong seolah memikul beban yang sangat berat. Lalu, ia melihat ke sekelilingnya. Semua orang sama-sama bingung, dan ia sebagai ayah dari Aryan harus bertanggung jawab atas kekacauan.
Ia pikir, Devano mau menggantikan posisi Arya. Tapi ternyata tidak, dan sekarang Gemma harus memutar otak. Bagaimana caranya minta maaf pada semua tamu, terutama pada keluarga mempelai wanita.
bab 2
Meylani menggenggam tangan Veronica begitu erat, Ia yang sudah memakai kebaya hanya bisa menyembunyikan wajahnya di bahu sang Ibu. karena tangisnya sudah berlinang, ia dilanda panik, dilanda ketakutan. Terlebih lagi jika pernikahannya batal, ia akan menjadi gunjingan semua teman-temannya
“Mey!” panggil Gemma, Veronica mengusap lembut bahu putrinya. Menyadarkan Meylani dari lamunannya, kemudian Meylani pun menegakkan kepalanya, lalu menatap Gemma.
“ Om tolong cari Aryan!”!kata Meylani dengan putus asa, ia terus mengulangi ucapannya. Nadanya benar-benar terdengar sangat rapuh.
“Mey, Om harus menyampaikan ini padamu. Atas nama keluarga Om minta maaf, Om hanya bisa mengatakan bahwa acara pernikahan ini tidak bisa ....”
“Biar aku yang menggantikan Aryan ... ” Tiba-tiba terdengar suara Devano dari arah belakang, ia menyusul sang ayah untuk masuk kembali. Lalu langsung berkata demikian, membuat semua orang menoleh termasuk Nakesya, kekasih Devano yang sedari tadi mendampingi Devano.
Nakesya langsung menatap Devano dengan tatapan tak percaya. Ia pun langsung bangkit dari duduknya. “Devano apa-apaan ini, kau tidak serius kan?” tanya Nakesya.
“Maaf semua, beri aku waktu 5 menit untuk berbicara dengan Nakesya.” Devano pamit pada saat semua orang, ia pun langsung menarik tangan Nakesya keluar.
“Kenapa kau melakukan ini, Bagaimana denganku jika kau menikahi dia,” ucap Nakesya. Devano memegang bahu Nakesya, kemudian menatap iris mata kekasihnya.
Sungguh, untuk pertama kalinya dalam hidup, Devano ingin sekali menangis saat melihat wajah Nakesya yang tampak terluka dengan keputusannya. “Nakesya, aku adalah putra pertama dari keluargaku. Aku tidak mungkin membiarkan keluargaku terkena aib, aku tahu pilihan ini berat untukmu, atau untukku. Tapi sebagai seorang lelaki, sebagai anak pertama, apalagi aku seorang tentara. Aku harus bertanggung jawab dengan keluargaku, dan ini keputusan yang aku ambil.” Devano menghentikan sejenak ucapannya, kemudian berusaha mengatur nafasnya.
“Nakesya maaf, hubungan kita harus berhenti sampai di sini. Aku akan datang ke rumahmu untuk meminta maaf dan meluruskan semua.”
Tangis Nakesya luruh saat mendengar ucapan Devano, ia bahkan tidak mampu menatap wajah Devano. Tadi pagi, semuanya baik-baik saja. Tadi pagi Devano masih menjemputnya untuk pergi ke pernikahan Aryan dan Meylani. Tapi sekarang ... ia diputuskan begitu saja. Tunggu, Bukankah ini terlalu kejam untuknya
“Devano, Kenapa Kau jahat sekali!” kata Nakesya, Devano tidak menjawab, ia membawa Nakesya ke dalam pelukannya.
“Nakesya, aku tahu ini berat. Seandainya aku bisa menjalani hubungan lagi denganmu setelah aku menikah, pasti aku akan lakukan itu. Tapi tidak, aku tidak bisa. Aku harus bertanggung jawab dengan keputusanku, aku harus setia pada istrinku. Aku mencintaimu dan aku akan mendoakan semoga kau mendapatkan lelaki yang lebih baik dariku!” kata Devano, ia melepaskan pelukannya, kemudian menagkup pipi Nakesya.
“Pulanglah, Nakesya. Aku tidak ingin kau terluka karena menyaksikan aku menikah dengan wanita lain!” titah Devano yang menyuruh Nakesya untuk pergi. Setelah mengatakan itu, Devano mencium kening Nakeysa. Kemudian dia berbalik.
Tepat saat ia berbalik, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk mata Devano. Rasanya, ia tidak sanggup untuk melangkah, ia sungguh tak sanggup meninggalkan Nakesya.
Namun sebagai seorang lelaki, ia harus bertanggung jawab dengan keputusannya. Saat berada di depan ruangan, Devano menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia langsung masuk ke dalam dan semua orang menatap Devano.
” Bagaimana apa kau siap?” tanya Gemma, Devano melihat ke arah Meilani yang sedang tertunduk lesu, ada rasa iba yang menyergap dalam diri Devano saat melihat calon adik iparnya, yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Gemma memberikan jasnya pada Devano karena Devano hanya memakai baju batik, kemudian Gemma langsung menghampiri Alfian.
“Gue minta maaf atas semuanya, Alfian,” kata Gemma, ia memang sudah berteman lama dengan Alfia, ayah tiri Meylani. Ia pasrah, karena ia marah pun rasanya percuma.
Setelah semuanya siap, dengan helaan nafas yang panjang, Devano mengelurkan tangannya pada Meilani, hingga Meylani mengangkat kepalanya. Sejenak ia merasa ragu dengan lelaki yang ada di depannya ini.
Dulu, sebelum sebelum ia bertemu Aryan, dia sudah terlebih dahulu bertemu dengan Devano, karena saat itu dia pernah menabrak mobil Devano, dan terlibat perdebatan dengan lelaki yang sebentar lagi akan menjadi calon suaminya.
Dan ternyata, Ayah devano yang tak lain Gemma berteman dengan ayah tirinya, dan Ia tidak menyangka takdir begitu rumit. Ia berpacaran dengan Aryan. Tapi ia harus menikah dengan Devano.
“Ayo, kita sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi.” ucap Devano dengan suara yang memberat, membuat Meylani tersadar. Dengan helaan nafas yang panjang, Meylani pun menerima uluran tangan Devano, kemudian mereka semua pun keluar.
bab.3
Begitu berat, begitu hambar dan begitu menyakitkan. Itulah yang dirasakan Devano dan Meilani yang sedang bergandengan tangan menuju ke tempat di mana ijab kabul akan dilaksanakan.
Semua keluarga memasuki tempat acara, semua saling berbisik-bisik, mereka bingung kenapa yang menjadi pengantin malah Devano bukan Aryan, apalagi tamu undangan sangat banyak tentu saja rasa penasaran menguar di diri semuanya
Gemma berbisik pada penghulu, membuat penghulu ikut terkejut dengan apa yang terjadi, karena bukan Devano yang tertulis di catatan KUA melainkan Aryan. Dan pada akhirnya, setelah menempuh musyawarah dan perundingan, Devano dan Meylani menikah.
Hanya saja jatuhnya mereka masih menikah siri karena mereka belum mempunyai surat dari KUA, belum lagi Devano adalah seorang tentara yang tentu saja akan membutuhkan proses yang lebih berat untuk menikah, karena Devano juga harus memenuhi peraturan di dunia militer tentang pernikahan.
Semua orang yang tadinya bingung tidak berani bertanya-tanya, walaupun mereka bingung. Tapi mereka tetap melihat ijab kabul yang Meilani dan Devano lakukan. Dan dengan satu kali tarikan nafas, akhirnya Devano dan Meilani resmi menikah.
Tepat ketika mereka resmi menikah, Meylani terkulai tidak sadarkan diri. Hingga semuanya ikut terkejut. Dan pada akhirnya, para tamu dipersilakan untuk menikmati hidangan tanpa menyapa pengantin hingga acara itu bubar.
•••
Devano menatap wajah Melani lekat-lekat, sedari tadi Ia terus memberikan minyak angin di dekat hidung Meilani, agar Meylani sadarkan diri. Namun sayang, wanita yang kini menjadi istrinya masih belum membuka matanya, mungkin Melani terlalu terkejut dengan apa yang terjadi.
Bagaimana tidak, pernikahan yang sudah ia impikan bersama Arian harus hilang dalam sekejap. Bagaimana mungkin dia bisa menikah dengan lelaki yang tidak ia cintai. Padahal kemarin Aryan masih bersikap baik, Aryan masih menemaninya, mempersiapkan apa yang kurang di dalam pernikahan mereka.
Lalu bagaimana mungkin Aryan pergi begitu saja disaat tidak ada masalah sama sekali di antara mereka. Bukan hanya itu saja, ia juga harus mempersiapkan jawaban jika teman-temannya di kampus mempertanyakan semuanya.
Devano menatap wajah Meilani lekat-lekat, ia memegang dadanya yang terasa nyeri. Harusnya Nakesya yang berada di sampingnya. Tapi sekarang, ia malah menikahi wanita lain. Lalu, Bagaimana jika besok dia bertugas bertemu dengan Nakesya.
Sayangnya Devano tidak bisa menghindar karena Nakesya bertugas di klinik kemiliteran tempat Devano bertugas, otomatis mereka akan sering bertemu, lalu bagaimana mungkin Devano akan melupakan Nakesya.
Lamunan Devano buyar kalau melihat Meylanii mengejap, dan membuka matanya. Hingga Devano menghela nafas lega.
“Akhirnya kamu sadar,” ucap Devano, Melani hanya menoleh sekilas, kemudian memejamkan matanya lagi karena tubuhnya begitu lemas
“Tolong tinggalkan aku sendiri, Kak!” pinta Meilani, walaupun ia baru sadarkan diri. Tapi rasa sesak langsung menghantamnya. Rasanya, ia tidak sanggup lagi untuk menahan tangis. Namun dia juga enggan menangis di hadapan Devano. Devano mengangguk, kemudian ia turun dari ranjang, lalu keluar.
“Bagaimana keadaan Meilani?” tanya Gemma yang berdiri di depan pintu.
“Meylani sudah sadarkan diri Dad,” balas Devano.
“ Ayo temui Om Bara dan Om Alfian, mereka ingin berbicara denganmu,” Devano mengangguk.
Devano masuk ke ruang kerja sang ayah,di mana ada Bara dan Alfian di sana. Bara adalah ayah kandung Meilani, dan Alfian ayah tiri Meilani. Keduanya ingin berbicara dengan Devano, mereka ingin membicarakan langkah apa yang akan Devano ambil
“Om!” panggil Devano.
“Ayo duduk Devano, kita berbicara,” ucap Alfian Devano menggangguk, kemudian ia mendudukan dirinya di sebrang Devano dan Bara.
“Sekarang langkah apa yang akan kamu ambil, Devano. Apa kamu mau menceraikan Meilani setelah ini?” tanya Bara
Devano menghela nafas sebanyak-banyaknya, ia sudah menduga pertanyaan ini akan keluar dari mertuanya, ia menatap Bara dan Alfian secara bergantian.
“Om saya adalah seorang anak tertua di sini. Saya juga seorang Abdi negara, pantang untuk saya mengingkari janji saya. Walaupun memang pernikahan ini terpaksa. Tapi saya tidak akan pernah menceraikan Meylani. Saya sudah berjanji di hadapan Tuhan dan tidak akan pernah meninggalkan istri saya." Devano menghentikan sejenak ucapannya kemudian menghirup nafas sebanyak-banyaknya.
“Ya, ini berat untuk saya dan Meylani. Tapi saya tidak akan melepaskan Melani, dan akan berusaha untuk membina rumah tangga bersama putri Om.” Devano berucap dengan tegas dan lugas, tidak ada sedikitpun ragu di dalam ucapan Devano.
“Tapi om, saya ingin menyampaikan sesuatu. Mungkin. Setelah ini, kami akan tinggal di rumah dinas yang sederhana. Saya minta maaf, saya tidak bisa memberikan hidup yang mewah untuk melayani sama seperti hidup Meylani sekarang. Karena kami tidak boleh terlalu mencolok, saya akan mendidik Meilani menjadi ibu Persit. Jadi mohon pengertiannya. Jika suatu saat Melani mengeluh atas sikap saya.” Lagi-lagi, Devano menjeda sejenak ucapannya.
“Om mungkin saya bisa membuat Melani hidup terus seperti sekarang, dipenuhi kemewahan
.Tapi saya ingin Melani dengan penuh kesederhanaan, apalagi Meylani harus memenuhi aturan sebagai ibu Persit!”! kata Devano.
Lagi-lagi Bara dan Alfian mengangguk. “Kami serahkan Meylani pada kamu. Tapi jika suatu saat kalian tidak bisa bertahan, atau kalian punya kesulitan. Hingga kau menyerah menghadapi Melani. Pulangkan dia baik-baik pada kami,kami sama sekali tidak akan menyalahkan kamu.” Bara menutup ucapannya dengan senyuman.
••••
bab 4
Setelah berbincang-bincang dengan Alfian dan Bara, Devano kembali ke kamarnya di mana sedang ada Meilani Di sana. Ia membuka pintu saat Melani sedang melamun, ia tahu istrinya begitu terpukul karena pernikahan mereka dan karena kepergian Aryan.
Saat mendengar suara pintu terbuka, Meylani langsung menoleh ke arah pintu. Lalu, ia menghapus air matanya, hingga Devano pun langsung menghampiri Melani dan mendudukkan dirinya di sebelah istrinya.
Sebenarnya Devano pun ingin mengamuk dengan situasi ini. Tapi ia juga tidak bisa menyalahkan Meylani karena yang salah adalah adiknya.
“ Bagaimana perasaan kamu? apa sudah merasa baikan?” tanya Devano Meylani menggeleng.
“Mana mungkin aku merasa baikkan,” jawabnya.
“Terima kasih sudah menyelamatkanku tadi. Jika tidak ada kakak, mungkin aku bisa malu. Aku akan pulang, kakak bisa mentalakku di depan ayahku sekarang!” kata Meilani, karena jujur saja Ia tidak mampu memikirkan hal apapun. Mana Mungkin ia hidup dengan lelaki yang tidak pernah ia cintai dan begitu asing untuknya.
“Meylani ada yang harus kamu tahu. Saya tidak pernah main-main dengan keputusan saya, ketika saya mengucap ijab kabul, maka kamu sudah menjadi istri saya.”
Wajah Melani begitu terkejut saat mendengar ucapan Devano. Tadi ia menyetujui saran Gemma untuk menikah Devano, karena ia pikir Devano akan kembali mentalaknya, apalagi mereka hanya menikah siri. Namun lihatlah, sekarang semuanya jauh dari dugaannya. Ternyata, Devano benar-benar ingin menjadikannya sebagai istri.
“Kenapa kakak ingin menjadikanku istri. Kita tidak perlu seperti ini. kakak juga memiliki kekasih dan aku juga tidak mungkin hidup dengan kakak. Lalu rumah tangga seperti apa yang akan kita jalani,” jawab Meilani.
Devano menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia harus memberi pengertian pada Meylani. Apalagi umur mereka terpaut cukup jauh. “Saya seorang lelaki. Pantang bagi saya untuk mengingkari janji, ketika saya sudah mengikat kamu, maka tidak ada alasan untuk mundur. Satu yang saya tekankan, saya akan memperlakukan kamu dengan baik layaknya istri saya. Tapi satu juga yang saya peringatkan pada kamu, mungkin saya bisa memberikan apapun yang kamu mau sama seperti kehidupan kamu sekarang, bergelimbang harta. Tapi saya tidak akan melakukan itu. Saya ingin kita hidup sederhana, walaupun keluarga kita berkecukupan.”
Tiba-tiba tubuh Meylani melemah saat mendengar ucapan Devano. Bagaimana mungkin ia akan hidup sederhana, sedangkan hobinya saja berbelanja. Bagaimana mungkin ia akan hidup seperti orang biasa, sedangkan selama ini ia begitu dimanjakan oleh materi.Ia memang sakit hati karena kehilangan Aryan. Tapi bukan berarti ia ingin merasakan sakit lagi karena harus hidup sederhana.
“Kamu sudah menjadi istri saya. jadi, tidak ada alasan untuk menolak apa pun yang saya katakan, begitupun saya yang akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu. Ayo kita persiapkan berkas-berkas untuk untuk pengajuan, dan kita akan menikah dengan cara militer." Setelah mengatakan itu, Devano pun bangkit dari duduknya, kemudian ia berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya
waktu menunjukkan pukul 9 malam,.Meilani terduduk di sofa, ia bingung harus melakukan apa. Tadi setelah pembicaraan dengan Devano, Meylani sudah berbicara panjang lebar bersama orang tuanya.
Awalnya Meylani kekeh ingin Devano mentalaknya, Karena ia merasa tidak sanggup untuk menjalani hidup seperti apa yang Devano katakatan. Tapi ternyata, orang tuanya juga setuju dengan Devano dan mengingatkan Meylani tentang apa yang akan terjadi kedepan jika Melani tiba-tiba ditalak lagi oleh Devano. Hingga mau tak mau, meylani sekarang menerima takdirnya sebagai seorang istri tentara, sebagai ibu Persit yang harus hidup dengan penuh kesederhanaan dan tidak terlalu mencolok.
Pintu terbuka, membuat Meylani tersadar. Sosok Devano masuk, ia menatap wajah Devano lekat-lekat. Ada rasa sesak yang menghampiri dadanya.
“Kenapa kamu belum tidur?” tanya Devano menyadarkan Meylani dari lamunannya. Meylani menggeleng.
“Aku harus tidur di mana?" tanya Meylani. Kecanggungan meliputi kedua orang itu.
“Kenapa kamu harus bertanya, Ya jelas kamu tidak di ranjang sama saya.”
”Kita tidur satu ranjang?” tanya Meylani
Devano tidak menjawab lagi, ia membaringkan tubuhnya di ranjang, disusul Meilani yang juga ikut berbaring hingga kini pasangan suami istri itu berbaring saling memunggungi
Meylani melihat ponselnya, kemudian ia membelai fotonya bersama foto Aryan. Bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya saat mengingat ini semua. Meylani menggigit selimut, kala tangisnya tidak bisa di bendung lagi. Ia ingin menjerit sekencang-kencangnya
“Aryan, Kenapa kau tega melakukan ini padaku!” Meylani membatin dengan hati yang luar biasa nyeri. Bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan. Ia berpacaran dengan Aryan udah 2 tahun dan keputusan ingin menikah pun sebenarnya dari Aryan. Tapi kenapa Aryan sekarang meninggalkannya.
Saat mendengar Meylani terisak, Devano menoleh. Sebenarnya Ia pun sedang tidak menentu, bayangannya dipenuhi oleh Nakesya, ia yakin Nakesya sedang menangis dan rasanya ia ingin keluar dari kamar ini. Lalu, berlari dan menghampiri Nakesya. Tapi sayangnya ia sudah berjanji, ia tidak akan pernah kembali lagi pada masa lalu.
“Saya akan mencari Aryan, kemanapun dia pergi dan membawanya ke hadapan kamu. Bukan untuk menyuruh kamu kembali pada dia, tapi untuk menyuruh dia minta maaf pada kamu. Karena sekarang kamu istri saya,” ucap Devano membuat Melani semakin terisak..
bab5
Malam itu, kedua pasangan yang baru saja menikah melalui malamnya dengan berat,
mereka tidur saling memunggungi dan melalui malam panjang mereka dengan penuh rasa sakit.
Waktu menunjukkan pukul 04.00 pagi, Devano terbangun kemudian ia menoleh ke arah Meilani. Devano bangkit dari ranjang, kemudian mendudukkan dirinya Lalu setelah itu ia mengusap wajah kasar.
Lima menit berlalu, kantuk Devano sudah menghilang. Hingga ia membangunkan Meilani. “Mei ... Mei!” manggil Devano
“Kak,” jawab Meilani, Ia hanya menjawab sekilas. Kalu kembali memejamkan matanya lagi
“Ayo bangun, ini sudah jam 04.00. Ayo sholat berjamaah, saya akan mengimami kamu!" kata Devano lagi.
“Kakak saja duluan, aku masih mengantuk," balas Meylani. Devano turun dari ranjang, kemudian ia berjalan ke sisi Meilani. Lalu setelah itu menarik tangan Melani, hingga Meilani terbangun.
“ Kak!” Meylani hampir saja berteriak di hadapan wajah suaminya, Ia yang ia terkejut karena ba-tiba Devano membangunkannya. Padahal Ia baru saja tertidur satu jam lalu. Tapi sekarang ... Devano malah membangunkannya, tentu saja ia merasa terkejut.
Saat Melani berteriak, Devano berusaha untuk menebalkan kesabarannya. Tapi inilah cara Devano untuk mendidik Meilani, ia tidak mungkin membiarkan Meilani menjalani kehidupannya seperti sekarang.
“Kamu sebenta lagi akan menjadi Ibu Persit. Ayo bangun, kamu harus mulai belajar dari sekarang. Kita harus berangkat pagi sekali untuk ke asrama dan untuk melakukan pengajuan nikah?” kata Devano, Meilani yang sudah duduk di ranjang menatap Devano dengan tatapan nanar, ini saja sudah berat. Lalu bagaimana dia akan menjalani hari-harinya sebagai istri dari tentara.
“ Ayo, Sebelum saya kamu saya seret!” Meylani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kemudian mengikuti Devano.
•••
Meylai turun dari taksi, kemudian ia berjalan ke rumah orang tuanya. Hari ini ia memilih pergi ke rumah ibunya. Tadi, Devano pergi ke tempatnya berdinas untuk mengurus pernikahan mereka. Sedangkan Meylani lebih memilih pulang untuk berbicara pada ayah dan ibunya, ia ingin meminta ayah dan ibunya berbicara pada Devano
agar Devano menceraikannya, ia benar-benar tidak sanggup hidup mengikuti aturan Devano.
Ia harus memasak dan melakukan latihan-lain, belum lagi mereka akan tinggal di rumah dinas yang sangat sederhana. Bayang-bayang iya kan lepas dari kehidupan lamanya membuat Meilani takut, cukup ia kehilangan Aryan, ia tidak mau kehilangan kemewahannya.
“Mei!” panggil Alfian, ia yang baru saja akan pergi ke kantor langsung menghentikan langkahnya saat melihat Meylani masuk. Melani tersadar, tanpa basa-basi ia melanjutkan langkahnya kemudian memeluk sang ayah
Hanya pelukan ini yang Meylani butuhkan, kemarin. Kemarin ia terlalu terguncang dengan kepergian Aryan dan pernikahannya dengan Devano, hingga Ia tidak mampu memikirkan apapun lagi.
“Ayah!” panggil Meilani, seketika wanita malang itu menangis dipelukan Ayah tirinya. Alfian membawa Meilani untuk ke arah ruang tamu, ia melepaskan tas kerjanya kemudian mengajak Meylani untuk duduk, ia mengerti yang dirasakan Melani. Putrinya benar-benar terguncang.
“Ayah, aku tidak mau seperti ini. Tolong bilang Devano untuk menceraikan aku, atau untuk mentalakku,” kata Melani. “Tolong Ayah, jawabnya lagi. Alfian menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ia tidak boleh hanya melihat dalam satu sisi.
“Mei, Ayah tidak bisa membantumu untuk itu. Percayalah, suatu saat kau juga akan merasa beruntung menikah dengan Devano!” kata Alfian. “Ayah bisa melihat dia lelaki yang baik dan bertanggung jawab.” Seketika Melani melepaskan pelukannya dari Alfian.
“Tapi jika aku menikah dengannya, aku tidak bisa hidup seperti ini lagi. Aku tidak bisa berbelanja sepuasnya aku tidak bisa memberikan barang-barang yang aku mau, aku benar-benar harus hidup sederhana. Apa Ayah pikir aku bisa melakukan itu!" protes Meylani seperti anak kecil.
“Mey dengar Ayah, walaupun kau berpisah dari Devano ....ayah dan ayah Bara sudah sepakat kami akan menahan semua fasilitas yang kau dapat selama ini!” mata Meylani membulat saat mendengar ucapan sang ayah.
”Ayah bagaimana mungkin Ayah melakukan itu padaku!” kata Meylani yang tanpak protes.
“Itulah yang harus kau pahami Mei, bahwa tidak semua yang kau inginkan tidak terus bisa menjadi kenyataan. Sekarang, kau seorang istri maka kau harus mengikuti suamimu. Percayalah yang Ayah bilang, suatu hari kau akan merasa beruntung karena menjadi istiri dari Devano. Ya, sudah Ayah pergi dulu. Istirahatlah, tadi Devano mengirim pesan pada Ayah dia lupa belum minta nomormu dan mengatakan nanti akan menjemputmu!” Tak ingin mendengarkan lagi gerutuan putrinya, Alfian pun langsung pergi meninggalkan Meylani begitu saja
••••
satu minggu kemudian
“Jadi kita harus tinggal di sini?” tanya Meilani saat turun dari mobil, dan Devano mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah dinas yang akan mereka tempati.
Tidak ada yang salah dengan rumah dinas yang akan mereka tempati, hanya saja rumah dinas itu sudah lama tidak ditempati, hingga terlihat sedikit kumuh dengan cat yang memudar. Mungkin Devano bisa merenovasinya.
Namun Meilani begitu aneh dengan rumah dinas yang akan mereka tempati.
“Kamu tidak bisa menolak ini Mei, ini rumah yang akan kita tempati,” jawab Devano.
Ini sudah seminggu berlalu, Semenjak mereka menikah. Mati-matian, Meilani membujuk kedua orang tuanya agar menyuruh Devano untuk menceraikannya. Tapi Meilani, malah mendapat ancaman, di mana jika Melani bercerai dari Devano, Melani tidak akan mendapat fasilitas dari siapapun.
Dan sekarang, pilihan yang Meylani punya, tidak punya ... Meylani tidak punya pilihan apapun, hingga mau tak mau ia harus menerima semuanya.
“Ayo masuk kita lihat ke dalam!" Devano mendahului untuk masuk, disusul Meilani yang ada di belakang. Devano membuka pintu dan saat pintu terbuka, Meylani langsung terbatik-batuk saat debu langsung menyapa hidungnya, sedangkan Devano langsung memeriksa sekitar, karena rumah dinas itu sudah lama tidak ditempati
“Ki-kita seriusan harus tinggal di sini? apa kita tidak bisa keluar dari sini?”
“Tidak bisa, kita harus tinggal di rumah dinas.. kamu harus ingat sesuatu, tidak ada pembantu tidak ada sopir. Urusan rumah kamu harus belajar, jika kamu tidak bisa memasak kita bisa membelinya di luar. Tapi alangkah baiknya jika kamu bisa memasak!” kata Devano. “Lalu untuk mobil, kamu tidak perlu bawa mobil kamu. Kamu bisa memakai mobil saya!” mata Meylani membulat saat mendengar ucapan Devano.
“Mobil yang itu?” ucap Melani yang terkejut dengan ucapan Devano karena ketika Devano pergi ke markas, Devano selalu membawa mobil biasa.
“Lalu bagaimana dengan kuliahku?” tanya Meylani. “Biar sayang antar jemput kamu, jika saya sedang tidak bisa, kamu bisa memakai taksi online dan ingat kamu juga tidak boleh mengurung diri, kamu harus aktif dengan ibu-ibu Persit yang lain!”
Kepala Meilani rasanya begitu berputar-putar saat mendengar untaian kata untaian kata yang diucapkan oleh Devano. Selama seminggu ini, mereka tinggal di apartemen Devano. Seminggu itu pula, ia menjadi istri Devano ia merasakan tekanan yang luar biasa, karena Devano benar-benar selalu menyuruhnya untuk mandiri.
Padahal Meylani butuh sedikit beradaptasi, bahkan seminggu ini berat badan Meylani turun cukup signifikan. Bagaimana tidak, Meylani harus bangun dari jam 04.00, lalu memulai belajar segalanya dan rasanya Melani benar-benar ingin menyerah saja.
“Jangan khawatir, saya akan merenovasi ini agar nyaman. Ayo kita keluar, kita mengambil hasil tes kesehatan kamu di klinik!” ajak Devano. Devano pun keluar mendahului Meilani, hingga Meilani langsung mengikuti langkah suaminya
Saat sampai di klinik, akhirnya Devano dan Meylani sampai di klinik. Saat Devano akan masuk. Sejenak Devano menghentikan langkahnya, kala mengingat hari ini adalah jadwal Nakeysa berdinas.
Devano menghela nafas, kemudian menghembuskannya. Ia menoleh ke arah belakang, di mana Meilani tampak kelelahan.
“Ayo masuk!” ajak Devano, ia menarik tangan Melani, hingga kini, mereka berjalan sambil bergandengan tangan, dan tepat seperti dugaan Devano, yang bertugas adalah Nakesya.
Jantung Nakesya berdetak dua kali lebih cepat saat melihat Devano, kedua insan itu saling menatap. Devano diam terpaku saat melihat wajah Nakesya yang tampak tirus. Nahkan tubuh Nakesya pun juga terlihat lebih kurus.
“Ingin mengambil hasil tes?” tanya Nakesya, Devano tersadar kemudian menggangguk.
“Tolong ambilkan hasil tes calon istri saya!” kata Devano, mereka berbicara begitu formal
Tentu saja pemandangan itu tidak luput dari perhatian Meilan,i ia merasa orang paling jahat karena berada di tengah-tengah Devano dan nakesya.
Devano tersadar kemudian mengambil hasil tes itu. Lalu setelah itu, ia pamit dan mengajak Melani keluar.
“Jika kakak cinta dia. Kenapa kakak tidak ceraikan aku saja," ucap Meylani seketika ....
bab6
“Sudah kubilang berhenti membahas itu!”balas Devano, ia langsung menoleh ke belakang saat Meylani menanyakan perasaannya pada Nakesya.
Meylani menggigit bibirnya, kemudian menunduk. “Maaf,” setiap melihat wajah Devano rasanya nyali Meilani begitu menciut, apalagi ketika Devano sudah serius.
Sungguh selama satu minggu, Meylani benar-benar tertekan, ia harus bangun pukul 04.00 pagi, belum lagi ia harus belajar membersihkan rumah dan ia harus menuruti semua yang Devano katakan.
Jika ia salah atau protes, wajah Devano akan serius atau berwajah dingin dan itu membuat Meylani takut. Itu sebabnya selama seminggu ini ia begitu menurut pada suaminya, walaupun dengan hati yang sangat tertekan.
Devano kembali berbalik lalu kembali melangkahkan kakinya untuk menuju mobil, begitupun Meylani yang mengikuti langkah suaminya.
Hening ...
Tidak ada pembicaraan dalam mobil, Meylani Devano sama-sama terdiam. Saat ini, Devano berencana mengantarkan Meylani ke apartemen, sedangkan ia berencana untuk kembali lagi bertugas.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya mobil yang dikendarai Devano sampai di basement apartemen. “Saya tidak tahu jam berapa saya pulang, atau bisa jadi saya tidak pulang malam ini!” kata Devano, Meylani menggangguk.
“Tunggu!” ucap Devano ketika Meylani akan turun. Hingga Meilani menoleh. “Ya, kak,” jawab Meilani. Devano merogoh saku belakang kemudian ia langsung mengeluarkan dompet lalu mengeluarkan kartu kreditnya untuk Meylani.
“Ini untuk kamu pakai sewajarnya dan pakai untuk kebutuhanmu, bukan untuk berbelanja apapun yang kam mau. Saya akan kasih uang belanja secara cash. Mungkin beberapa bulan sekali, saya akan membebaskan apa pun yang kamu tau. Tapi tidak setiap bulan.”
Meilani tampak terdiam, hatinya berderit perih saat melihat kartu yang dikeluarkan oleh Devano.
Dia yang biasa memegang kartu kredit tanpa limit harus mengirit mati-matian pengeluarannya.
Sedangkan kedua orang tuanya sudah menyetop semua fasilitasnya, dan yang lucu mereka pun sama seperti Devano, mereka akan kembali memberikan kartu kredit pada Meilani setelah Melani benar-benar berubah menjadi istri yang baik, dan sekarang Meylani Benar-benar-benar hanya bergantung pada Devano.
Dengan tangan bergetar, serta mata yang sedikit membasah, Meylani mengambil kartu kredit itu. “Terima kasih, Kak,” jawab Meylani.
“Pinnya ulang tahun Affesya, Kamu telepon saja Afeeysa dan tanya kapan ulang tahun Afeesya,” sambung Devano lagi. Meylani mengangguk, kemudian Ia pun turun. Dan tepat ketika turun dari mobil, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk matanya.
Ini benar-benar menyakitkan untuknya. Meylani merasakan semuanya keluarganya juga begitu egois, tidak mau mengerti dirinya. Sebenarnya Meylani bisa berubah, Meylani bisa untuk berusaha mematuhi semuanya. Tapi ini terlalu mendadak untuknya. Hingga ia merasakan putus asa. Ia sudah menahan sakit karena ditinggalkan oleh Aryan, dan ia juga harus merasakan sakit karena keegoisan semuanya.
Saat rasa sesak semakin menjadi-jadi, Meylani yang akan naik ke lift memutuskan untuk pergi ke tangga darurat, lalu ia mendudukkan dirinya di anak tangga kemudian ia menangis sekencang-kencangnya
“Aryan!” Meylani memanggil nama Aryan, ia benar-benar putus asa. Entah kenapa lelaki itu pergi. Seandainya Aryan tidak pergi sebelum ijab kabul akan dimulai, mungkin ia tidak akan menikah dengan Devano
••••
Nakesya terdiam, ia menatap kosong ke depan saat ini ia sedang berada di kantin. Makanan miliknya pun sudah tiba. Tapi pikirannya melayang entah ke mana, pertemuannya dengan Devano barusan benar-benar membuat hati Nakeysa hancur.
Ia tidak bisa menghindar Jika bertemu Devano, karena ia bekerja di klinik yang ada di batalyon tempat Devano berdinas.
“Halo ...." tiba-tiba terdengar suara dari arah depan, membuat Nakesya menoleh.
“Halo bang!” kata Nakeysa pada seorang tentara yang juga rekan Devano.
“Abang gabung boleh?” tanya Iqbal. Nakesya mengangguk.
“Silahkan bang,” balas Nakesya. Iqbal yang membawa nampan berisi makanan, langsung menurunkan makanan dari nampan tersebut.
“Kamu enggak makan?” tanya Iqbal, Nakesya tersenyum, kemudian ia mulai menolehkan kepalanya pada makanan. Sungguh ia begitu malas mencicipi makanan yang ada di depannya.
Devano masuk ke kantin, ia berencana untuk makan siang. Setelah mengantar Meilani, ia merasakan perutnya lapar. Hingga Ia pun langsung pergi ke kantin di dekat asrama.
Saat ia masuk, matanya tertuju pada kursi di mana ada Nakesya di sana dan sedang duduk bersama Iqbal yang juga sebagai temannya. Devano mengepalkan tangannya saat melihat interaksi Nakesya dan Iqbal. Baru saja ia akan menghampiri Nakesya dan Iqbal, Devano kembali menghentikan langkahnya saat mengingat semuanya telah berbeda.
bab7
Satu minggu kemudian
Meylani turun dari mobil disusul dengan Devano yang juga ikut turun, mereka sudah resmi menikah secara militer dan tiga hari lalu, Devano dan Melani sudah menggelar resepsi dengan adat pedang pora. Kini, Meylani.benar-benar harus menjalani hidupnya sebagai ibu Persit yang harus hidup sederhana.
Saat Meilani turun, Devano pun ikut turun ia membawa koper milik Meilani dan menyusul Meylani masuk ke dalam. Meylani membuka kunci pintu, kemudian tampak menghela nafas. Rumah itu memang sudah direnovasi dan sudah sedikit nyaman. Tapi tetap saja ada yang kurang.
“Kamu boleh istirahat dulu di kamar, biar saya yang beres-beres!” kata Devano, Meylani mengangguk, kemudian ia langsung berjalan ke arah kamar. Meylani membaringkan tubuhnya di ranjang, ia melihat ke arah langit-langi. Bulir bening lngsung terjatuh dari pelupuk matanya, Ia tidak menyangka hidupnya akan berakhir seperti ini.
Ini sudah dua minggu ia menjadi istri Devano.. rasanya ia benar-benar sudah ingin menyerah.
Saat Meylani melamun terdengar suara derap langkah, hingga Meylani langsung menghapus air matanya. Rupanya, Devano menyusul ke kamar sambil membawa pakaian dinas miliknya.
“ di sini memang ada mesin cuci tapi untuk. seragam saya tolong kamu kucek pakai tangan karena seragam Saya tidak boleh dicuci sembarangan!” titah Devano, Meylani terdiam, ia tidak menjawab. Tubuhnya terlalu lelah untuk menjawab.
“Kenapa kamu tidak menjawab ucapan saya?” tanya Devano, Meylani kemudian mengangguk.
“Ya, Kak,” balasnya singkat.
“Ingat jangan sampai kamu salah mencuci seragam saya kamu bisa lihat tutorialnya di youtube untuk mencuri seragam tentara,” jawab Devano. Setelah itu, Devano keluar meninggalkan Melani.
Lagi-lagi, bulir bening langsung terjatuh dari pelupuk Meylani. Jujur saja Melani seperti bukan hidup dengan suaminya tapi seperti hidup dengan majikannya. Sebenarnya Meylani tidak ingin mengeluh dengan kondisi ini, ia sudah bisa berdamai dengan dirinya sendiri , ia tidak pernah lagi mengeluh pada orang tuanya. Tapi tetap saja, setiap mendengar Devano memerintahnya tanpa kata tolong dan tanpa kata terima kasih, rasanya melayani begitu buruk, ia merasa kehadirannya hanya untuk menjadi pembantu suaminya saja.
Meylani melihat ke arah tangannya, tangannya begitu keriput. Selama dua minggu ini, Devano selalu memaksanya untuk mengerjakan pekerjaan rumah dan memantaunya. seolah dia tidak becus. Mungkin maksud Devano hanya untuk mendidik Meylani agar Meylani mandiri. Tapi Meyalani benar-benar butuh waktu untuk beradaptasi.
Waktu menunjukkan pukul 6 sore, Devano yang baru saja selesai dengan tugasnya kembali ke rumah dinas miliknya. Ia menggeleng saat lampu masih belum menyala. “Kenapa gadis itu tidak disiplin sekali,” lirih Devano, ia masuk ke dalam rumah dinas, kemudian ia langsung menyalakan lampu dan berjalan ke kamar dan benar dugaannya, Meylani masih tertidur.
“Meylan!” Devano mengguncangkan tubuh Meylani dengan kencang membuat Meylani langsung tersentak kaget, lalu membuka matanya. “Ia Kak!” jawab Meylani.
“Kamu enggak lihat jam berapa ini. Kamu belum mandi dan kamu juga belum membereskan koper kamu!” kata Devano, melihat wajah Devano yang serius, Meilani begitu ketakutan. Hingga Ia pun langsung bangkit dari duduknya, kemudian menggeret kopernya. Lalu membereskannya ke dalam lemari.
Ucapan Devano bagai perintah bagi Meilani, iai.yang biasanya hidup penuh kasih sayang tiba-tiba mendapat sikap otoriter dari suaminya, tentu saja ketakutan Melani berkali-kali lipat
Saat membereskan koper miliknya, kepala Meylani terasa berputar-putar. Bagaimana tidak, ia dipaksa bangun, lalu mendapatkan sikap yang tidak enak dari Devano
“Tolong siapkan pakaian saya. Saya ingin mandi setelah itu ayo kita silaturahmi pada komandan saya,” ucap Devano. Meylani tidak menjawab ucapan Devano, karena kepalanya sedang berputar-putar belum lagi tangannya sedang membereskan pakaian yang berada di koper..Jujur saja, saat ini Meilani seperti orang yang linglung.
“Mey!” i panggil Devano lagi. Meylani tersadar kemudian menatap wajah Devano. “Ia, Kak!”
“Tolong siapkan pakaian untuk saya!” kata Devano lagi, Meilani menggangguk
“Mei kamu akan terus seperti itu, apa kamu tahu Saya tidak suka membuang waktu!” Hardik Devano, membuat Meilani tersadar, ia langsung menoleh.
“Kak kepalaku sakit!" lagi-lagi, Devano menggeleng seraya menghela nafas kasar, ia menyangka Meilani beralasan.
“Mei, please. Tolong jangan drama. Saya sudah janji untuk bertemu komandan saya dan mau tak mau kamu harus ikut, saya ingin memperkenalkan kamu secara resmi.”
Saat mendengar ucapan Devano, nafas Melani kembang kempis, ucapan Devano menancap tepat di hatinya. Seandainya orang tuanya mau percaya padanya dan mau mendengarkannya, ia tidak akan terlalu tersiksa. Tapi setiap dia mengeluh tentang Devano, orang tuanya juga menganggapnya drama dan meyakinkannya dengan kata-kata yang tidak berguna, hingga Meylani ada di titik sadar, bahwa dia tidak bisa mundur lagi.
Saat Meylani membereskan pakaian yang ada di kopernya, Devano teringat sesuatu. “Apa kamu juga belum menyiapkan pakaian saya?” tanya Devano, Meylani memejamkan matanya, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Ia pun membuka koper satunya lagi lalu menyiapkan pakaian Devano.
Akhirnya Meylani selesai dengan aktivitasnya, kemudian ia langsung berjalan ke kamar mandi untuk menyegarkan dirinya. Saat berada di kamar mandi, Meylani berjongkok ia memegang kepalanya yang terasa berputar-putar, dan ia merasa tubuhnya sedikit demam. Apalagi saat kakinya menyentuh air dan rasanya begitu dingin.
Tidak ada penghangat di rumah dinas Meylani, ia yang biasanya mandi memakai Air hangat harus merasakan air dingin mengalir di tubuhnya.
“Mey, kamu akan terus di dalam?” tanya Devano karena Devano tidak mendengar suara gemericik air, hingga Melani tersadar. Kemudian,.
Meylani bangkit kembali dari berjongkoknya.
Saat air mengalir di tubuh Meilani, Meylani memejamkan matanya, tubuhnya langsung mengigil. dengan cepat, Meylani meneruskan acara mandinya. Lalu setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan berjalan dengan tergopoh-gopoh.
Sementara di sisi lain
Aryan terbangun dari tidurnya kemudian, ia langsung melihat jam di dinding, ternyata Jam menunjukkan 06.00 sore., Aryan melihat ponselnya, ia membelai layar ponselnya di mana foto Meilani menjadi walpapernya.
“Maafin aku, Mey,” jawab Arian. Dalam lubuk hatinya, ia benar-benar menyesal telah meninggalkan ijab kabul yang akan berlangsung. Padahal, ia tidak berniat pergi. Itu karena ....
Tinggalin komen ya ges ya.
bab 8
Aku up dua bab ya silahkan geser
Saat berjalan, kepala Meilani berputar-putar ia berusaha untuk mengejar Devano. Tapi tidak bisa, Devano malah berjalan mendahuluinya. mungkin Devano kesal padanya karena tadi saat bersilaturahmi ke rumah komandan, Meylani tidak banyak berbicara dan menjawab ucapan komandan dan istri komandan secara singkat.
Dan itu membuat Devano malu, dan menyangkal Meylani begitu besar kepala. Padahal Meylani sedang merasakan kepalanya berputar-putar, ia juga merasa tubuhnya menggigil dan ketika keluar dari rumah komandannya, Devano pergi mendahului Melani meninggalkan Meilani di belakang.
Saat kepala Melani terus berputar-putar, Meylani berjongkok, ia memegang kepalanya yang terasa semakin nyeri, dia melihat ke arah Devano yang sudah tidak terlihat. Rupanya, Devano sudah berbelok meninggalkan dirinya. Ia melihat ke sekelilingnya, tidak ada siapapun suasana tampak begitu sepi.
“Ayah ... Ibu.” Hanya itu yang bisa Melani katakan. Saat seperti ini ia hanya ingat kedua orang tuanya
15 menit berselang akhirnya Meylani menguatkan dirinya untuk bangkit. Lalu setelah itu, ia kembali berjalan dengan pelan sambil memeluk tubuhnya terasa dingin.
Akhirnya, Meylani sampai di rumah dinas yang mereka tempati, ia langsung membuka pintu dan ketika ia membuka pintu, ternyata Devano sedang duduk sambil memainkan ponselnya. Wajahnya tetap dingin dan serius.
Karena Meylani benar-benar tidak tahan dengan rasa pusingnya, ia langsung berjalan ke kamar, ia tidak ingin berbicara lagi terlebih dahulu dengan Devano.
“Tunggu!” Melanie memejamkan matanya ketika Devano berbicara, Ia pun berbalik dan menatap Devano. “Lain kali, jaga sikap kamu. Jangan pernah mempermalukan saya lagi!” kata Devano dengan dingin. “Besok pagi keluar, bergabung dengan ibu-ibu Persit yang lain jangan sampai kamu buat saya malu lagi,” sambung Devano dengan sadis.
Meylani tidak menjawab, ia lebih memilih untuk kembali berbalik lalu melanjutkan langkahnya dan setelah itu, ia membaringkan tubuhnya diranjang. Ia menarik selimut dan menyelimuti tubuhnya.
Devano menggeleng, saat Meylani masuk kedalam kamar, karena menurut Devano itu sungguh tidak sopan.Devano melihat jam di pergelangan tangannya, kemudian ia bangkit dari duduknya, ia mengambil tas yang berisi peralatan fitness. Lalu keluar dari rumah dinasnya, dan masuk ke dalam mobil, lalu menjalankan mobilnya, ia berencana untuk ke tempat gym guna melepas semua amarahnya.
15 menit kemudian, akhirnya Devano sampai. Ia langsung keluar dari mobil, kemudian membawa tasnya untuk masuk. Saat masuk, langkah Devano terhenti ketika melihat Nakesya sedang berlari di Treadmill.
Nakesya menggunakan kecepatan penuh untuk berlari, beberapa kali Devano melihat Nakesya mengusap matanya. Perasaan Devano campur aduk. Rasanya, ia begitu ingin menenangkan Nakesya yang tampak hancur. Ia tahu, ini masih begitu menyakitkan untuk kekasihnya, atau yang sekarang menjadi mantan kekasihnya, begitupun dengannya.
Setiap ia kesal pada Meilani karena Melani lambat. Devano selalu menyesal telah mengambil langkah ini. Harusnya dia tidak bermain-main dengan pernikahan, apalagi ia menikahi wanita yang labil.
Saat Devano masih terdiam Nakesya menghentikan mesin treadmill, kemudian berusaha mengatur nafasnya. Ia menggelap keringat setelah itu turun dari mesin treadmill. Saat ia akan berjalan, Nakeysa menghentikan langkahnya, kemudian menatap Devano yang juga sedang menatap ke arahnya.
Nakeysa ingin sekali berlari, menghampiri lelaki itu. Memeluknya seperti biasa, tapi semua sudah berbeda. Akhirnya Nakeysa pun berbalik, memutuskan untuk beristirahat di ruangan lain.
satu jam kemudian
Devano sudah selesai dengan acara berolahraganya, Ia pun segera merapikan semuanya dan berencana untuk membilas tubuhnya. “Devano ...” tiba-tiba terdengar suara Nakeysa dari arah belakang, hingga Devano memejamkan matanya. Mati-matian, Ia yang menghindari mantan kekasihnya agar tidak goyah. Tapi sekarang, Nakesya malah memanggilnya.
Nakesya sengaja menunggu Devano. Rasanya, ia tidak sanggup menahan semua yang bergejolak hingga Ia memutuskan untuk menunggu Devano
Devano menoleh kemudian berbalik. “Nakeysa!” panggil Devano dengan lirih, wajahnya berbinar penuh Nakesya penuh cinta. Bagaimana mungkin dia bisa melupakan Nakeysa dalam waktu yang singkat, sedangkan Nakesya adalah wanita yang sangat ia cintai, dan sudah menemaninya selama 5 tahun.
tanpa basa-basi Nakesya langsung maju kemudian memeluk Devano, membuat tubuh Devano menegang. “Devano, aku tidak bisa seperti ini. Aku tidak mau seperti ini!” ucap Nakeysa, ia kembali menumpahkan tangisannya, hingga air mata membasahi wajah cantiknya.
Devano memalingkan tatapannya ke arah lain. Rasanya, Ia juga tidak sanggup melihat Nakesya seperti ini. “Nakesya jangan begini!” kata Devano. dia berusaha untuk memegang teguh kesetiaannya. Ia berusaha melepaskan tubuh Nakeysa dari tubuhnya. Namun, Nakesya malah memeluknya semakin erat.
Tangisan Nakesya begitu mengetuk hati Devano. telinga Devano rasanya begitu sakit ketika mendengar pilunya tangisan wanita yang kini menjadi mantan kekasihnya, dan sedetik kemudian Devano membalas pelukan Nakesya. lelaki itu terbuai dengan perasaannya sendiri, ia melanggar teguh kesetiaan yang selama ini ia pegang.
•••••
bab 9
Meilani meremas kepalanya kala kepalanya semakin berputar-putar. Tubuhnya sudah dialiri keringat dingin, wajahnya sudah memucat tidak ada obat di rumah dinas yang ia tempati. Barusan Meylani sempat tertidur Namun, ia hanya tertidur dengan waktu singkat.
Setelah kembali terbangun, Meylani melihat jam di dinding ternyata waktu menunjukkan pukul 09.00 malam, Meilani mengambil ponselnya. Ia menelepon Ayah dan ibunya. Namun, ayah dan ibunya tidak mengangkat panggilannya, begitupun Bara dan Ayla yang tak lain ayah kandung dan ibu tirinya, yang juga tidak mengangkat panggilannya. Keluarga Meilani sengaja tidak mengangkat panggilan Meilani, agar Meilani tidak terus mengeluh.
“Aaaaa!” Meilani berteriak sekencang-kencangnya, ia membanting ponselnya hingga layar ponselnya pecah. Ia benar-benar tidak sanggup hidup seperti ini.
Perlahan Meylani pun bangkit dari berbaringnya dan memutuskan untuk pergi keluar untuk mengambil air. Setelah minum, Meylani, mengedarkan pandangannya. Tidak ada makanan, tidak ada cemilan di rumah dinas yang di tempatinya dan itu benar-benar membuatnya gila.
Tak lama, terdengar suara deru mobil Devano Rupanya lelaki itu baru pulang dari tempat gym. kemudian pintu terbuka, muncul sosok Devano hingga Meylani menoleh.
“kepalaku pusing, perutku lapar, kak!” tanpa basa-basi, Meylani langsung mengatakan Apa yang dirasakan olehnya. Seperti biasa, Devano sama sekali tidak bereaksi, ia masuk ke dalam kamar kemudian ia membuka kopernya. Lalu mengambil kotak obat kecil yang ada di dalam koper tersebut.
“Makan obat Ini!” kata Devano. Tidak ada kehangatan dalam nada suaranya. Dengan cepat, Meylani mengambil obat itu dan meminumnya.
“Kak aku lapar,” ucap Meylani dengan nada yang lirih. Tak pernah terbayangkan olehnya dia akan seperti ini, bahkan ia seperti pengemis yang harus meminta makan pada suaminya.
Devano mengusap wajah kasar. “ Seharusnya kamu bilang dari tadi. Apa kamu tahu tidak tahu saya lelah,” balas Devano dengan sadis, inikah yang dinamakan akan bertanggung jawab, inikah yang akan dinamakan akan menjadi suami yang baik seperti ucapan Devano saat dulu
“Tunggu sebentar, saya akan belikan keluar!” Devano keluar dari rumah dinasnya, sedangkan Meilani langsung merebahkan kepalanya di kursi, ia begitu lemas tidak bertenaga. Rasanya ia sudah tidak bersemangat menjalani hidupnya, ia benar-benar merasa ditinggalkan oleh keluarganya.
“Aryan!” dalam setiap sedihnya, ia selalu menggumamkan nama Aryan. Lelaki terbaik yang pernah ia kenal, yang selalu memperlakukannya bagai ratu dan selalu mengerti dirinya.
“ Saya akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kamu!” Melani berdecih saat mengingat kata-kata Devano saat itu, inikah yang disebut baik versi Devano, begitulah pikir Meilani.
20 menit kemudian, terdengar suara deru mobil. Devano sudah kembali, hingga Melani langsung menegakkan tubuhnya, dan Devano masuk ke dalam rumah sambil membawa kresek. Devano mengambil piring, kemudian Ia membuka kotak. Setelah itu, ia menuangkannya pada piring dan memberikannya pada Meilani.
“Ini makan dan habiskan. Besok pagi, kamu harus ikut dengan kegiatan ibu Persit, karena ada acara. Jangan membuat saya malu lagi, berbaur dengan mereka dan jangan seperti tadi!” ” Belum reda rasa sakit kepalanya, sekarang ia harus mendengar gerutuan Devano, membuat kepalanya semakin berputar-putar
Setelah mengatakan itu, Devano pun langsung pergi ke kamar. Ia berencana untuk tidur terlebih dahulu, karena dia besok harus berdinas pagi.
2 jam kemudian, Meylani terbangun dari tidurnya. Sedari tadi makan, Meilani tanpa sadar tertidur hingga saat ia bangun, Meylani menegakkan tubuhnya, kemudian ia bangkit dari duduknya. Lalu berjalan ke arah kamar. Saat berada di kamar, ia melihat Devano yang sudah memejamkan matanya.
Lagi-lagi hati Melani berdesir pedih, 2 minggu ini mereka memang selalu tidur bersama. Tapi mereka selalu tidur saling memunggungi. Meylani mengusap matanya yang membasah, kemudian ia berjalan ke arah ponsel yang tadi ia banting, ia mengambil ponsel itu, kemudian terdiam saat layar ponselnya pecah, dia sungguh menyesal telah melemparkan ponselnya.
Jika sudah begini, sekarang ia harus bagaimana, ia tidak mungkin meminta pada Devano , ataupun menggunakan uang suaminya karena ia yakin Devano mengontrol pengeluarannya dan ia yakin Devano pasti mengetahui jika ia menghambur-hamburkan uang.
Meylani kembali berbalik. Lalu setelah itu, Ia memutuskan lagi untuk keluar dari kamar.
Meylani kembali menundukkan dirinya di kursi yang tadi. Setelah dia duduk, ponselnya berdering. Satu panggilan masuk kedalam ponselnya, ia tidak mengetahui siapa yang menelponnya, karena layar ponselnya retak..
Walaupun tidak terlihat, Meylani menekan bagian yang ia yakini itu adalah tombol hijau. “Hallo!” panggil Meylani, ia berharap yang meneleponnya adalah Aryan.
“Hallo!” panggil Meylani lagi. Tidak ada yang bersuara, hanya terdengar suara deru nafas, membuat jantung Meylani tiba-tiba berdegup kencang. “Aryan, Apakah ini kau?” tanya Meilani
tiba-tiba panggilan terputus, membuat Meilani menutup wajahnya seraya menangis tergugu.
••••
Aryan mematikan panggilannya saat Meylani menyebut namanya, ia menjambak rambut kasar saat mendengar nada Melani terdengar pilu. Sial! Ia kembali menguruk dirinya sendiri, seandainya saat itu ia tidak terbang ke luar negeri, ia tidak akan seperti ini.
Sebenarnya Aryan tidak berniat untuk membatalkan ijab kabul yang akan dilakukan. Namun saat dini hari, saat ia bangun dan bersiap temannya menelpon dan mengatakan bahwa temannya tidak jadi pergi ke luar negeri dan memberikan tiket masuk pada Aryan.
Saat itu, Aryan dilanda kebingungan. Di satu sisi, ia akan menikah. Tapi sisi lain, klub bola favoritnya akan tanding dan ia tidak bisa menyia-nyiakan hal itu, karena sudah lama sekali ia ingin menonton klub bola itu secara langsung, dan saat kemarin klub bola itu akan bertanding Aryan tidak kebagian tiket.
Tapi saat ia akan menikah, tiba-tiba temannya memberikan tiket itu padanya. ijab kabul akan dimulai. Tapi Aryan tidak bisa mengabaikan keinginannya yang sudah sedari dulu ia pendam, dan pada akhirnya, Aryan memilih pergi di hari pernikahannya hanya untuk menonton klub bola kesayangannya.
Aryan berpikir, entah kapan dia bisa menonton lagi klub bola kesayangannya secara langsung, karena itu semi terakhir dan dia berpikir mungkin pernikahan bisa ditunda. Dan sekarang Aryan, menyesali keputusannya, apalagi saat ia mendengar dari temannya yang datang, bahwa Devano menggantikannya.
Sekarang, dia tidak bisa pulang. Ayahnya akan membunuhnya jika ia pulang, dan barusan rasanya jantungnya Aryan berdebar saat mendengar suara Meilani, ia begitu rindu calon istrinya yang sekarang menjadi kaka iparnya. Tapi dia tidak bisa berbuat banyak, untuk berbicara lewat ponsel saja ia tidak berani.
•••
dua hari kemudian
Meylani terdiam di kantin, sedari tadi ia melamun. Hari ini ia sudah mulai berkuliah lagi, ia melamun memikirkan bagaimana caranya Ia mendapat ponsel baru lagi, sedangkan ponsel lamanya sudah tidak bisa terpakai.
Devano memang memberikan kartu kredit padanya. Tapi rasanya Melani tidak seberani itu untuk menggunakannya untuk membeli ponsel, ia takut Devano emosi lagi sama seperti kemarin. Uang bulanan yang diberikan Devano pun hanya sedikit, uang bulanan yang ia dapat dari Devano adalah uang mingguan yang selalu ia dapat dari orang tuanya.
Devano sudah memberikan ultimatum keras padanya, agar dia tidak berfoya-foya dan itulah yang membuat Meylani bingung. Ia bisa saja meminta atau datang pada ke kantor ayah tirinya, atau Ayah kandungnya, untuk meminta ponsel baru. Tapi sikap keluarganya setelah dia menikah benar-benar membuat Meylani kecewa, hingga rasanya Meylani begitu enggan menemui keluarganya.
“Hei!” tiba-tiba terdengar suara Hana yang tak lain adalah sahabat Meylani menyadarkan Meylani dari lamunannya.
“ Kau kenapa?” tanya Hana, Meylani menggeleng.
“Aku hanya lelah,” jawabnya.
“Apa kau sudah bermain dengan suamimu? Bagaimana rasanya bercinta dengan calon kakak iparmu?" tanya Hana.
“Mulutmu Hana!” kata Meilani, membuat Hana tertawa Hana mengeluarkan ponselnya Kemudian menyodorkannya pada Meylani.
“Besok aku ulang tahun, belikan aku ini!” Tiba-tiba dada Meylani bergemuruh saat mendengar permintaan Hana. Sedari dulu, setiap mereka ulang tahun mereka akan memberikan kado dengan keinginan mereka masing-masing.
Jika Melani ulang tahun, ia akan meminta sesuatu pada Hana, begitupun dengan Hana dam sekarang, Meylani bertambah bingung. Dua bulan lalu saat ia ulang tahun, Hana memberikannya hadiah yang berharga fantastis dan sekarang rasanya ia tidak tega jika harus mengatakan yang sejujurnya.
Meilani mengambil ponsel Hana, lalu ia menelan saliva saat melihat tas seharga 32 juta. Bagaimana mungkin ia akan memberikannya pada Hana. Tapi untuk juju, rasanya ia belum mampu. Ia tidak mau Hana kasihan padanya.
“Baiklah,” jawab Meylani. Pada akhirnya,.ia pun menyetujui keinginan Hana dia akan mencoba berbicara baik-baik pada Devano.
bab 10
Devano keluar dari dari gudang penyimpanan, ia menghentikan langkahnya sejenak, karena ponselnya berbunyi.
”Duluan aja Bro!” kata Devano pada temannya, Ia pun merogoh saku, kemudian mengambil ponselnya. Mata Devano membulat saat melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya, itu adalah notifikasi penggunaan kartu kredit yang dilakukan oleh Meilani, istrinya.
“Apa-apaan Dia!” Devano menggeram kesal saat Melani menghabiskan uang sebesar 50 juta dalam sekali transaksi, lelaki tampan itu mengusap wajah kasar. Padahal Ia sudah mewanti-wanti istrinya untuk tidak berfoya-foya. Tapi lihatlah, istrinya malah tidak bisa diberitahu.
Padahal Meilani menggunakan uang itu untuk membeli tas untuk Hana sebagai hadiah ulang tahun Hana, karena merasa tak enak pada sahabatnya, ia bingung harus mengatakan dari mana, itu sebabnya ia nekat menggunakan kartu kredit dari suaminya, Ia juga memberi ponsel yang berharga cukup murah berbeda dengan ponselnya yang dulu.
Devano mengusap wajah kasar, ia benar-benar tidak habis pikir dengan istrinya. Selama ini ia sudah bersikap keras. Tapi tetap saja Meylani tidak mengerti. Devano melihat jam, dan ia bersyukur jam dinasnya sudah selesai dan sebentar lagi Melani pun pulang. Ia tidak menjemput Meylani, karena tadi Meilani mengatakan akan pulang menaiki taksi online.
Meylani terdiam di depan gapura, ia bingung harus bagaimana untuk berbicara pada Devano. Beberapa kali Devano meneleponnya. Ianl.tahu pasti Devano akan memarahinya karena ia menghambur-hamburkan uang seandainya Hana tidak meminta tas pun, ia tidak akan memakai uang Devano. Tapi ia juga tidak enak berterus terang pada sahabatnya.
“Mey!” tiba-tiba terdengar suara Guna dari arah belakang, yang ia ingat bahwa itu adalah teman Devano yang saat itu berkenalan dengannya.
“Haloo, bang!” sapa Meylani.
“Kenapa kamu enggak masuk. Ayo mau bareng sama abang?” tanya guna yang sedang memakai sepeda motor. Meylani menggeleng.
“Enggak bang, terima kasih. Aku sedang menunggu makanan di sini!” kata Meylani.
“Oh, ya udah. Abang duluan ya,” balas Guna, Meylani menggangguk.
Meilani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, seberapa pun ia ketakutan. Tapi pada akhirnya, ia harus menghadapi Devano. Akhirnya, Meilani pun berjalan, ia mulai melangkahkan kakinya untuk pergi ke rumah dinasnya.
Jantung Melani berdetak dua kali lebih cepat saat dari kejauhan terlihat Devano sedang menunggu di luar, dadanya bergemuruh saat melihat lelaki yang kini menjadi suaminya.
“Jangan takut, Mey. Jangan takut!” Meilani membatin, ia berusaha menguatkan dirinya walau dia sendiri pun bergidik dengan kehadiran Devano.
“Assalamualaikum,” ucap Meilani saat berada di dekat pintu masuk.
Bukannya menjawab, Devano malah membuka pintu menyuruh Meylani untuk masuk, membuat lutut Meilani semakin melemah. Namun, Meilani tetap mengikuti perintah Devano untuk masuk ke dalam rumah.
Saat Devano masuk, ia sedikit membanting pintu Kemudian ia memangil Meilani. Hingga Meylani tersentak.
“Apa kamu bodoh, apa kamu dungu! apa Kamu tuli! Bukankah sudah saya bilang, jangan pernah menghambur-hamburkan uang dari saya!” hardik Devano, ia hampir saja berteriak di depan wajah istrinya.
Meylani hampir saja terhuyung ke belakang tangisnya langsung keluar saat Devano menghinanya. “Kamu pakai apa uang 50 juta itu?” tanya Devano, mungkin bagi Devano uang segitu hanya uang recehan, karena jelas-jelas ia terlahir dari keluarga kaya. Tapi karena dia sedang berencana mendidik Meilani, ia mempermasalahkan uang yang tidak seberapa baginya.
Meylani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, ia menghapus air matanya. “Kakak, temanku ulang tahun. A-aku menghadiahkan tas untuknya,” jawab Melayani dengan bibir bergetar. Bahkan sekarang nafas Meylani ini tidak beraturan, apalagi saat melihat tatapan Devano yang seperti ingin menerkamnya.
“Bukankah Saya sudah bilang, saya tidak menerima alasan apapun. Kamu harus mengubah gaya hidup kamu. Kamu tidak bisa berfoya-foya atau mentraktir teman kamu seperti dulu!” Nadanya masih menggeram, ia menatap Meilani dengan kesal, sedangkan Meylani langsung mundur karena Devano seperti akan melangkah ke arahnya dan ia takut Devano melukainya.
“Mana kartu kredit saya?” tanya Devano. Dengan cepat Melani pun langsung merogoh tasnya. Karena sanking gugupnya, Meilani menjatuhkan tasnya hingga isi tas Meylani terurai ke lantai, dan itu semakin menambah kegugupan Meylani.
Dengan cepat, Meylani berjongkok. Lalu setelah itu, ia mengambil satu persatu isi tasnya. Saat ia akan memasukkan kotak ponsel ke dalam tas, Devano melihat kotak ponsel, hingga lelaki itu menariknya. “Kamu membeli ponsel baru lagi?” tanya Devano, Meilani tidak berani lagi menjawab.
“Kak, layar ponselku pecah. Jadi aku ....”
“Kemari kan ponsel baru kamu!” titah Devano, membuat Meylani langsung mendongak menatap Devano.
“Ma-maksud kakak?”
“Kamu sudah melewati batasan. Jadi ponsel kamu saya tahan!” ucap Devano dengan sadis. Hinaan Devano barusan serta tingkah Devano saat ini benar-benar menghancurkan hati Meylani semakin ke dasar. Entahlah kenapa ada lelaki setega Devano.
Dengan cepat, Meylani langsung kembali bangkit, kemudian ia merogoh sakunya. Lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya dan setelah itu Meilani langsung berbalik lalu masuk ke dalam kamar dan membanting pintu. Rasanya, ia benar-benar tidak tahan seperti ini, hingga Emosi Meylani memuncak. Padahal tadi ia takut pada Devano.
Waktu menunjukan pukul 9 malam, Meilani mengintip dari jendela. Ternyata, Devano sudah pergi dan setelah itu Meilani memakai hoodinya, Ia pun keluar dari kamar dan keluar dari rumah dinasnya. Malam ini juga, Meilani bertekad untuk mencari Aryan, ia tidak sanggup lagi hidup dengan Devano. Setidaknya Jika ia menemukan Aryan ia bisa terselamatkan.
Setelah melewati gapura, Meylani bisa bernafas lega, ia tidak perduli Devano besok pagi akan mengamuk karena ia tidak ada di rumah dinas, yang terpenting ia harus menemukan Aryan terlebih dahulu.
•••
Dua jam kemudian, Meilani terduduk di halte bis ia mengeluarkan botol minum. Lalu menengguknya hingga tandas, ia sudah mencari Arian ke sana kemari, dari mulai tongkrongan Aryan, sampai ke tempat teman-teman Aryan. Tapi Aryan tidak ada.
Dan sekarang, Melani kehabisan uang, karena tadi ia keluar terburu-buru, hingga ia tidak membawa dompetnya dan ia hanya memakai uang receh yang ada di hoodinya. Namun ternyata, uang itu sudah habis untuk dipakai menaiki taksi dan sekarang ia bingung ia harus pergi ke mana, apalagi ini sudah pukul 11.00 malam.
Melani menatap tangannya yang sudah mengkerut, tidak ada lagi tangan yang glowing tangannya pecah-pecah, karena ia harus melakukannya secara manual. Ia tersenyum getir saat menyaksikan hidupnya sekarang, keluarganya tidur nyenyak tidak memikirkan dirinya lagi dan ia harus menanggung semuanya sendiri. Sungguh, Meilani benar-benar kecewa pada keluarganya.
Saat ia akan bangkit, tiba-tiba Meylani menghentikan gerakannya saat melihat motor yang sedang berjalan melewatinya, dan ternyata motor itu dikendarai oleh Devano, suaminya yang sedang membonceng Nakesya.
Meylani tersenyum getir dengan mata yang berkaca-kaca. Sekelebat ia melihat interaksi Devano dan Nakesya yang begitu hangat walaupun mereka sedang berada di atas motor.
Tidak, Meylani tidak cemburu dan tidak peduli apapun yang dilakukan Devano dan Nakeysa. Hanya saja ia marah, kenapa Devano tidak bisa bersikap baik padanya. Bahkan selama dua bulan mereka menikah, Mungkin Devano tidak pernah tersenyum padanya.
Setelah cukup lama terdiam, Meilani memutuskan untuk berjalan ke arah rumah dinasnya. Entah kapan dia sampai, yang terpenting sekarang dia harus pulang terlebih dahulu untuk mengambil uang lagi, ia akan mencari Arian besok, ia tidak akan lupa bagaimana tadi Devano menghinanya dan jangan lupa saat Devano menatapnya dengan bengis. Itu sebabnya dia bertekad untuk mencari Aryan.
•••
“Devano Terima kasih sudah mengantarkanku!” kata Nakeysa, setelah sampai di depan rumah.
“Masuklah,” jawab Devano. Nakesya tersenyum kemudian melambaikan tangannya. Lalu setelah itu, Devano pun membalikan motornya. Saat mengendarai motor, Devano tersenyum ia begitu bahagia bisa mengantar Nakesya pulang..
Namun tak lama, Devano mengerutkan keningnya saat melihat seorang yang berjalan persis seperti Meilani dan Devano mengenali Melani dari hoodie yang Meylani kenakan.
Devano pun memacu motornya lebih cepat dan ketika sampai di belakang tubuh Meilani, Devano langsung menekan klakson membuat Melani terperanjat lalu menoleh. Mata Devano membuat saat melihat ternyata benar yang berjalan adalah istrinya. Untuk apa juga istrinya di sini malam-malam, bukankah tadi istrinya sedang tertidur.
Devano turun dari motor, lagi-lagi membuat Melani bergidik karena Devano menatap bengis padanya. “Kamu!” Devano membentak Meylani.
”Ma-maafkan, aku Kak. Aku hanya ....” Meylani tidak sanggup lagi meneruskan ucapannya. lagi-lagi ia merasa ketakutan, apalagi barusan Devano membentaknya.
Devano mengucap wajah kasar saat melihat Meylani ketakutan padanya. “Ayo naik kita pulang!” ajak Devano yang menarik tangan Melani, dan Meylani hanya menurut saja, karena ia takut pada suaminya
Devano menjalankan motornya dengan kecepatan penuh, terlihat jelas bahwa lelaki itu sedang emosi karena Melani keluar tengah malam dan tidak tahu akan kemana. bagaimana jika ada apa-apa dengan istrinya, begitulah pikir Devano.
Motor yang dikendarai Devano sampai di depan rumah dinas, dengan cepat, Meylani turun dan ia langsung berlari ke rumah, ia takut Devano mencelakainya atau memukulnya karena Devano tadi menjalankan motornya dengan kecepatan kencang, ia tahu sekarang suaminya begitu emosi.
Setelah sampai di kamar, Meylani langsung mengambil selimut, lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Tubuhnya bergetar saat mendengar suara derap langkah, dan sedetik kemudian pintu terbuka dengan keras
“Duduk, Saya ingin berbicara dengan kamu,” ucap Devano, Melani menangis di dalam selimut. hari ini benar-benar berat untuknya. Devano benar-benar memperlakukannya dengan buruk dan itu menyerang mental Meilani.
“Duduk saya bilang!”!kata Devano, hingga akhirnya Melani pun menyingkirkan selimutnya
••••
1 bulan Kemudian.
Ini sudah satu bulan berlalu semenjak Devano memergoki Meylani keluar tengah malam, selama 1 bulan ini pula Meilani benar-benar menurut pada Devano, karena ia takut melihat amarah, ia pernah tidak membantah sedikitpun. Tapi ada yang berbeda, Meilani kehilangan berat badannya dengan drastis, bahkan wajahnya begitu tirus.
Semenjak ia menikah, keluarganya tidak pernah ada yang menghubunginya dan tidak pernah ada yang datang mengunjunginya, itu membuat Meylani terpukul, ia merasa ditinggalkan dan pada akhirnya Meylani melampiaskan ketakutannya, amarahnya, kecewanya dengan meminum obat haram.
Dua minggu lalu, ketika Meylani sudah tidak sanggup lagi untuk menahan gejolak yang ia rasakan, ia nekad membeli pil ekstasi dari temannya, yang ia tahu dari dulu menjual barang haram. Hingga pada akhirnya, sekarang ia mengalami kecanduan barang haram itu tersebut. Ia akan gelisah ketika tidak meminum obat yang selama dua Minggu ini ia minum.
Banyak sekali efek yang dirasakan oleh Melani ketika meminum obat itu, ia jadi lebih tenang dan tidak takut lagi serta tidak gelisah lagi. Seperti saat ini, Meylani Baru saja sampai di rumah dinas setelah berkuliah, ia langsung membuka tasnya kemudian mengambil yang baru saja ia beli.
Uang kuliah yang diberikan oleh Devano ia belikan pada obat itu karena, rasanya Dia benar-benar sudah depresi, ian merasa ditinggalkan oleh keluarganya..
Meylani membuka obat itu, dan tepat ketika dia akan meminumnya. Devano masuk ke dalam kamar, hingga Meylani langsung menaruh obat ke belakang tubuhnya.
“Kamu minum obat apa itu?” tanya Devano. Selama minggu ini, Devano kerap melihat perubahan Meilani yang tiba-tiba sedang tersenyum seorang diri ataupun seperti sedang menghayal sesuatu. Namun Devano pikir itu adalah hal yang wajar.
“Ini bukan obat apa-apa kak, ini obat pusing. kepalaku sakit.” Meylani menjawab dengan sedikit tak karuan..
Devano mengerutkan keningnya saat bibir Meylani bergetar dan istrinya terlihat lebih gelisah. Seketika itu juga, Devano langsung merebut obat yang berada di belakang tubuh Meilani, kemudian melihatnya dengan seksama.
Mata Devano membulat saat mengetahui pil itu.
“Kamu!” teriak Devano, ia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya saat Mengetahui, Meylani menegak pil ekstasi. Karena takut, Meilani langsung merebut obat itu dari Devano kemudian ia langsung berlari ke arah kamar mandi, ia sudah sangat gelisah dan Ia membutuhkan obat itu.
nafas Devano memburu, Ia pun langsung menyusul istrinya hingga ia langsung mendobrak pintu kamar mandi, dan ia langsung mengambil obat yang akan diminum oleh istrinya.
•••
Devano menjalankan mobilnya dengan kecepatan penuh, Ia segera ingin sampai di rumah kedua mertuanya. Saat ini mereka sedang berada di mobil menuju rumah Alfian dan Veronica.
Meylani meringkuk di belakang sambil memeluk tubuhnya, karena merasa gelisah. Pikiran Meylani kosong, Ia hanya ingin mengambil obat itu dan meminumnya. Tubuh Meylani serasa melayang dan ia merasa antara tidur dan terbangun.
Setelah melewati perjalanan cukup jauh, akhirnya mobil yang dikendarai Devano sampai di pekarangan rumah, Devano pun turun kemudian ia langsung menarik dengan keras tangan Meilani.
“Assalamualaikum!” panggil Devano. Semua orang sudah menunggu di rumah Ibu Meilani termasuk Bara ayah kandung Melani dan juga Ayla ibu tiri Meilani.
Tadi Devano menelepon mertuanya dan meminta semuanya untuk segera berkumpul, ia harus membuka ini sebelum semua orang mengetahui yang sebenarnya.
“Ayah ... ibu!” panggil Devano.
“Ayo Devano duduk!” kata Alfian. Alfian menatap Melani sekilas, raut kecewa terlihat dari wajah para lelaki paruh baya itu saat mendengar Meylani menenggak ekstasi.
Saat semua menatapnya, Melani tersadar bahwa semuanya sedang berkumpul dan menatapnya dengan penuh kecewa dan Itu menyakiti hatinya.
“Meylani duduk!” titah Alvian yang mulai tegas pada Sang Putri, hingga kini semua orang sudah terduduk di ruang tamu dan Melani duduk seorang diri. Setelah duduk, Meylani menunduk tidak berani melihat sekitarnya, ia merasa seperti terdakwa yang sedang disidang oleh hakim.
“Mey, ayah kecewa padamu. Bisa-bisanya kamu minum pil ekstasi. Apa Ayah mengajarkanku seperti itu?” Alfian hampir saja berteriak, sedangkan Veronica Ibu Meilani menunduk Ia tidak menyangka putrinya akan meminum barang haram tersebut.
“Meylani, kami semua tidak menyangka kamu akan mengambil jalan pintas seperti ini. Kenapa kamu minum itu, apa kamu tahu itu membahayakan diri kamu dan membuat keluarga malu jika sampai berita ini tersebar,” ucap Bara yang tak lain ayah kandung Meylani.
Ucapan kedua ayahnya membuat Meilani mengangkat kepalanya, ia menoleh ke arah sang ibu yang tertunduk, Meylani yang sudah merasa terpojok langsung menghapus air matanya, kemudian ia menatap Alfian yang sepertinya akan berbicara lagi.
“Maafkan saya saya gagal mendidik Meilani,” jawab Devano, seketika Meylani menoleh ke arah Devano. Rasa benci pada lelaki itu semakin menjadi-jadi.
“Jelaskan pada Ayah kenapa kamu harus meminum barang haram itu!” kata Alfian, Melani mengharap nafas kemudian menghembuskannya. Di tengah rasa gelisah, ia harus berbicara pada ayahnya.
“Ayah, apa ayah tidak mengenalku?” tanya Meylani, ia menatap Ayah tirinya dengan penuh kecewa.
“Apa maksud kamu Mey, kamu ingin cari pembelaan?” tanya Alvian lagi, ia malah semakin emosi ketika Melani jawab ucapannya.
“Apa Ayah tidak mengenalku, apa aku seperti orang yang sedang mencari pembelaan. Kenapa ayah tidak bertanya kenapa aku bisa meminum obat seperti itu.”
Hening ... Tiba-tiba semua terdiam saat melihat iris mata Meilani yang dipenuhi beban, Veronica mengangkat kepalanya Ia pun langsung menghampiri Meilani dan duduk di sebelah putrinya.
“Ibu, apa Ibu juga tidak mengenalku?” tanya Melani dengan berlinang air mata.
“Jelaskan apa yang terjadi!” pinta Veronica seraya menghapus air mata Meylani.
“Kenapa kalian begitu egois, membuangku begitu saja seolah aku bukan bagian dari kalian!”
“Cukup, Mey. Berhenti mencari pembelaan,” ucap Alfian yang masih emosi hingga Meylani menoleh .
“Bertahun-tahun hidup denganku apa Ayah masih tidak mengenalku,” ucap Melani Ia terus mengulangi pertanyaannya pada Alfian. Baru saja Alfian akan menjawab Veronica bangkit dari duduknya.
“Cukup Mas! biarkan Meylani.berbicara!” sentak Veronica pada Alfian.
“Jelaskan pada kami, apa yang terjadi, Mey?” pinta Veronica. Melani menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, kemudian ia mencoba untuk menenangkan diri.
“Tolong berikan aku minum dulu,” jawab Meilani, Veronica mengangkat tangannya, kemudian memanggil pelayan. Lalu setelah itu, pelayan membawakan minum untuk Meylani
Suasana kembali hening, semua orang terdiam menanti jawaban Meilani. “Sekarang katakan Kenapa kau bisa sampai nekat untuk meminum pil haram tersebut!” titah Alfian.
Meilani kembali menatap ke arah Devano yang juga sedang menatap ke arahnya, kemudian ia menggerakkan tangannya untuk menunjuk suaminya. “Semuanya gara-gara dia!” teriak Meylani. Semua orang menatap heran pada Meilani dan mereka juga menatap Devano secara bergantian.
Devano berusaha untuk tetap tenang, ia tidak mungkin bertindak gegabah di hadapan mertuanya.
“ Kenapa kamu menyalahkan suamimu?”
“Kalian ingat, apa yang lelaki itu katakan pada kalian. Dia mengatakan akan berusaha menjadi suami yang baik dan akan memperlakukanku dengan baik. Tapi apakah kalian tahu kehidupan pernikahan macam apa yang aku jalani.”
Meylani bangkit dari duduknya, kemudian ia menunjuk lagi Devano. “Lelaki yang kalian anggap baik, apa kalian tidak tahu bagaimana perlakuannya padaku. Aku dipaksa untuk melakukan pekerjaan yang tak pernah aku lakukan, jika aku tidak menurut dia akan menatapku dengan bengis. Apa kalian tahu, bahkan untuk makan saja aku harus seperti pengemis memintanya membawakanku dulu!” Meylani berteriak seraya menangis pilu.
“Meylani, jaga bicaramu!” kali ini Bara yang berbicara membuat Meilani menoleh.
“Tutup mulutmu Ayah jika ayah tidak tahu apa-apa!” Untuk pertama kalinya, Meylani berani melawan sang ayah. Saat Bara akan berbicara, Alfian menoleh mengisyaratkan Bara untuk diam.
“Kalian menyidangku, seolah Aku adalah orang yang salah. Lalu Kenapa kalian tidak menanyakan apa penyebabnya!” Meilani berteriak di akhir kalimatnya, ia tidak bisa membendung amarahnya. Sedangkan Devano iya bingung harus menjawab apa dan bereaksi bagaimana.
“Aku dipaksa bangun dini hari, aku harus mengerjakan pekerjaan rumah seorang diri, aku diawasi dan ketika aku salah, dia selalu menghardikku dan menatapku dengan bengis. Dia memarahiku karena aku memberikan kado pada Hana, dia menahan kartu kreditku. Hingga aku harus berhemat mati-matian. Apa kalian tahu setiap aku merasakan sakit, dia selalu menganggapku beralasan. Apa kalian tahu lelaki yang kalian anggap baik menyiksa mentalku dengan ucapan dan dengan tingkahnya." Nada suara Meylani sudah melemah, bahkan ia merasa tubuhnya akan tumbang.
Semua orang langsung melihat ke arah Devano saat mendengar apa yang Meylani katakan.
”Dia mengatakan dia ingin mendidikku, agar aku menjadi mandiri dan tidak boros serta bisa merubah hidupku agar sederhana. Aku mengerti, aku bisa melakukan itu. Tapi kenapa ...." Meylani menghentikan sejenak ucapannya, karena tangisnya sudah berlinang. Ia menghapus air mata dan kembali menatap Devano
“Ayah ... Ibu, apa kalian tahu dia tidak pernah bersikap hangat padaku, di matanya aku selalu salah, selalu salah, selalu salah. Apa kalian tahu dalam 2 bulan pernikahan kami, kesehariannya dia hanya akan terus membentakku dan memarahiku karena aku berbuat salah. Aku bisa berubah seperti yang kalian mau, aku bisa menjadi sederhana, aku bisa menjadi Meilani yang baru, dan aku bisa menjadi yang kalian harapkan. Tapi bukankah kalian terlalu egois, memaksaku berubah dengan cepat. Kalian tidak memberiku waktu untuk beradaptasi.” Meylani menjeda sejenak ucapannya, lalu menghela nafas sebanyak-banyaknya.
Setelah itu ia menatap Alfian. “Coba lihat aku, coba lihat tubuhku. Apa kalian tidak merasa bahwa tubuhku begitu kering. Aku bahkan kehilangan 12 kilo hanya dalam waktu 2 bulan. Saat aku ingin mengadu, saat aku untuk meminta tolong dan saat aku ingin mengeluh, kalian kemana? lalu sekarang kalian menyalahkanku karena aku meminum ekstasi. Bukankah kalian terlalu egois.” Meylani kembali menghentikan ucapannya, lalu menoleh ke arah Veronica.
“Ibu, selama ini Ibu yang selalu mengerti aku. Lalu kenapa ibu juga ikut egois seperti ayah? aku korban di sini, aku yang kehilangan Aryan, aku yang terluka karena Aryan pergi. Tapi kenapa aku juga harus mengalami rasa sakit karena menikah lelaki seperti dia. Dan kalian seolah lepas tanggung jawab, kalian tidak pernah menghubungiku, sekalinya aku menghubungi kalian kalian hanya akan menganggap aku mengeluh Selama 2 bulan ini, bahkan kalian tidak pernah berusaha untuk melihatku. Dan inilah alasan kenapa aku meminum obat haram itu. Itu semua karena kalian, karena kalian yang egois, yang terlalu menekanku untuk berubah. Padahal aku butuh waktu, aku sungguh membenci kalian. Karena kalian, mentalku hancur. Hingga aku ketergantungan pada obat haram. Lalu, sekarang kalian akan menyalahkanku. Sudah kubilang bukan dari awal bahwa aku tidak mau hidup dengan lelaki seperti dia! Tapi kalian meyakinkan bahwa lelaki itu adalah yang lelaki terbaik, dan bodohnya Aku percaya dan lihatlah karena kalian aku seperti ini dan ....”
Ucapan Meilani terputus kala Veronica memeluk putrinya, Ia tidak menyangka putrinya akan mengalami hal-hal seperti ini. Selama 2 bulan ini mati-matian ia menahan untuk tidak menelepon Meilani, karena perintah Alfian. Alfian mengatakan bahwa Meilani harus beradaptasi tapi lihatlah putrinya malah menderita seperti ini.
“Ibu, apa Ibu tidak ingat kita pernah susah dulu. Kita pernah hampir tidak bisa makan dan aku dalam keadaan buta. Apa aku pernah mengeluh dengan kondisi kita saat itu?” ucap Melani ketika berada dalam pelukan Veronica. ”Apa aku pernah mengeluh aku terlahir buta karena genetik ayah Bara? apa aku pernah mengungkit tentang betapa jahatnya ayah Bara padaku. Tidak ibu, aku tidak seburuk itu.” Meylani memeluk sang ibu dengan tangis sesegukan.
Seketika rasa kesal Alfian dan Bara hilang begitu saja saat mendengar penuturan putrinya. kedua lelaki paruh baya itu langsung menoleh ke arah Devano.
“Apa kau memperlakukan putriku seburuk itu?” tanya Alfian.
Devano menunduk. “Saya tidak bermaksud ....” Mendengar jawaban Devano, Meilani langsung melepaskan pelukannya kemudian ia menatap Devano.
“Kau sudah salah masih saja berkelit. Selama dua bulan ini kau selalu memperlakukanku dengan buruk, menatapku dengan bengis, seolah aku adalah musuhmu dengan dalil bahwa kau sedang mendidikku dan sekarang kau ingin mengelak!” teriak Meilani, kali ini Meilani berteriak dengan keras, ia bahkan hampir menyerang Devano. Namun, ia di tahan oleh Veronica.
“ Apa kalian semua tahu berapa uang bulanan yang dia berikan? apa kalian tau, ketika uang itu habis dia tidak pernah memberikanku lagi. Hingga aku harus menghemat uangku mati-matian, dan kalian juga egois menyetop semuanya. Padahal aku masih butuh uang itu, apakah aku tidak berharga di mata kalian. Apakah uang lebih berarti di mata kalian daripada aku?" tanya Meylani pada kedua keluarganya.
“Mei!” panggil Alfian kali ini nadanya mulai melembut. Alfian menarik tangan Melani. Namun Meilani segera menghempas tangan Alfian.
“Aku benci kalian,” jawab Melani dengan lirih. “Sekarang setelah ini apa yang akan kalian lakukan? akan memasukkan ke dalam penjara karena memakai barang itu. Masukkan saja aku, aku tidak peduli. Jika aku harus dipenjara atau kalian ingin aku melanjutkan pernikahanku dengan lelaki gila ini, baik aku akan melanjutkannya!” teriak Meylani.
Meylani benar-benar menumpahkan emosinya, ia berteriak layaknya orang kesetanan karena ia sudah benar-benar muak dengan semuanya. Devano tertunduk, ucapan Melani menamparnya ia terlalu melampiaskan kekesalan pada Meylani, karena ia masih mencintai Nakesya pada
Devano bangkit dari duduknya kemudian menghampiri Meilani. “Saya minta maaf.”
“Maaf kau bilang ....”
plak satu tamparan mendadak di pipi Devano, bukan Meilani yang menamparnya melainkan Khalisia, wanita yang tak lain adalah ibu Devano. Rupanya sedari tadi Khalisia mendengar semua yang Melani ucapkan, ia dan Gemma sengaja tidak bersuara karena ingin mendengar apa yang melayani ucapkan, dan ternyata sifat Devano benar-benar mengecewakan.