
Tiba di Apartemennya, Keinya yang masih terisak langsung masuk ke kamarnya. Sebelum dia memasukan pakaiannya ke dalam koper dia mendudukan dirinya di ranjang. "Aku sungguh membencimu Bramantyo!" Keinya berteriak sekencang-kencangnya.
Dan setelah Keinya berteriak, pintu kamar pun terbuka.
Bram masuk dengan napas yang ngos-ngosan. Dia tak sabar menunggun Lift terbuka, hingga dia memutuskan untuk memakai tangga darurat dan berlari dengan kencang.
"Sayang!" lirih Bram dengan ngos-ngosan. Dirinya semakin panik saat melihat ada koper terbuka di dekat lemari.
Melihat Bram datang. Keinya langsung bangkit dari duduknya.
"Aku membenci mu Bramantyo!" teriak Keinya lebih keras. Dia melempar bantal dan barang yang ada di dekatnya.
"Sayang ... sayang, tenanglah aku bisa menjelaskan semuanya."
"Jangan Mendekat!" teriak Keinya saat Bram akan mendekatinya. "Kau jahat, kau mengkhianati ku, kau lebih memilih kembali ke wanita tua itu." Sekali lagi Keinya berteriak dengan kencang sambil memecahkan guci kecil yang berada di dekatnya. "ahh." Keinya memegan perutnya setelah berteriak karna merasakan sakit di bagian perutnya.
Melihat Keinya merigis dan terdiam, Bram segera berlari, dia menghampiri Keinya. Dan memeluknya dengan erat.
"Lepaskan aku. jangan sentuh aku. aku menbencimu Bramantyo." Keinya berteriak dalam pelukan Bram seraya memberontak agar Bram melepaskan pelukannya.
Bingung dengan istrinya yang terus berteriak Bram pun terpaksa berbicara dengan setengah keras "Itu untukmu! Aku sedang menyiapkan resepsi untuk kita!" Bram sedikit berteriak, karna jika dia berbicara pelan akan serasa percuma karna suaranya tak akan terdengar oleh istrinya yang dari tadi terus berteriak.
Seketika Keinya berhenti meronta dalam pelukan Bram. Bram terus mengelus rambut istrinya hingga tenang. Setelah dirasa Keinya sudah tenang, Bram mendudukan Keinya di ranjang dan dia sendiri berlutut di hadapan Keinya dengan memegang ke dua tangan istrinya. "Sayang. Tatap Aku!" titah Bram yang melihat Keinya terus menunduk tak berani melihat ke arah Bram. Karna tak ada reaksi dari Keinya, Bram pun memegang dagu Keinya dan memaksa istrinya melihat kepadanya.
"Sayang, aku pergi ke hotel untuk mempesiapkan resepsi kita nanti malam."
Tanpa menjawab ucapan Keinya, Bram bangit dari berlututnya. Dia berjalan ke arah Brankas dan mengambil sebuah kotak. " Sayang, aku membeli ini untukmu." Bram membuka kotak dan mengambil kalungnya. "Lihat ini sayang!" ucap Bram. Mata Keinya terbelalak saat melihat kalung di depannya. kalung itu ber'inisal BK dengan berlian di tengah-tengahnya.
"K-kau sungguh membeli ini untuk ku?" tanya Keinya dengan nada yang mulai melemah.
"Apa aku terlihat seperti lelaki lelaki yang mudah tergoda? Sekarang berhentilah berpikir jelek tentangku. Jangan biarkan kecurigaan mu berdampak pada si kembar." Bram mengelap air mata Keinya.
Mendengar ucapan Bram, Keinya kembali meradang. "Jadi kau menyalahkan aku jika aku curiga padamu." Keinya tak terima jika disalahkan oleh suaminya.
"Bu-bukan begitu sayang ..."
"Istri mana yang tidak curiga melihat suaminya masuk ke hotel dengan membawa buket bunga. Dan istri mana yang tidak curiga jika suaminya membeli barang mahal tapi tidak di bawa pulang."
"Ma-maafkan aku sayang, aku berdosa karna tak memberitau tentang perhiasan hingga kau curiga padaku."
tanpa menjawab ucapan Bram, Keinya langsung bangkit dan berbaring membalut semua tubuhnya dengan selimut dan membelakangi suaminya.
Sedangkan Bram hanya bisa mengutuk dirinya sendiri, karna memang dirinyalah yang salah. Dia lupa jika saat membeli perhiasan akan ada laporan yang masuk ke handphone milik istrinya.
"Sayang ... "
Emang sih disini si Uncle yang salah, istri mana yang gak curiga liat suaminya ke hotel bawa buket bunga pula 😂😂mau bikin kejutan ehh malah dia yang terkejut😂🤣🤣