
"Mamihh," rengek Vania saat masuk kedalam kamar mamih dan papihnya. Bram dengan cepat menghampiri Vania lalu memangkunya.
"Papih, aku mengantuk," ucap Vania saat dipangkuan Bram.
Bram mencium gemas pipi putrinya lalu dia membarinkan Vania disebelah Keinya.
Lalu Bram Bram ikut berbaring di sebelah Keinya. Jadilah, Keinya di tengah-tengah mereka.
Karna Vania ingin dipeluk, Keinya pun membelakangu Bram. Bram tersenyum, dia memeluk Keinya dari yang sedang membelakanginya. Keinya mengigit bibir bawahnya karna menahan desahan. Sejak Bram memeluk Keinya. Tangan Bram tak henti-hentinya menggerayangi titik sinsitif Keinya. Hingga Keinya pun terbuai dan berusaha menahan desahannya.
"Papih!" lirih Keinya sambil menoleh kebelakang. Dia meminta suaminya untuk berhenti karna ada Vania di kamar mereka.
Namun, sebelum menyelesaikan kalimatnya, Bram malah mencium bibir istrinya.
"Sayang," ucap Bram parau.
"Papih, ada Vania," jawab Keinya mengingatkan lagi suaminya.
Mau tak mau Bram pun mengalah. Dia membenarkan lagi pakaian Keinya yang telah dia singkap ke atas.
Keinya berbalik, dia mensejajarkan wajahnya dengan wajah suaminya.
"Kita bisa melakukannya nanti malam," kata Keinya sambil mengelus mesra Bram.
"Tidak, aku akan menahan diri ku sebelum kau memakai kontrasepsi mu lagi," ucap Bram.
Tiba- tiba Keinya cemberut, Dia menyangka suaminya sudah lupa, tapi ternyata suaminya masih saja mengingatnya.
"Aku mengantuk," ucap Bram ketika Keinya akan kembali protes. Mau tak mau, Keinya pun ikut tidur.
•••
Lila terbangun dari tidurnya saat merasakan perutnya lapar. Dia dengan perlahan bangun dari ranjangnya karna takut membangunkan Tania.
Melihat rumah yang sepi, seketika Lila tersenyum, dia kembali ke kamarnya untuk mengambil mi instan dari tasnya.
Dia tau, bahwa papihnya tak pernah mengijinkan makan sembarangan, bahkan tak boleh ada makanan instan di rumahnya.
Dengan semangat, dia berjalan ke dapur. Melihat dapur tak ada siapa-siapa, Lila segera memasak mih yang tadi di bawanya.
Saat Lila akan menumpahkan mih yang selesai di rebusnya. wajan yang dipegang Lila terbalik karna Lila hanya memegang wajan dengan satu tangan hingga dia tak mengangkatnya dengan tidak seimbang.
Naasnya air panas tumpah mengenai tangan Lila. Lila menutup mulutnya agar tak menjerit. Dia tak mau jika mamih papihnya mengetahui apa yang terjadi padanya.
"Nona!" panggil seorang Art yang kebetulan melewati dapur. Dia melihat nona mudanya tengah membekap mulut sambil mengayun-ngayunkan tangannya ke udara karna merasa perih.
"Bi, tolong jangan beri tau mamih dan papih. Tolong juga bereskan semua ini," ucap Lila pada Artnya. Lalu secepat kilat Lila berlari kerah lift untuk masuk kekamarnya.
Saat akan masuk kekamar, Tania membuka pintu kamar Lila dari dalam.
"Kaka, kenapa?" tanya Tania sambil mengucek matanya. Dia merasa heran saat kakanya menyembunyikan tangannya di belakang.
"Tania, kaka tidak apa-apa. Kaka akan istirahat. Mamih dan papih sedang ada dikamarnya," ucap Lila dengan gugup. Dia berusaha menahan ringisannya agar tak terlihat oleh Tania.
Tania pun pergi kekamar mamih dan papihnya. Dengan cepat Lila masuk kekamar dan mengambil kotak p3k lalu mengoleskan salep ke tangannya.
••••
"Lila!" panggil Keinya saat masuk kekamar putrinya.
Lila yang sedang berbaring langsung menutup satu tangannya dengan selimut.
"Ya, mamih," sahut Lila yang mencoba baik-baik saja.
"Ayo, sayang. Kita sholat magrib bersama!" ajak Keinya. Dia mendekat kearah ranjang, lalu duduk di ranjang dan mengusap lembut rambut putrinya.
"Mamih, bolehkah, aku sholat sendiri."
"Kenapa?"
"Karna ...."
Guys, ini kan cuman Extra part ya. jadi up nya ge tentu. Tapi pasti akan aku trus up kok. karna aku pun masih baper sama si uncle 😂😂😂😂. klik faforit ya jadi pas up ada pemberitahuan buat kalian.