Uncle Bram

Uncle Bram
77



"Hubby, jika kau terus melakukannya, kau akan menyakiti anak kita." Keinya menyadarkan Bram ketika Bram akan kembali memulai aksinya.


"Maaf-maaf sayang. Aku terlalu bersemangat hingga melupakan si kembar." Kemudia Bram mencium perut Keinya. "Sayang, maafkan papih oke." ucap Bram sambil mengusap-ngusap perut istrinya. Bram pun kembali berbaring di sebelah istrinya. Dia terus mengusap-ngusap pipi Keinya dengan ibu jarinya.


"Hubby, aku ingin bertemu dengan mantan mu!" pinta Keinya.


"Untuk apa sayang?" tanya Bram heran.


"Aku hanya ingin menunjukan bahwa aku lebih cantik darinya," ucap Keinya dengan percaya dirinya. Mendengar ucapan Keinya Bram terkekeh. Dia sangat gemas sakali pada istrinya yang mulai Posesif padanya.


"Aku akan mengajaknya bertemu jika kau ingin menemuinya."


"Kenapa kau yang mengajaknya bertemu?... tunggu apa kau masih menyimpan nomer ponselnya? atau jangan-jangan kalian masih sering bertukar kabar lewat pesan?" tanya keinya bertubi-tubi. Dia menampilkan muka judes saat bertanya.


Mendengar pertanyaan istrinya, Bram langsung mencubit pipi Keinya. "Sayang aku tak pernah lagi berhubungan dengannya. Maksudku jika aku bertemu dengan nya atau jika dia sengaja ingin bertemu dengan ku aku akan memberitaumu, dan mengajakmu."


"Hubby, aku akan ikut setiap hari kekantormu!"


"Baiklah, tapi ingat kau juga harus istirahat jika lelah. Katakan pada ku jika kau ingin sesuatu."


"Jika aku ingin ber'istirahat dirumah, aku akan menyuruh Lila ikut bersamamu kekantor."


"Ya sayangku, sudah hampir jam 2, ayo kita lanjutkan tidur!" titah Bram sambil merangkul Keinya kedalam dekapannya.


➿➿➿➿➿


"Bell, ngapain sih lu pagi buta gini udah masak?" tanya Bram saat melihat Aysel di dapur. Semalam Bram hanya tertidur sebentar. Mungkin karna Bram terbiasa bangun jam 4 pagi jadi dia tak merasa lemas walau tidur hanya 2jam.


"Aska mau dateng. Jadi gue mau masakin buat dia."


"Bukan si Aska dateng besok ya?" tanya Bram sambil duduk di depan Aysel yang sedang memasak.


"Kangen kali dia ma gue." Jawab Aysel dengan percaya diri membuat Bram memutar matanya jengah. "Lu mau kemana Bram?" tanya Aysel saat melihat Bram sudah rapih.


"Gu mau jemput Lila."


"Keinya masih tidur?"


"Heem, kecapean dia."


dan kali ini Aysel yang memutar bola matanya jengah.


"Dah ah gue mau jemput Lila dulu."


"Bram?"


"Pa'an Bell, lu mau ngobrolin yang unfaedah lagi?"


"Kaga, gue cuman mau bilang kalau lu mau jemput Lila lu bangunin dulu Keinya. Nanti pas dia bangun nyariin lu!"


Untung saja Aysel mengingatkannya. Jika dia tak memberi tau istrinya jika dia pergi akan dipastikan jika istrinya akan mendiamkannya kembali. Apalagi mengingat semalam isrinya sangat posesif terhadapnya.


"Sayang?" Bram mengelus rambut Keinya yang masih tertidur.


"Hmm." Keinya bergumam tanpa membuka matanya.


"Sayang aku akan pergi sebentar untuk menjemput Lila."


Mendengar Bram akan pergi, Keinya langsung membuka matanya. "Tunggu hubby, aku akan ikut menjemput Lila bersamamu." Keinya dengan cepat menyingkap selimutnya dan langsung berjalan kekamar mandi. Membuat Bram terkekeh.


"Mommy, aku akan pergi menjemput Lila." Keinya berpamitan pada Aysel yang sedang memasak.


"Kei, daddy sedang di jalan menuju kesini. Jika daddy datang jangan membahas tentang masa lalu daddy oke."


"Mommy, aku belum lahir waktu daddy menyakiti mommy. Jadi aku tak ada urusan dengan masa lalu daddy." Keinya menjawab dengan nada yang menyebalkan membuat Aysel memutar bola matanya jengah.


"kenapa semua sifat anak kita mirip kamu sih mas" gerutu Aysel dalam hatinya. Memang Raffa dan Keinya mempunyai sikap yang menyebalkan seperti Aska.


Setelah siap mereka pun langsung berangkat untuk menjemput Lila.


Tak lama dari mereka berangkat, Bell berbunyi dengan cepat Aysel membukakan pintu.


"Masss." teriak Aysel saat Aska datang. Dia langsung berhambur kepelukan suaminya.


"Sayang, meluknya nanti ya. Biarin mas masuk dulu." ucap Aska saat memeluk Aysel memeluk dirimya dengan erat.


Aysel pun hanya nyengir mendengar ucapan suaminya. "Ayo masuk mas!" ajak Aysel menggandeng tangan Aska.


"Mas mau bikin kopi?" tanya Aysel saat Aska sudah duduk di sofa.


setelah Aysel duduk, Aska langsung membaringkan dirinya dengan berbantalkan paha Aysel.


"Keinya lagi keluar yank?"


"Ia, mereka lagi jemput Lila dirumah Zoya?"


"Si Bram gercep banget ya," ucap Aska yang membalikan kepalanya menghadap ke atas.


"Gercep?" tanya Aysel mengernyit heran.


"Ia yank. Kenapa mereka ga nunggu aja sih buat punya anak dulu." Aska terkekeh dengan ucapan nya sendiri.


"Kamu gak seneng mas mau punya cucu?" tanya Aysel dengan sewot.


"Gak gitu juga yank. Mana ada sih orang tua yang ga seneng mau punya cucu, tapi...?"


"Tapi apa?" tanya aysel mengernyit heran.


"Tapi aku masih muda yank kalau dipanggil kake, udah mah dapet menantu yang seumuran. Eh masih muda udah dipanggil kake. Auto di nyinnyirin sama si Andra."


Ucapan Aska sukses membuat Aysel tertawa terbahak-bahak. "Mas kamu ga inget umur apa? umur kamu 2 tahun lagi tuh udah masuk 50 taun masss." Aysel menyadarkan suaminya dari sikap percaya dirinya.


"Ya tapi kan yank, walau aku udh mau masuk 50 tahun kamu liat sendiri, muka aku ga ada kerutan badan aku atletis dan bla bla bla."


"Ya tetep aja kamu tuh udah tua mas." Aysel mencubit gemas pipi Aska membuat Aska mengaduk kesakitan."


"Walaupun aku udah tua, tapi aku masih sanggupkan bikin kamu lemas," ucap Aska sambik terkekeh. Membuat Aysel memutar bola matanya jengah.


"Raffa masih sama Willy?" tanya Aysel mengalihkan pembicaraan. Karna jika tidak Aska akan kembali menyombongkan keperkasaannya.


"Hmm... mereka lagi ke Bali."


"Kamu ko ngijinin mereka pergi sih mas?"


"Gak apa-apa yank. Mereka senin juga udah balik ke jakarta."


"Ya tapi kan..." perkataan Aysel terhenti saat Aska bangkit untuk mencium bibir Aysel.


Aysel yang terkejut Karna Aska menciumnya secara tiba-tiba langsung mencubit tangan Aska dengan keras.


"Auhhhh, sakit yank." Aska meringis saat Aysel mencubitnya denga keras.


"Kebiasaan," gerutu Aysel pada suaminya.


"Yank, mas udah ga dapet jatah lho seminggu, main yuk." Aska tersenyum penuh isyarat.


"Suruh siapa kamu lembur terus?"


"Gara-gara si Andra tuh yang belagu, Lah yang jadi Ceo kan aku ya. Tapi dia seenaknya aja gtu nyerahin berkas-berkas perusahaan yang di Rusia ke aku." Aska menggerutu karna seminggu ini dia selalu di perintah oleh Andra. Tanpa Aska sadari pekerjaan Andra pun jauh lebih banyak dari pada pekerjaan yang Aska kerjakan. "Jadi main yu." Ucapnya lagi.


"Aku lagi merah."


"Bohong kamu yank, ini kan masih tanggal 13, kamu merah setiap tanggal 24." ucap Aska tak percaya dengan ucapan Aysel.


"Mau nge chek?" tanya Aysel menahan tawa melihah ekpresi suaminya.


"Dah ah mending tidur!" Aska menjawab lesu. Kemudian dia membaringkan dirinya kembali di sofa. Namun saat dia akan menaruh kepala nya di paha Aysel. Aysel langsung bangkit berdiri. "Mau kemana yank?" tanya Aska lagi.


"Kamu bukannya mau ngajak main?"


"Kamu gak merah yank?" tanya Aska dengan semangat.


Tanpa menjawab ucapan Aska, Aysel langsung melangkahkan kakinya lagi. Dan dengan semangat 45 Aska mengikuti Aysel dari belakang.


➿➿➿


"Hubby?"


"Ya, sayang?"


"Boleh aku jujur padamu?" tanya Keinya ketika mereka dalam mobil yang melaju untuk menjemput Lila.


"Katakan sayang!"


"Sebenarnya aku..."


sebenernya aku mau minta vote boleh hahahaa. next tima Alana bakal muncul ya. tapi dia langsung mundur waktu ketemu Keinya. Nasib tya ada di next bab ya.