Uncle Bram

Uncle Bram
86



Dan ..... dan seharusnya jam 8 malam kemarin kalian mantengin grup chat hahaha. maaf ya part ena enanya di share di grupchat ga terlalu vulgar sih tapi tetep aku ga bisa Share disini karna aku sudah terikat kontrak jadi tidak boleh ada adegan dewasa.


"Sayang, apa kau mempercayai ucapanya?" tanya Bram. Mereka baru saja menyelesaikan olahraga yang sangat memabukan. Namun setelah selesai dengan ritual mereka, Keinya malah membelakangi suaminya karna merasa malu telah bersikap agresif pada suaminya.


" Hmm." Keinya hanya berdehem memberi jawaban yang ambigu.


Bram pun menjadikan satu tangannya untuk menyangga kepalanya. Dia mencium pundak Keinya berkali-kali.


"Sayang, aku tak meminta kau percaya pada ku. Aku lelaki dewasa, tentu saat berpacaran dengannya aku selalu tergoda tapi aku selalu menahan diriku karna dua wanita yang selalu disisiku," ucap Bram. Dia mencoba menjelaskan pada istrinya.


Mendengar ucapan suaminya Keinya memberanikan diri berbalik menghadap suaminya.


"Siapa dua wanita yang berada disisimu?" tanya Keinya sambil menatap galak pada suaminya.


"Ck ... Sayang kau sungguh menggemaskan, Siapa lagi kalau bukan Mommy mu dan Hana."


"Kenapa kau memikirkan mereka?" tanya Keinya yang masih heran dengan jawaban suaminya.


"Aku tak ingin merusak seorang wanita karna aku takut jika kedua sahabatku juga akan dirusak oleh orang lain," ucap Bram sambil mengelus pipi Keinya.


"Kau begitu menyayangi Mommy dan Aunty Hana?" tanya keinya dengan berkaca-kaca. Dia merasa terharu dengan sikap suaminya.


"Tidak, aku lebih menyayangimu," ucap Bram sambil tergelak karna menyaksikan ekpresi istrinya yang sangat lucu.


"Maafkan aku meragukanmu," ucap Keinya. kemudian dia memeluk pinggang Bram dan menelusupkan wajahnya pada dada bidang Bram.


"Sayang aku menyukai saat kau bersikap seperti tadi."


"Berhenti membahasnya," ucap Keinya yang masih malu atas kelakuannya tadi.


"Ngomong-ngomong kapan kau membeli pakaian ini sayang?"


"Aunty Hana yang memberikannya saat kita baru menikah."


"Si Hana emang ndableg, untung aja ni anak nikahnya ma gue" ucap Bram dalam hatinya. dia terkikik geli karna kelakuan sahabatnya.


"Sayang, aku akan pergi sebentar."


"Kemana!?" teriak Keinya. Dia langsung melepaskan pelukannya dan langsung menatap Bram.


"Sayang, aku harus menjemput Lila." Bram mencubit hidung Keinya dengan gemas.


▪▪▪▪


"Papih, kenapa papih yang menjemputku?" tanya Lila saat dia masuk mobil.


"Kau tidak senang papih menjemputmu?" tanya Bram sambil membantu memakaikan sabuk pengaman.


"Papih tidak sibuk?"


Mendengar pertanyaan Lila. Bram merasa tertohok dia kemudian tersadar selama menikah dengan Keinya dia lebih sering berada di kamar menghabiskan waktu dengan Keinya bahkan setelah pulang bekerja. dan sekarang Bram sadar alasan Lila selalu ingin kerumah Zoya.


"Hah? papih minta maaf untuk apa?" tanya Lila mengernyit heran.


"Maaf papih terlalu sibuk dengan urusan papih, hingga tak ada waktu bersama mu."


"Apa papih salah makan?" tanya Lila yang merasa aneh dengan perkataan Bram.


"Tidak. Lupakan, ayo kita pulang sekarang. Mamih sudah memasak untuk kita," ucap Bram. Dia mulai menginjak pedal gasnya.


"Mamih!" ucap Lila yang menghampiri Keinya di dapur.


Keinya pun berjongkok untuk mencium pipi Lila. "Sayang, ini hampir sore mandi dan setelah mandi mami akan menyuapi mu oke," ucap Keinya. Lila memang sering meminta Keinya untuk menyuapinya, Lila selalu meminta hal yang tak pernah di lakukan Tya padanya.


"Baik mamih." Lila pun mencium pipi Keinya.


▪▪▪▪▪▪


"Mamih, apa papih mengijinkan ku makan ini?" tanya Lila berbisik ketika dia melihat menu makannya.


"Papih mengijinkannya sayang," Jawab Keinya. Dia mulai menyuapkan makanannya pada Lila, hingga makanan itu pun habis.


Mereka pun melanjutkan menonton tivi dengan Lila yang terus memeluk pinggang Keinya.


"Mamih!"


"Ya sayang?"


"Mamih, boleh aku bertanya?"


"katakanlah!"


"Mamih, apa jika adik kembar lahir, mamih dan papih akan terus menyayangiku?" tanya Lila dengan bercaka-kaca. Gadis kecil itu selalu ketakutan jika Bram dan Keinya meninggalkannya setelah si kembar lahir. Bukan tanpa alasan dia ketakutan. Saat tya menjemputnya disekolah dan memfitnah Keinya. Tya menceritakan bahwa Lila bukan anak kandung dari Bram. Gadis kecil itu berusaha tenang saat dia mengetahui yang sebenarnya. Selama ini dia selalu membohongi dirinya sendiri dengan tak mau mengingat ucapan ibu kandungnya. Dan dia tak berniat untuk menanyakan pada Bram karna dia terlalu takut untuk mendengar kenyataannya. Umurnya masih sangat muda tapi Ibu kandungnya selalu memberi luka hingga Lila hidup dalam ketakutan.


Keinya pun melonggarkan pelukannya untuk melihat ke arah Lila.


"Sayang, apa yang kau katakan? kenapa kau berpikir mamih dan papih akan meninggalkanmu?"


"A-aku hanya takut mamih dan papih akan meninggalkan ku seperti mamih Tya." Lila tak sanggup lagi menahan tangisannya dia menyembunyikan wajahnya di paha Keinya.


Mengerti akan apa yang dirasakan Lila. Keinya membelai rambut Lila. Gadis sekecil Lila harus merasakan rasa sakit yang di buat oleh ibu kandungnya sendiri.


"Lila!" panggil Keinya saat Lila sudah mulai tenang.


"Percayalah! mamih dan papih takan pernah berhenti menyayagimu, Lila tetaplah putri papih dan mamih. Sebentar lagi Lila akan memiliki adik. Dan Lila harus membantu mamih dan papih untuk menjaga adik-adik Lila."


"Terimakasih mamih, aku menyayangi mamih dan papih," ucap Lila, kemudian dia memeluk Keinya.


nyesek gak sih kalau jadi Lila, dapet ibu kaya si Tya pula. tapi faktanya di dunia nyata emang banyak sih yang ngalamin kaya Lila.