Uncle Bram

Uncle Bram
92



Granddad, Grandmom!" ucap Keinya saat dia melihat ternyata kakek dan neneknya lah yang datang.


Kehadiran Austin dan Sofia menjadi perhatian tamu lainnya. Siapa yang tak mengenal Austin dan Sofia. Bahkan setiap perusahaan berlomba-lomba ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan Austin. Para tamu semakin terkejut ketika mereka mengetahui bahwa Bram tengah berhasil menikahi cucu Milyarder asal Spanyol.


"Cucuku," ucap Austin saat Keinya menghampiri Austin dan memeluknya.


"Apa kabar tuan Austin, Nyonya Sofia," ucap Bram sambil menjabat tangan Austin dam Sofia.


"Panggil kami seperti Keinya, kau cucu menantuku sekarang," sahut Austin sambil memeluk Bram.


"Ikutlah bersama suamimu, grandmom dan granddad akan duduk menunggumu," ucap Sofia saat melepas pelukannya pada Keinya.


Bram pun kembali menggenggam tangan Keinya dan menuntunnya untuk ke pelaminan.


Dan saat mereka tiba di plaminan. Tiba-tiba lampu padam. Namun tak lama lampu menyala kembali tapi hanya menyorot Bram dan Keinya yang sedang di plaminan. Saat lampu mati Bram dengan cepat mengambil buket bunga di dekat kursi.


Saat lampu sorot menyala, Bram berlutut di hadapan Keinya sambil membawa buket bunga.


"Keinya Zachari Abraham, mau kah kau menua dengan ku dan menghabiskan seluruh hidupmu bersamaku," ucap Bram.


Keinya tak kuasa menahan haru saat Bram berlutut. Kemudia Keinya mengambil buket bunga tersebut "Aku akan selalu bersamamu," jawab Keinya. Saat Keinya sudah menerima buket bunganya, Bram mengeluarkan cincin dari saku dan menyematkannya pada jari manis Keinya.


Bram pun bangkit, saat bangkit dia langsung mencium kening Keinya dan mencium bibir Keinya. Sontak para tamu langsung bertepuk tangan saat Bram melakukan hal romantis pada Istrinya.


Lampu pun kembali menyala. Bram mengajak Keinya lebih maju untuk memberi sambutan pada para tamu.


"Terimakasih. Kepada para tamu yang telah hadir di resepsi pernikahan saya. Saya ingin memperkenalkan istri saya pada kalian yang tengah hadir malam ini. Saya menikahi istri saya 9 bulan lalu di Indonesia. Dan sekarang istri saya tengah mengandung anak kembar. Mohon doanya untuk saya dan keluarga kecil saya," ucap Bram dengan bangganya. tangannya tak henti-henti mengusap punggung tangan istrinya yang tengah menggandengnya.


Saat Bram sudah menyelesaikan sambutannya. tirai sebelah kiri di depan plaminan terbuka, staff hotel mendorong troli besar yang diatas nya kueh ulang tahun dengan ukuran yang sangat besar.


"Hubby," lirih Keinya. Dia sangat kaget ketika melihat kueh ulang tahun didepan matanya.


"Ayo kita rayakan ulang tahunmu sayang. Maaf aku telat memberikan kejutan untukmu,"


mata Keinya pun berkaca-kaca. Dia tak menyangka suaminya telam menyiapkan kejutan yang sangat indah.


Setelah selesai dengan acara meniup lilin. Bram mengajak Keinya untuk menyambut para tamu, Hanya sebagian tamu yang Bram sambut, karna tak ingin membuat Keinya kelelahan.


Acara yang dilakukan Bram memang cukup singkat, dia tak ingin Keinya kelalahan. Dan setelah sebentar berbincang dengan austin dan Sofia, Bram mengajak Keinya untuk kekamar sweet room yang telah dipesannya.


"Malam ini kita akan menginap disini sayang."


"Tapi lila?"


"Lila sudah pulang bersama Zoya dan Hana, kita akan menjemputnya besok," jawab Bram.


Saat mereka pinta didepan pintu, Bram mengambil penutup mata dari sakunya. Dia memakaikannya pada Keinya.


"Jangan dulu membuka matamu sayang."


Keinya pun mengangguk. Bram dengan cepat membuka pintu kamar lalu dia menyalakan semua lilin dan mematikan lampu. Setelah beres dia menuntun Keinya untuk masuk kedalam.


Dan betapa terkejutnya Keinya saat Bram membuka penutup matanya.


"Hu-huby kau menyiapkan semua ini? tanya Keinya dengan terbata-bata.


Bram menaruh lilin-lilin kecil dilantai dan menaburkan bunga mawar di ranjang serta pernak pernik menarik setiap sudut.


Keinya pun berhambur memeluk Bram.


"Terimakasih papih," ucap Keinya ketika dalam pelukan Bram.


"Bagaimana kalau kita Berdansa?"


Keinya pun mengguk. Bram mengajak Keinya untuk melangkah melewati lilin yang tengah menyala.


Dan kini Keinya menautkan tanganya pada leher Bram, dan kedua tangan Bram melingkar pada pinggang Keinya.


Dengan lilin yang menyala serta musik yang romantis, mereka mulai menggerakan tubuh mereka dengan perlahan.


Mata mereka saling mengunci.


"Aku mencintaimu Bramantyo Aksen Hedrayan. Sungguh-sungguh mencintaimu." Keinya berjinjit untuk mencium kening, pipi dan bibir Bram.


Bram pun terseyum setelah mendengar ucapan Keinya.


"Aku juga memiliki kado untukmu," ucap Keinya lagi.