
"Apa ada yang sakit?" tanya Bram.
Keinya mengangguk. "perutku sangat sakit, ini terasa perih." Keinya meringis merasakan ngilu dibawah perutnya.
"Tunggu sebentar, aku akan panggilkan dokter dulu," ucap Bram yang tak tega melihat Keinya meringis.
Keinya memegang tangan Bram yang sudah bangkit. "Jangan panggil Dokter papih!"
Bram duduk kembali. "Kenapa sayang?"
"Dokter bilang sakitnya memang biasa dirasakan ibu yang telah melakukan sesar. Tidurlah disisiku, dan peluk aku," ucap Keinya sambil berusaha menggeser tubuhnya agar Bram tidur disisinya.
"Aku akan sholat isya terlebih dahulu."
Keinya pun mengangguk.
Bram mengambil paperbag yang berisi baju koko dan berjalan kekamar mandi.
Dengan segala kebaikan Bram dan kelembutan sikap Bram, mampu membuat seorang Keinya Zachary Abraham bertekuk lutut dan tak mampu lagi memikirkan pria lain selain suaminya. Lengkap sudah kebahagiaan wanita 19 tahun tersebut. Dia sekarang telah menjadi ibu dari 3 anak. Rasa sakit yang dia rasakan karna operasi teebayar sudah dengan kehadiran putri-putri cantik mereka.
Tak terasa Keinya sudah mengahabiskan waktu selama seminggu dirumah sakit. Dan hari ini dia sudah berada di apartemennya.
"Mommy, aku lapar," ucap Keinya setelah memberikan asi pada kedua bayinya secara bergantian.
"Tunggu sebentar, mommy akan membuatkan mu makanan ... Apa suami mu akan makan siang dirumah?" tanya Aysel.
sudah seminggu Bram tak masuk kekantor, dan hari ini dia terpaksa masuk karna ada meeting penting yang harus dia hadiri. Sedangkan Aska dan Raffa sudah kembali lagi ke Indonesia, karna Raffa harus sekolah.
"Dia sedang dijalan dan mampir untuk menjemput Lila, mommy buatkan salad saja untuk suamiku."
"Baiklah, jika kau ingin apa-apa panggil mommy, mommy akan memasak untuk makan siang."
Keinya pun mengangguk, lalu dia melihat kearah Tania yang sedang membuka matanya, " Hai, putri mamih, kenapa kau bangun nak, kakak mu masih tertidur," ucap Keinya sambil memegang tangan mungil Tania, sedangkan Vania masih memejamkan matanya.
Cukup lama Aysel berkutat didapur untuk memasak makan siang.
"Momma!" panggil Lila yang menghampiri Aysel didapur.
"Cucu momma sudah pulang."
"Ya momma."
"Sayang, cuci tangan dan ganti baju, setelah itu kita makan siang bersama."
"Baik, momma."
"Masak apa lu Bell?" tanya Bram menghampiri Aysel didapur.
"Capcay, kesukaan Keinya, tuh salad lu," ucap Aysel sambil memindahkan capcay kepiring."
"Itu buat Keinya?"
"He'em"
"Sini, biar gue yang nyuapin." Bram mengambi piring yang telah Aysel isi dengan nasi dan lauk pauknya.
"Papih!" panggil Keinya saat Bram masuk membawa nampan.
Bram tersenyum dan menaruh nampan berisi makanan disofa, "Sebentar sayang, aku akan mencuci tangan ku dulu."
Keinya pun turun dari ranjang dengan perlahan, lalu dia menggendong tania sebentar. "Tania sayang, putri mamih tidur ya nak seperti kakamu," ucap Keinya sambil menimang pelan Tania.
Bram menghampiri Istri dan anaknya.
Dan dengan perlahan Keinya menaruh Tania disisi Vania.
Bram menuntun Keinya untuk berjalan pelan ke arah sofa.
"Papih, aku bisa makan sendiri," ucap Keinya saat Bram mulai menyuapinya.
"Tidak apa-apa sayang."
"Papih."
"Hmm."
"Apa kau sudah mengurus dia?" tanya Keinya ketika dia beres mengunyah.
"Mark sudah mengurusnya, dia sudah kembali ke Malaysia. Dan aku juga sudah menyerahkan jabatanku pada Ceo yang baru, jadi aku bisa menemani kalian."
"Lalu, apa jika kita pindah ke Indonesia kau tidak akan bekerja? perusahaan mu kan yang di Indonesia dipimpin oleh om Nabhan?"
"Sayang, untuk apa aku bekerja ... aku pemilik utama dari Agdam grup, perusahaan ku disemua Negara sudah berkembang pesat lewat pemimpin-pemipin yang aku percaya. Dan saat ini aku akan selalu bersama kalian selama 24 jam."
"Terimakasih, papih." Keinya tersenyum manis. Bram sudah memutuskan takan lagi lagi bekerja. Saat ini dia hanya ingin menghabiskan waktunya bersama istri dan ketiga anaknya dan menikmati semua apa yang dia perjuangkan ketika muda.
"Mamih!" panggil Lila.
"Kemari sayang," jawab Keinya setelah Bram menyuapinya.
"Lila, apa kau sudah makan siang nak?" tanya Bram.
Lila menggeleng. "Aku belum makan siang papih, aku rindu adik-adiku," ucap Lila, kemudian Lila mendekati ranjang. Tapi kemudian ekpresi gadis itu cemberut karna ternyata Tania dan Vania sedang tertidur.
"Mamih, mereka masih tidur," ucap Lila yang menghampiri Keinya.
"Sayang, tadi Tania membuka matanya, mungkin barusan dia tertidur," ucap Keinya membelai rambut putrinya.
"Sayang, aku akan makan siang dulu ... Ayo lila kita makan siang!" ajak Bram.
"Papih duluan saja, nanti aku menyusul," balas Lila.
"Baiklah." Bram pun bangkit dan keluar dari kamar sambil membawa piring kotor.
"Duduklah sayang!" titah Keinya. "Apa kau ingin mengatakan sesuatu pada mamih?" tanya Keinya, dia sudah tau jika putrinya takan berani berbicara dihadapan papihnya.
Lila pun mengangguk dan dia duduk disisi Keinya. "Mamih, kitakan akan pindah ke Indonesia sebentar lagi, bolehkah hari minggu aku menginap dirumah Emilly?"
Keinya mengelus rambut Lila. "Sayang, maafkan mamih dan papih ya, karna kami pindah ke Indonesia jadi kau akan berpisah dengan teman-temanmu disini. Mamih juga minta maaf mamih tak bisa mengijinkan mu untuk menginap dirumah Emilly, bagaimana jika Emilly saja yang menginap disini," ucap Keinya dengan lembut. Dia tak akan tenang jika putrinya menginap ditempat lain.
"Bolehkah Emilly menginap disini?"
"Tentu, sayang. Kau bisa bermain dengan Emilly sepuasnya."
"Terimakasih mamih," balas Lila sambil memeluk Keinya.
"Sayang, kau sudah sholat dzuhur?" tanya Keinya sambil membalas pelukan Lila.
Lila mengangguk dan melepaskan pelukannya. "Aku sudah sholat mamih."
"Sekarang kau makan bersama papih dan momma, setelah itu kerjakan pr mu dan istrihat."
"Baik mamih." Lila bangkit dan mencium pipi Keinya.
Keinya tersenyum melihat tingkah Lila yang sangat manis, walaupun sudah ada sikembar, rasa sayang Keinya terhadap Lila tidak berkurang. Sampai kapanpun Lila tetap putri sulung mereka, Sampai kapapun Keinya dan Bram akan tetap memperjuangkan Lila menjadi putri mereka walau suatu saat nanti Tya dan Hasan memberi tau Lila yang sebenarnya. Walau pun memang Lila sudah tau semuanya, tapi gadis kecil itu berusaha melupakan apa yang dia dengar dari ibu kandunganya.