Uncle Bram

Uncle Bram
91



"Mas. Kamu kerumah Zoya duluan aja ya!" Ucap Hana pada suaminya.


"Kamu mau kemana dulu emang dek?" tanya Nabhan suami Hana.


"Aku kayanya mau ke Apartemen Bram dulu!Nanti aku naik Taxi ke rumah Zoya.


"Yaudah. mas tunggu dirumah Zoya ya!" Balas nabhan mengelus rambut Hana. Lalu meminta taxi yang mereka tunggangi untuk mengantar ke Apartemen Bram terlebih dulu.


Saat Hana baru saja keluar dari lift. Dia melihat Bram keluar dari tangga darurat dengan berlari. Refleks Hana pun ikut berlari. Bahkan saat masuk Bram tak menutup pintunya. Jadi Bram tak menyadari bahwa ada orang yang masuk ke Apartemennya.


Pintu kamar yang tidak di tutup membuat Hana bisa mendengar semuanya.


Hana ingin sekali tertawa terbahak bahak saat mendengar Keinya memaki Bram.


"Si Bram emang ga pernah beruntung kalau urusan sama cewe," ucap hana dalam hatinya.


Setelah cukup lama mendengarkan percakapan Bram dan Keinya, telinga Hana mendengar hal yang sangat menggelikan. Hana mendengar Saat Bram merayu Keinya denga caranya. Hana pun memutar bola matanya jengah.


"emang paling bisa tuh anak" ucap Hana dalam hatinya, kemudia dia melangkah kan kakinya ke dapur agar tidak lebih jauh mendengar hal yang menggelikan.


Sudah sejak lama Hana duduk di Kursi Pantry.


Lama-lama dia merasa jenuh. Dia pun memutuskan untuk duduk di Sofa, berharap Bram sudah menyelsaikan kegiatannya.


"Se-sejak kapan lu disini han?" Tanya Bram terbata-bata. Mukanya memerah saat melihat Hana tengah memperhatikan dirinya dengan seksama.


"Sejak ... lu lari dari tangga darurat kayanya," balas Hana. Dia menahan senyum saat melihat kegugupan Bram.


Tanpa menjawab ucapan Hana lagi, Bram menuju dapur untuk mengambil minum dan menghilangkan rasa malunya.


"Laki lu mana?" tanya Bram saat menghampiri Hana di sofa.


"Kerumah Zoya langsung."


"Lah terus, kenapa lu datang ke Apartemen gue?"


"Lu hebat ya, bisa banget bujuk bini lu yang lagi ngamuk, Pantesan aja langsung dapet kembar." Hana lebih memilih mengolok-ngolok Bram dari pada pada menjawab pertanyaan Bram. Dan Hana tertawa terbahak-bahak dengan ucapannya sendiri.


Bram pun langsung melempar bantal ke arah Hana yang masih tak berhenti tertawa. "Bodo han Bodo, gue udah sah ini," gerutu Bram saat Hana masih tak bisa berhenti tertawa.


"Balik sana ke rumah Zoya! gue bisa diamuk lagi sama bini gue, kalau ada yang mergokin dia dalam kondisi jelek!" titah Bram pada Hana. Bram saja malu dipergoki oleh Hana apalagi Keinya.


"Yaudah, gue kerumah Zoya sekarang, tapi ..."


"Tapi ...?"


"Tapi apa'an?"


"Bagi dolar dong buat ongkos taxi!"


"Dolar gue di dompet laki gue, masa ia gue bayar taxi pake rupiah." Bram pun mendengus mendengar jawaban sahabatnya. Dia pun bangkit menuju kekamarnya dan mengambil dompet.


"Nih!" Bram menyodorkan beberapa uang pada Hana.


"Lah, segini kurang Bram," Balas Hana sambil menghitung uang yang di berikan Bram.


"Itu cukup buat naek taxi doang mah."


"Gue mau makan dulu di Restoran kesukaan gue," Jawab Hana. Lalu dia berdiri mendekati Bram dan mengambil dompet dari tangan Bram. Tak tanggung-tanggung Hana mengambil semua uang cash di dompet Bram, Dan uang cash itu baru saja diberikan Keinya dua hari lalu, tapi sekarang Hana malah mengambilnya tanpa perasaan. "Yaudah gue kerumah Zoya dulu, sampai ketemu di Hotel." Hana pun mengembalikan dompet Bram ke tangannya, dan meninggalkan Bram yang tengah terbengong.


"Isssssh," Desis Bram. Dia melemparkan dompet ke meja dan menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke sofa. "Gak dulu, gak sekarang, Malakin gua terus tuh dua curut." gerutu Bram lagi.


Hotel.


"Sayang ... " Bram membuka pintu kamar dimana Keinya sedang di rias oleh MUA.


Dan betapa terkejutnya Bram saat melihat Keinya dari pantulan kaca. Bram tersenyum saat melihat Keinya. Keinya tampak begitu cantik saat hampir selesai dirias. Keinya pun tersenyum ke arah Bram melalu pantulan kaca. Keinya merasa terpesona saat melihat suaminya. Bram tampak tampan dengan memakai tuxedo yang senada dengan gaun yang ia kenakan.


Mereka saling terpesona satu sama lain, melupaka Beberapa team MUA yang sedang merias Keinya.


"Nona, Semua sudah selesai," ucap MUA.


"Terimakasih, silahkan keluar!" titah Bram. Mereka pun keluar, tak lupa menunduk memberi hormat pada Keinya dan Bram.


"Sayang kau begitu cantik," ucap Bram saat membantu Keinya berdiri.


"Kau juga sangat tampan papih." Keinya mengalungkan tangannya pada leher Bram.


"Jangan mengoda ku mamih, aku takut ta bisa menahan diri," Balas Bram sambil menarik pinggang Keinya agar lebih mendekat. "Ayo kita ke Aula!" Bram melepas pelukannya, dan menyodorkan lengannya untuk di gandeng oleh Keinya.


"Hubby"?


"Ya sayang?"


"Apa mommy dan daddy tidak datang?"


"bel, bukan maksudku mommy dan daddy tak bisa kemari karna Rafael tengah dirawat."


"Baiklah."


Mereka pun melangkah keluar kamar menuju Aula.


Saat sampi di Aula tempat mereka mengadakan resepsi. Semua tamu melihat mereka dengan tatapan takjub. Terutama saat melihat Keinya. Bram dengan pelan menuntun Keinya ke atas pelaminan. Namun saat mereka akan melangkah dua tamu masuk, kehadiran dua tamu tersebut membuat para tamu yang lainny terkejut.Tak terkecuali Keinya yang sedang berbalik ke arah belakang.


Keinya ....


Maaf ga bisa up lebih. tapi kali ini up nya di panjangin.