Uncle Bram

Uncle Bram
78



"Hubby, sebenarnya aku ... "


"sayang ada apa?" tanya Bram panik.


"ehmmm." Keinya masih tak berani bicara. Dia meremas kedua tangannya karna gugup.


"Bagaimana kalau kita sarapan dulu sebelum menjemput Lila?" ajak Bram. Bram tau pasti Keinya akan menyampaikan hal yang penting, untuk itu dia menyarankan untuk sarapan dahulu sebelum mendengar Keinya berbicara.


"baiklah."


"Hubby?" lirih Keinya saat mereka sudah menyelesaikan sarapan mereka.


"Bicaralah sayang!" Titah Bram. Lalu Bram duduk di sebelah Keinya dan memegang satu tangan Keinya.


"Tapi, kau harus berjanji tak akan memarahi ku jika aku jujur pada mu?" tawar Keinya sebelum dia berbicara.


"Apapun yang kau katakan, aku tak akan memarahimu sayang."


"Hubby maaf, sebenarnya aku telah memberikan mobil yang kau beri sebagai mas kawin pada teman ku," ucap Keinya dengan gugup. Setelah mengatakan itu dia langsung memejamkam matanya karna tak mau melihat reaksi bram.


Sedangkan Bram hanya mengernyit heran mendengar ucapan Keinya. Bram pikir Keinya akan membicarakan hal lain. Jelas saja Bram tau jika mobil itu sudah di berikan pada Laura.


"Sayang, aku sudah tau itu," jawab Bram. dia melepas genggaman pada tangan Keinya dan beralih mengelus rambut istrinya.


"Benarkah? ... kau sudah tau?" tanya Keinya kaget. Kemudian dia memandang Bram yang tengah tersenyum padanya.


Bram pun hanya mengangguk tersenyum.


"Kapan kau mengetahuinya?"


"Sejak kau mendiamkan ku sayang." Bram terkekeh dengan ucapanya sendiri.


"Maaf, bukan aku tak menghargai pernikahan kita. Tapi saat itu aku benar-benar kecewa pada mu. Maafkan aku."


"Sayang, kenapa kau harus minta maaf. bukan hanya mas kawin saja yang menjadi milikmu. Harta ku pun semua milikmu dan milik anak-anak kita. Aku bekerja keras untuk kalian. Jadi aku tak marah jika kau memberikan nya pada temanmu." Bram memandang istrinya penuh cinta. Inilah yang di kagumi Bram dari sikap Keinya. Keinya selalu berpikir dewasa dan selalu mengakui kesalahannya.


"Ayo, kita pergi!" ajak Bram setelah mereka menyelesaikan sarapan dan obrolah mereka. Bram menyodorkan satu lengannya agar di genggam oleh istrinya.


Mari kembali pada pasangan yang tengah bermain 😂😂


"Yank?"


"Hmmm." Aysel menjawab dengan deheman. dia sedang manaruh kepalanya di dada Aska setelah menyelesaikan adegan panas mereka.


"Makasih kamu udah nemenin mas selama 48 tahun hidup mas," ucap Aska sembil mencium pucuk kepala Aysel.


Aysel pun tersenyum. Kemudian dia bangkit dari dada Aska dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Aska. "Ga 48 taun mas. Tapi 37 tahun.


"Hah. Kok 37 taun si yank?"


"Ia, 5 tahunnya kan kamu kejam sama aku. 6 taunmya aku pergi ke Spanyol." Aysel menjulurkan lidahnya mengejek pada suaminya.


"Yah pake diingetin lagi," lirih Aska dengan lesu. Walau kejadian Aska berbuat kejam pada Aysel sudah lama sekali, tetap saja Aska masih merasa sangat malu atas kelakuannya dulu.


"Ia, ia udah dimaafin." Aysel selalu menjawab kata-kata yang sama seperti dulu setiap kali Aska merasa bersalah.


"Ya kali kalau ga di maafin, mana mungkin Raffa ada di tengah-tengah kita sekarang." Aska terkekeh geli dengan ucapanya sendiri.


"Tapi benerkan ... ?


"Bener apa?" Tanya Aysel heran.


"Bener, kalau aku masih sanggup buat kamu lemes," ucap Aska sambil tertawa terbahak-bahak.


"Kebiasaan! ... kalau ngomong gak pernah di saring. Gak inget kamu udah mau punya cucu 3," ucap Aysel. Dia mencubit gemas pipi Aska.


"Oh iya ya. Lila juga cucu aku ya sekarang," Jawab Aska sambil menepuk jidatnya