Uncle Bram

Uncle Bram
81



"Hubby, kau sungguh pembohong!?" gerutu Keinya saat Bram menyelimuti tubuh mereka yang tanpa memakai sehelai benangpun.


Cup. Bram mencium kening Keinya.


"Maafkan aku sayang, aku selalu tak tahan jika meliatmu." Bram menangkup pipi Keinya dan mengelusnya.


"Hubby, kenapa kau masih terlihat tampan padahal umur mu sudah tak lagi muda." Keinya pun sama seperti Bram, dia mengelus ngelus pipi Bram. Sampai saat ini Keinya masih merasa takjub denga wajah suaminya yang bahkan tak ada kerutan sedikitpun.


"Aku menolak tua sejak menikah dengan mu sayang." Bram terkekeh dengan ucapannya sendiri.


"Papih, aku lapar," ucap Keinya. Percintaan panas yang barusan dia lakukan membuat energinya terkuras habis-habisan.


"Kau ingin makan apa sayang?"


"Aku ingin makan nasi goreng," jawab Keinya.


" Baiklah, aku akan membuatkannya." Bram pun bangkit kembali memakai pakaiannya.


"Hubby?" Keinya memegang tangan Bram yang akan memakai kaos.


"Jangan memasak menggunakan pakaian."


"Hah!?" Bram pun terkejut dengan apa yang Keinya minta. "Kenapa?" tanya Bram heran.


"Aku ingin melihatmu memasak tanpa memakai kaos," ucap Keinya santai. "Ini keinginan anak-anakmu hubby," Keinya mengerlingkan matanya.


"Baiklah, ayo!" Bram pun mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan keinya dan mengajaknya ke dapur. Namun Keinya malah menggeleng. Dia malah merentangkan kedua tangannya agar Bram memangkunya. Dan bram pun melingkarkan kaki Keinya ke pinggangnya dan memangku Keinya seperti Koala memangku anaknya.


Setelah sampai dapur, Keinya bukan melihat Bram memasak, melainkan dia memeluk bram dari belakang. Tangannya tak henti-henti mengelus dada bidang dan perut sispek suaminya.


"Sayang kau tunggu saja ya disana!" titah Bram yang merasa geli karna Keinya terus mengelus daerah sensitifnya.


Bukannya menurut Keinya malah semakin mengeratkan pelukannya dan mau tak mau Bram pun melanjutkan masaknya dengan perasaan yang tidak nyaman.


Setelah beres memasak, Bram menuntun Keinya untuk ke meja makan. Dia menyuapi Keinya sambil terus mendengar cerita Keinya saat masa-masa sekolah dulu.


Karna mereka tengah asik bercerita, mereka tak sadar jika Aska tengah memperhatikan mereka.


Aska memandang anak dan menantunya dengan pandangan haru. Dia benar-benar bersyukur melepas putri kesayangannya pada orang yang tepat.


▪▪▪▪▪▪▪


"Hubby, sebelum kita ke kantormu bisakah kau mempertemukan ku dengan tanteu Tya?" tanya Keinya ketika dia dan Bram sedang berada di mobil yang sedang melaju. Mereka baru saja mengantar Aska dan Aysel serta mengantar Lila ke sekolah.


"Sayang, untuk apa kau bertemu dengannya?" tanya Bram. Sambil fokus mengemudi mobilnya.


Bram pun memutar balikan mobilnya, mau tak mau dia harus menuruti keingnan istrinya.


45 menit kemudian mereka pun sampai.


"Hubby, bisakah kau tunggu diluar saja?" pinta Keinya saat mereka sudah di depan unit Apartemen yang di tempati Tya.


"Tidak. aku tidak akan membiarkan mu menemuinya sendiri," ucap Bram dengan nada tegas.


"Tapi aku ingin berbicara secara pribadi dengan nya," jawab Keinya dengan memohon. Dia tak mungkin membiarkan Bram tau tentang apa yang akan dia ucapkan pada Tya. terlebih lagi Lila tak ingin Bram mengetahui rahasia Lila yang selama ini Lila simpan rapat-rapat.


"Sayang, bagaimana jika dia melukaimu?" Bram tampak tak setuju dengan keinginan Keinya.


"Hubby," ucap Keinya sambil mengelus pipi Bram. "aku akan berteriak jika dia melukai ku," ucapnya lagi meyakinkan Bram.


Mau tak mau dia pun mengijinkan istrinya untuk masuk kedalam. Sedangkan dirinya menunggu diluar.


dengan perlahan Keinya membuka pintu kamar yang terkunci. Bram memang mengurungnya di Apartemen namun ternyata dia tak membebaskan Tya begitu saja. Bram mengurung Tya di salah satu kamar dan menguncinya dari luar.


Ceklek. Keinya membuka pintu kamar, dia melihat Tya sedang duduk melamun di sisi ranjang.


Tya pun tersadar dari lamunannya saat Keinya membuka pintu.


"Keinya?" Tya menghampiri Keinya. Dia langsung bersimpuh di kaki Keinya. "Kei, tolong tanteu. Tolong bujuk Bram untuk mengeluarkan tanteu dari sini," ucap Tya sambil memegang kaki Keinya.


"Kita perlu bicara!" ucap Keinya dingin. Sepertinya dia tidak tersentuh dengan apa yang dilakukan Tya.


Tya pun mendongak melihat ke atas. Dia merasa harga dirinya sudah diinjak-injak oleh Keinya, karna Keinya sama sekali tidak terpengaruh oleh dirinya yang berlutut.


Tapi kali ini Tya harus menahan dirinya agar Keinya bisa membujuk Bram untuk membebaskannya.


Mau tak mau dia pun bangkit dari berlututnya. Dan kini mereka pun sudah duduk berhadap-hadapan di sofa.


"Kei, tanteu minta maaf karna tanteu pernah memfitnah mu, maafkan tanteu. Tanteu berjanji takan menggangumu lagi, tanteu akan pergi jauh dari keluarga kalian," ucap Tya memohon. Dia bahkan bisa mengeluarkan air mata buayanya.


"Cih. Kau sungguh tak mempunyai malu. Bukan kah kau seharusnya meminta maaf pada Lila," ucap Keinya. Dia tak ingin berbasa-basi dengan menyebutnya tanteu. Karna bagi Keinya, wanita di depannya ini sudah tak pantas untuk di hormati.


"Apa maksudmu kei? kenapa aku harus meminta maaf pada putri ku sendiri?"


"Berhenti menyebut dia putrimu, dia adalah putriku." Keinya menjawab ucapan Tya dengan lantang. " Kau pikir aku tidak tau bahwa kau sudah ... "


Sudahkah kalian mengumpulkan vote untuk Uncle Bram.hahahahah. gays karna ini hari senin aku butuh vote untuk menaikan rank Uncle Bram. kalau uncle Bram sudah naik Rank nanti nanti sore aku akan up lagi.


Ouh ia kalian bisa baca novel terbaruku ya yang judulnya Bunga yang terluka.