Uncle Bram

Uncle Bram
100



Keinya terus menangis dipelukan Aska. Aska pun sama dia juga terisak. Dimasa lalu Aska akan melakukan apapun untuk Keinya agar Keinya tak ketakutan. Dulu saat Keinya kelas 2 Sekolah menengah, sekolah Keinya mengadakan liburan dengan Camping dialam terbuka. Tapi Keinya sangat takut untuk ikut camping sedangkan semua sisawa-siswi wajib mengikutinya. Mengetahui putrinya ketakutan untuk ikut camping, Aska datang kesekolah Keinya untuk menawarkan alternatif lain agar sekolah Keinya tak jadi mengadakang camping.


Aska menawarkan liburan ke Bali untuk semua siswa-siswi dari kelas satu sampai kelas tiga, dan tentu saja semua akomadasi ditanggung oleh Aska.


Aska adalah tipe ayah yang akan melakukan apapun demi kenyamanan keluarganya.


Tapi sekarang dia tak bisa melakukan apapun untuk meredam ketakutan putrinya, yang ia bisa lakukan adalah mengusap lembut rambut putrinya mengalirkan ketenangan seraya berdoa untuk putrinya.


Bram.


Saat Bram keluar bersama Lila, dia langsung mencari Aysel yang belum sampai, baru saja dia akan mengambil ponsel dari sakunya untuk menelpon Aysel, tapi ponsel Bram tertinggal diruangan Keinya.


Dan saat Bram akan masuk kedalam ruangan Keinya, dia melihat istrinya sedang terisak memeluk Aska.


Mata Bram berkaca-kaca, hatinya mencelos melihat wanita yang amat dicintainya ternyata memendam ketakutannya sendiri, Bram merasa dirinya sangat jahat karna selama ini dia memperlihatkan kegugupannya didepan Keinya, tanpa tau bahwa Keinya pun tengah merasa ketakutan.


"Mengapa kau sangat baik sayang," lirih Bram dalam hatinya.


Bram memutuskan untuk tidak masuk, dia kembali menutup pintunya. Saat dia berbalik ternyata dibelakangnya sudah ada Aysel, dan Aysel juga melihat bahwa putrinya tengah terisak dipelukan Aska.


"Bell," lirih Bram, kemudian Bram mendudukan dirinya dikursi tunggu.


Aysel langsung ikut duduk disisi Bram. "Bram," panggil Aysel.


"Hmmm."


Aysel mengusap bahu Bram yang sedang menunduk. Aysel bisa dengan jelas melihat bahwa menantunya ini tengah menahan tangis. Mengenal Bram selama puluhan tahun membuat Aysel mengerti tentang apa yang dirasakan sahabat sekaligus menantunya.


"Gue egois Bell, harusnya gue ga maksain istri gue buat ngandung anak-anak gue, harusnya gue tunggu sampai umur Keinya sedikit mateng, Keinya udah banyak banget berkorban demi gue. Tapi sampai sekarang gue belum bisa bahagiain dia." Bram tak sanggup lagi menahan air matanya.


Melihat Bram yang menangis, Aysel memeluknya dari samping.


•••••


Aska mengajak Keinya untuk bercerita tentang masa lalu keluarga mereka agar putrinya bisa melupakan ketakutannya. Hingga Keinya mengantuk dan tertidur.


Saat Keinya sudah tertidur, Aska keluar dan mengajak Aysel, Raffa dan Lila untuk makan siang, sedangkan Bram, dia menolak karna ingin menemani istrinya.


"Papih," lirih Keinya saat membuka mata, dia langsung melihat suaminya tengah memegang tangannya dan tersenyum.


"Ya sayang."


"Apa kau sudah makan siang?" tanya Keinya.


"Sudah," jawab Bram berbohong.


"Mana Lila, apa dia juga sudah makan siang?"


"Lila, sedang makan siang bersama mommy dan daddy."


Bram mendekatkan wajanya pada wajah istrinya. Cup


Bram mencium bibir Keinya dan ********** sebentar.


"I love you sayang."


"Ekhemmm." seseorang berdehem mengganggu keromantisan mereka.


satu part lagi sore ya