Uncle Bram

Uncle Bram
83



"Aku mendengarnya sayang, bagaimana aku tidak mendengar kau berbicara dengan sangat kencang," ucap Bram sambil tertawa mengejek ke arah istrinya. Dan Bram lansung dihadiahi cubitan gemas di pipi oleh Keinya.


"Sayang kau menyakiti ku," ucap Bram sambip mengelus pipinya.


"Kau sudah tua, masih saja menyebalkan." Keinya menggerutu karna suaminya terus menahan tawa karna meledeknya.


"Hubby, kau tidak marah kan, aku tak memberitau mu tentang perlakuan tanteu Tya pada Lila?" Tanya Keinya.


"Sayang, aku tau putri ku, aku mengerti bagaimana sifatnya. Aku menyesal dulu tak terlalu memperhatikan Lila dan selalu sibuk dengan pekerjaan ku, seandainya aku bisa mengulang waktu, mungkin Lila tak perlu merasakan hal pahit di hidupnya." Tatapan Bram berubah menjadi sendu. Dia amat menyayangi Lila walau Lila bukan anak kandungnya. Mendengar semua yang di ucapkan Keinya tadi. Bram ingin sekali mencekik leher Tya, tapi kemudian dia tersadar bahwa ada istrinya di hadapan Tya, dan dia tak ingin istrinya takut kepadanya.


"Kau bisa menebusnya sekarang hubby, kau bisa menghabiskan waktu dengan Lila lebih banyak sekarang," ucap Keinya sambil membelai dada suaminya.


"Sayang, berhenti memainkannya!" titah Bram. Dia menangkap tangan Keinya yang sedang mengelus dadanya.


"Kenapa?" tanya Keinya polos. Namun sepersekian detik dia mengerti maksud suaminya karna merasakan ada yang aneh dibawahnya.


"Hubby, kenapa kau begitu mesum?" Keinya mencebikan Bibirnya ketika sesuatu dibawah sana tengah ber aktivitas.


"Sayang, kau ingin aku awet muda bukan?"


"Maksudmu?"


"Jika kau ingin aku awet muda kita harus melakukannya setiap hari!" Bram tergelak dengan ucapanya sendiri.


"Tanpa kau bicara pun kau sudah meminta jatahmu setiap hari!" jawab Keinya sambil menggesek-gesekan hidungnya pada hidung suaminya. "Kau bahkan selalu mengajari ku hal aneh, padahal aku baru 19 tahun, kau sungguh menodai mataku dan tanganku yang masih polos."


"Tapi sekarang kau sangat menyukainya bukan?" Bram menahan tawa ketika Keinya menekuk wajahnya.


"Aku menyukainya karna aku hormon kehamilan ku, kau tau ... ?


"terus saja tertawa! ... tapi kau pasti akan menangis ketika aku tak memberimu jatah selama seminggu!" Keinya tertawa sinis ketika mendadak Bram berhenti tertawa.


"Maaf-maafkan aku ratuku," ucap Bram sambil mengecup pipi Keinya.


"Hubby, apa pekerjaan mu bisa di tunda?" tanya Keinya.


"Ada apa?"


"Aku lapar, bagaimana jika kita makan di restoran khas Italy, aku ingin sekali makan pasta."


"Baiklah, apapun demi dirimu Ratuku."


Keinya pun bangkit. Disusul oleh Bram yang juga bangkit dari duduknya. Tak lupa dia memakai jasnya dan dia menuntun tangan Keinya untuk mengagandeng tangannya.


Tak lama mereka pun tiba di Restoran khas Italy. Saat Bram akan menggeserkan kursi untuk Keinya. seseorang Memanggil Bram dari belakang.


"Bram?" panggil si orang itu.


Bram: ...


Guys aku udh up 3 bab hari ini. Jadi aku minta vote ya.


Oh ia aku mau cerita tentang kesiapan untuk cerita Raffa dan Lila. Kalian tau engga? pasti ga tau ya hahahaha


Berkat dukungan kalian Uncle Bram lulus kontrak dengan level memuaskan. Dan aku sebisa mungkin membuat cerita Raffa dan Lila lebih menarik agar kalian tidak bosan.


disini perjuangan Lila tuh bener-bener menguras air mata. tapi tenang aja gaiss nyeseknya gak lama lama ko. gak janji maksudnya hahahahha. maafkan aku yang gak jelas ini ya. 😂😂 guys maaf ini sebenerya up nya dari sore. tapi proses reviewnya lama banget