Uncle Bram

Uncle Bram
101



Setelah Aska, Aysel, Lila dan Raffael selesai makan siang, mereka langsung kembali ke rumah sakit tak lupa Aysel membawakan makan siang untuk Bram.


"Mas, kamu tunggu disini dulu ya aku mau nganterin makanan buat Bram, sekalian liat Keinya!" titah Aysel pada Aska.


"Ia yank."Jawab Aska.


Setelah membuka pintu dia malah melihat anak dan menantunya sedang berciuman, dan dengan iseng dia berdehem.


"Ekhem." Aysel berdehem sambil tersenyum jail.


Sontak Keinya dan Bram melihat kearah pintu. Melihat Aysel yang datang, Keinya langsung menutup wajahnya dengan selimut karna malu. Bram yang melihat Keinya tengah menahan malu langsung menghampiri Aysel dan menyeret Aysel keluar.


"Lu apa'an sih Bram, main ngusir aja!"


"Lu ganggu banget si Bell, kasian bini gue jadi malu."


Aysel mendengus mendengar jawaban menantunya. "Lah, elu bini mau operasi masih aja nyosor."


"Bodo Bell bodo ... jangan ganggu kita dulu."


"Dih, lu mah sama mertua ga ada sopan-sopannya," ucap Aysel. "Nih gue bawa makan siang buat lu."


"Gue titip Lila bentar." Bram langsung mengambil makananan yang Aysel bawa dan langsung masuk keruangan Keinya tanpa mendengar lagi jawaban mertuanya.


"Sayang!" panggil Bram.


Keinya hanya membuka sedikit selimutnya, dia mengintip masih ada Aysel atau tidak. Setelah dia tau Aysel sudah tidak ada, dia langsung membuka selimutnya.


"Papih kau sungguh membuat ku malu!" keluh Keinya sambil mencebikan bibir membuat Bram terkekeh.


"Apa itu?" tanya Keinya yang melihat paperbag.


"Itu makanan sayang."


"Kau belum makan siang kan?"


Bram pun tersenyum kikuk.


"Kemarikan, biar aku menyuapimu."


"Papih aku ingin menyuapi mu," ucap Keinya.


Melihat tatapan keinya, Bram pun langsung membetikan kotak makan pada Keinya, dan dia mendekatkan dirinya ke dekat istrinya.


"Kenapa hanya salad?" tanya Keinya.


"Aku memang memesan salad sayang."


"Papih, harusnya kau sedikit makan berat sekarang. Semalam kau tidur hanya sebentar dan tadi pagi kau hanya sarapan sedikit. Kau bisa sakit nanti," gerutu Keinya. Dia mengkhawatirkan kondisi suaminya yang tampak kacau seminggu ini.


Bram terkekeh geli saat mendengar gerutuan istrinya. Dia merapihkan rambut istrinya yang menutup wajahnya dan membawanya kebalakang telinga.


"Sayang, aku akan makan lagi nanti, sekarang suapi aku!" titah Bram.


Dan mulai lah Keinya menyuapi Bram. Bram mengajak Keinya bercerita kesana kemari untuk mengalihkan ketakutan istrinya.


Dan tibalah detik-detik menegangkan bagi Bram dan Keinya.


Setelah dokter melakukan pemeriksaan terakhir sebelum Keinya masuk operasi, Bram menyuruh Dokter dan perawat untuk menunggu diluar. Setelah Dokter dan suster keluar. Bram langsung berdiri disebelah Keinya dan memeluk Keinya, Saat Keinya meletakan wajahnya pada perut Bram, Keinya tak mampu lagi membendung tangisannya. Detik-detik terakhir sebelum memasuki ruang operasi membuat ketakutan Keinya bertambah.


"Pa-papih aku takut. Hiks," ucap Keinya dengan terisak.


"Sayang jangan takut, aku akan menemanimu diruang operasi," ucap Bram.


Seketika Keinya mengangkat kepalanya dan menatap Bram.


"Memang bisa kau menemaniku diruang operasi?"


Bram menghapus air mata Keinya. Dia sedikit membungkukan badanya.


Cup. Bram menangkup pipi Keinya dan mencium kening istrinya dengan penuh kasih sayang. "Aku takan membiarkanmu merasakan ketakutan sendiri sayang."


Ngerasain sih gimana detik-detik mau sesar, deg-degan nya minta ampun. liat alat alatnya aja udah bergidik ngeri, belum lagi sesudah sesar tubuh langsung demam karna efek anastesi.


Apapun proses lahirannya membawa nikmat yang tiada tara untuk para wanita.