Uncle Bram

Uncle Bram
khalisia



ini buat yang mau ikut aja ya. yang ga mau ikut boleh di skip aja bab ini.


Note ini promo ya


Jarinya jangan jahat ya gengs 😂😭


Novel ini judulnya Khalisia, my ex wife. Mungkin dan sampai tamat hanya 50 ribu, untuk yang mau tanya-tanya, atau kesusahan beli koim bisa wa admin ya di no 088222277840.


Ini buat yang mau ikut aja ya. Yang ga mau ikut skip jangan julid oke. Cerita ini tayang di ****KBMAPP****


Judul Novel : Khalisia, My ex wife


Khalisia, my ex wife (Kalau ga ketemu judulnya di sana, kalian ketika Khalisia aja di pencariannya.


Bab 1 Obsesi Khalisia.


Khalisia menunduk, ia meremas kedua tangannya. Matanya terpejam ia menahan gugup saat ia sedang berhadap-hadapan dengan sang ayah.


"Khalisia! Tatap Daddy!" seru Julian yang tak lain adalah sang ayah. Julian tau, bahwa putri pertamanya tengah gugup. Namun, ia tak bisa menunda lagi membicarakan hal yang menurutnya sangat penting.


Khalisia, mengigit bibirnya. Selalu seperti ini ... Sang ayah akan bersikap tegas jika keinginan Khalisia sudah di anggap tak wajar.


Bagaimana dianggap wajar, Jika Khalisia meminta sang ayah untuk menjodohkannya dengan seorang lelaki matang yang merupakan cucu sahabatnya.


Julian dan sang istri tak pernah mempermasalahkan keinginan putra-putri mereka. Kedua orang tua Khalisia selalu memasrahkan keputusan penting di tangan putra putrinya, asalkan mereka bertanggung jawab dengan keputusan yang mereka ambil.


Dan saat Khalisia merengek meminta di jodohkan dengan Gemma, Julian rasa, ia harus terlebih dahulu berbicara dengan sang putri.


"Khalisia!" panggil Julian lagi saat Khalisia masih tak mau menoleh ke arahnya.


Khalisia menghembuskan napas berkali-kali, ia mulai mengangkat kepalanya dan menatap Julian.


"Katakan kenapa kau ingin menikah muda? dan katakan, kenapa kau ingin Daddy menjodohkanmu dengan Gemma?" tanya Julian. Ia menatap sang putri dengan tatapan tegas, membuat Khalisia semakin gugup.


"Karena aku mencintainya, Dad!" lirih Khalisia dengan pelan.


"Khalisia! kau masih muda. Umurmu masih 20 tahun. Kau tau, menikah bukan hanya sekedar kau mampu mendapatkan suamimu. Tapi, ada banyak hal yang harus kau pahami," jawab Julian. Nada bicaranya terdengat sangat tegas, membuat nyali Khalisia sedikit menciut.


"Aku tau, Dad. Aku mengerti," jawab Khalisia. Kali ini, Khalisia memandang sang ayah dengan tatapan sama tegasnya, bahwa ia tak main-main dengan keinginannya.


Mungkin, bagi semuanya keinginan Khalisia sungguh tak masuk akal. Menyukai dan terobsesi dengan seorang pria yang bernama Gemma Raharja, pria yang 12 tahun lebih tua darinya.


Sosok Gema yang ramah, tampan serta sopan mampu membuat hati seorang Khalisia kim, bergetar. Khalisia tak tau rasa yang dia alami murni cinta atau terobesi. Yang pasti, Khalisia begitu ingin memiliki Gemma.


Dan keinginan Khalisia yang kuat, mendorongnya untuk mencari tau tentang Gema lebih dalam. Khalisia melayang saat mengetahui fakta tentang Gemma, fakta Gema yang sangat takut dan sangat menurut pada Tanu, kakeknya.


Dan karena Tanu adalah sahabat ayahnya, Khalisia mendesak sang ayah berbicara dengan Tanu agar menjodohkan dirinya dan Gemma. Ia yakin, Gema akan setuju dengan perjodohan ini, jika Tanu yang berbicara pada Gemma.


Awalnya, Julian mengira bahwa putrinya bercanda, mengingat umur Khalisia yang masih sangat muda. Namun, Julian salah. Ternyata putrinya serius dan selalu merengek membuat Julian tak tahan dan memilih mendengarkan keinginan putrinya.


"Bagaimana jika Gema tak setuju dengan perjodohan ini?" tanya Julian. Membuat Khalisia sedikit lega, sepertinya sang ayah akan luluh dengan permintaannya.


"Dad, Daddy bisa kan membujuk, Uncle Tanu. Aku yakin, Ka Gemma akan setuju," jawab Khalisia dengan bersemangat membuat Julian menggeleng.


"Baik, Daddy akan mencoba bicara dengan Uncle Tanu. Tapi, Daddy ingin bertanya satu hal lagi padamu! Bagaimana jika pernikahanmu gagal dan kau menjadi janda di usia muda?" tanya Julian berharap sang putri mengubah keputusannya.


"Daddy selalu mengajarkanku untuk bertanggung jawab dengan apa yang aku lakukan. Jadi, apa pun yang terjadi nanti. Aku takan menyesal, dan akan bertanggung jawab untuk yang terjadi dalam hidupku," ucap Khalisia mantap, membuat Julian kembali menghela napas kasar. Kini, ia tau bahwa tak ada gunanya melarang putrinya. Hingga ia terpaksa harus mengikuti kemauan putrinya.


Setelah diskusi Julian dan Khalisia selesai, Julian menyenderkan kepalanya kebelakang. Kepalanya berputar-putar karena harus memikirkan permintaan maaf sang putri.


Suara pintu terbuka menyadarkan Julian, ia kembali menegakan kepalanya. Ia tersenyum saat melihat sang istri.


"Bagaimana, Dad?" tanya Tania yang tak lain adalah istri Julian, ibu dari Khalisia.


Julian menggeleng, ia menarik lembut tangan Tania dan menuntun Tania untuk duduk menyamping di pangkuannya.


"Keinginannya tetap sama. Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang," jawab Julian.


"Kau bisa melarangnya, Dad. Atau kita bisa mengirim Khalisia keluar negri agar dia tak melanjutkan obsesinya pada Gemma," jawab Tania, mencoba memberi saran pada suaminya. Namun, Julian menggeleng tak setuju dengan jawaban Tania.


"Kau tau bukan, seperti apa Khalisia ... Dia akan semakin menjadi- jadi jika kita tak menuruti keinginannya." Julian berucap sendu. Ada kalanya, ia menyesal telah membuat keputusan tentang menyerahkan pilihan pada putra-putrinya dan keputusan itu menjadi bumeran sekarang.


•••


Keringat mengucuri tubuh Gemma, sedari tadi, ia terus bermain basket seorang diri. Darahnya mendidih saat mengingat nama Khalisia. Wanita manja yang sangat ia tidak sukai.


Awalnya, Gemma bersikap baik pada Khalisia karena memang sikap Gemma sama pada semua. Namun ternyata, Khalisa menyalah artikan sikap Gemma.


Mereka hanya pernah bertemu beberapa kali, dan Gemma pernah menjemput Khalisia di kampusnya.


Gemma tak menyangka, bahwa Khalisia akan salah paham pada sikapnya.


Dan kini, sang kakek sudah memberikan ultimatum bahwa ia harus menerima perjodohan dengan Khalisia. Gadis manja yang kini sangat ia tidak sukai.


"Aisshhh!" teriak Gemma saat memasukan bola kedalam ring. Ia berteriak karena kesal dengan apa yang akan terjadi di hidupnya.


Gemma mendudukan dirinya di sisi lapangan, ia mengambil botol berisi minuman dan menenggaknya hingga tandas. Tak lama, ia meremas botol tersebut saat lagi-lagi ia mengingat nama Khalisia.


"Kenapa, Lu?" tanya Bunga yang menghampiri Gemma, Bunga adalah kaka sepupu dari Gemma.


Gemma menoleh sekilas lalu pandangannya kembali lurus ke arah depan.


"Lu masih mikirin perjodohanlu?" tanya Bunga, sedangkan Gemma hanya berdehem.


"Dah, lah, Gem. Apa salahnya coba lu terima perjodohan sama Khalisia. Baik ia, cantik ia," kata Bunga membuat Gemma berdecih.


"Gue mana tahan sama cewe kaya dia."


"Lu ga akan tau kalau lu ga nyoba. Lu bisa aja ga cinta sekarang. Tapi siapa tau lu nanti bakal jadi bucin," ejek Bunga pada adik sepupunya


"Dasar dakjal betina!" gerutu Gemma pada kaka sepupunya. Ia bangkit dari duduknya dan kembali mengambil bola, lalu meneruskan bermain basket di susul Bunga yang juga ikut bangkit menyusul Gemma dan mereka pun bermain basket bersama.


•••


Waktu menunjukan pukul 07 malam. Khalisia yang sedang berada di kamar terus berjalan kesana kemari.Ia tak sabar menunggu keputusan sang ayah dan Tanu, kakek Gemma. Kakek Gemma sudah setuju dengan perjodohan ini, mereka hanya tinggal membicarakan rencana apa yang akan mereka ambil lakukan setelah ini. Entah mereka akan menikahkan langsung Khalisia dan Gemma atau ....


Bab 2 Berusaha kuat


"Apakah Gemma setuju, Tanu?" tanya Julian. Saat ini, ia dan Tanu sedang berada di ruang tamu. Mereka sepakat bertemu untuk membicarakan kelanjutan hubungan antara Khalisia dan Gemma.


Tanu tersenyum, ia mengangguk pada sahabatnya. "Aku pastikan dia akan setuju," jawab Tanu. Ia mengambil teh di depannya lalu menyeruputnya.


"Tanu, kita sudah bersahabat sejak kita kuliah, dan aku tak mau suatu saat nanti jika Gemma dan Khalisia sedang ada masalah, hubungan kita renggang. Jadi sebaiknya kau diskusikan dulu dengan Gemma secara bijak. Aku pun akan memberikan pengertian pada Khalisia," kata Julian lagi, ia menatap Tanu lekat-lekat. Ia berharap, Tanu akan menolak perjodohan ini, karena dengan begitu, sang putri akan mengerti.


Seperti biasa, Tanu tersenyum dan senyuman Tanu membuat Julian bergidik. Tak perlu bertanya lagi, Julian sudah tau apa jawaban dari Tanu.


"Gemma sudah masuk kepala 3, jadi aku rasa ia akan bisa membingbing Khalisia," jawab Tanu dengan santainya. Membuat Julian menghela napas berat.


"Bunga, cucu pertamaku akan melepas masa lajangnya. Dan aku tak bisa membiarkan Gemma hidup tanpa tujuan. Selama ini, anak itu hanya mengikuti kaka sepupunya. Bahkan, ia menjadi dokter bukan karena keinginannya sendiri, melainkan karena mengikuti langkah kaka sepupunya dan aku rasa, dia sudah cukup bermain-main, dan menjadikan Khalisia sebagai pendamping Gemma adalah hal yang terbaik."


Khalisia bersorak saat mendengar obrolan Tanu dan Julian. Ia yang sedari tadi berada di kamar, memutuskam untuk menguping dan ia cukup senang, bahkan sangat senang ketika Tanu menyetujui perjodohannya. Selangkah lagi, Khalisia akan mendapatkan Gemma.


•••


Seminggu kemudian


Khalisia mematut diri di cermin, dengan gaun panjang dan rambut diikat kebelakang, Khalisia begitu cantik. Hari ini, ia akan di jemput Gea untuk menghadiri acara pernikahan Bunga, kaka sepupu dari Gemma.


"Mau kemana, kau?" tanya Stevia yang tak lain adalah kaka sepupunya. Ia masuk tiba-tiba masuk ke kamar Khalisia.


"Kapan kau datang!" seru Khalisia, ia menatap Stevia dengan tatapan tak suka. Biasanya, jika mereka bertemu, mereka bagaikan tom and Jery yang selalu berdebat.


"Apa kau lupa! besok hari kematian Papih, kenapa kau bertanya kapan aku kesini. Bukankah setiap hari kematian, Papih, Poppa dan Momma kita akan selalu berkumpul," jawab Stevia. Mendengar ucapan Stevia, Khalisia menepuk keningnya ia lupa bahwa besok adalah hari kematian kakeknya.


•••


"Khalisia, Gemma sudah menunggumu di bawah," ucap Tania, sang ibu.


Khalisia yang sudah siap mengangguk, ia bangkit dari duduknya, kemudian kembali bercermin memastika bahwa tampilannya sudah sempurna.


"Kau sangat jelek, Khalisia. Sangat jelek!" ejek Stevia pada Khalisia membuat Khalisia menatap kaka sepupunya dengan tatapan membunuh


"Dasar jomblo akut!" gerutu Khalisia, tanpa mendengar lagi jawaban Stevia, Khalisia pun berjalan meninggalkan kamar untuk menemui Gemma, pujaan hatinya.


Suara hils berpadu sangat nyaring, membuat Gemma yang sedang berbincang dengan Julian menoleh. Sejenak, Gemma merasa terpesona dengan kecantikan Khalisia. Namun tak lama, Gemma menggeleng. Ia berubah kesal saat mengingat tingkah Khalisia.


"Hai, ka!" sapa Khalisia pada Gemma. Ia tersenyum sangat manis, sedangkan Gemma hanya menanggapi sapaan Khalisia dengan mengangguk.


"Kalau begitu kami permisi, Om," pamit Gemma, ia mengulurkan tangannya pada Julian untuk mencium tangan calon mertuanya.


"Aku pergi, Dad!" Khalisia pun menyalami Julian laly mengekori langkah Gemma.


Saat Gemma akan masuk kedalam mobil, Khalisia memincingkat matanya karena Gemma tak membukakan pintu untuknya.


"Apa kau takan masuk!" teriak Gemma dari dalam, ia berdecak kesal saat Khalisia terus berdiri di depan mobilnya. Ia tau, keinginan Khalisia tapi Gemma lebih memilih acuh pada Khalisia.


Khalisia berusaha menegarkan hatinya saat Gemma berteriak. Sikap Gemma berbeda jauh ketika tadi di hadapan Julian.


Khalisia pun masuk kedalam mobil, jantungnya berdegup kencang saat ia bersebelahan dengan Gemma. Ini pertama kali lagi mereka bertemu semenjak perjodohan mereka di sepakati.


Setelah Khalisia naik, Gemma mulai menyalakan mobilnya dan menjalankannya. Suasana hening langsung tercipta saat mobil mulai melaju membelah jalanan ibu kota, seketika Khalisia di landa kecanggungan saat Gemma sama sekali tak mengajaknya bicara, jangankan mengajak bicara, menoleh pada Khalisia pun tidak.


30 menit kemudian, mobil yang di tumpangi Gemma dan Khalisia pun sampai. Gemma melepas sabuk pengamannya dan langsung turun meninggalkan Khalisia seperti tadi.


Khalisia merasakan nyeri pada hatinya saat Gemma membanting pintu mobil, ia ingin menangis, tak lama ia tersenyum. "Aku harus kuat, harus kuat," ucap Khalisia menguatkan dirinya. Ia tak mungkin mundur setelah selangkah lagi mendapatkan Gemma.


Khalisia pun turun dari mobil lalu berjalan, menyusul Gemma yang sudah masuk, meninggalkannya.


Bab 3 Syarat dari Gemma


Saat keluar dari mobil, Khalisia mencoba setenang mungkin. Hatinya begitu sakit saat Gemma masuk kedalam rumah dan meninggalkannya. Tapi, ia mencoba tersenyum. Ini pilihannya, dan ia yakin, ia bisa menaklukan Gemma yang sebentar lagi akan menjadi suaminya.


Saat masuk kedalam rumah kakek Gemma. Khalisia menolehkan kepalanya kesana kemari, mencari Gemma. Lalu, terdengar suara dari taman belakang dan Khalisia pun masuk untuk menyusul Gemma, yang sudah duduk menyaksikan kaka sepupunya yang akan melakukan ijab qobul.


Karena tamu tak terlalu banyak, Khalisia mendudukan dirinya di kursi yang tak jauh dari Gema. Matanya terus menatap Gemma berharap Gemma menoleh padanya.Namun naasnya, Gemma sama sekali tak menoleh padanya. Bahkan, mungkin tak ingat dengan kehadiran dirinya.


Lamunan Khalisia buyar kala mendengar suara ribut dari depan. Ternyata, kaka sepupu Gemma pingsan saat usai ijab qobul.


Semua langsung panik, termasuk Gemma. Dan saat Bunga yang tak lain kaka sepupu Gemma akan di bawa ke rumah sakit, Khalisia langsung menghampiri Gemma berniat untuk ikut.


"Kau bisa kan pulang sendiri, aku harus pergi ke rumah sakit," ucap Gemma saat Khalisia datang menghampirinya. Ucapan Gemma sungguh menusuk dan membuat hati Khalisia teriris perih. Apalagi Gemma pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban Khalisia.


Semua orang sudah pergi ke rumah sakit, hanya tinggal beberapa orang yang mungkin asisten rumah tangga di rumah kakek Gemma. Dan Khalisia, ia hanya mampu terdiam melihat punggung Gemma yang semakin menjauh. Dan bodohnya, Khalisia berharap Gemma menoleh padanya, walau ia tau, Gemma tak mungkin melakukan itu.


Setelah lama terdiam, Khalsia pun melangkahkan kakinya untuk keluar dan berniat pulang menaiki taxi. Namun tak lama, ia menepuk kening saat menyadari bahwa rumah kakek Gemma berada di dalam perumahan elit dan tak mungkin ada taxi dan setidaknya, Khalisia harus berjalan kaki selama setengah jam lebih jika ingin pergi ke gerbang.


Khalisia merogoh tasnya untuk mengambil ponsel. Namun tak lama, matanya membulat saat tak ada ponsel di tasnya. Ia menepuk kening saat mengingat bahwa saat tadi akan turun, ia sempat bercermin lewat di ponselnya dan mungkin ponselnya terjatuh di mobil Gemma.


Dan sekarang, tamatlah riwayatnya! ia harus berjalan ke gerbang depan. "Kau bisa, Khalisia," lirih Khalisia. Ia menyemangati diri sendiri dan mulai berjalan.


Saat keluar dari gerbang utama, ada mobil yang membunyikan klakson dan membuat Khalisia menoleh. Wajah Khalsia berbinar saat melihat mobil itu, yang ternyata mobil Stevia


Tanpa pikir panjang, Khalisia pun langsung berlari ke arah mobil dan membuka pintu kemudian masuk kedalam mobil. "Kau menyelamatkanku, Stevia," ucap Khalisia sambil memasangkan sabuk pengaman ke tubuhnya, membuat Stevia berdecih.


"Jika saja bukan karena Mamih, aku tak sudi menjemputmu!" umpat Stevia, tentu saja dia berbohong. Stevian dan Khalisia memang seperti musuh. Tapi, mereka saling menyayangi dengan cara yang berbeda.


Saat tadi Khalisia pergi, Stevia merasakan perasaannya tak nyaman. Ia merasa bahwa akan ada yang terjadi dengan Khalisia, dan benar saja dugaannya. Sebab, Stevia tau, hubungan macam apa yang di jalani oleh Gemma dan Khalisia.


Khalisia berdecih, lalu memandang Stevia dengan tatapan menyelidik. "Kenapa Mamih menyuruhku pulang. Bukankah pengajian akan di adakan nanti malam?" tanya Khalisia.


"Karena Mamih tau, kau akan bernasib seperti ini!" jawab Stevia. Membuat Khalisia hampir saja menjambak rambut Stevia.


Sedangkan Stevia langsung memutar bola mata, lalu menjalankannya untuk pulang.


•••


"Lihatlah, anak itu. Bahkan dia sama sekali tak berterimakasih padaku!" gerutu Stevia saat Khalisia turun dari mobil terlebih dahulu dan meninggalkannya.


"Khalisia, kenapa kau sudah pulang?" tanya Julian yang heran kenapa putrinya sudah pulang. Padahal Khalisia baru sebentar meninggalkan rumah. "Mana Gemma?" tanya Julian lagi yang melihat Khalsia hanya seorang diri.


"Tadi kak Bunga tak sadarkan diri, Dad. Jadi ka Gemma ikut pergi ke rumah sakit dan aku lebih memilih pulang," jawab Khalisia, Julian pun mengangguk.


"Kau harus segera naik ke atas dan temani Mamih dan hibur Mamih,!" titah Julian. Khalisia pun mengangguk.


Khalisia menaiki lift, ia berjalan ke arah kamar sang nenek, kamar neneknya terbuka. Hingga, ia melongokan kepalanya kedalam. Seperti biasa, sang nenek sedang terisak sambil memeluk foto Bram, sang kakek.


"Mamih!" panggil Khalisia, Keinya sang nenek menoleh. Lalu tersenyum dan menyimpan foto suaminya.


"Kau baru pulang?" tanya Keinya. Khalisia pun mengangguk.


Kisah cinta Keinya dan Bram memang indah, mereka terpaut usia 27 tahun. Walaupun umur mereka berbeda jauh. tapi keduanya saling mencintai dan cinta mereka sehidup semati. Dan saat Bram meninggal beberapa tahun silam, membuat Keinya amat terpukul, jiwanya seolah ikut terbang bersama suaminya.


"Papih, aku sangat merindukanmu. jemput aku, agar kita bisa bertemu di surga," ucap Keinya dalam hatinya. Ia selalu berkata hal yang sama setiap mengingat suaminya.


Beberapa minggu kemudian.


Gemma mondar mandir di depan ruangan kerja sang kakek, sebentar lagi adalah hari pernikahannya dan Khalisia, ia dan ia ingin mengajukan syarat pada sang kakek


"Kek!" panggil Gemma sambil mengetuk pintu.


Saat mendengar perintah sang kakek untuk masuk, Gemma pun mulai memutar handle pintu dan masuk kedalam ruang kerja sang kakek.


"Ada apa?" tanya Tanu. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah sofa dan mendudukan dirinya di sofa, Gemma pun mengikuti sang kakek untuk duduk.


"Kek, aku cuman pengen resepsiku sama Khalisia di tunda. Kita bisa ijab qobul aja dulu. Boleh, ya, Kek?" ucap Gemma. Membuat Tanu menghela napas berat. Ia sudah mendiskusikan ini dengan Julian.


Tanu ....


Bab 4 Tingkah Gemma


"Baiklah, syarat kamu kakek terima. Kamu sama Khalisia boleh akad dulu," ucap Tanu, membuat mata Gemma berbinar. Dalam otak Gemma, sudah terususun rapih rencana untuk Khalisia. Ia akan membuat Khalisia menderita hidup dengannya dan akan membuat Khalisia meminta cerai padanya.


"Makasih, Kek," jawab Gemma. Ia langsung bangkit dari duduknya dan keluar dari ruangan kakeknya. Lalu, setelah itu ia berjalan ke kamarnya.


Saat berbaring di ranjang, Gemma memandang langit-langit. Ia memegang dadanya yang terasa sesak kala mengingat mantan pacarnya yang juga seorang dokter di rumah sakit yang sama.


Garnia, nama wanita yang berhasil mencuri hati Gemma. Dia bekerja sebagai dokter anak. Mereka berpisah tanpa alasan, Garnia tiba-tiba menjauh dari Gemma dan meminta putus tanpa alasan yang jelas.


Gemma sudah berusaha mencari tau tentang alasan Garnia meminta berpisah darinya. Tapi, Garnia kekeh tutup mulut. Ia malah semakin menjauhi Gemma. Hingga pada akhirnya, Gemma pun menyerah. Dia lebih memilih menghargai keputusan Garnia.


Lamunan Gemma buyar kala mengingat Khalisia, ia harus bertemu dengan gadis manja itu. Mengingat namanya saja membuat Gemma muak apalagi melihat wajah gadis itu. Tapi, apa daya. Ia harus bertemu dengan Khalisia.


•••


Khalisia bersorak, ia melompat-lompat di kasur saat membaca pesan Gemma yang mengirim pesan dan meminta bertemu dengannya.


"Khalisia, kau kenapa?" tanya Tania, sang ibu


Dengan girang, Khalsia turun dari kasur dan langsung berhambur memeluk sang ibu membuat Tania heran.


"Khalisia!" teriak Tania saat Khalisia mencium pipi Tania dengan gemas, hal yang sering Khalisia lakukan ketika ia sedang bahagia


"Kau kenapa?" tanya Tania saat Khalisia sudah tenang.


Khalisia mengambil jus yang di bawa oleh Tania lalu meminumnya. "Mommy, besok aku akan bertemu ka Gemma. Kami akan membahas soal pernikahan kami," jawab Khalisia membuat Tania menghela napas gusar. Entah kenapa, Fellingnya mengatakan bahwa Khalisia akan menderita dengan keputusannya sendiri.


"Khalisia, Mommy ingin berbicara denganmu," ucap Tania. Ia menarik lembut tangan putrinya dan mendudukan Khalsia di ranjang dan Tania duduk di sisinya.


"Khalisia, kau masih muda. Kau cantik, jalanmu masih panjang. Kenapa kau harus memutuskan untuk menikah muda?" tanya Tania dengan lembut. Ia menggenggam tangan Khalisia dan menatap sang putri lekat-lekat. Berharap Khalisia mau mendengarkannya.


Khalisia tersenyum. Ia mengerti dengan ketakutan kedua orang tuanya. Tapi, Khalisia sudah separuh jalan. Ia tak mungkin mundur. Sebentar lagi, Gemma akan menjadi miliknya.


"Mommy, aku tau Mommy dan daddy mengkhawatirkanku. Tapi, aku berjanji aku akan bertanggung jawab dengan keputusanku sendiri," jawab Khalisia membuat Tania tak bisa berkata-kata.


Suaminya benar, terkadang, ia dan suaminya menyesal membebaskan pilihan pada anak-anak mereka asal bisa bertanggung jawab. Dan kini, Khalisia seoalah tak berpikir tentang masa depan pernikahnya dan berlindung memakai kata akan bertanggung jawab dengan keputusannya sendiri.


•••


"Kau kenapa, Sayang?" tanya Julian saat melihat Tania melamun.


Tania yang sedang merebahkan dirinya di ranjang menoleh lalu tersenyum.


"Kau kenapa, hmmm?" tanya Julian lagi. Ia membaringkan diri di samping istrinya hingga posisi mereka berhadap-hadapan.


"Dad, apa kita paksa saja Khalisia untuk membatalkan rencananya. Fellingku mengatakan bahwa Khalisia takan bahagia dengan keputusannya," jawab Tania. Gurat cemas terlihat jelas di wajah Tania. Ia seorang ibu, dan pasti ia mempunyai firasat tentang putrinya.


"Aku juga berpikir sama. Aku sudah membujuk Khalisia bahkan aku sudah meminta Tanu untuk membatalkan rencananya. Tapi, usahaku sia-sia," kata Julian. Ia pun sama seperti Tania, ia merasakan bahwa putrinya takan bahagia dengan keputusannya.


•••


Khalisia terus melihat jam di tangannya sudah dua jam berlalu. Namun, Gemma belum juga muncul. Saat ini, ia sedang berada di sebuah caffe untuk bertemu dengan Gemma. Namun, sudah dua jam menunggu Gemma tak juga muncul.


Khalisia mengambil ponsel di depannya, berniat menghubungi Gemma, bertanya tentang keberadaan Gemma. Baru saja ia akan menelpon Gemma. satu pesan masuk kedalam ponselnya membuat Khalisia girang karena ternyata pesan itu dari Gemma.


["Kita tak usah bertemu di caffe itu. Temui aku sekarang di restoran depan rumah sakit"] tulis Gemma dalam pesannya.


Mata Khalisia membualat, ia sudah 2 jam menunggu Gemma. Tapi, Gemma malah menyuruhnya datang ke tempat lain. Khalisia menghela napas dan mencoba sabar. Anggaplah dia bodoh, berjuang seorang diri. Tapi, ini adalah keputusannya dan ia harus bertanggung jawab untuk itu.


Khalisia pun bangkit dari duduknya dan keluar dari caffe, kemudian ia menaiki taxi dan meminta taxi untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Ia sengaja tak memakai supir, berharap Gemma akan mengantarkannya pulang.


Sedangkan di tempat lain


Gemma tertawa terbahak-bahak setelah mengirimi Khalisia pesan. Ia bangkit dari tidurnya dan mendudukan dirinya. Faktanya, dia mengerjai Khalisia. Ia menyuruh Khlisia datang ke restoran padahal dia sendiri sedang berada di kamarnya. Ia akan terus membuat Khalisia menunggu-menunggu dan menunggu.


"Ini baru permulaannya saja, Khalisia. Kau akan menderita hidup denganku sampai kau memutuskan untuk mundur," ucap Gemma. Ia berjalan ke arah jendela untuk melihat cuaca, ia semakin tersenyum kala melihat cuaca sedang mendung, ia yakin, kali ini, Khalisia akan kesal padanya.


Tinggalian komen pli


Bab 5. Pernikahan


Khalisia memeluk tubuhnya, suhu dingin sudah merasukinya karena di luar hujan lebat. Ia terus melihat jam di tangannya, berharap Gemma segera datang.


Setelah menunggu di caffe pertama selama dua jam, akhirnya, Khalisia pun pergi ke Caffe yang di titah oleh Gemma. Dan Khalisia sudah menunggu Gemma selama 3 jam dan total, hari ini Khalisia menunggu Gemma selama 5 jam. Khalisia sudah menunggu lama di caffe yang pertama, dan sekarang, ia juga harus menunggu lama di caffe yang kedua


Waktu menunjukan pukul 9 malam, semua pengunjung caffe sudah meninggalkan caffe, dan 15 menit lagi caffe tutup akan tutup. Khalisia ingin sekali menangis, ia kedinginan, ponselnya mati, di luar hujan deras, Gemma belum juga datang, ia ingin pulang tapi ia tak bisa mencari taxi dalam keadaan hujan deras.


Mata Khalisia sudah berkaca-kaca saat pelayan memberitau bahwa caffe tersebut akan segera tutup. Khalisia tak punya pilihan, ia harus menunggu di luar.


Khalisia berdiri diluar caffe, ia memeluk tubuhnya semakin erat, tubuhnya menggigil, bibirnya membiru, tubuh Khalisia cukup lemah, hingga ia tak terlalu kuat dalam suhu dingin.


Khalisia menangis, saat tubuhnya semakin lemas, lampu caffe sudah padam, hingga membuat ketakutan Khalisia bertambah


"Daddy, tolong aku!" lirihnya saat tubuhnya semakin tak bertenaga. Kakinya serasa lemah, rasanya ia tak sanggup lagi untuk menopang tubuhnya.


Saat Khalisia akan terjatuh dan akan kehilangan kesadarannya. Seseorang datang dan menahan tubuh Khalisia


"Khalisia! Khalisia!" teriak Stevia, dan ternyata Stevia lah yang datang. Ia sudah mencari Khalisia kemana-mana. Sedari tadi, ia berada di rumah Tania dan Julian. Julian mengira bahwa Khalisia aman bersama Gemma. Tapi feeling stevia bahwa adik sepupunya sedang tidak baik-baik saja. Hingga ia memutuska untuk mencari Khalisia diam-diam.


Setelah lelah mencari, Stevia baru teringat jika ia bisa melacak posisi Khalisia lewat email. Karena ponsel Khalisia mati, Stevia hanya bisa mengakses lokasi di saat ponsel Khalisia menyala dan akhirya, Stevia datang tepat waktu


"Khalisia!" teriak Stevia lagi saat Khalisia terlihat kesusahan membuka matanya.


Khalisia mengerjap, akhirnya ia bisa sedikit membuka matanya. "Se-Stevia, ba-bawa aku ke apartemenmu," ucap Khalisia terbata-bata.


"Bodoh!" gerutu Stevia saat mendengar ucapan Khalisia, ia tau apa yang ada pikiran Khalisia. Ia tau, Khalisia tak ingin nama Gemma jelek di mata Tania dan Julian.


Stevia melepaskan jaketnya, ia menutupi kepala Khalisia dengan jaketnya. Kemudian, ia membantu Khalisia berdiri dan Stevian memapah Khalisia untuk berjalan ke arah mobil menerobos hujan.


••


Saat sampai di apartemen, Stevia meminta bantuan penjaga untuk membawa Khalisia ke unit apartemennya. Saat masuk Khalisia langsung di baringkan dan dengan cepat Stevia mengganti pakaian Khalisia. Ia menyalakan penghangat udara untuk menormalkan suhu tubuh Khalisia.


Saat suhu tubuh Khalisia sudah stabil, Stevia mengambil minyak angin dan obat demam. Ia menepuk-nepuk pipi Khalisia, hingga Khalisia sedikit membuka matanya, Khalisia sadar, tapi ia kesusahan membuka matanya.


Karena mata Khalisia kembali tertutup lagi, Stevia membubukan obat dan mencampurnya dengan air lalu membuka mulut Khalisia dan memasukan kedalam mulut Khalisia secara perlahan.


Stevia menarik selimut dan menyelimuti Khalisia. Ia menatap Khalisia lekat-lekat, ia ingin sekali menghajar adik sepupunya agar sadar, bahwa Khalisia terlalu dibutakan oleh cinta.


"Kau cantik, kau pintar, kau mempunyai segalanya. Tapi kenapa kau bodoh dalam menilai orang. Jelas-jelas, dia tak menginginkanmu!" gerutu Stevia. Setelah mengatakan itu, Stevia pun keluar dari kamar.


Tepat saat Stevia keluar dari kamar, bulir bening langsung keluar dari pelupuk mata Khalisia. Ia memang tak membuka matanya. Tapi, ia bisa mendengar semua ucapan Stevia.


"Kau benar, Stev. Aku sadar, dia memang tak menginginkanku. Tapi, aku tak bisa mundur sekarang," ucap Khalisia dalam hatinya. Ia sudah me nyiapkan hatinya karena ia tau, hal semacam ini akan terjadi dan ia yakin, rasa sakitnya akan terbayar dengan beribu kebahagiaan, karena ia yakin, ia bisa menaklukan Gemma.


.•••


Khalisia membuka matanya saat sinar matahari menyusup kamar yang di tempatinya. Ia bangun dari tidurnya dan, melihat kesana kemari


Setelah nyawanya terkumpul, Khalisa mengusapkan kedua tangannya ke wajahnya, matanya mulai berkaca-kaca saat ia mengingat kejadian kemarin.


Rasanya begitu membuatnya sesak saat mengingat bahwa Gemma tega membiarkannya menunggu selama 5 jam, bahkan ia hampir saja kehilangan kesadarannya.


"Kau bisa, Khalisia. Kau bisa," lirih Khalisia. Sekecewa-kecewanya ia pada Gemma. Ia tetap ingin melanjutkan obsesinya pada Gemma, ia yakin, jika mereka sudah menikah, ia bisa membuat Gemma jatuh cinta padanya.


Ia turun dari ranjang dan mencari tasnya, berniat mengambil ponselnya. Ia berharap, Gemma mengiriminya pesan. Khalisia tersenyum saat melihat ponselnya sudah di cas oleh Stevia, hingga ia tak harus menunggu.


Saat ponsel menyala, satu pesan masuk kedalam ponselnya, terpampang nama Ka Gemma di notifikasi layar ponselnya, membuat senyum Khalisia mengembang.


[Sebentar lagi kita menikah. takan ada resepsi, kita akan langsung tinggal di apartemenku. Jangan beberkan apa pun yang terjadi di kehidupan pernikahan kita pada keluargamu. Kau tak boleh memakai fasilitas apa pun dari keluargamu. Semoga kau mengerti] tulis Gemma dalam pesannya


Seketika Khalisia merasa sesak, jantungnya terasa di remas, rongga dadanya terasa mencekik. Ia tak menyangka, Gemma akan memberikannya syarat yang begitu berat. Bahkan, sama sekali tak ada kata maaf karena telah membuat Khalisia menunggu.


"Kau pasti bisa, Khalisia." Seperti biasa, Khalisia akan menyemangati dirinya sendiri saat rasa sakit dan sesak itu menderanya.


Setelah berkutat dengan pikirannya, Khalisia pun berjalan ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


"Kau sudah bangun rupanya!" sindir Stevia saat sedang berada di meja makan. Khalisia berdecih, lalu mendudukan diri di sebelah Stevia dan menarik sereal lalu menumpahkan sereal itu ke mangkuknya.


"Stevia, apa mommy dan Daddy tau aku bersamamu, mereka tak tau, kan, apa yang terjadi padaku semalam?" tanya Khalisia ragu-ragu. Ia tau, Kaka sepupunya pasti akan mengomel.


Mendengar pertanyaan Khalisia, Stevia membanting sendok yang di pegangnya, lalu ia menatap Khalisia dengan tatapan tajam.


"Apa kau bodoh! Kau hampir mati semalam dan kau masih ingin melindungi lelaki itu. Oh, sadarlah Khalisia!" omel Stevia. Sedangkan Khalisia yang mendengar Omelan dari Stevia meledek dengan menggerak-gerakaan bibirnya mengikuti ucapan Stevia.


"Ini terakhir kali aku menolongmu. Awas saja jika kau bertindak bodoh lagi," ucap Stevia. Setelah mengatakan itu, Stevia pun bangkit dari duduknya meninggalkan Khalisia. Dan setelah itu, Khalisia tertawa, Stevia selalu berkata bahwa Stevia Takan menolongnya lagi. Tapi, faktanya, Stevia lah orang pertama yang menolongnya ketika ia terkena masalah.


Satu minggu kemudian.


Satu minggu berlalu, hari di mana yang di tunggu Khalisia akhirnya tiba. Hari ini, ia akan menikah dengan lelaki pujannya. Tak apa-apa tak ada resepsi, ia sudah memiliki tubuh Gemma dan ia akan berusaha mendapatkan hati Gemma.


Dan kini, di depan meja sudah ada sepasang pengantin, Julian, penghulu dan para saksi.


"Pak, silahkan dimulai," ucap penghulu pada Julian.


Julian menghela napas gusar. Sejenak, ia melihat pada Khalisia yang tampak bahagia, dan ia melihat ke arah Gemma yang tampak datar.


"Bismillah. Ya Allah, jika ini jalan putriku. Maka permudah semuanya." Julian membatin dalam hati. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa putrinya akan bahagia bersama Gemma


Julia mengulurkan tangannya pada Gemma, dan Gemma pun langsung menerima uluran tangan Julian, hingga kini mereka berjabat tangan.


"Saya nikahkah engkau Gemma syarif Rahardja bin Arsen Rahardja dengan putri saya Khalisia kim hendrayan binti Julian Muhamad dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


"Saya terima nikahnya, Khalisia Kim Hendrayan binti Julian Muhamad dengan mas kawin tersebut di bayar tunai."


Setelah saksi mengucapkan kata Sah dan berdoa, Julian langsung bangkit dari duduknya. Ia tak kuasa menahan tangisnya. Rasanya begitu menyesakkan kala ia harus melepas putri pertamanya pada lelaki yang membuat ia ragu.


•••


"Dad!" panggil Tania saat masuk kedalam kamar. Julian yang sedang berdiri menatap keluar lewat jendela menoleh, lalu berusaha tersenyum.


"Aku mengerti perasaanmu, Dad," ucap Tania. Ia berhambur memeluk suaminya. Khalisia baru saja di bawa pergi oleh Gemma. Dan Julian, sungguh merasakan hatinya tidak tenang.


"Dia pasti akan baik-baik saja, kan?" ucap Julian dengan napas memberat, membuat Tania ingin menangis.


"Dia pasti akan baik-baik saja," jawab Tania. Walaupun berusaha menenangkan suaminya dan berkata Khalisia akan baik-baik saja, tapi ia pun tak yakin dengan ucapannya sendiri.


Sedangkan Gemma dan Khalisia ....


Bab 6 Khalisia yang sesungguhnya


Khalsia menyenderkan kepalanya ke jendela. Ia menghembuskan napas kasar, mengingat semuanya baru akan di mulai.


Saat ini, Khalisia sedang berada bersama Gemma di dalam mobil, mereka baru saja resmi menjadi pasangan suami istri dan Gemma langsung membawa Khalisia ke apartemen yang telah ia siapkan.


Khalisia dan Gemma larut dalam diam. Hanya terdengar suara mesin mobil dan bising dari luar. Gemma mengerutkan keningnya saat Khalisia terdiam. Padahal, dalam pikiran Gemma, Khalisia akan heboh seperti biasanya. Apalagi impian Khalisia adalah menikah dengannnya.


Gemma menggeleng samar. "Untuk apa juga aku memikirkannya." Gemma membatin dalam hati.


Saat sampai di basement apartemen, Khalisia turun lebih dulu lalu ia membuka pintu belakang dan mengangkat koper besar miliknya seorang diri.


Tingkah Khalisia sungguh di luar perkiraan Gemma. Ia pikir, Khalisia akan merengek meminta tolong padanya dan akan merepotkannya. Tapi nyatanya ....


Tak ingin pusing memikirkan wanita yang sekarang sudah sah menjadi istrinya. Gemma pun keluar dari mobil dan langsung berjalan tanpa menghiraukan Khalisia. Sedangkan Khalisia mengekor di belakang Gemma.


"Aku harus tidur di kamar mana?" tanya Khalisia saat masuk kedalam apartemen, membuat Gemma kembali mengerutknan keningnya. Gemma berbalik lalu menatap Khalisia lekat-lekat. Ada apa dengan gadis muda di sampingnya ini. Padahal, gadis muda di depannya ini sangat menggebu-gebu meminta di nikahi. Tapi kenapa sekarang, Khalisia malah seperti orang asing.