Uncle Bram

Uncle Bram
97



Setelah Bram menyelesaikan mengajinya, Bram melihat kearah Keinya, dia tersenyum saat melihat istrinya sudah tertidur.


Bram membereskan sejadahnya dan mengganti pakaiannya. Setelah memakai piama, Bram merebahkan tubuhnya disisi istrinya.


Bram merapikan rambut Keinya yang menutup pipinya.


"Sayang, maafkan aku. Selama ini aku belum jadi imam yang terbaik untukmu, tapi aku berjanji akan menuntunmu dan anak-anak kita agar kelak bisa bertemu di surga," ucap Bram dalam hati.


Selama hidup di London, Bram melupakan identitasnya sebagai muslim. Bram akui dia lalai dalam menjalankan kewajibannya.


Saat usia kehamilan istrinya menginjak 7 bulan, Keinya mengaduh kesakitan karna anak-anak didalam perut Keinya sangat aktiv. Bram ber'inisiatif untuk memperdengarkan lantunan ayat suci untuk kedua buah hatinya.


Dan tak lama mereka pun tenang dan tak lagi membuat Keinya kesakitan.


Melihat anaknya yang tenang karna lantunan ayat suci. Hati Bram mencelos dia menyadari selama ini dia terlalu mengejar duaniawi dan mengabaikan kewajibannya sebagai seorang muslim. Dari situlah Bram berusaha memperbaiki kualitas ibadanya. Dia rutin mengajak anak dan istrinya untuk sholat berjamaah. Dan memanggil guru mengaji yang berada di London. Bram selalu menyempatkan dirinya untuk mengajak ansk istrinya mengikuti pengajian yang selalu di selenggarakan oleh komunitas Muslim yang berada di London.


Mendapat istri yang sangat dicintainya, kehadiran Lila dan kehadiran si kembar membuat Bram begitu bahagia. Dan kebahagiannya sekarang yang menuntunnya untuk kembali menjalankan kewajibannya sebagai seorang Muslim.


Saat Bram akan terlelap, tiba- tiba Bram teringat Lila. Dia lupa belum membuat susu untuk Lila.


Ceklek. Bram membuka pintu kamar Lila sambil membawa segelas susu.


"Lila, kau sedang apa nak?" tanya Bram saat melihat Lila duduk dimeja belajarnya.


Lila yang merasa dipanggil langsung menoleh. " Papih!" panggil Lila seraya tersenyum. "Papih, kenapa papih membuatkanku susu, aku bisa membutnya sendiri," ucap Lila yang bangkt dari duduknya dan menghampiri Bram disofa.


Bram mengelus kepala Lila, saat Lila meminum susunya. "kau sedang belajar sayang?" tanya Bram.


Lila pun mengangguk. "Papih apa mamih sudah tidur?"


"Mamih sudah tidur nak, dan sekarang kau juga harus tidur!"


"Papih aku lapar!"


"Ayo papih temani!"


LIla menggeleng. "Papih aku akan makan sendiri, papih tidurlah."


"Terimakasih papih," ucap Lila saat Bram keluar dari kamarnya.


Saat Bram dan Lila dimeja makan, Keinya menghampiri Mereka.


"Mamih!" panggil Lila saat melihat Keinya.


Bram dengan sigap bangkit dan menggeserkan kursi untuk Keinya. "Sayang kenapa kau bangun?"


"Aku lupa belum membuat susu untuk Lila."


Lila tersenyum kearah Keinya. "Mamih, papih sudah membuatkanku susu."


"Terimakasih papi," ucap Keinya sambil tersenyum kearah Bram.


"Mamih, papih bolehkah aku tidur bersama kalian?" tanya Lila setelah menyeselesaikan makannya.


"Tentu, ayo kita kekamar," ucap Keinya.


••••••


Mereka ber3 sudah berbatring dengan Lila ditengah-tengah mereka.


"Mamih apa operasi menyakitkan?" tanya Lila sambil mengelus perut Keinya dan membelakangi Bram.


"Hanya sedikit sayang, doakan mamih ya." Keinya mencium kening Lila dan Lila langsung memeluk pinggang Keinya.


Keesokan harinya.


Sebelum berangkat kerumah sakit. Bram merasakan gugup yang amat luar biasa.


Dia terus berjalan kesana kemari sambil menunggu Keinya selesai mandi.


guys satu part lagi menyusul nanti sore.


Vote ya. yang kangen daddy Aska mana suaranya.