
Keinya menatap Bram lekat-lekat sebelum menyaut ucapan Bram yang ingin tinggal di Indonesia. "Apa hanya itu alasanmu ingin kembali ke Indonesia?" tanya Keinya.
Bram pun mengangguk mantap.
Keinya pun tersenyum "Aku akan ikut kemanapun kau pergi. Kau rumahku dan anak-anak, kita akan selalu bersama."
Bram membawa Keinya ke pelukannya. "Terimakasih sayang."
"Hubbi, aku mengantuk."
"Tidurlah, aku juga mengantuk."
Saat napas Keinya sudah mulai lembut dan teratur. Bram melepaskan pelukannya. Dia memandang lekat-lekat istrinya. Wanita yang paling dicintainya, wanita yang pernah memanggilnya uncle, wanita yang dulu dia anggap sebagai keponakannya. Namun sekarang wanita di hadapannya ini adalah wanita yang sangat ber'arti di hidupnya.
Bram masih merasa takjub dengan kehidupannya sekarang, kebahagiaan yang tak didapat dulu akhirnya bisa Bram rasakan sekarang. "Terimakasih sayang, kau sudah hadir dalam hidupku," lirih Bram dengan suara pelan. Kemudian dia kembali mendekap istrinya dan ikut terlelap.
••••••••
Saat pagi hari, Keinya lebih dulu bangun dari pada Bram. Seperti biasa dia selalu mengelus pipi Bram sampai Bram terbangung. Dan tak lama Bram pun terbangun. Dia langsung mengecup bibir istrinya. "Good Morning mamih ," ucap Bram setelah mengecup bibir.
Keinya pun tersenyum. "Morning papih. Ayo kita mandi, kita harus menjemput Lila. Grandad dan Grandmom juga akan ke Apartemen kita hari ini."
Bram pun tersenyum penuh isyarat. "Apa boleh aku memandikan mu mamih."
Keinya pun mencubit tangan suaminya ketika dia merasa ada yang tidak beres dengan tubuh bawah bagian suaminya.
Tanpa aba-aba. Bram menyingkap selimutnya dan memangku Keinya ala bridal style untuk kekamar mandi.
Dan hanya mereka yang tau apa yang sebenarnya sedang
••••••
"Aunty mana Lila?" tanya Keinya pada Hana saat tiba dirumah Zoya. Sedangkan Bram sedang mengobrol dengan suami Hana diluar rumah, karna kebetulan Nabhan baru saja menerima telpon diluar saat Bram dan Keinya tiba.
"Lila sedang ikut bersama Zoya ke supermarket. Kemarilah Kei!" titah Hana yang sedang duduk di sofa.
Keinya pun duduk disofa sebelah Hana. "Aunty kenapa Raffa bisa dirawat?" tanya Keinya. Saat dua hari lalu Keinya menelpon Aska, Aska sama sekali tak memberi tau jika Raffa sedang dirawat.
Tubuh Hana menegang, Sebelum menjawab pertanyaan Keinya, Hana menghela napas sejenak. "Kei, apa kau siap mendengar cerita Aunty?"
Keinya pun mengangguk. " Ada apa Aunty."
"Apa kau tau, dulu daddy mu pernah mengalami gangguan pada ginjalnya?"
Keinya pun terkejut dengan ucapan Hana. "Ma-maksud Aunty, apa daddy sekarang sedang sakit?" mata Keinya berkaca-kaca saat mendengar tentang kondisi Aska.
"Tidak kei. Itu dulu, daddy mu mewarisi gangguan ginjal dan itu genetik dari kakenya yang juga sama-sama mengalami gangguan ginjal. Dan sekarang mommy dan daddy mu sedang memeriksakan keadaan Rafael secara rutin karna takut jika Rafael mengalami hal yang sama seperti daddy mu."
Keiny menutup mulutnya tak percaya. "Aunty, lalu sekarang bagaimana keadaan Raffael. Apa dia baik-baik saja."
"Untuk saat ini Raffael baik-baik saja. Namun dia harus di periksa secara rutin agar kondisi ginjalnya bisa terpantau."
"Raffael," lirih Keinya. Matanya mulai berkaca-kaca. Seberapa jahilnya dulu dia pada Rafael, tentu dalam hatinya dia sangat menyayangi adiknya. Jika saja saat ini dia tak sedang mengandung, dia ingin sekali untuk kembali ke Indonesia untuk bertemu Rafael.
satu bab lagi sedang diketik.