
"Sayang ... " Bram melepas jaketnya lalu ikut berbaring disebelah Keinya. " Sayang, aku benar-benar minta maaf," ucap Bram sambil berusah melepaskan selimut yang membalut istrinya.
Sedangkan Keinya, dia berusaha mati-matian untuk menahan selimutnya, dia masih merasa dongkol dengan yang dilakukan oleh suaminya. Tapi pertahanannya runtuh saat tangan suaminya sudah mengerayangi bagian sensitifnya. Tak ingin tergoda oleh sentuhan suaminya, Keinya dengan terpaksa melepas selimutnya dengan kasar. Dan itu membuat Bram tersenyum penuh kemenangan.
Saat Keinya membuka selimutnya, Bram dengan cepat menindih tubuh istrinya.
"Ap-apa yang kau lakukan?" tanya Keinya gugup, Wajahnya mendadak memerah karna wajah Bram sangat dekat dengan wajahnya.
"Memangnya, apa lagi yang akan aku lakukan. Tentu aku akan melakukan yang seharusnya aku lakukan," jawab Bram sambil menggesek-gesekan hidungnya pada hidung istrinya.
"Mi-minggir, Aku belum memaafkanmu." wajah Keinya tambah memerah ketika suaminya sudah mulai menggesekan yang tegang. Dan Keinya mengutuk dirinya sendiri karna mulai merasa tergoda dengan sentuhan suaminya, Hormon kehamilannya membuat dia benar-benar sangat mudah tergoda jika suaminya menggodanya.
"Hanya ini caraku agar kau bisa memaafkanku mamih."
Sebelum Keinya melayangkan protesnya. Mulutnya sudah di bungkam terlebih dahulu dengan mulut suaminya. Awalnya dia tak mau membuka mulutnya. Namun dengan permainan Bram yang lihai serta sentuhan di beberapa bagian yang Bram lakukan pada tubuh Keinya, membuat Keinya mulai membalas apa yang dilakukan suaminya. Otaknya kosong seketika, dan sekarang dia hanya mengikuti permainan suaminya.
Dan kalian bayangin aja masing-masing apa yang sedang terjadi 😂🤣🤣🤣🤣🤣.
"Turun dari tubuhku!" ucap Keinya saat mereka baru saja mencapai puncak bersama, namun dengan sengaja dia tak mau turun dari atas tubuh istrinya, bahkan Bram tak mau melepaskan penyatuan mereka.
"Aku akan turun, asalkan kau mau memaafkan ku," ucap Bram dengan santainya"
"Baiklah-baiklah, aku memaafkan mu," jawab Keinya dengan nada pasrah. Dia tak mungkin membiarkan tubuh suaminya tetap diatasnya, dan sangat risih rasanya jika tubuh mereka yang sedang menyatu tidak dilepaskan.
Bram pun turun dari tubuh Keinya.
"Apa kau tak suka jika aku mengadakan resepsi untuk pernikahan kita," tanya Bram saat mereka sedang berhadap-hadapan. "Jika kau tak suka, aku bisa membatalkan resepsi yang akan dilakukan nanti malam," ucap Bram lagi saat Keinya masih tak mau menatapnya.
Mendengar ucapan suaminya Keinya sedikit merasa bersalah, walau dalam posisinya memang dia tak salah sama sekali.
"Aku mau," lirih Keinya dengan suara pelan, tapi masih bisa didengar oleh Bram.
Bram tersenyum saat mendengar jawaban dari Keinya. "Sayang, apa perutmu tidak terasa sakit lagi?"
Mendengar pertnyaan suaminya, Keinya langsung menatap Bram.
"Anakmu menendang untuk yang pertama kalinya," jawab Keinya.
"Sayang, anak-anak papih. Jangan membut mamih susah oke," ucap Bram sambil mengecup perut Keinya.
"Baik papih," jawab Keinya menirukan suara anak kecil. Sikap Bram yang selalu lemah lembut membuat Keinya selalu mudah luluh, cintanya pada suaminya selalu bertambah setiap hari, ditambah kehamilannya yang selalu tak ingin jauh dari suaminya.
Bram pun kembali berbaring disisi Keinya.
"Sayang, kau sangat sexi ketika kau memanggil namaku," ucap Bram sambil tergelak mengingat istrinya memanggil namanya dengan berteriak.
"Berhenti membahasnya atau aku tak mau berbicara denganmu," jawab Keinya sambil mencebikan bibirnya.
"Baik-baik, maafkan aku ratuku." Bram mencium sekilas bibir istrinya.
Keinya pun memajukan dirinya, dia melingkarkan tangannya pada pinggang suaminya, menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya.
"Maaf sayang, aku telah membuatmu curiga."
"Jangan lagi berbuat seperti itu, kau tau betapa takutnya aku saat membayangkan kau bertemu dengan wanita lain, kau hampir saja membuatku meninggalkanmu," jawab Keinya.
"Apa kau sungguh mencintaiku mamih?" tanya Bram menggoda. Seketika Keinya mengangkat kepalanya dan melihat kearah suaminya.
"Jika aku tak mencintaimu, aku tak mungkin mengandung anakmu," Jawab Keinya.
"Terimakasih cintaku, kau sudah menerima pria tua sepertiku," ucap Bram sambil mencium pucuk kepala istrinya.
"Awas saja jika kau berani macam-macam di belakangku, akan ku perpendek umurmu."
"Baiklah cintaku, ayo kita tidur sebentar, sebelum pergi ke hotel sore nanti!"
Mereka pun terlelap tapi tak lama Bram terlelap dia kembali terbangun karna merasa haus. Saat dia keluar kamar betapa terkejutnya dia saat melihat Hana sudah duduk disofanya.
"Se-sejak kapan, lu disini han?" tanya Bram terbata-bata.
"Sejak ...."