
Napas mereka masih ter engah-engah setelah mereka melakukan ....
Aku pun tidak tau mereka melakukan apa hahaahaha.
Bram menggulingkan tubuhnya kembali ke samping istrinya.
"Papih, kau merusak gaun ku," keluh Keinya saat gaun yang dipakai nya rusak akibat Bram tak sabar untuk uwu uwuw 😂😂😂.
Bram kembali bangkit dari duduknya dan membantu Keinya melepaskan gaun yang belum sempat dibukannya.
Setelah beres, Bram memberikan satu tangannya untu dijadikan bantal dan kini mereka hanya memakai selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Kau selalu bisa meluluhkan ku dengan cara mu," ucap Keinya sambil mengesek-gesekan hidungnya pada hidung suaminya.
Bram mengelus pipi istrinya. "Apa kau sungguh mencintaiku?"
"Kenapa kau bertanya hal yang kau sudah tau jawabanya."
"Kau tau ... saat di pesta tadi banyak sekali lelaki muda yang memandang dirimu dan aku merasa tak percaya diri."
Keinya mengecup sekilas bibir suaminya.
"Apa selama ini kau tidak merasakan bagaimana besarnya cinta ku?" aku bahkan selalu takut jika wanita lain mengambil mu dari ku? lalu kenapa kau masih meragukan ku," tutur Keinya sambil membelai pipi suaminya.
"Terimakasih, sayang. Sebentar lagi ulang tahun mu yang ke 21 katakan kau ingin hadiah apa dari ku?"
Keinya tampak berpikir sejenak sebelum menjawab ucapan suaminya, lalu terpikir satu ide dikepalanya.
u
"Aku tak ingin apa-apa, tapi ... "
"Tapi, apa?"
"Saat usia Vania sudah menginjak 3 tahun, ijinkan aku untuk mengandung lagi."
Bram menggeleng mendengar permintaan isrtrinya. "Aku takan pernah mengijinkan mu untuk mengandung lagi," jawab Bram sambil merapikan rambut Keinya yang menutupi pipi.
"Kenapa?"
"Sayang saat kau mengandung Vania dan Tania kau sudah merasa tidak nyaman dan saat operasi kau juga sering kesakitan. Aku tak ingin kau merasa kesakitan untuk yang kedua kalinya."
"3 anak perempuan sudah cukup untu ku, aku tak pernah berharap lebih dari apa yang Allah beri untuku. Bagi ku anak perempuan atau anak lelaki tak ada bedanya. Yang terpenting aku menyayangin ke 3 putriku dan memberi mereka yang terbaik."
"Tapi bisa kah kau mempertimbangkan keinginan ku kali ini," kekeh Keinya yang masih menginginkan untuk mengandung.
"Tidak, sampai kapan pun aku tak akan mengabulkannya."
"Ta-tapi ... " perkataan Keinya terputus saat Bram menarik dirinya lebih dalam ke dekapannya.
"Tidurlah! aku mengatuk," ucap Bram yang tak mau lagi mendengar istrinya terus merengek.
Keinya menelusupkan wajahnya pada dada bidang suaminya. Dia tersenyu. Dia merasa bersyukur mendapat suami seperti Bram yang mencintainya dan mencintai keluarganya.
Ya Allah, lindungi suamiku. Beri dia kesehatan dan panjang kan umurnya agar dia dapat terus menemani kami.
Keinya berdoa dalam hati sebelum memejamkan matanya.
•••
"Mamih!" panggil Lila pada Keinya yang sedang membereskan kamarnya.
Meskipun banyak asisten rumah tangga Keinya tak mengijinkan para Art nya untuk masuk kekamarnya. .
"Ya, sayang," sahut Keinya.
"Mamih, ini, kan hari minggu. Bolehkah aku bermain kerumah teman baruku?" tanya Lila.
Keinya yang sedang merapihkan seprai langsung duduk dan melihat putrinya.
"Memang ada apa dirumah teman mu?" tanya Keinya.
"Mereka bilang, mereka akan makan bersama. Dan setiap minggu mereka akan berkumpul dan mereka mengajak ku. Boleh kah aku pergi?"
"Dimana, papih?"
"Papih, sedang berada dibawah, papih baru saja tiba dari rumah moma untuk menjemput Vania dan Tania."
"Mamih akan mengijinkan mu jika papih memberimu ijin."
"Baiklah, mamih. Aku akan meminta ijin papih." Lila pun dengan semangat berjalan keluar kamar untuk meminta ijin pada papihnya.