Uncle Bram

Uncle Bram
102



Keinya kini sudah berada diruang operasi dengan tangan Bram yang setia menggenggam tangannya.


"Sayang, tenanglah ... Ada aku disini," ucap Bram yang melihat Keinya ketakutan saat dokter akan menyuntikan anastesi.


Dan Keinya pun menganguk.


Dokter menyarankan Bram mengajak Keinya mengobrol agar Keinya tidak terlalu takut. Dan dengan senang hati Bram melakukannya. Walau Bram sendiri pun merasaka gugup yangamat luar biasa. Bram menceritakan tingkah Keinya kecil yang menurutnya sangat bar-bar dan terbukti Keinya sedikit-sedikit mulai terlihat rilek saat Bram menceritakan tentang masa lalu.


Dan satu Jam berlalu


Oekkk ... Oekkk ... Oekkkk


Setelah bayi kembar keluar, Dokter langsung mengangkat kedua bayi kembar itu memperlihatkannya pada Bram dan Keinya.


"Sa-sayang lihat putri-putri kita," ucap Bram terbata-bata. Bram tak kuasa menahan tangis harunya.


Bram langsung menyembunyikan wajahnya dibahu Keinya sambil menangis tersedu-sedu. "Pa-papih!" Keinya juga terisak melihat putri-putrinya. Dia memegang tangan Bram dengan sangat erat.


Bram mengangkat wajahnya, dia langsung mencium Keinya bertubi-tubi.


"Te-terimakasih sayang, terimakasih," ucap Bram. Dan mereka pun larut dalam tangisan haru.


Saat semua peroses beres, Keinya ditempatkan diruang khusus pasca sesar.


Karna Keinya sudah tertidur Bram keluar untuk meng Adzani anak-anaknya.


Saat keluar dari ruangan, Bram disambut oleh kedua mertuanya. Bram langsung memeluk Aska dan Bella secara bergantian.


"Gue titip Keinya. Gue mau adzanin anak-anak gue." Bram meninggalkan kedua mertuanya untuk keruang bayi.


"Papih!" panggil Lila.


Bram menghentikan langkahnya dan menunggu Lila mendekat.


"Papih, bagaimana keadaan mamih?"


Bram mengusap rambut Lila. "mamih sedang tidur sayang, kau mau ikut papih melihat kedua adikmu?" tanya Bram.


"Bolehkah?"


"Tentu!"


Lila menggenggam tangan Bram dan mereka pun berjalan keruangan bayi.


"Yank, aku mau liat Keinya dulu ya," ucap Aska.


"Yaudah, aku liat cucu aku kalau gtu."


"Ajak rafael yank!"


"Ia."


Setelah Bram selesai meng'Adzani kedua putrinya, Aysel masuk keruangan bayi dengan pakaian steril.


kedua bayi mungil itu sangat mirip dengan Keinya ketika bayi.


"Bram, elu udah ada nama? tanya Aysel.


"Udah, Nama mereka, Vania Aksen Hendrayan sama Tania Aksen Hendrayan ...


Maaf ya Bell gue ga pake nama Zachari dikedua anak gue."


Bella mengusap lembut bahu Bram. "Ga masalah Bram."


Saat mereka keluar dari ruangan bayi, Aska menghampiri mereka.


"Bram, Keinya manggil lu."


Mendengar Keinya memanggilnya, Bram dengan cepat melepas pakaian sterilnya dan memberikannya pada Aysel. Dia langsung berjalan cepat meninggalkan kedua mertuanya.


"Yank ... mas mau liat cucu mas dulu."


"Cie udah jadi kake sekarang," ledek Aysel.


"Aku bukan kakek-kakek yank. Cucu-cucu aku manggil aku Popa."


"Poppa?" Aysel mengernyit heran.


"Ah kamu ga akan ngerti yank," ucap Aska dengan tergelak lalu dia keruang ganti untuk memakain pakaian steril.


•••••••••••••


"Papih dimana anak-anak kita?" tanya Keinya saat Bram menghampirinya..


"Sayang, perawat akan mengantarkannya sebentar lagi," ucap Bram sambil merapikan rambuk Keinya yang menutupi pipi.


"Terimakasih sayang, kau sudah memberiku kebahagiaan. Sekarang katakan kau ingin hadiah apa dari ku?"


Keinya tersenyum "Aku ... "


aku akan dobel up besok hahahaha


maafkan aku yang telat up ya. sibuk sama revisi lapak daddy Aska. oh iya 4 eps lagi tamat. siapin poin kalian ya untuk cerita Lila.


Dear Baby Vania dan Baby Tania kalau dapet uang jajan dari papih Bram bagi-bagi ya buat onty Online hahaha.


Guys kasih vote yang kenceng ya di cerita Lila karna aku akan up 2 sampai 3 bab perhari.


.