Uncle Bram

Uncle Bram
versi lain



l


Hallo, gengs. masih inget kan novel Lihat aku suamiku! Nah aku mau kasih info, kalau kalian bisa beli tatap aku lelakiku dengan harga yang sangat murah dari pada beli pake koin.


kalian kalau beli pake koin bisa 80 ribuan. Tapi kalau kalian beli sekarang lewat wa cuman 40 ribu sampai tamat. minat bisa ke 088222277840


Aku lelah, aku ingin menyerah.


"Mas, hari ini jadwal kontrol kandunganku. Bisakah mas saja yang memeriksaku," ucapku pada suamiku saat kami sedang sarapan. Ada sedikit ketakutan dan rasa malu saat aku mengungkap keinginanku pada mas Ghani yang tak lain adalah suamiku. 


Bagaimana tidak, suamiku yang berkerja sebagai dokter kandungan sama sekali tak mencintaiku, bahkan mungkin tak menganggapku ada. Kami menikah karena terpaksa. Mendiang istri suamiku memaksa kami menikah sebelum kematian datang menyapanya.


Mas Gani menaruh sendok yang sedang di pegang nya. Seperti biasa, dia menatapku dengan tatapan datar. 


"Pasien saya penuh. Kamu bisa periksa di rumah sakit lain," jawab suamiku acuh dan kembali menyodokan makanan kemulutnya.


Mendengar jawaban suamiku. Mataku mengembun. Jawaban yang selalu sama setiap aku mengutarakan keinginanku. Seharusnya aku tak perlu sakit hati lagi dengan jawabannya karena aku tau, pasti dia akan menjawab hal yang sama. Tapi, tetap saja, rasa sakit itu tak bisa di hindari. 


Setelah mendengar jawabannya, aku menunduk tak berani lagi menatapnya. Harga diriku seolah hilang karena mendengar jawabannya. Apa aku atau calon anakku salah jika menginginkan mas Gani suamiku yang mendampingi kami? Aku lelah Ya Allah, aku ingin menyerah.


Seperti biasa, dia pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk bekerja tanpa mengucap satu patah kata pun padaku menegaskan bahwa aku memang istri yang tak dianggap.


Setelah mas Gani pergi, tangis yang sedari tadi aku tahan akhirnya pecah. Aku pun memilih pergi kekamar tanpa menyelesaikan sarapanku.


Aku menatap din-ding tempat Foto mendiang mba Rahma masih terpajang di din-ding kamar kami, kamar yang dulu merupakan kamar suamiku dan kamar mendiang mba Rahma.


Ingatanku kembali saat aku bertemu Mendiang mba Rahma untuk pertama kalinya. 


Flashback. 


Napasku terengah-engah saat aku berhenti berlari. 


 Aku baru saja tiba dari kampung. Niatku ke kota karena ingin menghampiri temanku yang menawarkan pekerjaan padaku. 


Namun, sayang. Saat aku akan menyetop angkot, aku kecopetan. Tasku dibawa oleh copet. Aku dan beberapa orang mencoba mengejar copet tersebut. Namun sayang, copet itu hilang kami tak berhasil mengejarnya.


Aku terduduk lemas di terminal. Perutku lapar, semua uang, ponsel dan alamat temanku ada di tas yang tadi di copet. 


Aku hanya bisa menangis meratapi yang terjadi. Aku bingung harus melakukan apa, ingin kembali ke kampung pun aku tak memegang uang sama sekali. 


Saat aku tertunduk dan menangis. Seseorang menepuk bahuku dari belakang. 


Aku pun menoleh kebelakang. 


"Kau tidak apa-apa, Dik?" tanya wanita yang menepuk pundaku. Wanita itu sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku. 


"A-aku tidak apa-apa, Mba," jawabku berbohong. 


"Aku Rahma." Wanita cantik itu pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku. 


Aku pun bangkit dari duduk dan membalas uluran tangannya. 


"Aku Mahira," jawabku.


"Kau sedang mencari pekerjaan, Mahira?" tanyanya saat kami sudah berjabat tangan. 


Aku pun mengangguk ragu.


"Kau mau menjadi pengasuh anakku?" tanyanya lagi. 


"Mbak, apa Mba percaya padaku. Aku kehilangan kartu identitasku. Aku tak punya jaminan apa pun untuk ku berikan ...." perkataanku terputus saat Mba Rahma mengusap lembut pundakku. 


"Aku percaya padamu," jawab mba Rahma.


"Kalau begitu ayo ikut aku, kita pulang ke rumahku," ucap mba Rahma sambil menarik tanganku. Aku merasa pernah melihat Mba Rahma, Mencoba mengingat-ngingatnya, tapi, tetap saja aku tak ingat.


Setelah sampai di rumah mba Rahma. Mba Rahma memperkenalkan ku pada suaminya dan kepada putrinya yang bernama Dita.


Dita sangat cantik, umurnya baru saja menginjak 5 tahun.  Tak terasa aku sudah satu tahun bekerja menjadi pengasuh Dita, semua berjalan normal pada awalnya. Aku sangat menikamati peranku sebagai pengasuh. Terlebih lagi Dita anak yang manis dan penurut. Aku pun mulai menyayanginya.


Saat aku sedang menyuapi Dita, telpon rumah berdering. Betapa terkejutnya aku saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Mba Rahma sedang di rawat.


Semua berkumpul di rumah sakit. Aku heran, kenapa aku harus ikut ke rumah sakit sedangkan Dita dititipkan pada Art dirumah. 


Saat sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Perawat memanggil namaku dan nama mas Gani. 


"Sayang, kenapa kau tak jujur pada Mas. Kenapa kau menyembunyikan dan menanggung semua ini sendiri," ucap mas Gani sambil menggenggam tangan mba Rahma. 


Mba Rahma pun ikut menangis. Mba Rahma menderita leukimia dan merahasiakannya dari semua orang. 


"Mas!" panggil mba Rahma. 


"Ya, Sayang."


"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Mas?" tanya mba Rahma penuh harap. 


"Katakan, Sayang. Mas akan mengabulkan keinginanmu." 


"Janji?"


Mas Gani pun tersenyum dan mengangguk. 


"Aku mohon, menikahlah dengan Mahira."


Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku sangat terkejut dengan permintaan mba Rahma. Bagaimana bisa dia memintaku menjadi madunya. Tidak, aku tidak mau. Dalam hati aku bertekad untuk menolak keinginannya. 


"Sayang, apa maksudmu. Tidak! Sampai kapan pun aku tak akan menikahinya," jawab mas Gani. Tiba-tiba mas Gani menatapku sedikit sinis. Mungkin dia menyangka aku senang dengan tawaran mba Rahma. 


Seminggu kamudian. 


Selama seminggu. Mas Gani sama sekali tak menyapaku. Dia yang biasa bertanya tentang yang dilakukan Dita padaku mendadak membuang muka jika bertemu denganku di rumah atau saat aku menemani mba Rahma di rumah sakit. 


Dan setelah seminggu berlalu, Mba Rahma kembali memanggil kami. Aku sudah akan menyiapkan jawaban untuk mba Rahma yang mengingingkan aku menikah dengan mas Gani. Tentu saja aku akan menjawab, Tidak! Aku tidak mau menikah dengan mas Gani.


Namun, betap terkejutnya aku saat melihat kondisi mba Rahma yang ....


Bab 2


Di luar kuasaku


Saat aku masuk kedalam ruangan mba Rahma, aku dibuat terkejut dengan kondisi mba Rahma. 


Tubuh Mba Rahma menempel alat-alat medis. Rupanya kondisi Mba Rahma sudah semakin parah.


"Mahira, kemarilah!" titah ibu dari mba Rahma yang bernama bu Hilda. 


Aku pun dengan ragu mendekat ke arah mba Rahma. Sempat aku Melirik kearah mas Gani. Namun, lagi-lagi mas Gani menatapku dengan sinis hingga membuatku buru-buru memalingkan tatapanku kearah lain. 


"Mahira!" panggil mba Rahma sambil terbatas-bata. 


"Iya, Mba. Aku disini," jawabku sambil menggenggam tangan mba Rahma. Air mataku jatuh seketika saat melihat kondisi mba Mahira, terlihat jelas dia sedang menahan sakit.


"Mas!" panggil mba Rahma pada mas Gani.


Mas Gani pun mendekat. "Ya, sayang."


"Mas, aku mohon penuhi keinginanku. Menikahlah dengan Mahira! Demi Dita dan anggap ini menjadi permohonan ter'akhir ku," ucap mba Rahma.


Mendengar ucapan mba Rahma, aku melepas genggamanku dari tangan mba Rahma.


"Maaf, Mba. Aku tak bisa. Aku tak bisa menikah dengan ...." perkataanku terputus saat bu Hilda menyentuh lembut pundakku. 


Mata bu Hilda berkaca-kaca, aku bisa melihat dengan jelas dia melihatku dengan tatapan memohon. 


"Baiklah, Sayang. Jika itu mau mu, aku akan menikahi Mahira," ucap mas Gani. Aku membelalakan mata mendengar ucapan mas Gani, kenapa dia mengambil keputusan seenaknya. 


Mba Rahma tersenyum. "Menikahlah, hari ini juga, Mas!" titah mba Rahma. 


Mba Rahma tau aku seorang yatim piatu, jadi mas Gani cukup menghadirkan wali hakim saja untukku. 


"Tapi, Mba ...." ucapanku terhenti saat mas Gani menatap tajam padaku. Seketika lidahku kelu, aku langsung menunduk tak berani lagi membantah. 


Setelah mas Gani menyiapkan semuanya, sore harinya kami menikah di depan mba Rahma. Dengan satu kali tarikan napas, aku telah resmi menjadi istri mas Gani. 


Semua yang berada di ruangan menangis saat kami melakukan ijab kabul. Termasuk mas Gani. Ia menangis sambil menatap mba Rahma, dari cara mas Gani menatap mba Rahma, aku bisa melihat bahwa mas Gani sangat mencintai mba Rahma.


Satu jam setelah kami melakukan ijab qobul, mba Rahma yang sedang menggenggam tangan mas Gani tiba- tiba memejamkan matanya, genggaman tanganya pun terlepas dan membuat mas Gani panik. 


Bu Hilda dengan cepat memanggil dokter untuk memeriksa mba Rahma dan setelah Dokter memeriksa mba Rahma, mba Rahma dinyatakan meninggal dunia.


Tangis kami pecah saat mengetahui bahwa mba Rahma sudah berpulang. Mas Gani terus memeluk jasad mba Rahma yang terbaring di brankar. 


Setelah kematian mba Rahma, mas Gani menjadi sosok yang sangat dingin dan tak tersentuh. Ia bahkan mengabaikan Dita putrinya, mas Gani bahkan tak pernah pergi lagi kerumah sakit dia hanya mengurung dirinya di kamar. 


Dua bulan setelah kematian mba Rahma, mas Gani pulang dalam kondisi mabuk, aku yang sedang membuat susu untuk Dita di dapur terhenyak kaget saat tiba-tiba mas Gani menarik tanganku dengan kasar, dia menyeretku ke kamar, dan malam itu, mas Gani meminta haknya dengan kasar dan dalam pengaruh alkohol. 


Aku hanya bisa pasrah saat dia melakukannya, dia bahkan tak memerdulikanku yang sudah menangis memohon agar dia menghentikannya. 


Keesokan harinya mas Gani bersikap seolah tidak ada yang terjadi, dia tetap bersikap datar dan acuh.


Satu bulan kemudian, aku memberanikan diri untuk membeli tespack, walaupun aku baru telat 3 hari, aku memberanikan diri membeli tespack dan benar saja aku hamil. 


Aku bahagia, sangat bahagia. Aku pikir, mas Gani akan berubah karena aku mengandung anaknya. Namun aku salah, dia malah bereaksi datar, dia hanya meminta aku pindah kekamarnya karena selama ini aku selalu tidur di kamar Dita.


Flashback off


Dan kini usia kandunganku menginjak 5 bulan dan aku merasa cukup lelah menghadapi sikap dingin mas Gani, bolehkah aku menyerah, Ya Allah. 


Seseorang masuk ke kamar membuyarkan lamunanku. 


"Bunda!" Panggil Dita, dia berjalan menghampiriku sambil membawa segelas susu hamil yang telah aku seduh tapi aku lupa meminumnya. Aku bersyukur memiliki anak tiri sebaik dan semanis Dita dia bisa menjadi penyemangatku dan aku juga menyayanginya. 


"Terimakasih, Sayang," ucapku sambil mengambil gelas yang dita pegang. 


"Bunda, apa aku boleh ikut memeriksa dede bayi kerumah sakit?" Tanya dita. 


"Kau mau ikut, Sayang?" 


Dita pun mengangguk antusias. 


"Tapi, Bunda bukan pergi kerumah sakit tempat ayah praktek Sayang."


Mendengar ucapanku, Dita terlihat murung. Aku tau, Dita ingin ikut denganku karena ingin melihat ayahnya.


Walaupun sikap mas Gani sudah seperti semula pada Dita, tapi tetap saja ada yang berbeda dari sikapnya ketika masih ada mendiang mba Rahma dan itu membuat Dita merasa kehilangan juga sosok ayahnya. 


Mas dia anakmu. Bisakah kau lebih memerhatikannya. Aku membatin dalam hati saat melihat Dita tertunduk. 


Bab 3


Kenapa kau tega, Mas?


Aku tau, Dita masih kecewa. Memang semenjak aku mengandung sikap mas Gani pada dita pun sudah kembali seperti semula. namun walaupun begitu,  tetap saja ada perbedaan sikap mas Gani pada Dita ketika ada mba Rahma dan saat mba Rahma telah tiada. 


Ingin aku menegur mas Gani dan meminta mas Gani untuk lebih memerhatikan Dita. Namun sayang, aku tak punya keberanian untuk mengatakannya. 


"Dita, bagaimana jika setelah memeriksa dede bayi kita pergi ke taman untuk membeli ice cream," ucapku pada Dita yang masih menunduk. 


Mendengar ucapanku, seketika Dita mengangkat kepalanya. 


"Bolehkan aku memakan ice cream Bunda?" tanyanya. Gadis kecil yang bulan depan akan genap berusia 6 tahun itu tampak bersemengat ketika mendengar kata ice cream.


Selama ini, mendiang mba Rahma dan mas Gani sangat memantau semua makanan yang masuk kedalam tubuh Dita. Mas Gani dan mba Rahma melarang Dita makan sembarangan dan termasuk melarang makan ice cream, permen, coklat dan lain-lain. 


Itu sebabnya Dita amat bersemangat kala aku mengajaknya makan ice cream.


"Tapi, hanya satu kali ini saja oke kau makan ice cream," ucapku. 


Dita pun tersenyum dan mengangguk.


Saat siang hari, aku dam Dita sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit. Karena kali ini aku mengajak Dita, aku pun memesan taxi online.


30 menit kemudian, kami pun tiba di rumah sakit harapan Bunda. 


Aku pun segera berjalan kearah pendaftaran, sedangkan Dita duduk di kursi tunggu di belakangku.


"Maaf, Sus. Apa dokter Sarah sudah datang?" tanyaku pada suster yang sedang duduk dimeja pendaftaran. 


"Dokter Sarah sudah tidak praktek di sini, Bu. Beliau digantikan oleh dokter Gani," jawab si suster tersebut. 


Deg.


Jantungku berpacu lebih cepat saat suster menyebutkan dokter Gani. Aku menggeleng samar, tak mungkin dokter Gani yang suster sebutkan adalah mas Gani suamiku.


Tapi, karena aku terlanjur penasaran aku pun memutuskan pada suster tentang dokter Gani.


"Maaf, Sus. Apa Suster tau dokter Sarah pindajl ke rumah sakit mana?" tanyaku berbasa-basi. Tentu saja aku tak bisa menanyakan dokter Gani secara terang-terangan.


"Dokter Sarah sudah pindah keluar negeri bersama suaminya, Bu. Tapi ibu tenang saja, dokter Gani pun sama bagusnya dengan dokter Sarah," jawab suster tersebut sambil tersenyum.


"Oh jadi, dokter Gani baru, ya, Sus praktek di rumah sakit ini ?" tanyaku senatural mungkin.


"Ia, Bu. Selain praktik di rumah sakit ini, dokter Gani pun praktik di rumah sakit Mitra Keluarga."


Deg.


Mendengar suster menyebutkan nama rumah sakit Mitra keluarga, aku terpaku.


Jadi benar, dokter Gani adalah mas Gani suamiku. Tidak, aku tidak boleh memeriksanya di sini aku harus mencari rumah sakit lain.


Saat aku berbalik untuk mengajak Dita pergi dan mencari rumah sakit lain, Dita yang sedang duduk langsung bangkit dari duduknya. Ketika aku ingin menghampiri Dita, Dita malah berteriak.


"Ayah!" teriak Dita saat melihat mas Gani yang sepertinya baru saja melakukan tindakan operasi. 


Saat sudah didepan mas Gani, Dita langsung memeluk lutut mas Gani, terlihat jelas bahwa Dita merindukan ayahnya.


Kening  mas Gani mengkerut saat melihat putrinya ada di rumah sakit. Mas Gani pun mengedarkan pandangannya kesana kemari.


Saat mas Gani melihatku, dia langsung menatap tajam padaku. 


 Aku yang ditatap seperti itu langsung menghampiri Dita dan mas Gani.


"Sayang, ayah sedang praktek. Kita tunggu disana, ya." Aku menunjuk kursi tunggu dan berusaha membujuk Dita agar Dita mau melepaskan pelukannya dari kaki mas Gani


Dita mendongak melihat kearah mas Gani. Tak ada senyum atau ucapan saat Dita menatapnya. Dita yang melihat ekspresi ayahnya yang datar langsung melepaskan pelukannya dari kaki mas Gani. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dita berjalan dan duduk di kursi yang aku tunjuk tadi. 


Aku pikir, mas Gani akan peka saat melihat reaksi putrinya yang pasti kecewa padanya. Namun aku salah, mas Gani malah masuk ke ruangannya tanpa membujuk atau menghampiri Dita.


  


Beberapa orang yang sepertinya sedang menunggu antrian, terlihat memperhatikan interaksi antar aku, Dita dan mas Gani.


Seketika aku merasa malu, kami bagai orang yang tak dianggap oleh mas Gani. 


Mas, kamu telah mematahkan semangat dan kepercayaan diri putrimu sendiri. Kenapa kau tega, Mas?


Aku pun berjalan menghampiri Dita dan duduk di sebelahnya.


"Dita!" panggilku lirih.


Dita menangkat kepalanya dan menatapku.


"Ayo kita pergi, Sayang," ucapku pada Dita.


Bab 4


Emosi Gani


Author POV.


Author POV.


"Tapi, bunda, kan, belum di periksa oleh ayah?" Tanyanya polos saat Mahira mengajaknya pergi.


Mahira tersenyum sambil mengelus rambut anak tirinya. 


"Di sini terlalu banyak pasien yang mengantri untuk diperiksa ayah, jika kita menunggu, mungkin akan selesai sore dan dan kita tak akan sempat untuk makan ice cream di taman, jadi bagaimana jika kita memeriksa dede bayi di klinik dekat taman," jawab Mahira. Dia teringat ada klinik di dekat taman. Karena tak mungkin pergi kerumah sakit lain, Mahira pun memutuskan untuk memeriksa kandungannya ke klinik dekat taman saja.


Mendengar kata ice cream, Dita kembali bersemangat. "Ayo, Bun. Kita kesana." Dengan antusias Dita bangkit dari duduknya disusul Mahira yang juga ikut bangkit dari duduknya. 


Mereka pun bergandengan tangan dan keluar dari rumah sakit. 


°°°


Dan kini, Mahira dan Dita sudah duduk di kursi taman, mereka sedang menunggu ice cream pesanan Dita tiba. Sebelum ke taman, Mahira terlebih dulu singgah di klinik dan memeriksa kandungannya. 


Alangkah bahagianya Mahira saat dokter mengatakan bahwa jenis kelamin calon anaknya adalah lelaki. Seandainya saja Gani menganggap Mahira dan calon anaknya, tentu saja kebahagiaan Mahira semakin bertambah. Ah, bahkan hanya sekedar membayangkannya saja Mahira tak berani.


Setelah cukup lama mereka duduk di taman sambil menikmati ice cream, Mahira pun memutuskan untuk mengajak Dita pulang. 


"Bunda, sebelum pulang, bolehkah aku memesan satu cup lagi?"pinta Dita dengan wajah memelas.


Tak tega melarangnya, Mahira pun mengijinkannya. "Hanya untuk kali ini saja, oke."


Dita pun tersenyum sumringah dan mengangguk. Mereka pun kembali memesan satu cup ice cream.


Saat sudah selesai, Mahira dan Dita pun berdiri di dekat pintu keluar taman. Kini, mereka sedang menunggu taxi online yang dipesan oleh Mahira.


Sebelum taxi online pesanan Mahira tiba, sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka berdiri dan ternyata itu adalah mobil Gani.


Gani turun dari mobilnya dan menghampiri Dita dan Mahira. Rupanya, saat Gani akan pulang kerumah, dia melihat anak dan istirnya. Dia pun memutuskan untuk mengajak mereka pulang bersama. 


Saat sudah mendekat, Gani mendadak emosi saat melihat putrinya memegang cup berisi ice cream.


"Kenapa kau memberi putriku ice cream!" Bentak Gani pada Mahira. 


Mahira dan Dita yang sedang melihat kearah lain tak menyadari kehadiran Gani.


Mendengar bentakan Gani, sontak Mahira dan Dita pun langsung menoleh kearah Gani. Bahkan beberapa orang yang sedang melewat sempat memperhatikan Gani yang sedang emosi.


Wajah Mahira berubah menjadi pucat pasi saat melihat Gani yang emosi. 


"Mas-mas," ucap Mahira terbata-bata. 


Tanpa menjawab panggilan Mahira, Gani maju kedekat Dita. Dengan kasar, Gani merebut cup ice cream di tangan Gita membuangnya ke tanah. 


"A-ayah," ucap Dita terbata-bata. Terlihat jelas Dita sangat ketakutan saat melihat reaksi Gani.


Saat Dita ingin bersembunyi di balik tubuh Mahira, Gani langsung menarik tangan Dita dengan kasar dan berjalan menuju mobil.


Mahira yang panik langsung mengikuti langkah Gani yang sedang menarik tangan Dita.


Saat Gani dan Dita sudah menaiki mobil, Mahira pun dengan segera menarik handle pintu mobil. Namun sayang, Gani sudah menguncinya dari dalam. Tanpa perasaan, Gani menjalankan mobil meninggalkan Mahira. 


Enaknya Gani di apain ya Mak? 🤣🤣


Bab 5


Cukup, Mas! Baik, aku menyerah


Saat mobil Gani sudah pergi,  beruntung taxi yang online yang dipesan Mahira datang. 


Mahira pun dengan cepat naik ke mobil,  dia menyuruh supir menjalankan mobilnya dengan cepat. 


Di dalam mobil,  Mahira merasa sangat gelisah. Dia meremas tangannya,  tubuhnya mengeluarkan keringat dingin,  Mahira sungguh takut Gani akan melukai Dita. Tanpa Mahira sadari,  obat dan Vitamin yang dia bawa terjatuh dari tasnya. 


Setelah sampai dan membayar taxi online,  Mahira dengan cepat turun dari mobilnya. Dia berjalan setengah berlari, dia mengabaikan kondisinya yang sedang mengandung. 


Saat dia sudah masuk,  dia melihat Dita sedang duduk di sofa sambil menangis sesegukan,  sedangkan mas Gani berdiri di depan Dita dengan berkacak pinggang. 


"Mas!" Teriak Mahira saat Gani sepertinya akan membuka mulut untuk memarahi Duta. 


Mendengar suara Mahira, Dita buru-buru bangkit dari duduknya dan langsung berlari menghampiri Mahira. Dengan celat,  Dita bersembunyi di belakang tubuh Mahira karena masih takut oleh Gani.


"Dita,  kau pergi ke kamar dulu, ya, Nak. Bunda akan bicara pada ayah," ucap Mahira sambil mengelus rambut Dita. 


Dita mengangguk dan menghapus air matanya, lalu dengan cepat berlari ke kamar. 


Setelah Dita pergi ke kamar, Mahira pun berjalan mendekat ke arah Gani. 


"Mas, aku yang salah. Jangan memarahi Dita," ucap Mahira. 


Gani menatap tajam Mahira, terlihat jelas amarah Gani masih berkobar. 


"Apa kau lupa siapa kau di rumah ini,  berani sekali kau memberinya makanan yang selama ini aku larang." Gani berteriak emosi di depan Mahira. 


Deg


Mendengar ucapan Gani,  Mahira yang menunduk langsung mendongak menatap Gani. 


"Ma-maksudmu,  Mas?" Tanya Mahira terbata-bata. 


"Jangan pernah bermimpi untuk mengganggikan posisi Rahma di rumah ini. Jangan lupakan kamu hanyalah seorang pengasuh bagi anakku satu-satunya." Setelah mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi Mahira, Gani pun melangkahkan kakinya dan berlalu pergi dari hadapan Mahira. 


"Apa anak dalam kandunganku bukan anakmu, Mas," ucap Mahira. Dia tak bisa menahan air mata saat Gani secara langsung tak mengakui anak yang ada dalam kandungannya.


Gani yang baru melangkah beberapa langkah langsung berbalik badan dan menatap Mahira dengan tatapan sinis. 


"Kehadiramu dan anakmu hanya sebuah kesalahan, jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan pengakuan dariku." Gani pun kembali berbalik dan meneruskan langkahnya untuk keluar dari rumah. 


Bagai dihantam godam, tubuhnya merosot kebawah. Mahira tau, Gani tak menganggapnya ada. Tapi,  Mahira tak menyangka Gani juga tak mengakui calon anak mereka. 


Mahira memukul-mukul dadanya merasakan sesak yang amat luar biasa. Tangisan itu terdengar saat pilu. 


"Astaghfirullah, Mahira!" Teriak bi Karti yang tak lain adalah Art di rumah Gani. Bi karti terkejut saat melihat Mahiran sedang duduk di lantai sambil menangis. Bi karti pun menghampiri Mahira dan berjongkok lalu memeluk Mahira. 


"Apa salahku bi ... Apa salahku pada mas Gani. Kenapa dia selalu jahat kepadaku di- dia juga tak menga ...." Mahira tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Rasanya terlalu sakit saat ucapan Gani terngiang-ngiang di otaknya saat Gani berkata bahwa Dia terus menangis di pelukan bi karti. 


Bi karti pun ikut menitihkan air mata saat melihat Mahira yang terlihat sangat terpukul


 Dia terus mengelus punggung Mahira dan membiarkan Mahira puas menumpahkan tangisannya.


"Percayalah, Mahira. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap bi Karti sambil terus mengelus punggung Mahira.


Saat Mahira sudah sedikit tenang, bi Karti pun membantu Mahira untuk berdiri.


Mahiria berjalan gontai saat memasuki kamarnya. Saat masuk, matanya langsung tertuju pada foto mendiang Rahma. 


Mahira pun berjalan kearah din-ding tempat foto Mahira di pajang.


"Mba, aku harap mba bisa melihatku dari atas sana. Maafkan, aku mba ... Maafkan aku. Aku tak bisa lagi melanjutkan keinginanku, aku tak bisa lagi menemani Dita dan mendampinginya. Aku lelah, mba. Kini saatnya aku menyerah," ucap Mahira sambil terisak. 


Sedangkan Gani.


Setelah keluar dari rumah,  Gani menaiki mobilnya. Dia berteriak sambil memukul kemudi. Ada sedikit penyesalan di diri Gani saat bersikap menyakiti Mahira. Namun penyesalan itu tertutup oleh egonya hingga dia membenarkan sikapnya pada Mahira


Bab 6


Rencana sebelum pergi


Mahira POV.


Walaupun sudah beberapa jam berlalu, tapi ucapan mas Gani masih terus terngiang-ngiang. Bolehkah aku bertanya padamu mas, kenapa kau begitu membenciku? Bukan aku yang menghendaki pernikahan ini, lalu kenapa kau selalu mengagap aku akan menggantikan posisi mba Rahma?


Tidak, mas! Aku sama sekali tak pernah mempunyai niat menggantikan mba Rahma.


Bahkan hanya sekedar bermimpi saja aku tak berani. Aku pikir, seiring berjalannya waktu kamu akan sedikit membuka hatimu untukku. Namun aku salah, sangat sulit menggapai hatimu. 


Kau berkata Dita adalah anakmu satu-satunya, seolah menegaskan bahwa anak dalam kandunganku adalah sebuah kesalahan. Kau tidak hanya menyakitiku mas, kau juga menyakiti calon anakku. 


Kau tau, mas? Aku tulus menyayangi Dita, aku tak pernah menyuruh Dita untuk melupakan mendiang mba Rahma. Bahkan aku tak pernah menyuruh Dita memanggilku  bunda.


Kau tau Mas, aku selalu merasa bersalah pada Dita karena selalu berpikir kau menjauhi putrimu karena Dita memanggilku bunda dan itu akan membuatmu mengingat mba Rahma. Bisakah mulai sekarang kau bersikap seperti dulu pada putrimu mas.


Kau tidak tau bukan bahwa putrimu selalu 


menangis diam-diam saat dia merindukan mendiang mba Rahma dan merindukan sosok ayah seperti dulu.


Tapi kau dimana saat putrimu terus menanyakan kehadiranmu? Dan tentu saja kau sibuk rasa bencimu padaku. 


Dan kini, semua telah jelas. 


Hari ini,  hari dimana aku mendengar semua dari mulutmu sendiri tentangku dan tentang anakku. Maka hari ini aku menyerah padamu dan menyerah pada pernikahan ini.


Aku tau, saat aku keluar dari rumah ini, kesulitan akan menantiku. Aku harus menjadi orang tua tunggal untuk putraku, dan aku harus menghidupi putraku seorang diri dan tentu akan banyak lagi kesulitan yang akan menyapaku. Tapi tak mengapa,  setidaknya itu lebih baik dari pada aku bertahan denganmu tapi aku harus menyaksikan saat nanti putraku mengemis kasih sayang pada ayahnya. 


Author pov


Setelah lelah menangis, Mahira pun akhirnya tertidur. Dia kembali terbangun saat kumandang azan magrib.


Mahira pun perlahan turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi.


Setelah menyegarkan diri di kamar mandi dan melakukan wudu. Mahira pun melakukan kewajibannya sebagai seorang muslim.


Dihadapan Sang Kuasa,  Mahira mengadukan segala keluh kesahnya, Mahira tak meminta banyak padan Allah,  dia hanya berharap Allah mempermudah jalannnya ketika setelah berpisah dari Gani.


Setelah selesai melakukan sholat magrib,  Mahira mengambil tas besar dari lemarinya. Ia memasukan semua pakaiannya kedalam tas. Mulai malam ini, Mahira memutuskan untuk tidur di kamar bk Karti. 


Ya,  Mahira memang memutuskan untuk pergi, akan pergi ketika dia akan melahirkan. Dia tak bisa pergi karena walau bagaimana pun, dia harus memberi pengertian pada Dita tentang kepergiannya nanti.


Walau tak mungkin, esok hari,  Mahira memutuskan untuk mencari pekerjaan untuk makan dan kebutuhannya sehari-hari. 


Saat awal pernikahan, Gani tanpa prasaan melemparkan Atm pada Mahira, walau pun Mahira menerima atm tersebut, Mahira sama sekali tak pernah memakainya. Dia tak tau cara mengambil uang di atm sedangkan dia juga takut untuk bertanya pada Gani. 


Alhasil, untuk kebutuhannya selama ini dia memakai gajih yang dia tabung saat menjadi pengasuh Dita. 


Setelah selesai membereskan pakaiannya pakaiannya. Mahira pun berjalan untuk keluar dari kamar. Sebelum keluar,  sejenak Mahira menoleh kebelakang dia melihat kamar yang penuh dengan kenangan menyakitkan.


"Mahira!" Panggil bi Karti saat melihat Mahira keluar kamar sambil menjinjing tas besar.


"Mahira, kau mau kemana, Nak?" Tanya bi Karti lagi. Bi karti yang akan membangunkan Mahira malah dibuat takut saat Mahira tas besar, bi karti sungguh takut Mahira pergi dari rumah. 


Mahira tersenyum. "Bi, bolehkah mulai saat ini aku tidur dengan bibi?" Tanya Mahira. 


Bi karti menghela napas lega, saat tau Mahira tak akan pergi.


"Ayo! Biar bibi  bawa tasmu." Bi karti mengambil alih tas yang di tangan Mahira. Bi karti tak mau repot-repot menanyakan kenapa Mahira ingin tinggal di kamarnya. Bagi bi Karti yang terpenting Mahira tidak pergi. 


Ada yang gemesh sama Gani🤣🤣


Jan lupa Vote ya, scrol ya ada satu part lagi.


Bab 7


Tegar


"Bi, aku mau menemui Dita dulu, nanti aku menyusul, Bi," ucap Mahira saat mereka sudah berjalan.


Bi karti yang berjalan di depan Mahira menghentikan langkahnya dan berbalik.


"Ya sudah, bibi juga akan menyiapkan makan malam," jawab bi Karti.


Mahira pun mengangguk dan masuk kekamar Dita. 


"Dita!" Panggil Mahira saat masuk ke kamar. Dita yang sedang berbaring sambil menonton film kesukaanya menoleh pada Mahira. 


"Ya, Bunda," jawab Dita. Ia bangkit dari berbaringnya dan duduk dengan kaki menjuntai kebawah. 


Mahira pun duduk di sebelah Dita, dia memandang lekat putri tirinya. Matanya berkaca-kaca saat mengingat hanya tinggal beberapa bulan lagi dia bersama Dita.


"Dita kau menyayangi bunda 'kan?" Tanya Mahira. 


Dita pun mengangguk.


"Boleh bunda minta sesuatu padamu, Nak?"


"Bunda minta apa?" Tanya Dita. 


"Mulai besok, Dita mau, kan,  memanggil Bunda, tanteu lagi seperti Dita memanggil Bunda saat masih ada bunda Rahma?" Mahira menahan tangis saat mengucapkan keinginannya pada Dita. Ya, langkah ini Mahira ambil untuk kebaikan Dita. Mahira hanya berharap, Gani akan bersikap seperti semula pada Dita jika Dita tak memanggilnya Bunda. 


Dita menggeleng, dia langsung memeluk Mahira. "Apa bunda akan meninggalkanku seperti bunda Rahma?" Tanya Dita. 


"Tidak, Sayang. Siapa tau jika kau memanggil Tante pada Bunda, ayah tidak akan marah lagi padamu dan mau menemanimu bermain seperti dulu. Bagaimana?"


Seketika Dita melepaskan pelukannya dan menatap Mahira, ada binar kebahagiaan saat Mahira berbicara tentang Gani.


"Kau mau kan memanggil Tante lagi pada Bunda?" Tanya Mahira lagi. 


Dita pun mengangguk antusias. 


"Mulai besok setiap siang kau bermain bersama bibi, oke. Karena setiap siang hari tanteu tidak akan ada di rumah."


"Memang tante mau kemana?"


"Tante harus mencari pekerjaan untuk bekal dede bayi."  


Karena tak mengerti apa yang di ucapkan Mahira, Dita pun hanya mengangguk. 


Setelah bercengkrama dengan Dita, Mahira pun keluar dari kamar Dita. Saat, akan keluar menuju kamar mba Karti, dia melihat ke meja makan, sudah tersaji beberapa hidangan yang mengugah selerannya. Baru saja dia akan duduk untuk makan malam, dia teringat dengan niatnya yang tak akan bergantung lagi pada Gani. 


°°


Sedangkan Gani. 


Setelah berdebat dengan Mahira, dia memutuskan untuk kerumah peninggalan orang tuanya. Dia menepis segala rasa bersalahnya pada Mahira. Walaupun sudah mengatakan hal yang menyakitkan pada Mahira,  Gani tak berniat sama sekali untuk meminta maaf pada Mahira.


Karena tak bisa berhenti memikirkan Dita dan merasa bersalah pada Dita,  Gani pun memutuskan untuk pulang kerumahnya. 


°°°


Mahira memandang makanan di depannya dengan tatapan nanar, dia menelan ludah saat membayangkan betapa nikmatnya hidangan makan malam di depannya. Kesadarannya kembali datang, dia sudah bertekad untuk takan bergantung lagi pada suaminya.


Mahira pun bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkan meja makan dengan menahan lapar. 


Dia pun masuk ke kamar bi Karti. 


Karena bi Karti sedang tak ada di kamar, Mahira langsung membuka tasnya dan membereskan pakaiannya ke lemari kecil di pojok kamar.


Saat telah selesai, Mahira membuka tas kecil dan mengambil dompet, kemudian dia mengitung sisa uang miliknya.


Hati Mahira sedikit ngilu saat melihat total uang miliknya yang tinggal 800 ribu, uang 800 ribu itu pun rencananya untuk kontrol kandungan Mahira dua minggu mendatang. 


Tapi, karena kondisi sedang tak memungkinkan, Mahira tak akan menggunakan uang itu untuk kontrol ke rumah sakit, dia akan menghemat uang itu untuk kebutuhannya sehari-hari dan untuk mengontrol kandungan, Mahira akan pergi ke Bidan yang biyayanya tentu lebih murah.


Mahira memgang perutnya yang terasa lapar, untuk mengganjal perutnya, Mahira pergi ke dapur membuat susu. Namun, lagi-lagi Mahira harus mengelus dada kala susu hamilnya habis. 


Mahira melihat kearah jam dinding, dia sedikit bernalas lega kala melihat jam menununjukan pukul 19.00 malam,  Mahira masih bisa keluar untuk membeli susu di supermarket yang berada di luar komplek. 


Mahira pun kembali ke kamar untuk mengambil uang.


Saat berjalan ke super market, Mahira beberapa kali menghentikan langkahnya karena lelah, jarak yang di tempuh dengan berjalan kaki sekitar 20 menit. Mahira terpaksa berjalan kaki karena tak akses ada angkutan umum yang melewati komplek perumahan.


Dan akhirnya Mahira pun sampai di super market. Dia berjalan langsung ke rak penyimpanan susu. 


Setelah dia mengambil susu yang akan dibelinya. Dia kembali menaruhnya lagi, dia lupa bahwa dia takan mampu membeli susu yang selama ini dia minum karena harganya yang sangat mahal.


Mahira mencoba mencari susu yang harganya murah, bahkan sangat murah. Dia tersenyum saat melihat susu yang sesuai dengan uangnya.


Sejenak Mahira terdiam, dia mengelus perutnya. "Maafin Bunda ya, Nak. Nanti kalau ada rezeki Bunda beli susu yang biasa. Baik-baik, ya, Sayang di perut bunda," lirih Mahira pelan sambil mengelus perutnya. 


Sekuat tenaga dia menahan tangisnya agar tidak pecah. 


Tanpa Mahira sadari,  seseorang berdiri memerhatikan Mahira tak jauh dari Mahira berdiri ....


Enaknya di apain ya mak si Gani🤣🤣🤣


Bab 8


Titik balik perasaan Gani


Saat dalam perjalanan pulang, Gani teringat makanan kesukaan Dita. Sebagai permintaan maaf pada putrinya. Gani akan membelikan makanan untuk Dita. 


Gani pun memutuskan untuk berhenti di super market sebelum pulang ke rumah. 


Dia mengambil keranjang dan melihat-lihat makanan yang akan diambilnya. Saat akan berbelok, Gani menghentikan langkahnya kala melihat Mahira sedang meletakan susunya kembali. Gani mengernyitkan keningnya saat melihat Mahira malah mengambil susu yang murah.


Gani masih terdiam di tempatnya. Matanya tak lepas memandang sosok Mahira. 


Saat Mahira mengelus perutnya. Ada rasa tak biasa dalam hati Gani. Namun, dengan cepat Gani menggeleng samar dan menyangkal prasaan yang berkecamuk dalam dadanya. 


Saat Mahira mengantri di kasir, Gani terus memerhatikannya. Kening Gani semakin mengkrut bingung saat melihat Mahira mengeluarkan uang receh dari sakunya dan menghitungnya. Tiba-tiba dia teringat selama ini tak pernah ada laporan tentang pengambilan uang dari atm yang di pegang oleh Mahira. Lalu Gani juga teringat saat masih ada Rahma, Mahira meminta gajihnya di berikan secara cash karena Mahira tak bisa menggunakan atm. 


Tanpa pikir panjang, Gani berbalik untuk ke rak susu. Dengan cepat Gani mengambil beberapa susu hamil yang biasa diminum Mahira. 


Saat sudah di dekat kasir, tiba-tiba Gani menghentikan langkahnya. Dia melihat kearah keranjangnya. Rupanya dia heran pada dirinya sendiri karena mengambil susu untuk Mahira. 


Saat Gani akan berbalik untuk kembali menaruh susu tersebut. Dia mendengar kasir menyebutkan nominal susu yang Mahira beli. 


Lagi-lagi, hati Gani merasa tercubit saat mendengar Mahira membeli susu yang sangat murah. Tanpa pikir panjang,  Gani berjalan kearah kasir dan menaruh belanjaannya. 


Mahira yang mengenali wangi tubuh Gani segera menoleh kesamping. Tubuhnya mendadak kaku saat melihat Gani, matanya beralih pada keranjang Gani yang membawa susu hamil yang biasa Mahira minum. 


"Saya bayar memakai debit," ucap Gani pada kasir. 


"Mohon menunggu, Pak. Kaka ini terlebih dulu," ucap kasir. Karena memang kasir belum selesai dengan belanjaan Mahira. 


"Batalkan susu ini dan hitung ini!" Titah Gani. Dia menyimpan susu yang dipilih Mahira ke samping lalu menaruh keranjangnya ke depan kasir.


Setelah menghitung susu dan membayarnya, tanpa prasaan Gani meninggalkan Mahira dengan belanjaan yang cukup berat, karena ukuran susu yang dibeli Gani ukuran besar jadi belanjaan yang harus di bawa Mahira pun cukup berat


Lagi-lagi Mahira harus menahan malu saat beberapa orang yang sedang mengantri menatap iba padanya. 


"Mba, tolong susu yang itu diitung saja. Saya bayar pakai tunai," ucap Mahira sambil menunjuk susu yang tadi Gani simpan ke pinggir. 


Kasir itu pun mengangguk. 


Saat keluar dari super market, Mahira celing-celinguk mencari Gani untuk mengembalikan susu pada Gani. Namun, sayang Mahira tak menemukan Gani bahkan mobil Gani pun sudah tak ada di parkiran.


Mahira tertunduk, walaupun dia tak berharap banyak pada Gani. Namun, dia tak menyangka Gani akan meninggalkannya dengan belanjaan yang cukup berat.


Sedangkan Gani.


Saat keluar dari super market,  Gani langsung masuk kedalam mobilnya. Dia menimang-nimang untuk mengajak Mahira pulang bersama atau tidak. 


Setelah berpikir, Gani pun memutuskan untuk meninggalkan Mahira, dia tak ingin Mahira menjadi besar kepala. Gani berpikir, Mahira bisa pulang memakai ojek online.


°°°


Mahira mendesah, dia memutuskan untuk memesan ojeg online. Namun, sepertinya nasib baik sedang tak berpihak pada Mahira. Dia lupa dia tak membawa ponsel


 


Mau tak mau, Mahira pun berjalan dengan menenteng belanjaan, berharap dia menemukan ojek pangkalan. 


Dan setelah akan memasuki komplek, Mahira sama sekali tak menjumpai ojek atau kendaraan lain.


Mahira kembali mendesah saat dia harus kembali berjalan kaki untuk sampai di rumah. 


Hanya beberapa menit lagi tiba di rumah, hujan pun turun. Tak ada tempat untuk berteduh sehingga Mahira berjalan lebih cepat untuk sampai kerumah.


Kondisi perut Mahira yang lapar, dan lelah sedari tadi membuat Mahira berjalan dengan gemetar. 


Saat sampai dirumah dan ketika membuka pintu, Mahira di kejutkan oleh Gani yang sedang berdiri.


"Apa kau bodoh, Hah!" Teriak Gani dengan kencang saat melihat wajah Mahira yang pucat karena kehujanan. Setelah berteriak pada Mahira, Gani segera pergi ke kamar untuk mengambil handuk untuk Mahira. 


Tubuh Mahira serasa lemah tak bertenaga. Apalagi saat Mahira mendengar teriakan Gani, dia hampir kehilangan kesadarannya. Dia berpegang pada sisi pintu agar tetap sadar. 


Matanya mulai berkunang-kunang.


"Pakai ini!" Dengan ketus Gani menyodorkan handuk pada Mahira. 


"Tidak perlu, Pak. Terimakasih," ucap Mahira. Dia kembali memanggil Gani dengan sebutan Pak.


Tanpa mendengar lagi jawaban Gani, Mahira pun masuk kedalam meninggalkan belanjaannya, Mahira hanya membawa kresek kecil yang berisi susu yang tadi dia pilih. 


Deg 


Tubuh Gani mematung mendengar Mahira kembali  memanggilnya Pak. Panggilan ketika Mahira menjadi pengasuh Dita.


Tanpa sadar,  Gani berbalik dan menarik tangan Mahira dan ....


Bab 9


Titik Balik prasaan Gani 2


Tanpa sadar, Gani berbalik dan mencekal tangan Mahira kemudian menariknya hingga Mahira berbalik dan kepala Mahira menabrak dada Gani.


"Apa kau tuli, Hah!" Teriak Gani lagi. Rupanya Gani masih kesal karena Mahira menolak handuk yang diberikan.


Mahira yang dari tadi akan kehilangan kesadarannya, merasakan kepalanya berdenyut. Saat Gani menarik tangannya dan membentaknya, lamat-lamat, Mahira merasa pangdangannya menggelap dan detik selanjutnya Mahira tak sadarkan diri.


"Mahira ... Mahira!" Teriak Gani saat Mahira menutup mata. Seketika, rasa marah dan rasa kesal Gani sirna karena melihat wajah Mahira yang pucat. 


"Tuan, ada apa?" Tanya bi Karti yang menghampiri Gani. 


"Ya Allah, Mahira!" Teriak bi Karti yang ikut panik saat melihat Mahira tak sadarkan diri.


"Bi, tolong ambilkan kotak medis di mobil saya!" Teriak Gani sambil memangku Mahira ala brydal style.


Bi karti pun mengangguk lalu berjalan keluar dengan cepat. 


Sedangkan Gani, saat dia sudah memangku Mahira, Dia membawa Mahira ke kamarnya dan membaringkan Mahira diranjang.


Dengan cepat, Gani membuka lemari Mahira berniat mengambilkan pakaian Mahira. 


Namun, keningnya mengkerut bingung saat melihat lemari Mahira yang kosong. Tak ingin ambil pusing, Gani kembali menutup lemari Mahira dan berjalan kelemarinya. 


Dia memilih-milih pakaian yang akan di pakaikan ketubuh Mahira. Pilihannya jatuh pada kemeja yang cukup besar.


Setelah mengambil kemeja, Gani bergegas menghampiri Mahira yang sedang terbaring di ranjang.


Baru saja Gani akan menarik pakaian Mahira, dia kembali menghentikan gerakannya karena tak ingin kembali menyentuh Mahira. 


"Tuan, saya boleh masuk?" Tanya bi Karti yang membawa kotak medis.


"Masuk, Bi!" Teriak Gani dari dalam kamar.


Bi karti pun masuk. "Tuan, ini kotak medisnya," ucap bi Karti. 


Gani pun mengambil kotak dari tangan bi Karti. "Bi, tolong gantikan bajunya!" Titah Gani sambil turun dari ranjang dan berniat keluar karena tak mau melihat bi Karti yang sedang menggantikan pakaian Mahira. 


"Tapi, Tuan ...."


Gani yang sudah berjalan kembali menoleh kebelakang dan melihat bi karti. 


"Ada apa?" Tanya Gani.


"Saya takut melukai anak dalam kandungan Mahira," ucap Bi Karti. Bi karti takut akan menguncang perut Mahira dan akan melukai calon anak Mahira.


"Pelan-pelan saja. Panggil saya jika terjadi apa-apa. Saya ada di luar," ucap Gani. 


Bi Karti pun naik keranjang dan mulai menggantikan pakaian Mahira.


Sedangkan Gani.


Saat berada di luar kamar, dia berjalan kesana kemari. Ada rasa khawatir yang menderanya karena kondisi melihat kondisi Mahira. 


Tapi, seketika Gani menghentikan langkahnya. Dia menggeleng.


"Tidak, aku tidak boleh mengkhawatirkannya," lirih Gani. 


"Ayah!" Panggil Dita dengan pelan. Sebenarnya dia masih takut untuk memanggil Gani, namun dia memberanikan diri untuk memanggil ayahnya karena tak biasanya Gani ada dirumah. Biasanya Gani akan pulang kerumah saat tengah malam dan pergi lagi saat pagi-pagi sekali.


Gani yang mendengar suara Dita langsung menoleh dan menghampiri putrinya.


"Ya, Sayang." Gani menjawab sambil berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Dita.


"Ayah, maafin Dita," ucap Dita sambil menunduk. 


Deg. 


Melihat reaksi putrinya yang menunduk. Gani merasa tercubit, dia sadar selama ini dia telah mengabaikan putrinya.


Gani pun merangkul tubuh putrinya dan memeluknya. 


"Dita, maafin ayah, ya, Nak," ucap Gani.


Mendengar suara Gani yang hangat, Dita mengangkat kepalanya dan menatap Gani.


"Ayah, besok aku ingin bermain bersama ayah!" Pinta Dita penuh harap.


"Baikalah, bagaimana kalau kita bermain ke wahana permainan," jawab Gani


Dita pun mengangguk antusias.


"Tapi bagaimana kalau kita pergi berdua saja," ucap Gani lagi yang enggan pergi mengajak Mahira.


"Kita tidak pergi bersama Tante?"


"Tanteu siapa?" Tanya Gani.


"Tan ...." Perkataan Dita terputus saat bibi keluar dari kamar. 


"Semua sudah selesai, Tuan," ucap bi Karti.


Gani pun mengangguk.


"Dita, kau bersama bibi dulu, ya, Nak," ucap Gani karena dia akan memeriksa Mahira. 


Dita pun mengangguk.


Saat masuk kedalam kamar, Gani segera membuka kotak medisnya. 


Setelah memeriks Mahira, Gani pun memegang perut Mahira untuk meraba dan memastikan kondisi bayi Mahira.


Saat menyentuh perut Mahira, ada gelanyar aneh yang Gani rasakan. 


Tepat saat Gani meraba perut Mahira,  Mahira pun membuka matanya. 


Bab 8


Titik Balik prasaan Gani 2


Tanpa sadar, Gani berbalik dan mencekal tangan Mahira kemudian menariknya hingga Mahira berbalik dan kepala Mahira menabrak dada Gani.


"Apa kau tuli, Hah!" Teriak Gani lagi. Rupanya Gani masih kesal karena Mahira menolak handuk yang diberikan.


Mahira yang dari tadi akan kehilangan kesadarannya, merasakan kepalanya berdenyut. Saat Gani menarik tangannya dan membentaknya, lamat-lamat, Mahira merasa pangdangannya menggelap dan detik selanjutnya Mahira tak sadarkan diri.


"Mahira ... Mahira!" Teriak Gani saat Mahira menutup mata. Seketika, rasa marah dan rasa kesal Gani sirna karena melihat wajah Mahira yang pucat. 


"Tuan, ada apa?" Tanya bi Karti yang menghampiri Gani. 


"Ya Allah, Mahira!" Teriak bi Karti yang ikut panik saat melihat Mahira tak sadarkan diri.


"Bi, tolong ambilkan kotak medis di mobil saya!" Teriak Gani sambil memangku Mahira ala brydal style.


Bi karti pun mengangguk lalu berjalan keluar dengan cepat. 


Sedangkan Gani, saat dia sudah memangku Mahira, Dia membawa Mahira ke kamarnya dan membaringkan Mahira diranjang.


Dengan cepat, Gani membuka lemari Mahira berniat mengambilkan pakaian Mahira. 


Namun, keningnya mengkerut bingung saat melihat lemari Mahira yang kosong. Tak ingin ambil pusing, Gani kembali menutup lemari Mahira dan berjalan kelemarinya. 


Dia memilih-milih pakaian yang akan di pakaikan ketubuh Mahira. Pilihannya jatuh pada kemeja yang cukup besar.


Setelah mengambil kemeja, Gani bergegas menghampiri Mahira yang sedang terbaring di ranjang.


Baru saja Gani akan menarik pakaian Mahira, dia kembali menghentikan gerakannya karena tak ingin kembali menyentuh Mahira. 


"Tuan, saya boleh masuk?" Tanya bi Karti yang membawa kotak medis.


"Masuk, Bi!" Teriak Gani dari dalam kamar.


Bi karti pun masuk. "Tuan, ini kotak medisnya," ucap bi Karti. 


Gani pun mengambil kotak dari tangan bi Karti. "Bi, tolong gantikan bajunya!" Titah Gani sambil turun dari ranjang dan berniat keluar karena tak mau melihat bi Karti yang sedang menggantikan pakaian Mahira. 


"Tapi, Tuan ...."


Gani yang sudah berjalan kembali menoleh kebelakang dan melihat bi karti. 


"Ada apa?" Tanya Gani.


"Saya takut melukai anak dalam kandungan Mahira," ucap Bi Karti. Bi karti takut akan menguncang perut Mahira dan akan melukai calon anak Mahira.


"Pelan-pelan saja. Panggil saya jika terjadi apa-apa. Saya ada di luar," ucap Gani. 


Bi Karti pun naik keranjang dan mulai menggantikan pakaian Mahira.


Sedangkan Gani.


Saat berada di luar kamar, dia berjalan kesana kemari. Ada rasa khawatir yang menderanya karena kondisi melihat kondisi Mahira. 


Tapi, seketika Gani menghentikan langkahnya. Dia menggeleng.


"Tidak, aku tidak boleh mengkhawatirkannya," lirih Gani. 


"Ayah!" Panggil Dita dengan pelan. Sebenarnya dia masih takut untuk memanggil Gani, namun dia memberanikan diri untuk memanggil ayahnya karena tak biasanya Gani ada dirumah. Biasanya Gani akan pulang kerumah saat tengah malam dan pergi lagi saat pagi-pagi sekali.


Gani yang mendengar suara Dita langsung menoleh dan menghampiri putrinya.


"Ya, Sayang." Gani menjawab sambil berjongkok menyetarakan tubuhnya dengan Dita.


"Ayah, maafin Dita," ucap Dita sambil menunduk. 


Deg. 


Melihat reaksi putrinya yang menunduk. Gani merasa tercubit, dia sadar selama ini dia telah mengabaikan putrinya.


Gani pun merangkul tubuh putrinya dan memeluknya. 


"Dita, maafin ayah, ya, Nak," ucap Gani.


Mendengar suara Gani yang hangat, Dita mengangkat kepalanya dan menatap Gani.


"Ayah, besok aku ingin bermain bersama ayah!" Pinta Dita penuh harap.


"Baikalah, bagaimana kalau kita bermain ke wahana permainan," jawab Gani


Dita pun mengangguk antusias.


"Tapi bagaimana kalau kita pergi berdua saja," ucap Gani lagi yang enggan pergi mengajak Mahira.


"Kita tidak pergi bersama Tante?"


"Tanteu siapa?" Tanya Gani.


"Tan ...." Perkataan Dita terputus saat bibi keluar dari kamar. 


"Semua sudah selesai, Tuan," ucap bi Karti.


Gani pun mengangguk.


"Dita, kau bersama bibi dulu, ya, Nak," ucap Gani karena dia akan memeriksa Mahira. 


Dita pun mengangguk.


Saat masuk kedalam kamar, Gani segera membuka kotak medisnya. 


Setelah memeriks Mahira, Gani pun memegang perut Mahira untuk meraba dan memastikan kondisi bayi Mahira.


Saat menyentuh perut Mahira, ada gelanyar aneh yang Gani rasakan. 


Tepat saat Gani meraba perut Mahira,  Mahira pun membuka matanya. 


Bab 10


Mari kita bercerai, Mas.


Mahira membuka matanya, betapa terkejutnya dia, saat dirinya yang terbaring dikamar Gani.


Ekor mata Mahira melihat kearah bawah dan yang lebih terkejutnya lagi Mahira terbangun menggunakan kemeja milik Gani. Lagi-lagi Mahira terkejut saat Gani memegang perutnya. 


Gani pun melihat kearah Mahira. Ia tersentak kaget saat Mahira membuka matanya dan melihatnya. Saat mata mereka saling mengunci, Gani dengan cepat menjauhkan tangannya dari perut Mahira. 


Walaupun Mahira sudah memutuskan untuk menyerah. Namun, ada setitik rasa kebahagiaan muncul di hati Mahira saat Gani yang masih bersetatus suaminya memegang perutnya untuk yang pertama kali. 


"Jangan salah paham, tadi  kamu tak sadarkan diri. Jadi saya menolong kamu atas dasar kemanusiaan," ucap Gani datar dan dingin. Ia berbicara tanpa melihat kearah Mahira. 


Seketika rasa bahagia yang sempat  memghampiri Mahira sirna. Padahal baru beberapa detik lalu dia merasakan sedikit kebahagiaan. Namun, perkataan Gani menghancurkan setitik rasa bahagia yang baru Mahira rasakan.


Walaupun terasa sakit, Mahira berusaha mengutkan hatinya. Takan ada lagi air mata untuk suaminya. Tak ada lagi yang bisa menjatuhkan harga dirinya, dia akan kuat demi dirinya dan demi calon anaknya. 


Dengan perlahan, Mahira bangkit dari berbaringnya dan turun dari ranjang.


"Maaf sudah merepotkan anda, Pak. Terimakasih sudah membantu saya dan terimakasih sudah meminjamkan kemeja bapa. Kalau begitu saya permisi." Tanpa mendengar lagi jawaban Gani, Mahira pun keluar dari kamar.


Sedangkan Gani di buat heran atas ucapan dan tingkah Mahira. Apalagi saat Mahira memanggil dengan sebutan bapa untuk yang kedua kalinya.


"Apa dia sedang mencari perhatianku," lirih Gani. Dia berdecih sinis saat menyangka Mahira mencari perhatiannya. Tanpa Gani sadari bahwa Mahira akan benar-benar pergi jauh dari sisinya.


"Mahira, kau sudah merasa baikan?" tanya bi Karti saat Mahira masuk kedalam kamar bi Karti.


"Sepertinya aku demam, Bi," jawab Mahira. 


"Mahira kau kan belum makan. Sebentar, bibi bawakan makanan untukmu," ucap bi Karti yang akan bangkit dari duduknya untuk mengambil nasi untuk Mahira. 


"Bi, aku tak ingin makan nasi."


"Perutmu kosong, Mahira dan kau harus makan."


"Bibi tadi melihat kresek kecil yang berisi susu dan roti bi?" tanya Mahira. 


Bi karti tampak berpikir sejenak. 


"Ah, ia. Bibi menaruhnya di dapur saat kau berada di kamar."


"Bi, apa aku boleh minta tolong untuk membuatkan susu untukku dan membawa rotinya kemari," ucap Mahira. 


"Kau tidak akan makan nasi, Mahira?"


Mahira menggeleng. "Tidak bi, sepertinya bayiku ingin makan roti," jawab Mahira berbohong.


"Tunggu sebentar, bibi akan membuatkannya."


°°


Setelah menyelasaikan acara mandinya. Gani pun keluar dari kamar mandi. Dia langsung merebahkan tubuhnya di sofa. Ya, walaupun mereka satu kamar tapi mereka pisah ranjang, Mahira tidur di ranjang sedangkan Gani tidur si sofa.


Saat Gani sudah berbaring di sofa, dia tak henti-hentinya melihat kearah pintu. Dia bertanya-tanya dalam hatinya kemana Mahira. Lalu tak lama dia menggeleng menyadarkan dirinya agar tak memikirkan Mahira. 


Lalu, Gani mengangkat satu tangannya ke udara, dia tersenyum tanpa sadar saat mengingat dia menyentuh perut Mahira. Lagi-lagi Gani menggeleng menyadarkan dirinya agar tak memikirkan Mahira dan menepis rasa untuk Mahira dan calon anak Mahira. Bagi Gani, hanya mendiang Rahma dan Dita dalam hatinya. Setelah sibuk dengan Pikirannya sendiri, akhirnya Gani pun tertidur.


Keesokan harinya.


"Mahira, kau mau kemana?" tanya bi Karti saat melihat Mahira sudah rapih. 


"Bi, aku akan bertemu mendiang ibu mba Rahma. Aku akan meminta pekerjaan padanya," jawab Mahira sambil mengikat rambutnya.


Mata bi Karti membulat sempurna saat mendengar ucapan Mahira. Bagaimana tidak, Mahira sedang hamil dan bi Karti yakin Mahira tak kekurangan uang sedikit pun lalu kenapa Mahira harus bekerja.


"Mahira, kemari, Nak!" titah bi Karti yang sedang duduk di ranjang. Ia menepuk-nepuk sisinya agar Mahira duduk di sampingnya.


Mahira pun menurut, dia duduk si sebelah bi Karti.


Dengan lembut, bi Karti memegang tangan Mahira.


"Mahira, kenapa kau harus bekerja, Nak. Bukankah suamimu selalu memberimu uang. Lalu bagaimana dengan kandunganmu?" tanya bi Karti. 


"Bi, saat hari-hariku kemarin, setiap hari, aku selalu berdoa agar mas Gani menerima ku dan calon anaknya. Aku tau, aku tak pantas berharap lebih. Walaupun mas Gani tak menerimaku sebagai istrinya setidaknya dia mengakui anak yang sedang ku kandung. Tapi kemarin, aku mendengar dari mulut mas Gani sendiri bahwa kami adalah sebuah kesalahan. Hatiku sakit Bi ... Maka dari itu, aku memutuskan untuk meminta berpisah saat anak ini lahir. Aku tak ingin saat anakku besar dia akan mengemis kasih sayang dari ayahnya. Dan semoga bu Hilda mau memberiku pekerjaan agar aku mempunyai biyaya melahirkan," ucap Mahira sambil menahan sesak di dada. 


"Kau tidak perlu bekerja, Mahira. Jika kau memang tak ingin bergantung lagi pada tuan Gani, bibi akan memberikan gajih bibi padamu," ucap bi Karti lagi yang tak tega jika Mahira akan bekerja. 


Mahira menggeleng, "Tidak, Bi. Aku tau bibi sedang mengumpulkan untuk naik haji. Jadi biarkan aku berusaha sendiri untukku dan untuk anakku," ucap Mahira. Air mata yang dari tadi di tahannya tumpah.


Dengan sigap, bi Karti memeluk Mahira membiarkan Mahira menangis dalam pelukannya. 


"Ayah, jadi, kan, hari ini kita pergi?" Tanya Dita saat dia dan Gani sedang sarapan.


Gani mengelus pucuk kepala sang putri,  hal yang sudah lama tak dia lakukan setelah kepergian istri pertamanya. 


"Ayo! Setelah ini kita berangkat," jawab Gani. Dia kembali memasukan roti ke mulutnya. Mata Gani menatap kesana kemari. Tanpa Gani sadari, dirinya mencari Mahira yang semalam tak ada di kamarnya dan pagi ini tak ikut sarapan seperti mereka. 


Dan bertepatan itu, Mahira muncul dari arah dapur. Dia berjalan menghampiri Dita untuk pamit pada putri tirinya agar tak mencarinya.


Seketika pandangan Gani tertuju pada Mahira. Dia terpaku menatap Mahira yang hari ini tampak lebih cantik karena Mahira mengikat rambutnya. Seketika Gani tersedak. 


Gani pikir, Mahira akan mengambilkannya minum untuknya. Namun, Gani salah, Mahira bahkan tak meliriknya sama sekali.


Akhirnya Gani pun mengambil minum sendiri.


"Dita, Tante pergi dulu, ya," ucap Mahira sambil mengelus rambut putri tirinya.


Dita pun hanya tersenyum dan mengangguk. 


Mahira pun pergi meninggalkan ruang makan. Lagi-lagi, Gani dibuat terdiam saat Dita memanggilnyanya tante.


"Mahira, memakai cara apapun kau takan bisa mendapatkan perhatianku," lirih Gani dalam hatinya. Rupanya dia masih mengira Mahira bersikap acuh karena ingin mendapat perhatiannya.


°°°


Dengan menaiki ojek online, Mahira pun sampa di kediaman bu Hilda. Saat dia akan masuk, gerbang terbuka dari dalam karena ada  mobil yang keluar.


Saat mobil keluar, Mahira dibuat kaget saat melihat pengendara mobil tersebut. Karena kaca mobil yang terbuka membuat Mahira bisa melihat dengan jelas siapa yang mengendarai mobil tersebut.


"Bukankah, dia yang mencopetku dulu," lirih Mahira. Ya, dia yakin orang itu adalah yang mencopetnya dulu. Sebab sebelum dia di copet, copet itu berpura-pura bertanya pada Mahira.


 Tiba-tiba dia juga teringat mendiang Rahma yang langsung berada di terminal setelah dia kecopetan dan langsung mengajaknya bekerja tanpa bertanya tentang kehidupan Mahira terlebih.


"Sebenarnya siapa mereka," lirih Mahira yang merasa bahwa Rahma memang sudah merencanakan ini dari awal hingga dia harus menjadi istri Gani. Bahkan Mahira merasa tak asing saat melihat wajah mendiang Rahma saat mereka pertama kali berjumpa. , Saat sedang sibuk dengan pikirannya sendiri, bu Hilda yang akan menutup gerbangnya melihat Mahira yang sedang melamun.


"Mahira!" Panggil bu Hilda. Bu Hilda sangat terkejut dengan kedatangan Mahira. Bu Hilda hanya berharap Mahira tak melihat siapa yang baru saja keluar dari rumahnya.


"Asaalamualaikum, Bu," ucap Mahira sambil mencium tangan bu Hilda. 


"Waalaikum salam, ayo, masuk, Nak."


Bu hilda pun Mahira pun masuk kedalam rumah. 


Dan Mahira pun bercerita semuanya pada bu Hilda dan bu Hilda menyuruh Mahira untuk bekerja di butik miliknya. Tentu Mahira senang. Sebenarnya bu Hilda menawarkan untuk membantu Mahira secara cuma-cuma. Namun, Mahira menolak. Dia lebih memilih untuk bekerja di butik bu Hilda. 


Sedangkan Gani, saat dalam perjalanan menuju wahana permainan bersama Dita. Dia teringat mantan mertunya. Sudah lama sekali Gani tak menjenguk mantan mertuanya. Gani pun memutuskan untuk mampir sebentar sebelum membawa Dita ke area permainan. 


Saat sampai dirumah mertunya,  Gani mengernyit heran saat pintu rumah tidak tertutup. 


Gani dan Dita pun masuk kedalam rumah.


"Omaa!" Teriak Dita saat melihal Hilda sedang duduk bersama Mahira di sofa. 


Hilda pun bangkit dari duduknya dan menghampiri Dita. 


"Dita kau kemari bersama siapa, Nak?" Tanya Mahira. 


Belum Dita menjawab,  Gani sudah muncul dari arah belakang.


Melihat Mahira di rumah mertuanya. Tiba-tiba emosi Gani meledak,  dia berpikir buruk lagi tentang Mahira.


"Bu, bisa bawa Dita pergi,  saya ingin bicara pada Mahira," ucap Gani pada mertuanya. Rupanya dia tak sabar untuk mencecar Mahira.


Bu Hilda pun mengangguk dan membawa Dita pergi.


Setelah mertuanya pergi membawa Dita. 


Gani menatap tajam Mahira. 


Dia maju kearah Mahira dan menarik tangan Mahira dan mengajaknya untuk berbicara di taman.


"Pak, sakit," ucap Mahira saat Gani menarik tangannya. 


Saat sampai taman, Gani melepaskan tangan Mahira dengan kasar hingga Mahira meringis.


"Setelah gagal merebut posisi Rahma dirumah saya sekarang kamu ingin merebut juga posisi Rahma dirumah ini, Hah!" Teriak Gani dengan emosi. 


Sungguh, saat ini Mahira merasa malu sekali saat beberapa pekerja di rumah bu Hilda melihatnya saat dimarahi oleh Gani. 


"Kuat Mahira, kau harus kuat," lirih Mahira. 


Mahira menghela napas sejenak, dia berusaha meredam gejolak dalam hatinya. 


"Pak, ayo kita bicara baik-baik," ucap Mahira sambil tersenyum. Dia tak ingin menghadapi emosi dengan emosi. 


Melihat Mahira tersenyum, Gani terpaku. Emosinya menguap begitu saja saat melihat senyuman Mahira.


Mahira mendahului Gani duduk di sofa yang terletak di taman. 


Dan Gani pun menyusul duduk di depan Mahira. 


Setelah mereka duduk berhadap-hadapan. mahira membuka tasnya untuk mengambil dompet dan mengeluarkan Atm.


"Pak, ini atm yang pernah bapa lemparkan pada saya. Saya kembalikan ini pada bapak. Bapak bisa mengeceknya, saya belum pernah memakainya sama sekali. Dan juga, saya kesini bukan untuk menggantikan posisi mendiang mba Rahma, saya hanya ingin meminta pekerjaan pada bu Hilda dan juga ... Mari kita bercerai Pak. Karena kita hanya menikah siri, Setelah anak ini lahir bapa bisa langsung mentalak saya. Bapa tenang saja, saya tak akan menuntut apa-apa dari Bapak." Mahira berucap penuh ketenangan. Ia tak membiarkan Gani menyela ucapannya. Bahkan tak ada rasa ragu saat Mahira mengatakan tentang perceraian. 


Deg. 


Gani terdiam mendengar ucapan Mahira dan ...