Uncle Bram

Uncle Bram
74



"Terimkasih, sayang." Ucap Bram sambil mencium kening Keinya. Bram berterimakasih karna diijinkan untuk menyentuh istrinya. Kali ini terasa lebih nikmat kara mereka melakukanmya dengan rasa rindu yang sudah mereka tahan selama dua bulan kebelakang.


Keinya yang sedang menelusupkan wajahnya pada dada bidang Bram pun langsung mengangkat kepalanya, dia mensejajarkan wajah nya dengan wajah Bram, dan Bram pun memberikan satu lengannya untu dijadikan bantal.


"Hubby, jangan meragukan ku Lagi! kau sangat menyakiti ku kemarin!" keluh Keinya sambil mengelus mesra pipi Bram.


"Cintaku, aku berdosa kepadamu, aku tak akan mengulangi kebodohanku untuk yang kedua kalinya," jawab Bram. Dia memejamkan mata sambil menikmati sentuhan tangan Keinya di pipinya.


"Lalu siapa wanita yang berada di Restoran saat itu?"


"Dia pengacara sayang, aku mengajukan tuntutan kembali untuk Tya, tapi kau tak perlu khawatir aku hanya sekali bertemu dengannya."


"Hubby, aku akan bersungguh-sungguh pergi jauh jika kau mengkhianati ku," ucap Keinya bersungguh-sungguh.


"Percayalah, kau adalah satu-satunya bagi ku." Bram pun kembali mencium bibir Keinya sekilas.


"Hubby, kenapa kau begitu tampan? pasti banyak yang sangat menginginkan mu diluar sana!" keluh Keinya. Hormon kehamilanmya mungkin membuatnya menjadi sangat posesiv.


"Kau bisa mengatur keuangan ku sayang, lelaki tanpa uang tak akan bisa berbuat Apa-apa." Bram menjawab sambil terkekeh. Dia merasa lucu dengan ucapan Keinya.


"Baiklah, aku akan melakukan itu." kawab Keinya santai.


"Tidurlah ini sudah larut!" ucap Bram.


"Hubby, matikan Ac, dan ambilkan pakaian untuku!" rengek Keinya dengan manja. Dia terlalu lelah untuk bangkit.


Dan dengan senang hati Bram menuruti keinginan Keinya. Bahkan dengan telaten dia memakaikan pakaiannya pada Istri kecilnya.


"Hubby, peluk aku!" titah Keinya saat Bram ingin mengambil minum.


"Baiklah, sayangku."


"Hubby, aku merindukan mu. Sangat-sangat merindukan mu," ucap Keinya saat menelusupkan wajahnya pada dada bidang Bram. Mendengar ucapan Istirnya Bram tersenyum sambil mengelus rambut istrinya penuh cinta.


"Tidurlah sayangku!"


Keinya pun mengangguk, karna dia sudah sangat mengantuk. Dan pelukan Bram benar-benar membuat Keinya merasa nyaman. Selama dua bulan ini Keinya berusaha mati-matian untuk tak membalas pelukan Bram walau nyatanya dia pun menginginkannya. Tapi sekarang dia bebas memeluk suaminya lagi.


Setelah Keinya tertidur. Bram pergi ke dapur untuk mengambil minum. Namun ternyata saat didapur dia melihat Aysel sedang membuat sesuatu.


"Lu, belum tidur bell?" tanya Bram sambil membuka kulkas dan mengambil air dingin.


jawab Aysel sambil menaruh makanannya di meja pantry.


"Gue balik kekamar kalau gtu."


"Bram?"


"Hemn."


"Jangan dulu balik kamar, gue mau ngomong sesuatu."


Bram pun mendengus mendengarkan permintaan sahabat yang sekarang jadi mertuanya.


"Abisin dulu makanan lu!" titah Bram pada Aysel.


Dan Aysel pun dengan cepat menghabiskan makanannya.


"Lu, mau ngomong apa?" tanya bram saat Aysel sudah menghabiskan makanannya.


"Bram?" Aysel sejenak menghela napas sebelum melanjutkan kalimatnya. "Lu udah denger kabar Alana kan?" tanya Aysel sambil memandang Bram intens.


"Memang kenapa dia?" tanya Bram santai.


"Seminggu yang lalu dia nelpon Hana, dan dia nanyain kontak lu, dan setelah gue selidiki tentang Alana, ternyata suaminya bangkrut."


"Trus kenapa lu ngasih tau gue tentang dia?"


"Masalahnya sekarang dia di London Bram. Lu aneh gak sih, suaminya bangkrut, trus dia nelpon Hana nanyain lu dan sekarang dia tinggal di London?"


"Trus kalau dia di London nyusulin gue, lu pikir gue bakal tergoda gtu?" ucap Bram sambil terkekeh."


"Gue percaya elu, tapi gue gak percaya dia, Kita tau seberapa ambisiusnya dia. Dulu dia ninggalin lu demi orang yang lebih kaya. dan sekarang saat suaminya bangkrut dia nyariin lu."


"Bell, lu kenal gue udh puluhan tahun. Kita ber-3 tuh tumbuh sama-sama. Umur gue gak lagi muda, lu tau, dari gue muda aja gue gak pernah macem-macem, apalagi sekarang. Gue gak mungkin nyia-nyia'in istri gue." Bram menjawab dengan wajah serius. Karna dia tau bahwa Aysel sedang mengkhawatirkan Keinya.


"Jelasin siapa Alana ke Keinya. Jadi kalau kalian ketemu dia bisa tau siapa Alana. Jangan sampai anak gue salah paham terus berdampak sama cucu gue."


"Gue bakal jelasin nanti!" Lu tau?... Keinya udah ngediemin gue dua bulan."


Mendengar itu Aysel malah menyemburkan minuman yang ada dimulutnya sambil menahan tawa.