Uncle Bram

Uncle Bram
82



"Kau pikir aku tidak tau bahwa kau sudah sangat menyakiti putri ku. Saat itu kau membawa putri ku untuk bertemu kekasih gelap mu di hotel dan dengan teganya kau menyuruh Lila menunggu di lobi Hotel selama berjam-jam tanpa memberi dia makan dan minum, sedangkan kau malah sibuk bersama kekasih gelapmu. Kau bahkan pernah mengurung dia di gudang seharian hanya karna dia memergoki mu sedang menelpon kekasihmu. bahkan kau tega mengancam akan membunuh putriku jika dia mengadukan mu pada suamiku." Keinya berbicara dengan emosi. Dia mengingat saat Lila menceritakan apa yang Tya lakukan pada Lila. "Apa kau masih pantas disebut seorang ibu? ... kau bahkan menghukum putriku dengan memberikannya makanan basi hanya karna dia menasihatimu. Kau harus nya bersyukur dan berterimakasih pada putri ku karna dia tak mengadukanmu pada suami ku." Keinya berteriak emosi. Hingga Bram langsung masuk kedalam kamar.


"Sayang." Bram menggenggam tangan Keinya yang tengah emosi.


Mendengar suara Bram. Keinya buru-buru tersadar. Dia tak ingin Bram mengetahui apa yang Tya perbuat pada Lila. Karna Lila sendiri yang meminta Keinya untuk merahasiakannya dari Bram.


Melihat Bram datang, Tya langsung bangkit dan berlutut pada Bram. Dia seolah tak tersentuh dengan ucapan Keinya dia malah meminta Bram untuk melepaskannya membuat Keinya benar-benar ingin mencakar wajah Tya.


Bram ikut berjongkok. Dia langsung menepis tangan Tya dari kakinya.


"Sampai kapanpun aku tak akan melepaskanmu. Kau akan menua disini!" ucap Bram sambil menggertakan giginya karna emosi. Kemudia dia bangkit mengulurkan tangannya pada Keinya mengajaknya untuk keluar dari kamar dan menguncinya kembali.


"Hu-hubby," lirih Keinya saat mereka berada di lift.


"Ya, sayang?"


"A- apa kau mendengar ucapan ku tadi?" tanya Keinya. pasalnya setelah keluar dari unit Apartemen Tya, Bram sama sekali tak berbicara padanya.


Bram tak menjawab pertanyaan Keinya. Dia malah mengecup punggung tangan Keinya. Baru saja Keinya akan bertanya lagi pintu Lift terbuka hingga dia tak sempat berkata apa-apa.


Begitu pun didalam mobil. Suasana berubah jadi hening. Sesekali Keinya melirik pada Bram dia ingin sekali memastikan Bram mendengar ucapannya atau tidak. Namun dia mengurungkan niatnya karna melihat Bram fokus mengemudi.


45 menit kemudian Mereka pun tiba di kantor Bram. "Biar aku yang membukanya!" titah Bram saat Keinya akan membuka pintu mobil. Bram dengan cepat keluar dan memutari mobilnya. Bram mengulurkan tangannya untuk membantu Keinya keluar dari mobil.


Saat masuk ke dalam kantor. Semua orang memperhatikan Bram yang menggandeng tangan Keinya. Ini pertama kalinya Keinya datang lagi ke kantor Bram setelah mereka menikah. Semua sudah tau jika Ceo mereka tengah menikah kembali, karna sebulan lalu dia mengubah data website perusahaannya dan mengumumkan dia tengah menikah untuk yang ke dua kalinya. dan di dalam wawancara dengan majalah bisnis Bram juga membahas tentang pernikahan ke duanya.


Keinya menggandeng tangan Bram saat memasuki lobi. Bram dan Keinya berjalan menuju lift khusus Ceo melewati para karyawan yang menyapa mereka.


"Sayang, kau ber'istirahatlah aku akan memulai bekerja." Bram mendudukan Keinya di sofa, dan dia menuju meja kerjanya, tak lupa dia melepas jasnya ketika akan duduk.


Setelah sekian lama Keinya duduk di sofa. Dia mulai merasa jengah karna suaminya Mengabaikannya dan malah fokus dengan laptop yang berada di meja kerjanya.


Keinya pun menghampiri Bram. Dia bersedekap di hadapan Bram.


"Kau mengabaikanku hubby?" tanya Keinya yang menatap Bram dengan tatapan jengah.


Merasa benar-benar di acuhkan. Keinya pun berjalan ke sisi Bram sambil terus bersedekap. Dia menusuk-nusuk pundak Bram namun sayang Bram sama sekali tak merespon.


"Baiklah, nikmati pekerjaamu, aku akan pulang sekarang!" Keinya memberenggut kesal.


mendengar ucapan Keinya yang kesal Bram buru- buru tersadar. "Baiklah-baiklah maafkan aku." Bram menuntun Keinya untuk duduk menyamping di pangkuannya.


"Kau sungguh menyebalkan!" ketus Keinya ketika duduk di pangkuan suaminya. "Hubby?" lirih Keinya.


"Ya, sayang?" jawab Bram. Dengan satu tangannya dia memindahkan dokumen ke arah kiri mengosongkan meja nya agar Keinya bisa duduk dengan nyaman. "Duduklah disini!" titah Bram sambil menepuk-nepuk sisi meja yang tengah kosong.


"Kenapa, apa aku berat? ... Apa kau akan meninggalkan ku jika aku berubah jadi gendut?" cerocos Keinya yang menyangka jika suaminya sedang merasa berat ketika memanggku dirinya.


Sedangkan Bram mengutuk dirinya sendiri dia lupa jika Istrinya akhir-akhir ini istrinya selalu sensitif karna bawaan bayi yang sedang di kandung oleh istrinya.


"Ti-tidak sayang, bukan itu maksudku. Aku hanya ingin kau duduk dengan nyaman."


"Kau tidak berbohongkan? ... kau tidak akan meninggalkan ku walau tubuh ku berubah menjadi gendut?" tanya Keinya bertubi-tubi.


"Kau masih meragukan suami mu sayang?"


Keinya pun menggeleng cemberut membuat Bram mengelus bibir Keinya dengan ibu jarinya.


"Hubby?" panggil Keinya sambil memainkan kancing kemeja Bram.


"Ya sayang, ada apa?"


"Apa kau mendengar apa yang aku katakan pada tanteu Tya?"


"Aku ... "


Aku akan up lagi malem hahahaha. jangan lupa vote ya. hari ini aku udh Crazy up lho jadi jangan buat akuh sedih karna kalian ga nge vote hahaha.