
Gengs aku mau promo ya hehehe ga apa-apa ya. Ini buat yang mau ikut aja yang ga mau ikut tinggal skip aja. Jarinya jangan jahat ya Gengs, namanya juga promosi hehe
Maaf aku belum bisa lagi update lapak ini. Tapi aku akan usahakan saat update nanti aku akan crazy update.
Judulnya Lihat Aku Suamiku!
Sudah tamat di aplikasi *K*B*M. Di sini cuman aku tulis 5 bab ya, kalau kalian penasaran lanjutannya, kalian tinggal ke sana aja ya karena udah tamat. buat yang mau tanya-tanya, atau beli koin bisa ke no ini ya 088222277840
Bab 1 Aku lelah aku ingin menyerah.
"Mas, hari ini jadwal kontrol kandunganku. Bisakah mas saja yang memeriksaku," ucapku pada suamiku saat kami sedang sarapan. Ada sedikit ketakutan dan rasa malu saat aku mengungkap keinginanku pada mas Ghani yang tak lain adalah suamiku.
Bagaimana tidak, suamiku yang berkerja sebagai dokter kandungan sama sekali tak mencintaiku, bahkan mungkin tak menganggapku ada. Kami menikah karena terpaksa. Mendiang istri suamiku memaksa kami menikah sebelum kematian datang menyapanya.
Mas Gani menaruh sendok yang sedang di pegang nya. Seperti biasa, dia menatapku dengan tatapan datar.
"Pasien saya penuh. Kamu bisa periksa di rumah sakit lain," jawab suamiku acuh dan kembali menyodokan makanan kemulutnya.
Mendengar jawaban suamiku. Mataku mengembun. Jawaban yang selalu sama setiap aku mengutarakan keinginanku. Seharusnya aku tak perlu sakit hati lagi dengan jawabannya karena aku tau, pasti dia akan menjawab hal yang sama. Tapi, tetap saja, rasa sakit itu tak bisa di hindari.
Setelah mendengar jawabannya, aku menunduk tak berani lagi menatapnya. Harga diriku seolah hilang karena mendengar jawabannya. Apa aku atau calon anakku salah jika menginginkan mas Gani suamiku yang mendampingi kami? Aku lelah Ya Allah, aku ingin menyerah.
Seperti biasa, dia pun bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk bekerja tanpa mengucap satu patah kata pun padaku menegaskan bahwa aku memang istri yang tak dianggap.
Setelah mas Gani pergi, tangis yang sedari tadi aku tahan akhirnya pecah. Aku pun memilih pergi kekamar tanpa menyelesaikan sarapanku.
Aku menatap din-ding tempat Foto mendiang mba Rahma masih terpajang di din-ding kamar kami, kamar yang dulu merupakan kamar suamiku dan kamar mendiang mba Rahma.
Ingatanku kembali saat aku bertemu Mendiang mba Rahma untuk pertama kalinya.
Flashback.
Napasku terengah-engah saat aku berhenti berlari.
Aku baru saja tiba dari kampung. Niatku ke kota karena ingin menghampiri temanku yang menawarkan pekerjaan padaku.
Namun, sayang. Saat aku akan menyetop angkot, aku kecopetan. Tasku dibawa oleh copet. Aku dan beberapa orang mencoba mengejar copet tersebut. Namun sayang, copet itu hilang kami tak berhasil mengejarnya.
Aku terduduk lemas di terminal. Perutku lapar, semua uang, ponsel dan alamat temanku ada di tas yang tadi di copet.
Aku hanya bisa menangis meratapi yang terjadi. Aku bingung harus melakukan apa, ingin kembali ke kampung pun aku tak memegang uang sama sekali.
Saat aku tertunduk dan menangis. Seseorang menepuk bahuku dari belakang.
Aku pun menoleh kebelakang.
"Kau tidak apa-apa, Dik?" tanya wanita yang menepuk pundaku. Wanita itu sangat cantik. Ia tersenyum kepadaku.
"A-aku tidak apa-apa, Mba," jawabku berbohong.
"Aku Rahma." Wanita cantik itu pun tersenyum sambil mengulurkan tangannya padaku.
Aku pun bangkit dari duduk dan membalas uluran tangannya.
"Aku Mahira," jawabku.
"Kau sedang mencari pekerjaan, Mahira?" tanyanya saat kami sudah berjabat tangan.
Aku pun mengangguk ragu.
"Kau mau menjadi pengasuh anakku?" tanyanya lagi.
"Mbak, apa Mba percaya padaku. Aku kehilangan kartu identitasku. Aku tak punya jaminan apa pun untuk ku berikan ...." perkataanku terputus saat Mba Rahma mengusap lembut pundakku.
"Aku percaya padamu," jawab mba Rahma.
"Kalau begitu ayo ikut aku, kita pulang ke rumahku," ucap mba Rahma sambil menarik tanganku. Aku merasa pernah melihat Mba Rahma, Mencoba mengingat-ngingatnya, tapi, tetap saja aku tak ingat.
Setelah sampai di rumah mba Rahma. Mba Rahma memperkenalkan ku pada suaminya dan kepada putrinya yang bernama Dita.
Dita sangat cantik, umurnya baru saja menginjak 5 tahun. Tak terasa aku sudah satu tahun bekerja menjadi pengasuh Dita, semua berjalan normal pada awalnya. Aku sangat menikamati peranku sebagai pengasuh. Terlebih lagi Dita anak yang manis dan penurut. Aku pun mulai menyayanginya.
Saat aku sedang menyuapi Dita, telpon rumah berdering. Betapa terkejutnya aku saat mendapat telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Mba Rahma sedang di rawat.
Semua berkumpul di rumah sakit. Aku heran, kenapa aku harus ikut ke rumah sakit sedangkan Dita dititipkan pada Art dirumah.
Saat sedang bergelut dengan pikiranku sendiri. Perawat memanggil namaku dan nama mas Gani.
"Sayang, kenapa kau tak jujur pada Mas. Kenapa kau menyembunyikan dan menanggung semua ini sendiri," ucap mas Gani sambil menggenggam tangan mba Rahma.
Mba Rahma pun ikut menangis. Mba Rahma menderita leukimia dan merahasiakannya dari semua orang.
"Mas!" panggil mba Rahma.
"Ya, Sayang."
"Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Mas?" tanya mba Rahma penuh harap.
"Katakan, Sayang. Mas akan mengabulkan keinginanmu."
"Janji?"
Mas Gani pun tersenyum dan mengangguk.
"Aku mohon, menikahlah dengan Mahira."
Bagai tersambar petir di siang bolong. Aku sangat terkejut dengan permintaan mba Rahma. Bagaimana bisa dia memintaku menjadi madunya. Tidak, aku tidak mau. Dalam hati aku bertekad untuk menolak keinginannya.
"Sayang, apa maksudmu. Tidak! Sampai kapan pun aku tak akan menikahinya," jawab mas Gani. Tiba-tiba mas Gani menatapku sedikit sinis. Mungkin dia menyangka aku senang dengan tawaran mba Rahma.
Seminggu kamudian.
Selama seminggu. Mas Gani sama sekali tak menyapaku. Dia yang biasa bertanya tentang yang dilakukan Dita padaku mendadak membuang muka jika bertemu denganku di rumah atau saat aku menemani mba Rahma di rumah sakit.
Dan setelah seminggu berlalu, Mba Rahma kembali memanggil kami. Aku sudah akan menyiapkan jawaban untuk mba Rahma yang mengingingkan aku menikah dengan mas Gani. Tentu saja aku akan menjawab, Tidak! Aku tidak mau menikah dengan mas Gani.
Namun, betap terkejutnya aku saat melihat kondisi mba Rahma yang ....
Bab 2
Bab 2 diluar kuasaku
Saat aku masuk kedalam ruangan mba Rahma, aku dibuat terkejut dengan kondisi mba Rahma.
Tubuh Mba Rahma menempel alat-alat medis. Rupanya kondisi Mba Rahma sudah semakin parah.
"Mahira, kemarilah!" titah ibu dari mba Rahma yang bernama bu Hilda.
Aku pun dengan ragu mendekat ke arah mba Rahma. Sempat aku Melirik kearah mas Gani. Namun, lagi-lagi mas Gani menatapku dengan sinis hingga membuatku buru-buru memalingkan tatapanku kearah lain.
"Mahira!" panggil mba Rahma sambil terbatas-bata.
"Iya, Mba. Aku disini," jawabku sambil menggenggam tangan mba Rahma. Air mataku jatuh seketika saat melihat kondisi mba Mahira, terlihat jelas dia sedang menahan sakit.
"Mas!" panggil mba Rahma pada mas Gani.
Mas Gani pun mendekat. "Ya, sayang."
"Mas, aku mohon penuhi keinginanku. Menikahlah dengan Mahira! Demi Dita dan anggap ini menjadi permohonan ter'akhir ku," ucap mba Rahma.
Mendengar ucapan mba Rahma, aku melepas genggamanku dari tangan mba Rahma.
"Maaf, Mba. Aku tak bisa. Aku tak bisa menikah dengan ...." perkataanku terputus saat bu Hilda menyentuh lembut pundakku.
Mata bu Hilda berkaca-kaca, aku bisa melihat dengan jelas dia melihatku dengan tatapan memohon.
"Baiklah, Sayang. Jika itu mau mu, aku akan menikahi Mahira," ucap mas Gani. Aku membelalakan mata mendengar ucapan mas Gani, kenapa dia mengambil keputusan seenaknya.
Mba Rahma tersenyum. "Menikahlah, hari ini juga, Mas!" titah mba Rahma.
Mba Rahma tau aku seorang yatim piatu, jadi mas Gani cukup menghadirkan wali hakim saja untukku.
"Tapi, Mba ...." ucapanku terhenti saat mas Gani menatap tajam padaku. Seketika lidahku kelu, aku langsung menunduk tak berani lagi membantah.
Setelah mas Gani menyiapkan semuanya, sore harinya kami menikah di depan mba Rahma. Dengan satu kali tarikan napas, aku telah resmi menjadi istri mas Gani.
Semua yang berada di ruangan menangis saat kami melakukan ijab kabul. Termasuk mas Gani. Ia menangis sambil menatap mba Rahma, dari cara mas Gani menatap mba Rahma, aku bisa melihat bahwa mas Gani sangat mencintai mba Rahma.
Satu jam setelah kami melakukan ijab qobul, mba Rahma yang sedang menggenggam tangan mas Gani tiba- tiba memejamkan matanya, genggaman tanganya pun terlepas dan membuat mas Gani panik.
Bu Hilda dengan cepat memanggil dokter untuk memeriksa mba Rahma dan setelah Dokter memeriksa mba Rahma, mba Rahma dinyatakan meninggal dunia.
Tangis kami pecah saat mengetahui bahwa mba Rahma sudah berpulang. Mas Gani terus memeluk jasad mba Rahma yang terbaring di brankar.
Setelah kematian mba Rahma, mas Gani menjadi sosok yang sangat dingin dan tak tersentuh. Ia bahkan mengabaikan Dita putrinya, mas Gani bahkan tak pernah pergi lagi kerumah sakit dia hanya mengurung dirinya di kamar.
Dua bulan setelah kematian mba Rahma, mas Gani pulang dalam kondisi mabuk, aku yang sedang membuat susu untuk Dita di dapur terhenyak kaget saat tiba-tiba mas Gani menarik tanganku dengan kasar, dia menyeretku ke kamar, dan malam itu, mas Gani meminta haknya dengan kasar dan dalam pengaruh alkohol.
Aku hanya bisa pasrah saat dia melakukannya, dia bahkan tak memerdulikanku yang sudah menangis memohon agar dia menghentikannya.
Keesokan harinya mas Gani bersikap seolah tidak ada yang terjadi, dia tetap bersikap datar dan acuh.
Satu bulan kemudian, aku memberanikan diri untuk membeli tespack, walaupun aku baru telat 3 hari, aku memberanikan diri membeli tespack dan benar saja aku hamil.
Aku bahagia, sangat bahagia. Aku pikir, mas Gani akan berubah karena aku mengandung anaknya. Namun aku salah, dia malah bereaksi datar, dia hanya meminta aku pindah kekamarnya karena selama ini aku selalu tidur di kamar Dita.
Flashback off
Dan kini usia kandunganku menginjak 5 bulan dan aku merasa cukup lelah menghadapi sikap dingin mas Gani, bolehkah aku menyerah, Ya Allah.
Seseorang masuk ke kamar membuyarkan lamunanku.
"Bunda!" Panggil Dita, dia berjalan menghampiriku sambil membawa segelas susu hamil yang telah aku seduh tapi aku lupa meminumnya. Aku bersyukur memiliki anak tiri sebaik dan semanis Dita dia bisa menjadi penyemangatku dan aku juga menyayanginya.
"Terimakasih, Sayang," ucapku sambil mengambil gelas yang dita pegang.
"Bunda, apa aku boleh ikut memeriksa dede bayi kerumah sakit?" Tanya dita.
"Kau mau ikut, Sayang?"
Dita pun mengangguk antusias.
"Tapi, Bunda bukan pergi kerumah sakit tempat ayah praktek Sayang."
Mendengar ucapanku, Dita terlihat murung. Aku tau, Dita ingin ikut denganku karena ingin melihat ayahnya.
Walaupun sikap mas Gani sudah seperti semula pada Dita, tapi tetap saja ada yang berbeda dari sikapnya ketika masih ada mendiang mba Rahma dan itu membuat Dita merasa kehilangan juga sosok ayahnya.
Mas dia anakmu. Bisakah kau lebih memerhatikannya. Aku membatin dalam hati saat melihat Dita tertunduk.
Bab 3 kenapa kau tega, Mas?
Aku tau, Dita masih kecewa. Memang semenjak aku mengandung sikap mas Gani pada dita pun sudah kembali seperti semula. namun walaupun begitu, tetap saja ada perbedaan sikap mas Gani pada Dita ketika ada mba Rahma dan saat mba Rahma telah tiada.
Ingin aku menegur mas Gani dan meminta mas Gani untuk lebih memerhatikan Dita. Namun sayang, aku tak punya keberanian untuk mengatakannya.
"Dita, bagaimana jika setelah memeriksa dede bayi kita pergi ke taman untuk membeli ice cream," ucapku pada Dita yang masih menunduk.
Mendengar ucapanku, seketika Dita mengangkat kepalanya.
"Bolehkan aku memakan ice cream Bunda?" tanyanya. Gadis kecil yang bulan depan akan genap berusia 6 tahun itu tampak bersemengat ketika mendengar kata ice cream.
Itu sebabnya Dita amat bersemangat kala aku mengajaknya makan ice cream.
"Tapi, hanya satu kali ini saja oke kau makan ice cream," ucapku.
Dita pun tersenyum dan mengangguk.
Saat siang hari, aku dam Dita sudah bersiap untuk pergi kerumah sakit. Karena kali ini aku mengajak Dita, aku pun memesan taxi online.
30 menit kemudian, kami pun tiba di rumah sakit harapan Bunda.
Aku pun segera berjalan kearah pendaftaran, sedangkan Dita duduk di kursi tunggu di belakangku.
"Maaf, Sus. Apa dokter Sarah sudah datang?" tanyaku pada suster yang sedang duduk dimeja pendaftaran.
"Dokter Sarah sudah tidak praktek di sini, Bu. Beliau digantikan oleh dokter Gani," jawab si suster tersebut.
Deg.
Jantungku berpacu lebih cepat saat suster menyebutkan dokter Gani. Aku menggeleng samar, tak mungkin dokter Gani yang suster sebutkan adalah mas Gani suamiku.
Tapi, karena aku terlanjur penasaran aku pun memutuskan pada suster tentang dokter Gani.
"Maaf, Sus. Apa Suster tau dokter Sarah pindajl ke rumah sakit mana?" tanyaku berbasa-basi. Tentu saja aku tak bisa menanyakan dokter Gani secara terang-terangan.
"Dokter Sarah sudah pindah keluar negeri bersama suaminya, Bu. Tapi ibu tenang saja, dokter Gani pun sama bagusnya dengan dokter Sarah," jawab suster tersebut sambil tersenyum.
"Oh jadi, dokter Gani baru, ya, Sus praktek di rumah sakit ini ?" tanyaku senatural mungkin.
"Ia, Bu. Selain praktik di rumah sakit ini, dokter Gani pun praktik di rumah sakit Mitra Keluarga."
Deg.
Mendengar suster menyebutkan nama rumah sakit Mitra keluarga, aku terpaku.
Jadi benar, dokter Gani adalah mas Gani suamiku. Tidak, aku tidak boleh memeriksanya di sini aku harus mencari rumah sakit lain.
Saat aku berbalik untuk mengajak Dita pergi dan mencari rumah sakit lain, Dita yang sedang duduk langsung bangkit dari duduknya. Ketika aku ingin menghampiri Dita, Dita malah berteriak.
"Ayah!" teriak Dita saat melihat mas Gani yang sepertinya baru saja melakukan tindakan operasi.
Saat sudah didepan mas Gani, Dita langsung memeluk lutut mas Gani, terlihat jelas bahwa Dita merindukan ayahnya.
Kening mas Gani mengkerut saat melihat putrinya ada di rumah sakit. Mas Gani pun mengedarkan pandangannya kesana kemari.
Saat mas Gani melihatku, dia langsung menatap tajam padaku.
Aku yang ditatap seperti itu langsung menghampiri Dita dan mas Gani.
"Sayang, ayah sedang praktek. Kita tunggu disana, ya." Aku menunjuk kursi tunggu dan berusaha membujuk Dita agar Dita mau melepaskan pelukannya dari kaki mas Gani
Dita mendongak melihat kearah mas Gani. Tak ada senyum atau ucapan saat Dita menatapnya. Dita yang melihat ekspresi ayahnya yang datar langsung melepaskan pelukannya dari kaki mas Gani. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Dita berjalan dan duduk di kursi yang aku tunjuk tadi.
Aku pikir, mas Gani akan peka saat melihat reaksi putrinya yang pasti kecewa padanya. Namun aku salah, mas Gani malah masuk ke ruangannya tanpa membujuk atau menghampiri Dita.
Beberapa orang yang sepertinya sedang menunggu antrian, terlihat memperhatikan interaksi antar aku, Dita dan mas Gani.
Seketika aku merasa malu, kami bagai orang yang tak dianggap oleh mas Gani.
Mas, kamu telah mematahkan semangat dan kepercayaan diri putrimu sendiri. Kenapa kau tega, Mas?
Aku pun berjalan menghampiri Dita dan duduk di sebelahnya.
"Dita!" panggilku lirih.
Dita menangkat kepalanya dan menatapku.
"Ayo kita pergi, Sayang," ucapku pada Dita.
Bab 4 emosi Gani
Author POV.
Author POV.
"Tapi, bunda, kan, belum di periksa oleh ayah?" Tanyanya polos saat Mahira mengajaknya pergi.
Mahira tersenyum sambil mengelus rambut anak tirinya.
"Di sini terlalu banyak pasien yang mengantri untuk diperiksa ayah, jika kita menunggu, mungkin akan selesai sore dan dan kita tak akan sempat untuk makan ice cream di taman, jadi bagaimana jika kita memeriksa dede bayi di klinik dekat taman," jawab Mahira. Dia teringat ada klinik di dekat taman. Karena tak mungkin pergi kerumah sakit lain, Mahira pun memutuskan untuk memeriksa kandungannya ke klinik dekat taman saja.
Mendengar kata ice cream, Dita kembali bersemangat. "Ayo, Bun. Kita kesana." Dengan antusias Dita bangkit dari duduknya disusul Mahira yang juga ikut bangkit dari duduknya.
Mereka pun bergandengan tangan dan keluar dari rumah sakit.
°°°
Dan kini, Mahira dan Dita sudah duduk di kursi taman, mereka sedang menunggu ice cream pesanan Dita tiba. Sebelum ke taman, Mahira terlebih dulu singgah di klinik dan memeriksa kandungannya.
Alangkah bahagianya Mahira saat dokter mengatakan bahwa jenis kelamin calon anaknya adalah lelaki. Seandainya saja Gani menganggap Mahira dan calon anaknya, tentu saja kebahagiaan Mahira semakin bertambah. Ah, bahkan hanya sekedar membayangkannya saja Mahira tak berani.
Setelah cukup lama mereka duduk di taman sambil menikmati ice cream, Mahira pun memutuskan untuk mengajak Dita pulang.
"Bunda, sebelum pulang, bolehkah aku memesan satu cup lagi?"pinta Dita dengan wajah memelas.
Tak tega melarangnya, Mahira pun mengijinkannya. "Hanya untuk kali ini saja, oke."
Dita pun tersenyum sumringah dan mengangguk. Mereka pun kembali memesan satu cup ice cream.
Saat sudah selesai, Mahira dan Dita pun berdiri di dekat pintu keluar taman. Kini, mereka sedang menunggu taxi online yang dipesan oleh Mahira.
Sebelum taxi online pesanan Mahira tiba, sebuah mobil berhenti tak jauh dari mereka berdiri dan ternyata itu adalah mobil Gani.
Gani turun dari mobilnya dan menghampiri Dita dan Mahira. Rupanya, saat Gani akan pulang kerumah, dia melihat anak dan istirnya. Dia pun memutuskan untuk mengajak mereka pulang bersama.
Saat sudah mendekat, Gani mendadak emosi saat melihat putrinya memegang cup berisi ice cream.
"Kenapa kau memberi putriku ice cream!" Bentak Gani pada Mahira.
Mahira dan Dita yang sedang melihat kearah lain tak menyadari kehadiran Gani.
Mendengar bentakan Gani, sontak Mahira dan Dita pun langsung menoleh kearah Gani. Bahkan beberapa orang yang sedang melewat sempat memperhatikan Gani yang sedang emosi.
Wajah Mahira berubah menjadi pucat pasi saat melihat Gani yang emosi.
"Mas-mas," ucap Mahira terbata-bata.
Tanpa menjawab panggilan Mahira, Gani maju kedekat Dita. Dengan kasar, Gani merebut cup ice cream di tangan Gita membuangnya ke tanah.
"A-ayah," ucap Dita terbata-bata. Terlihat jelas Dita sangat ketakutan saat melihat reaksi Gani.
Saat Dita ingin bersembunyi di balik tubuh Mahira, Gani langsung menarik tangan Dita dengan kasar dan berjalan menuju mobil.
Mahira yang panik langsung mengikuti langkah Gani yang sedang menarik tangan Dita.
Saat Gani dan Dita sudah menaiki mobil, Mahira pun dengan segera menarik handle pintu mobil. Namun sayang, Gani sudah menguncinya dari dalam. Tanpa perasaan, Gani menjalankan mobil meninggalkan Mahira.
Enaknya Gani di apain ya Mak? 🤣🤣
Bab 5 Bab 5 cukup, Mas. Baik aku menyerah
Saat mobil Gani sudah pergi, beruntung taxi yang online yang dipesan Mahira datang.
Mahira pun dengan cepat naik ke mobil, dia menyuruh supir menjalankan mobilnya dengan cepat.
Di dalam mobil, Mahira merasa sangat gelisah. Dia meremas tangannya, tubuhnya mengeluarkan keringat dingin, Mahira sungguh takut Gani akan melukai Dita. Tanpa Mahira sadari, obat dan Vitamin yang dia bawa terjatuh dari tasnya.
Setelah sampai dan membayar taxi online, Mahira dengan cepat turun dari mobilnya. Dia berjalan setengah berlari, dia mengabaikan kondisinya yang sedang mengandung.
Saat dia sudah masuk, dia melihat Dita sedang duduk di sofa sambil menangis sesegukan, sedangkan mas Gani berdiri di depan Dita dengan berkacak pinggang.
"Mas!" Teriak Mahira saat Gani sepertinya akan membuka mulut untuk memarahi Duta.
Mendengar suara Mahira, Dita buru-buru bangkit dari duduknya dan langsung berlari menghampiri Mahira. Dengan celat, Dita bersembunyi di belakang tubuh Mahira karena masih takut oleh Gani.
"Dita, kau pergi ke kamar dulu, ya, Nak. Bunda akan bicara pada ayah," ucap Mahira sambil mengelus rambut Dita.
Dita mengangguk dan menghapus air matanya, lalu dengan cepat berlari ke kamar.
Setelah Dita pergi ke kamar, Mahira pun berjalan mendekat ke arah Gani.
"Mas, aku yang salah. Jangan memarahi Dita," ucap Mahira.
Gani menatap tajam Mahira, terlihat jelas amarah Gani masih berkobar.
"Apa kau lupa siapa kau di rumah ini, berani sekali kau memberinya makanan yang selama ini aku larang." Gani berteriak emosi di depan Mahira.
Deg
Mendengar ucapan Gani, Mahira yang menunduk langsung mendongak menatap Gani.
"Ma-maksudmu, Mas?" Tanya Mahira terbata-bata.
"Jangan pernah bermimpi untuk mengganggikan posisi Rahma di rumah ini. Jangan lupakan kamu hanyalah seorang pengasuh bagi anakku satu-satunya." Setelah mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi Mahira, Gani pun melangkahkan kakinya dan berlalu pergi dari hadapan Mahira.
"Apa anak dalam kandunganku bukan anakmu, Mas," ucap Mahira. Dia tak bisa menahan air mata saat Gani secara langsung tak mengakui anak yang ada dalam kandungannya.
Gani yang baru melangkah beberapa langkah langsung berbalik badan dan menatap Mahira dengan tatapan sinis.
"Kehadiramu dan anakmu hanya sebuah kesalahan, jangan pernah bermimpi untuk mendapatkan pengakuan dariku." Gani pun kembali berbalik dan meneruskan langkahnya untuk keluar dari rumah.
Bagai dihantam godam, tubuhnya merosot kebawah. Mahira tau, Gani tak menganggapnya ada. Tapi, Mahira tak menyangka Gani juga tak mengakui calon anak mereka.
Mahira memukul-mukul dadanya merasakan sesak yang amat luar biasa. Tangisan itu terdengar saat pilu.
"Astaghfirullah, Mahira!" Teriak bi Karti yang tak lain adalah Art di rumah Gani. Bi karti terkejut saat melihat Mahiran sedang duduk di lantai sambil menangis. Bi karti pun menghampiri Mahira dan berjongkok lalu memeluk Mahira.
"Apa salahku bi ... Apa salahku pada mas Gani. Kenapa dia selalu jahat kepadaku di- dia juga tak menga ...." Mahira tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya. Rasanya terlalu sakit saat ucapan Gani terngiang-ngiang di otaknya saat Gani berkata bahwa Dia terus menangis di pelukan bi karti.
Bi karti pun ikut menitihkan air mata saat melihat Mahira yang terlihat sangat terpukul
Dia terus mengelus punggung Mahira dan membiarkan Mahira puas menumpahkan tangisannya.
"Percayalah, Mahira. Semua pasti akan baik-baik saja," ucap bi Karti sambil terus mengelus punggung Mahira.
Saat Mahira sudah sedikit tenang, bi Karti pun membantu Mahira untuk berdiri.
Mahiria berjalan gontai saat memasuki kamarnya. Saat masuk, matanya langsung tertuju pada foto mendiang Rahma.
Mahira pun berjalan kearah din-ding tempat foto Mahira di pajang.
"Mba, aku harap mba bisa melihatku dari atas sana. Maafkan, aku mba ... Maafkan aku. Aku tak bisa lagi melanjutkan keinginanku, aku tak bisa lagi menemani Dita dan mendampinginya. Aku lelah, mba. Kini saatnya aku menyerah," ucap Mahira sambil terisak.
Sedangkan Gani.
Setelah keluar dari rumah, Gani menaiki mobilnya. Dia berteriak sambil memukul kemudi. Ada sedikit penyesalan di diri Gani saat bersikap menyakiti Mahira. Namun penyesalan itu tertutup oleh egonya hingga dia membenarkan sikapnya pada Mahira