
"Sayang, apa kau mempunyai tugas?" tanya Keinya ketika Lila memeluknya.
"Ya mamih. Aku besok akan berbicara dalam bahasa Rusia. Dan aku harus menghapalnya sekarang," Jawab Lila. tangannya dari tadi terus mengelus-ngelus perut Keinya.
"Mamih aku akan belajar sekarang." Lila pun melepaskan pelukannya.
"Baiklah. Mamih akan mengirim cemilan dan jus ke kamarmu."
"Terimakasih mamih," jawab Lila sambil mengecup pipi Keinya.
▪▪▪▪
"Ya ampun papih kau mengagetkan ku," ucap Keinya saat sedang menyiapkan cemilan untuk Lila dan Bram memeluknya dari belakang.
"Kau sedang membuat apa sayang?" tanya Bram yang menghampiri Keinya di dapur.
"Aku membuat cemilan untuk Lila."
"Biar aku yang mengantarkannya." Bram melepaskan pelukannya dan menunggu Keinya selesai menyiapkan cemilannya.
"Terimakasih papih," ucap Keinya ketika Bram akan melangkah.
"Sama-sama mamih." Bram mencium pipi Keinya sebelum melangkahkan kakinya.
.
.
.
"Lila!" panggil Bram saat masuk ke kemar Lila dia melihat Lila sedang duduk di meja belajarnya.
"Ya papih," sahut Lila tanpa menoleh ke arsh Bram.
"Kemarilah sayang!" titah Bram yang sudah duduk di sofa kamar Lila.
"Ada apa papih?" tanya Lila. Lila pun menghampiri Bram yang sudah duduk di sofa.
Tanpa menjawab pertanyaan Lila, Bram langsung membawa Lila kepelukannya.
"Pa-papih ada apa?" tanya Lila. Mata gadis kecil itu berkaca-kaca. Sudah sejak lama Bram tak memeluknya. Dan semenjak Lila tau bahwa dia bukan anak kandung Bram, Lila tak berani untuk bermanja pada Bram, gadis kecil itu sangat malu jika mengingat Bram bukan ayah kandungnya. Dan dia lebih memilih bermanjaan dengan Keinya. Dan semenjak dia tau Bram bukan ayah kandungnya. Dia tak berani merengek untuk apapun karna gadis kecil itu selalu ketakutan jika dia di buang oleh Bram. Dia memendam semuanya sendiri Dia selalu merasa ketakutan jika suatu saat dia akan di buang oleh Bram dan Keinya.
"Tidak apa-apa. Rasanya papih sudah lama tak memelukmu," ucap Bram satu tangannya mengelus rambut Lila. "Lila boleh papih bicara?" Bram pun melepaskan pelukannya dan menatap Lila.
"Papih ingin bicara apa?" tanya Lila sambil menunduk. Dia sedang menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Maafkan papih ya ..." Sebelum Bram melanjutkan kalimatnya Lila sudah terlebih dulu memotong ucapannya.
"Papih kenapa meminta maaf, apa papih akan meninggalkanku seperti mamih Tya." Ucap Lila yang salah paham atas ucapan Bram. Dia sudah tak sanggup menahan tangisannya.
Mendengar ucapan Bram, Lila langsung memeluk Bram erat menumpahkan tangis pilu yang selama ini dia pendam sendiri.
▪▪▪▪▪▪
"Sayang, hari ini istirahatlah tak perlu ikut kekantor bersamaku," ucap Bram pada Keinya yang sedang menata sarapan di dapur.
"Tapi." Keinya mengerucutkan bibirnya karna Bram tak mengijinkannya ikut.
"Aku akan cepat pulang sayang," jawab Bram meyakinkan. Jika Keinya ikut dengannya bisa-bisa rencana yang disusun Bram bisa gagal total.
Keinya pun terpaksa menuruti Bram.
Saat sedang menonton tv. ponsel Keinya berdering. Ada notipikasi dari kartu yang dipakai Bram. Keinya mengernyit heran ketika dia melihat suaminya membeli satu set perhiasan dengan harga fantastis. Tapi kemudian Keinya tersenyum dia berpikir Bram membelikannya untuk dirinya.
Dengan semangat dia pergi ke dapur untuk membuat masakan kesukaan suaminya.
Waktu terus berjalan dia terus menunggu hingga waktu suaminya tiba. Jam pulang kantor sudah lewat. Dia terus menghubungi Bram namun sama sekali tak ada jawaban.
Hingga pukul 9 malam Bram baru tiba di Apartemen mereka.
"Hubby, kenapa kau baru pulang?" tanya Keinya saat Bram melepaskan sepatunya.
"Sayang, aku lembur. Banyak sekali pekerjaan di kantor," jawab Bram berbohong. Dia pun langsung meninggalkan Keinya yang diam mematung karna suaminya melewatinya begitu saja.
"Hubby, aku sudah memasakan makanan kesukaanmu," ucap Keinya saat menyusul Bram masuk ke kamar.
"Aku sudah makan malam di kantor, aku akan langsung mandi dan tidur," jawab Bram sambil berlalu kekamar mandi.
Deg
Deg
Deg
Keinya merasakan nyeri di hatinya. Ini pertama kalinya Bram mengacuhkan dirinya. Keinya langsung memeriksa tas kerja Bram untuk melihat perhiasan yang dibeli suaminya. Namun sayang dia tak menemukan apapun.
"untuk siapa dia membeli perhiasan" ucap Keinya dalam hatinya.
Tak mau bersalah sangka, dia memutuskan untuk pergi ke dapur membuat teh hijau untuk suaminya dan melihat Lila di kamarnya.
Ketika Keinya masuk lagi kedalam kamar membawa teh hijau. Dia melihat Bram sudah tertidur ingin rasanya dia membangunkan suaminya dan bertanya ada apa dengan sikap suaminya yang berubah. Namun dia memutuskan untuk bertanya besok.
Saat pagi hari, ketika Keinya bangun dia tak menemukan suaminya di sisinya.
gays jadi nanti Keinya tuh salah paham sama Bram, Keinya mergokin Bram di hotel. padahal Bram tuh ke hotel buat ngurus pesta ulang tahun buat Keinya sekalian dia mau ngadain resepsi tapi Keinya nya malah keburu ngambek 😂😂 alamat didieumin lagi hahaha