Uncle Bram

Uncle Bram
68



" Br-Bram!" Tya histeris saat kaki dan tangan nya terikat, dia meliha Bram sedang tersenyum devil kepadanya.


" Bagaimana rasanya dikurung begini?"


"Bram, kenapa kau melakukan ini padaku?" tanya Tya dengan berlinang air mata. Tya dibius oleh anak buah Bram saat dia memarkirkan mobil nya di basemen Apartemennya.


" Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sejak dulu."Bram menjawab dengan santai, dia memasukan kedua tangannya kedalam saku celananya dan menatap Tya dengan tajam.


" Kau lihat ini Tya ?" Bram menendang tulang manusia yang ada didepannya.


"Ini adalah tulang manusia yang pernah menculik istriku, dan cepat atau lambat kau akan menemani dia disini." Bram berjongkok di hadapan Tya. Dia memegang kedua pipi Tya dengan kasar.


"Aku sudah memberimu kesempatan untuk pergi tanpa masalah, tapi kau malah datang dengan masalah baru, harus nya aku melakukan ini dari dulu."


"Bram, kumohon lepaskan aku, aku minta maaf. Aku berjanji takan mengganggumu lagi. kumohon Bram." Tya memohon dengan berlinang air mata. dan baru kali ini dia melihat Bram begitu menakutkan.


"Kau akan tetap disini, tak akan ada yang menolong mu disini. nikmatilah hari mu sebelum kau seperti tulang ini."


Bram pun keluar dari gudang, meninggalkan Tya yang menjerit memanggil namanya. Bram membawa Tya ke gudang tempat dulu Keinya di culik. Gudang itu memang sudah di kunci oleh austin, tapi Austin memberikannya pada Aska. Dan sebelum Aska pulang lagi ke Indonesia dia memberi tau Bram bahwa Zaid di kurung oleh mertuanya dengan keadaan mengenaskan. Dan Aska memberikan lagi kuncinya pada Bram.


➿➿➿➿


Saat berada dua hari di Apartemen Laura, Keinya sama sekali tak bisa tertidur pulas. Dan entah kenapa saat ini saat dia berada di Apartemennya sendiri, dia bisa tidur nyenyak setelah dia menumpahkan kekesalannya pada suaminya.


"Lila!" . keinya terbangun saat dia merasa ada seseorang yang mengipas-ngipas kakinya. Dan ternyata Lila lah yang melakukanmya.


"Ma-maaf mamih aku tak bermaksud membangunkanmu." Lila menjawab dengan menuduk. Sejujurnya dia takut dimarahi oleh Keinya, karna dia tau bahwa dia lah penyebab Bram memarahi Keinya. Namun saat dia melihat Keinya tertidur dia memberanikan diri untuk masuk ke kamarnya. Saat dia akan keluar dia meliahat kaki Keinya yang melepuh. Dan dia ber'inisiatif untuk mengipasinya agar Keinya tak merasaka perih.


"Kemarilah sayang!" Keinya tau bahwa Lila sedang ketakutan. Dan sejujurnya saja Keinya tak pernah menyalahkan Lila, semenjak dia menikah dengan Bram dia sudah menyayangi Lila dan menganggapnya seperti putrinya sendiri."


" Mamih maafkan aku, karna aku papih memarahi mamih," ucap lila saat menghampiri Keinya dan dia sama sekali tak berani menatap Keinya.


" Sayang, kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri, papih tidak memarahi mamih. Kami baik-baik saja." Keinya mengelus rambut Lila dengan penuh kasih sayang.


" Sayang luka ini bukan karna papih. Mamih yang ceroboh." Keinya tak mungkin memberi tau semua pada Lila. dia tak mungkin membiarkan Lila membenci Bram. Dia berpikir jika masalah rumah tangganya cukup dia dan suaminya saja yang tau.


" Mamih boleh aku memelukmu?"


" Kemarilah!" Keinya menepuk sisi sebelah nya, menyuruh Lila untuk duduk disisinya. Kemudian Lila memeluk pinggang Keinya.


" Kau sudah makan siang sayang?"


" Mamih aku belum lapar."


" Kau menginap dirumah aunty zoya kemarin"?


" Ya mamih, tadi aku meminta aunty Zoya untuk mengantarkanku kesini."


"Ini sudah lebih dari jam makan siang, bagaimana jika kita memesan sesuatu."


"Mamih aku ingin Pizza, Bisakah kita memesannya?"


"Baiklah, kita akan memesannya." Keinya pun memesan Pizza untuk makan siang nya bersama Lila.


Saat pizza mereka tiba, Keinya dan Lila dengan semangat memakannya di meja makan. Namun tak lama pintu terbuka dan Bram lah yang masuk.


" mamih aku kenyang.Aku akan belajar di kamar. "ucap Lila saat melihat Bram. Lila masih takut untuk bertemu Bram hingga saat Bram masuk dia memutuskan untuk pergi kekamarnya, padahal Lila baru saja memakan pizza setengah potong.


begitupun Keinya. Saat Lila pergi kekamar nya dia pun meninggalkan meja makan. Dia masih sangat muak untuk melihat wajah suaminya.


Sedangkan Bram dia hanya bisa menghela napas saat melihat anak dan istrinya mengacuhkannya dia sendiri tak tau kapan istri dan anaknya bisa memafkannya.


Bram...


guys up lagi malem ya aku lagi bikin kueh 🤣🤣