Uncle Bram

Uncle Bram
Extra part 5



Setelah mndapat ijin dari Keinya, gadis kecil itu keluar dari kamar mamihnya  untuk meminta ijin pada papihnya.


Dia berjalan dengan semangat menghampiri Bram yang sedang bermain bersam kedua adiknya.


"papih!" panggil Lila dari arah belakang.


bram menoleh, "Ada apa, Lila?"


Lila mendekat kearah Bram, dia sedikit ragu untuk mengatakannya karna memang selalu susah bila meminta ijin Bram. "Em ... papih, bolehkah aku bermain kerumah teman ku?"


"Kenapa kau harus bermain kerumah temanmu, jika kau bosan ayo kita bermain keluar bersama mamih," Jawab Bram yang enggan memberi ijin.


Lila menggeleng, "Papih aku ingin main bersama teman ku, aku ingin mengenal mereka lebih dekat. Tapi jika papih tidak mengijinkan ku, aku tak akan pergi," kata Lila dengan memaksakan senyumnya, padahal jelas-jelas dia ingin sekali bermain bersama teman barunya. "Aku akan kembali kekamar untuk belajar," kata Lila lagi, gadis kecil itu berusaha untuk tidak menampakan kekecewaanya.


Bram menghela napas kasar, sebagai seorang ayah dia merasa ada yang beda dengan putrinya apalagi setelah mereka tingga di indonesia. Lila tak Lagi berani membantah atau merengek, bahkan terkesan jika putrinya sedang menyembunyikan sesuatu.


Lamunannya buyar ketika istrinya menghampirinya, "Kau memberi ijin pada Lila untuk pergi?" tanya Keinya sambil menaruh Tania dalam pangkuannya, sedangkan Vania sedang asik bersama mainannya.


Bram menggeleng, "Aku tak mengijinkannya, aku  tak akan tenang jika LIla bermain diluar," jawab Bram yang memang selalu khawatir jika putrinya jauh dari pengawasannya.


"Ijinkan saja, biar aku yang menemaninya, dia butuh suasana baru , papih," ucap Keinya yang kasihan karna terlihat betul bahwa putrinya begitu bersemangat saat meminta ijin darinya.


"Kau tidak keberatan, sayang?"


"Mana mungkin aku keberatan menemani putri ku, aku akan menyusulnya kekamar." Keinya pun menaruh Tania dipangkuan suaminya. Dia bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Lila.


"Lila!" panggil Keinya.


Lila yang sedang duduk di meja belajar melihat kearah Keinya, "Ya, mamih?"


"ayo, bersiap, bukankah kau ingin main kerumah teman mu!" titah Keinya.


Lila menggeleng, Aku, tak jadi pergi mamih, papih tak megijinkan ku," balas Lila dengan memaksakan senyumnya.


"Mamih hitung sampai 3, jika kau memang benar-benar tak ingin pergi."


Blum Keinya menghitung, Lila sudah bangkit dari duduknya, "Tunggu sebentar mamih, aku akan bersiap." Lila berkata dengan semangat, dan Keinya  terkekeh geli saat melihat putrinya.


waktu berlalu begitu cepat, dan hari ini tepat si kembar berusia 4 tahun.


Beberapa hari lalu, Keinya melepaskan alat kontrasepsinya tanpa sepengetauan Bram.


Tak lama, pintu kamar terbuaka dan Bram lah yang masuk, Bram tersenyum saat melihat istrinya sedang berdiri dan hanya memakai lingerie.


"Sudah lama menunggu ku?" tanya Bram sambi memeluk Keinya dari belakang.


Keinya berbalik, dia berjinjit untuk mencium bibir suaminya. "Biar aku yang memimpin," ucap keinya dengan mendorong tubuh suaminya sampai Bram telentang di kasur.


sebelum Bram berucap, Keinya sudah terlebih dulu menutup mulut suaminya dengan mulutnya.


Mereka larut dengan kenikmatan, Keinya yang sedang memimpin diatas suaminya semakin bersemangat apalagi melihat suaminya yang sepertinya akan mencapai puncak.


Saat Keinya lengah, Bram dengan cepat mengulingkan Keinya, hingga kini dia berada diatas, dan sebelum Keinya melayangkan protesnya, Bram mencabut miliknya dan menumpahkannga diluar.


"ke-kenapa kau menumpahkannya diluar?" tanya Keinya dengan sebal dia langsung berbalik memunggungi suaminya. Padahal ini masa suburnya dan jika rencananya berhasil pasti dia akan cepat-cepat mengandung.


Bram memeluk Keinya dari belakang, sambil sesekali mengecup bahu istrinya.


"Kenapa kau tak memberitau ku, jika kau sudah melepas alat kontrasepsimu? bukan kah aku sudah bilang bahwa aku tak mengijinkannya."


Keinya langsung berbalik melihat suaminya. "Ka-kau tau, aku melepaskannya?" tanya Keinya terbata-bata. "Dari mana kau tau?"


Bram mengelus rambut istrinya dengan penuh kasih sayang. "Beri aku alasan kenapa kau sangat ingin mengandung kembali?"


Keinya menunduk, "A-aku takut, kau akan meninggalkan ku jika aku tak bisa memberimu anak lelaki."


Bram langsung tergelak mendengar ucapan istrinya. "Sayang, kenapa kau berpikir aku akan meninggalkanmu."


"Di novel yang ku baca, seorang lelaki akan mudah bosan, dan aku tak mau kau bosan pada ku dan meninggalkanku hanya karna aku tak bisa memberi mu anak lelaki," ucap Keinya dengan polosnya, selama ini tanpa sepengetahuan Bram, dia sering mencari tau hal yang berkaitan dengan lelaki.


"Aku mendapatkan mu saja sudah seperti mendapatkan harta yang tak ternilai, lalu kenapa aku harus membuang harta yang sangat berarti, untukku. Jangan pernah berpikiram begitu lagi, aku tak akan pernah mengijinkan mu untuk tersakiti lagi, karna mengandung anak-anaku. 3 putri saja sudah cukup." Bram membawa Keinya kedalam pelukannya.


"Ta-tapi ..."


"Tidurlah, atau aku akan menyerangmu lagi," jawab Bram dengan tergelak.