TREE ANGLES

TREE ANGLES
Chapter 97



Karen melewati pintu masuk kediaman keluarganya dengan ritme langkah yang jauh dari kata santai,isi pesan yang dirinya dapatkan dari sang papa beberapa saat setelah pulang sekolah tadi membuat kepalanya langsung mendidih.Karen tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran papanya itu,bisa bisanya dengan seenak jidat melanggar kesepakatan yang telah dibuat dengannya.


Oleh sebab itu dengan berbekal salinan peringkat dan nilai yang diumumkan disekolah hari ini,pemuda itu langsung bergegas pulang kerumah untuk menemui papanya.


"Karen kamu pulang nak?"seorang wanita paruh baya datang menghampiri pemuda itu,dia adalah maminya Karen.


"Papa ada dimana?"tanya Karen tanpa menghiraukan pertanyaan maminya.


"Papamu ada diruangan kerjanya sekarang.Apa ada masalah?"tanya sang mami melihat api kemarahaan didepan didalam bola mata putranya itu.


Namun Karen tak menyaut,pemuda itu berlalu melewati sang mami tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan padanya.Fokusnya kini hanya untuk menemui sang papa dan menanyakan isi otak laki laki itu kini.


Karen membuka pintu dengan kasar kemudian menutupnya,anak pertama tuan Sanjaya itu langsung melempar kertas yang dibawa tadi keatas meja sang papa dengan keras.


Tuan Sanjaya menatap kertas berisi salingan peringkat sekolah Galaxy yang dilempar oleh putranya ke atas meja kerja miliknya dengan tenang, tidak ada keterkejutan sedikitpun yang terukir pada wajah laki laki paruh baya itu.Dengan santai dan tenang kini tuan Sanjawa melepas kaca mata kerjanya lalu menaruhnya diatas meja dengan perlahan.


"Apakah kamu sudah kehilangan tatakrama mu kepada orang tua, Karendra?"tanya pengusaha sukses itu dengan tenang dan penuh wibawa pada sang putra.


"Apakah tatakrama masih diperlukan diberlakukan kepada seseorang yang telah melanggar kesepakatan dengan putranya sendiri?"tanya balik Karen.


Tuan Sanjaya menatap sang putra yang kini nampak berdiri kokoh dihadapannya dengan tangan mengepal dan juga tatapan yang terdapat percikan api didalamnya


"Tak ada kesepakatan yang papa langgar padamu"ujar tuan Sanjaya.


"Tentu ada!"Karen sudah tak peduli dengan nada bicaranya yang meninggi.


"Benarkah?kalau begitu coba jelaskan apa itu?"pinta tuan Wijaya dengan tenang.


"Papa sudah berjanji akan memberikan kebebasan padaku untuk menentukan siapa yang inginku jadikan pasangan jika aku berhasil meraih posisi pertama,berhasil mengalahkan Rara.


Tapi...,"Karen menjeda kalimatnya mencoba untuk menekan emosinya


"Tapi apa maksud pesan yang papa kirimkan tadi,perjodohan?yang benar saja!Papa melanggarnya!"lanjut Karen menggebu gebu,deru nafas pemuda itu terdengar tak beraturan.


"Saya tak melanggar apapun"ujar tuan Sanjaya masih dengan mempertahankan ketenangan yang sama,tangan kanannya meraih kertas yang kertas yang dibawa sang putra sulung.Sedangkan Karen sudah semakin memanas mendengar dan melihat reaksi sang papa.


"Papa memang berjanji untuk memberikanmu kebebasan itu jika kamu berhasil mengalahkan Rara...,"tuan Sanjaya bangkit dari tempat duduknya lalu bergerak mengambil posisi tepat didepan sang putra"Tapi apakah kamu bisa mengalahkannya?jawabannya tidak Karendra"lanjutnya.


"Apa maksud papa,apa papa sudah buta sehingga tak bisa melihat nama siapa yang tertera diangka nomor satu didaftar itu?! Itu namaku,bukan nama Rara!"ujar Karen.


Tuan Sanjaya melempar daftar peringakat itu ke wajah sang putra,


Karen langsung spontan menutup kedua bola matanya sebagai reaksi tindakan papanya itu.


Tapi kamu pikir angka satu itu akan selalu berarti membuatmu menjadi pemenang Karendra?jawabannya TIDAK!"


ujar tuan Sanjaya.


"Hanya 6 angka?hanya itu jarak yang bisa kau buat dan kamu sudah merasa sebagai pemenang Karendra?!angka 6 bahkan tidak diciptakan olehmu, melainkan lawanmu!KEMENANGANMU KALI INI HANYA TERCIPTA DARI SEBUAH RASA KASIHAN DARI LAWANMU!"ujar tuan Sanjaya Keras.


"Apa maksud papa?"tanya Karen tak mengerti,nyali pemuda itu juga nampak mulai menurun karena melihat sang papa yang mulai menunjukkan taji amarah.Hal itu dapat dilihat dari Karen yang mulai sering menunduk menatap kebawah ketimbang menatap langsung papanya seperti tadi.


"Kamu tahu,kemarin sore papa pergi mengunjungi Galaxy dan saat hendak pulang kami tak sengaja bertemu.


Bukan,bukan tak sengaja bertemu melainkan papa yakin kalau Ara memang sengaja menciptakan pertemuan itu"ujar tuan Sanjaya mulai menceritakan pertemuannya kemarin dengan gadis remaja disore hari di Galaxy.


Kaget dan sedikit tak percaya,itu adalah hal pertama yang Karen rasakan saat mendengar perkataan papanya itu.


"Papa berbohong,tak mungkin Ara mau bersedia menemuimu.Bahkan menatapku saat tak sengaja bertatapan saja,dia sudah sangat tak suka!"


"Kamu bisa mengecek rekaman CCTV di area koridor yang menuju langsung kearah parkiran khusus tamu sekolah jika ada.Dan kamu tau Karendra,apa yang gadis itu katakan pada saya?" Tuan Sanjaya menatap putra sulungnya itu tajam.


"Dia berkata kalau ujian kali ini hanya pemanasan,dia bahkan belum BERJALAN atau bahkan BERLARI!ini hanya peringatan!itu sama artinya kau hanya dibiarkan untuk menang dahulu Karen,jadi sama artinya itu bukan sebuah kemenangan"lanjut tuan Wijaya.


"Dan papa percaya begitu saja?Bagaiaman jika Ara hanya menggertak?"Karen menatap sang papa.


Huf...tuan Sanjaya menghela nafas lalu berbalik dan kembali duduk dikursi kebesarannya diruangan itu.


"Sayangnya Ara tak sepertimu putraku,dia tak pernah dilahirkan sebagai pecundang.Gadis itu bahkan berani menatap papamu ini dengan tatapan penuh kepercayaan diri bagi seorang pemenang"ujar tuan Sanjaya pada Karen.


"Tapi aku juga dilahirkan sebagai seorang pemenang,pa"ujar Karen yang tak pernah suka bagaimana papanya memuji dan mengagumi gadis itu.


"Sayangnya papa masih belum mendapat bukti untuk pernyataanmu itu Karen.


Sekarang keluarlah,bersiap untuk acara pertemuan keluarga nanti malam"


"Tap..."Karen hendak membantah namun perkataan lanjutan sang papa langsung membuatnya berakhir kembali sebagai seorang Karen yang penurut.


"Terima perjodohan ini,atau papa tidak akan menepati janji untuk tetap menanggung penuh biaya sekolah putri pemilik toko roti kecil itu"


"Baik pa"


Bagaimanapun teguhnya dirinya,Karen akan selalu berakhir sebagai boneka penurut dari papanya sendiri seperti yang julukan yang diberikan oleh Keyra padanya.


*Maaf Nia*batin pemuda itu sendu.