TREE ANGLES

TREE ANGLES
Chapter 89



Kring...Kring...Kring...bel petanda akhir waktu ujian untuk hari kedua telah berbunyi,murid murid langsung merasa gelisah ditempat masing masing.


"Oke Anak Anak,Kumpulkan Harap Tinggalkan Ruang Ujian Sekarang. Lembar Jawaban Dan Soal Antar Kedepan,Dua Menit atau tak diterima"


ujar pengawas ujian dengan tegas, yang membuat beberapa murid semakin panik.


Satu persatu dari murid murid itu akhirnya beranjak dari tempat masing masing lalu maju kedepan untuk mengumpul lembar jawaban dan soal milik mereka kemudian langsung berjalan keluar dari kelas,termasuk didalamnya Abel dan Rona.


Luar kelas_


"Heh,sekarang kasih tau gue gimana cara lo nyimpan kertas contekan yang aman dan lolos dari pantauan pengawas"bisik Abel kepada Rona,


tentu ia tak mau ada yang mendengar percakapan ini.


"Tada"Rona langsung membuka lipatan kertas yang sejak tadi dia pegang.


Abel mengambil alih kertas kecil itu lalu mencoba memperhatikannya dengan seksama,kemudian melihat kearah Rona kembali.


"Ini cuma gambar not balok doang, trus ada kode angka angkanya"ujar Abel.


"Itu bagi lo yang gak ngerti aja,bagi gue ini menjadi bantuan yang lumayan biar gak dapet nilai nol nanti"ujar Rona.


"Gue beneran gak paham...,"Abel sambil langsung menyerahkan kertas itu kembali kepada Rona"Tapi gak masalah,gue juga kebantu.Btw besok sampai seterusnya kita kerja sama aja ya"lanjutnya.


"Boleh itu mah,demi gak ada angka nol dilaporan nilai kita nanti.Kita harus saling mendukung"ujar Rona. Keduanya-pun langsung berjalan berangkulan menuju kekantin untuk mengisi perut setelah setengah hari berhadapan dengan soal ujian.


Skip__


Karen turun dari sebuah mobil sport miliknya yang baru saja terparkir didepan sebuah gedung perusahaan, pemuda itu menghirup dan menghembus nafas pelan kemudian langsung melangkah memasuki area lobi.


Pemuda itu tak perlu basa basi menghampiri meja resepsionis,ia langsung saja menuju kearah lift dan memasukinya.Karen menekan angka lantai teratas gedung itu,lantai dimana ruangan papanya berada.


Ting...


Pintu lift terbuka,Karen keluar dari dalam sana lalu langsung menuju keruangan sang papa yang letaknya tak jauh dari lift itu.


"Masuk"


Karen memutar knop pintu perlahan kemudian mulai melangkah masuk kedalam ruangan papanya.Saat ia masuk kedalam ruangan itu,Karen bisa melihat papanya yang kini duduk dibalik meja kerja atau lebih tepatnya duduk dikursi kekuasaan laki laki itu.


"Duduk"


Karen tanpa bersuara langsung duduk dikursi yang ada dihadapan papanya.


"Ada apa papa memanggilku kesini?" tanya Karen langsung keintinya tanpa basa basi terlebih dahulu.


"Saya memanggil kamu kesini hanya untuk memberitahumu sebuah peringatan Karen"ujar tuan Sanjaya, papanya Karen.


"Peringatan?"Karen.


"Ya.Peringatan tentang konsekuensi hasil UTS mu kelak"Tuan sanjaya.


"Hasilnya akan bagus pa,aku janji. Jadi tak akan ada konsekuensinya, aku akan mendapatkan nomor satu, mengalahkan Tania dan Kevin"ujar Karen dengan tatapan yakin kepada papanya.


Namun tuan Sanjaya langsung terkekeh mendengar keyakinan dalam perkataan putranya sulungnya itu.


"Papa kali ini tak peduli jika kali ini kamu bisa mengalahkan mereka Karen...,"tuan Sanjaya menatap mata kedua putrinya"Tapi kamu harus bisa mengalahkannya Karen"lanjut laki laki paruh baya itu kepada sang putra.


"Maksud papa?Jangan bilang kalau..."


Karen tak perlu menyelesaikan pertanyaannya,karena sang papa telah mengangguk terlebih dahulu untuk membenarkan dugaannya.


"Kalahkan dia Karen.Menanglah kali ini!Jangan terus menjadi pihak yang kalah jika berhadapan dengannya!Buktikan keberadaanmu dihadapan papa"tuan Wijaya mengatakan itu semua penuh penekanan.


"B-baik pa,akan Karen lakukan"ujar Karen mencoba seyakin mungkin,meski selalu ada keraguan dan pesimis didalam hatinya saat harus bertarung menjadi yang terbaik dengan sosok yang dimaksud papanya itu.


"Jangan kecewakan papa kali ini Karen.Karena jika sampai,ucapkan selamat tinggal kepada gadismu dan juga kebebasan yang selama ini kamu miliki"