TREE ANGLES

TREE ANGLES
Chapter 56



Wanita itu membuka pintu mobil Keyra bagian depan kemudian masuk kedalam dan duduk tepat disebelah Keyra yang berada dikursi pengemudi,tentunya tak lupa memakai sabuk pengaman.


Keyra melirik wanita yang duduk disebelah nya itu memastikan apakah sudah memakai sabuk pengaman atau belum,setelah memastikan barulah gadis itu mulai menyalakan mobilnya dan mulai melaju meninggalkan tempat itu.


Sepanjang perjalanan,tidak ada suara percakapan ataupun sebatas interaksi kecil apapun yang terjadi diantara kedua perempuan berbeda usia didalam mobil yang terus melaju menelusuri jalanan itu.


Gadis muda yang hanya diam terfokus menatap jalanan didepan dengan tangan yang sigap mengendalikan kemudi mobil,


Sedangakan wanita paruh baya yang duduk disebelahnya juga tampak diam saja menatap kedepan dengan sesekali melirik kearah yang lebih muda dengan sudut penglihatan.


Wanita paruh baya yang diberi oleh Keyra tumpangan saat ini itu sebenarnya sempat berniat untuk mengajak gadis SMA itu mengobrol,namun ada perasaan segan,tidak enak,sekaligus takut didalam hati wanita itu.


Ini bukanlah kali pertama ia mengenal gadis muda yang tengah fokus menyetir itu meski mungkin ini adalah pertama kalinya mereka bisa berinteraksi dan berada sedekat ini satu sama lain,namun wajah yang cukup familiar serta nama yang juga sering terucap oleh orang orang terdekatnya membuat wanita paruh baya itu tahu siapa gadis muda yang menolongnya ini.


Wanita paruh baya itu lama kelamaan larut dalam pemikirannya,sehingga tak sadar kalau mobil yang tadinya berjalan sudah berhenti tepat didepan pintu gerbang sebuah kediaman yang terbilang mewah.


"Sudah sampai"ujar Keyra sambil menoleh kewanita paruh baya yang duduk disebelahnya.


"Eh ah,sudah sampai rupanya.Terimakasih sudah mengantar tante pulang"ucap Wanita paruh baya itu setelah langsung tersadar dari lamunannya.


"Sama sama"saut Keyra dengan singkat.


"Tante kira kamu sudah melupakan alamat tempat ini?Ngomong ngomong kamu mau mampir sebentar?"tanya Wanita paruh baya itu sekaligus menawarkan Keyra untuk mampir kekediamannya.


Keyra mengubah seketika mengubah arah pandangannya kembali lurus kedepan


"Bukankah hal yang paling manusia benci sering kali sulit dilupakan?Terimakasih atas tawarannya,tapi saya mungkin tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki lagi ketempat didalam gerbang itu"ujar gadis itu terdengar syarat akan emosi dan penekanan disetiap katanya.


"Maaf,kalau begitu tante pamit dulu. Terimakasih atas tumpangan dan pertolongannya"ucap wanita paruh baya itu dengan senyuman,kemudian wanita itu mulai membuka pintu mobil disisinya.


"Tunggu"pinta Keyra sesaat sebelum wanita itu sepenuhnya keluar dari dalam mobilnya, hal ini membuat wanita itu kembali menoleh kearahnya.


"Ada apa?"tanya Wanita paruh baya itu.


"Lainkali bawalah supir,jangan pergi sendirian karena berbahaya.Anda masih punya seorang putra kecil yang masih sangat memerlukan mu,itu tak bagus untuknya nanti jika benar benar terjadi sesuatu padamu"ujar Keyra dengan masih dengan arah pandangan lurus kedepan.


"Terima kasih atas pesannya nak,tante akan mengingatnya.Sampai ketemu lagi,dan semoga kamu dapat selalu bahagia kedepannya"ucap wanita paruh baya itu,sebelum akhirnya benar benar turun dari dalam mobil itu.


(Meski dengan jarak yang cukup jauh dari dalam gerbang tepatnya disalah satu balkon yang menghadap langsung kegerbang itu,terdapat seorang pemuda yang melihat mobil itu.Jarak yang cukup jauh tak membuat pemuda itu kesulitan untuk mengenali mobil serta pemilik mobil itu,pemuda itu langsung berbalik dan masuk kedalam ruangan yang kemungkian kamar yang terdapat balkon itu)


Brak...pintu mobil ditutup dengan pelan dan tanpa basa basi Keyra langsung menginjak pedal gasnya dengan cukup keras sehingga mobilnya melaju cukup cepat,satu hal dipikiran gadis itu adalah harus segera pergi menjauh dari tempat yang sejujurnya tak ingin ia hampiri lagi itu dan ia juga tak mau pikirannya berkecamuk lagi.


Wanita paruh baya yang tadi masih berdiri didepan gerbang menatap mobil yang melaju cepat itu hingga tak terlihat oleh penglihatannya lagi.


*Putri kalian sudah tumbuh menjadi gadis yang cantik,namun sepertinya ia masih sangat terluka*batin wanita itu beralih menatap langit sejenak,sebelum akhirnya dirinya berbalik dan berjalan menuju kearah pintu gerbang yang sudah dibuka oleh sesuatu.


"Selamat datang Nyonya Sanjaya"


"Hm ya"


"Maaf nyonya,tapi kenapa nyonya diantar oleh seseorang?bukankah tadi nyonya pergi menggunakan mobil nyonya?"


"Mobil saya tadi bannya bocor dijalan,jadi harus dibawa kebengkel.Beruntung ada gadis baik hati yang menolong saya"


"Begitu nyonya,seharusnya salah satu dari kami ikut saja tadi.Tapi saya senang nyonya tidak apa apa"


"Baik Nyonya,tapi nyonya akan berjalan?bagaimana kalau saya panggil rekan saya untuk mengantar anda sampi teras ugama?"


"Tidak perlu,jarak gerbang dan teras utama tidak begitu jauh.Jadi saya jalan saja,permisi"


"Silahkan nyonya"


Beberapa telah menit berlalu...


Wanita paruh baya itu sudah memasuki ruangan depan kediamannya dengan rasa kelelahan yang cukup karena harus berjalan dengan jarak cukup jauh.


Tap...Tap...Tap....seseorang terlihat menuruni tangga didepannya,seorang pemuda yang merupakan putra sulungnya.


"Loh kamu ada dirumah Karen,kapan pulangnya nak?"tanya Wanita paruh baya itu dengan lembut kepada pemuda yang menuruni tangga itu.


"Tadi,Karen ada barang yang tertinggal disini makanya pulang sebentar"jawab Karen.


"Begitu rupanya,padahal kamu bisa minta tolong sama salah satu orang papa kamu buat anterin keasrama biar kamu gak capek capek bolak balik"ujar mamanya Karen.


"Males ma,yang ada papa nyuruh ketemuan dulu.lagi pula sekalian Karen mau ketemu sama Reno dulu"ujar Karen.


"Ooh gitu"


"Em ngomong ngomong ma,tadi Karen gak salah liatkan?Mama dianter sama em Rara?"tanya Karen sedikit ragu.


"Eh kamu tahu dari mana,kamu pasti lihat dari balkon ya?"ujar mamanya Karen terlihat agak kaget bagaimana putranya itu bisa tahu,Karen mengangguk mengiyakan.


"Emang bener tadi mama dianter sama Rara,mobil mama bannya bocor dijalan dan untung Rara mau nolongin mama nelpon orang bengkel sekalian nganterin mama kesini"ujar mamanya Karen.


"Rara-mau kesini?"tanya Karen,entahlah tapi wajah cowok itu terlihat tak percaya.


"Nganterin sampai depan gerbang mau,tapi pas mama ajak mampir langsung ditolak"jawab mamanya Karen.


"Gitu ya,berarti masih gak mau"gumam Karen pelan tapi masih bisa didengar sang mama.


Mamanya Karen tersenyum tipis dan langsung mengusap kepala putra sulungnya itu pelan saat mendengar suara sendu dari Karen.


"Masih belum berani bicara dengan Rara?"tanyanya.


Karen mendongak menatap mamanya dengan tatapan yang sedikit berkaca kaca


"Bagaimana aku bisa mengajaknya bicara ma, Rara saja selalu menatapku dengan tatapan penuh kebencian.Belum lagi sifat seperti tak saling mengenal yang ia tunjukkan"ujar Karen.


"Kalau gitu bersabarlah,jangan memaksanya.


Biarkan Rara terbiasa kembali kamu berada disekiranya"ujar Nyonya Sanjaya.


"Baiklah"saut Karen.


"Kalau begitu aku pamit kembali keasrama dulu ma,takut kemalaman sampai sananya" pamit pemuda itu.


"Ya,hati hati dijalan dan jaga kesehatanmu" pesan sang mama mengingatkan.