TREE ANGLES

TREE ANGLES
Chapter 32



"Dan pertahankan semua nilai mu itu atau kalau perlu tingkatkan,jangan jadikan alasan penggabungan sekolah sebagai alasan tidak ada peningkatan dalam nilai mu.Mereka semua tidak ada apa apanya dibanding kamu,fokus mengalahkan teman asal sekolahmu saja"lanjut tuan Sanjaya.


"Baik pa"jawab Karen.


"Tugas selanjutnya akan papa kirim nanti lewat email jadi usahakan untuk bisa lebih baik dan cepat mengerjakannya,dan tentu jangan lupa untuk tetap belajar dengan keras,


sekarang kamu boleh pergi"ujar tuan Sanjaya pada Karen putranya.


"Baiklah pa Karen akan berusaha,kalau begitu karen permisi"pamit Karen meninggalkan ruang kerja papanya itu.


Setelah putranya meninggalkan ruang kerjanya,tuan Sanjaya kembali bergelut pada kerjaannya.


Karen menghela nafasnya setelah keluar dari ruang kerja sang papa,ia melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu hendak pergi ke kamarnya.Saat sampai didekat tangga ia melihat seorang wanita yang sedang menemani seorang anak laki laki yang baru berusia tiga tahunan bermain di dekat sofa tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.


Karen pun langsung mengurungkan niatnya yang hendak ke kamarnya dan memilih untuk menghampiri perempuan dan anak kecil itu.


"Kalen"ujar anak kecil itu dengan nada cadel khas anak kecil,saat melihat kehadiran Karen.


"Eh Karen,kamu kapan pulang?"tanya wanita yang ada didekat anak kecil itu,terlihat sedikit kaget dengan keberadaan Karen disana.


Karen bergerak duduk disebelah wanita yang bertanya padanya itu kemudian berkata


"Pagi tadi ma,sekitar jam sembilan sampai sini.Mama sama Ren sendiri dari mana,kok karen baru liat?"ujar Karen menjawab pertanyaan wanita yang ternyata adalah mamanya kemudian baru bertanya balik.


"Oh pantesan mama sama Reno gak ada disini pas kamu pulang,soalnya mama pagi pagi tadi udah pergi antar adik kamu buat cek kesehatan rutin mingguannya dan sekarang baru pulang"jelas sang mama pada Karen.


Karen mengangguk sekilas kemudian mengusap pucuk kepala sang adik laki laki dengan lembut


"Gimana hasilnya?"tanyanya


"Hasil pemeriksaan adik mu sehat sehat saja,bahkan kata dokter tadi adikmu ini terlihat lebih gemuk dari minggu kemarin"jawab sang mama.


"Kenapa papa tidak mengantar kalian?"tanya Karen sambil menatap mamanya.


"Papamu sedang sibuk dan banyak pekerjaan yang harus dia lakukan,jadi tidak bisa mengantar mama dan adikmu"jawab mamanya Karen.


"Kebiasaan pria sialan itu gak berubah sama sekali"gumam Karen pelan terdengar kesal.


"Jangan seperti itu Karen,bagaimanapun dia itu papamu"ujar sang mama menasehati Karen,ternyata mamanya masih bisa mendengar gumaman nya yang pelan itu.


"Memang meski sulit untuk mengakui hal itu,jadi mama sama Ren pergi diantar supir?"tanya Karen


"Enggak mama nyetir sendiri,soalnya supir yang biasanya mengantar mama kemana mana sedang cuti"jawab mamanya Karen.


Karen yang mendengar hal itu langsung tambah merasa kesal dengan pria yang ia temui tadi diruang kerja,siapa lagi kalau bukan sang papa.


"Lain kali kalau tidak ada supir yang bisa mengantar mama dan Ren untuk pergi pemeriksaan kesehatan ataupun papa juga tak bisa,jangan pergi dan menyetir sendiri tunggu Karen pulang dulu biar Karen saja yang mengantar kalian"ujar Karen pada mamanya.


"Kalau Karen bilang jangan ya jangan,itu sangat berbahaya apalagi Ren masih sangat kecil untuk dibiarkan duduk sendiri di bangku penumpang"balas Karen tak menerima kalau mamanya menolak ucapannya.


"Baiklah kalau begitu,mama akan menunggumu pulang dulu"ujar mamanya Karen.


"Ngomong ngomong bagaimana suasana baru sekolahmu?"lanjut mamanya Karen bertanya soal sekolah sang putra.


"Baik dan cukup menarik"jawab Karen


"Mama tau kalau papamu pasti meminta mu untuk belajar terus menerus baik dalam urusan pelajaran sekolah maupun belajar mengenai perusahaan,tapi ingat jangan terlalu kelelahan dan usahakan untuk tetap cukup istirahat"ujar mamanya Karen memberi pesan pada putra bungsunya itu.


"Karen tau ma,jadi tak usah khawatir"saut Karen.


"Ingat kamu itu masih SMA dan tentunya masih remaja.Jadi tetap nikmati kehidupan remaja kamu walau hanya sedikit,jangan terus terus berkas berkas saja yang diurus nanti kamu malah jadi seperti papamu itu.Padahal hartanya saja sudah banyak cukup buat tujuh turunan mungkin tapi masih tetap gila kerja saja bahkan saat hari libur seperti ini"ujar sang mama masih lanjut menasehati Karen.


"Iya ma,Karen paham"saut Karen


"Baguslah kalau kamu paham,sekarang mending kamu ke kamar kamu gih,istirahat mumpung hari libur"suruh sang mama pada Karen.


"kalau gitu Karen pamit ke kamar dulu,Bai adik kakak"ujar Karen pamit ke kamarnya pada sang mama dan adiknya,kemudian bangkit dari posisinya berjalan kembali kearah tangga dan mulai menaiki satu persatu anak tangga tersebut.


"Mama kasian sama kamu Karen,bukan cuma sama kamu aja tapi sama kalian.Karena kesalahan dan keegoisan papa kamu dimasa lalu,kamu sama dia harus hidup kayak gini"gumam mamanya Karen dengan sangat pelan dan terdengar lirih sambil menatap punggung sang putra sulung yang mulai tak menjauh menaiki tangga menuju lantai atas.


Wanita itu langsung mengingat satu sosok perempuan yang dulu selalu hadir di samping Karen dan sangat dekat dengan Karen bahkan jauh lebih dekat dibanding dirinya dengan sang putra sulungnya itu.Tpi sekarang keduanya malah terlihat sangat jauh seperti tak pernah saling kenal dan bahkan perempuan itu berbalik menjadi sangat membenci keluarganya terutama terhadap putra sulung dan suaminya.


Disisi lain Karen memasuki kamar tidurnya dan kemudian mengunci pintu kamar itu agar tidak ada yang bisa masuk sembarangan atau mengganggunya,Remaja cowok itu langsung membaringkan tubuhnya secara telentang di atas kasur tempat tidurnya.


"Istirahat sebentar mungkin tak masalah" gumamnya pada diri sendiri.


Karen termenung sambil menatap kosong kearah langit langit kamarnya,ia memejamkan matanya mengingat ingat potongan potongan memori kenangan miliknya dengan seseorang yang sangat dekat dengannya dimasa lalu dan itu masih terekam jelas di kepalanya dan gak mungkin ia lupakan begitu saja terutama wajah gadis itu.


"Kak Rendra harus tetap sama aku ya,jangan tinggalin aku sendirian"pinta seseorang yang satu tahun lebih muda darinya.


"Tentu saja,Rendra janji bakal selalu ada buat Rara"jawab dirinya diwaktu itu.


"Mau janji sama aku?"tanya gadis itu sambil mengangkat jari kelingking,meminta dirinya di masa lalu berjanji.


"Tentu saja mau,seorang Rendra bakal bakal berjanji"ujarnya dengan penuh keyakinan dan optimisme kuat.


Setelah itu ia dan gadis itu berpelukan erat sambil menyalurkan rasa sayang masing masing.


Karen kembali membuka matanya,memutus ingatan itu karena ia sendiri masih tak kuat untuk mengulang ingatan itu lebih jauh lagi saat ini.


"Dulu gue begitu sok optimisnya memberi janji sama kamu,tapi akhirnya gue malah jadi pecundang yang gak pernah ingin kamu ingat Ra"ujar Karen sambil tersenyum getir dicampur perasaan miris pada dirinya sendiri.