TREE ANGLES

TREE ANGLES
Chapter 66



"Jauhin tangan lo dari gue dan stop panggil gue kayak gitu"ujar Keyra.


"Dih dih gitu amat lo sama gue,lagian lo duluan barusan panggil gue pangeran kecil jadi apa salahnya?"saut Gery.


"Salah banget!"balas Keyra sengit.


Tuan Galeo menggelengkan kepala dan tersenyum maklum,sudah biasa baginya melihat perdebatan kedua remaja didepannya ini.


"Kalian ini,ayah kira kalian bakal lebih akur karena sudah satu sekolah dan malahan sekelas.Ternyata tidak,masih sama saja"ujar laki laki paruh baya itu.


"Baiklah silahkan lanjutkan pertengkaran kalian sampai kalian berdua lelah,ayah harus menuju keaula pertemuan sekarang"pamit tuan Galeo kepada kedua remaja yang entah mendengar jelas perkataannya karena sekarang malah sibuk berdebat.


Tanpa menghiraukan keduanya,tuan Galeo itu melangkah maju kedepan mendekati sekumopulan murid lain yang tadi dirinya lihat berjalan beriringan dengan Gery dan Keyra.


"Kalian semua pasti teman teman kedua anak kesayangan saya itukan,saya mengenali beberapa wajah kalian?"tanya tuan Galeo, yang dimaksudnya tentunya adalah Gery dan Keyra.


"Iya Tuan"


mereka semua-Keyra dan Gery menjawab kompak.


"Saya benar ternyata,saya minta maaf sekalian meminta kalian untuk memaklumi sifat dua anak dibelakang saya ya.Mereka memang sering ribut seperti itu sejak tumbuh remaja,padahal waktu kecil mereka lebih mirip sebagai sepasang kekasih jika dilihat lihat dahulu"ujar tuan Gelio,sedangkan teman temannya Gery-Keyra hanya mengangguk mendengar fakta itu.


"Tapi setidaknya nak Kevin ada diantara kalian,jadi jika keributan yang mereka timbulkan diluar kendali.Kevin bisa menjadi penegah yang ampuh sekali,bukankah begitu nak Kevin?"ujar tuan Gelio kepada Kevin,membuat yang lain sontak langsung melihat kearah Kevin.


"Ya tuan"jawab Kevin singkat dan dingin seperti biasa.


"Hahaha...sifatmu tak berubah sejak pertama kali bertemu dengan saya,tapi tak apa itu bangus untuk mengimbangi siputri kecil"ujar tuan Gelio sedikit terkekeh diawal.


Tuan Gelio berniat untuk berpamitan dari sana namun belum sempat ia mengeluarkan kata berpamitan lagi dari mulutnya,matanya tak sengaja menangkap sesosok pemuda yang sudah sangat jarang bisa dirinya temui.


Entah Kenapa tapi Karen terlihat gugup dan takut saat tuan Gelio melangkah menghampirinya,terlebih setelah salah satu tangan laki laki paruh baya yang sangat ia kenali itu menyentuh pundaknya yang membuat dia menundukkan kepala.


"Ah..akhirnya setelah cukup lama tak bertemu,akhirnya saya bisa bertemu denganmu lagi nak.Bagaimana kabarmu?" ucap tuan Gelio nampak sangat senang.


Gery dan Keyra yang tadinya tampak asik sendiri langsung berhenti dan seketika langsung melihat kearah tempat dimana ayahnya Gery dan Karen berdiri,keduanya menatap dengan maksud tatapan berbeda.


Karen memberanikan diri mendongak kedepan setelah mendengar perkataan yang terdengar bahagia dari ayahnya Gery


"Ka-kabar saya baik tuan"jawab Karen sedikit terbata bata diawal.


"No,jangan panggil tuan.Panggil saya seperti biasa kamu memanggil Papi,Rendra ah tidak maksud Papi adalah Karen"ujar Tuan Gelio meralat perkataannya diakhir.


"Kabar Karen baik pi"ujar Karen mengulangi jawabannya,namun kali ini panggilan tuan diganti dengan kata Pi(Papi).


"Nah itu lebih bagus"ucap tuan Gelio.


"Huf...sebenarnya papi masih ingin bicara banyak hal denganmu,tapi sepertinya waktu papi mulai terbatas.Jadi sampai jumpa lagi nak"ujar tuan Gelio lalu memeluk Karen singkat.


"Maaf"gumam Karen berbisik pelan saat ayahnya Gery memeluknya.


"Tak perlu minta maaf nak,itu bukan sepenuhnya salahmu"balas Tuan Gelio sambil berbisik pelan pula.


"Mari semuanya,saya permisi dulu"pamit tuan Gelio lagi kepada semuanya kemudian beliau benar benar melangkah menjauh dan kemudian masuk kesalah satu pintu yang merupakan pintu masuk aula pertemuan.


Hening seperkian detik sempat tercipta disana sepeninggal tuan Gelio,sebelum akhirnya salah satu dari mereka mulai bicara untuk mengajak semuanya melanjutkan langkah menuju gedung asrama.