
"Kakak nggak pernah melakukan itu, Ay. Kita hanya melakukan make out saja." jawaban Bryan membuat semua orang semakin bingung. Lalu, Bryan mengingat suatu kejadian disaat mereka tengah mengunjungi teman Bryan.
"Lalu siapa, Bry?" tanya Arya yang juga penasaran.
Bryan memilih diam. Dia menunggu Casandra untuk segera siuman. Lalu mempertanyakan baik-baik pada Casandra, siapa sebenarnya ayah dari anak yang tengah dikandungnya sekarang.
Selang beberapa menit, Casandra mulai mengerjapkan matanya. Dia sedikit bingung, kenapa semua orang menatapnya dengan tatapan yang berbeda-beda. Terutama tatapan Bryan.
"Ada apa, Beib?" tanya Casandra tidak mengerti dengan situasi saat ini.
Bryan menghela napasnya. Mengatur emosinya agara tidak meluap pada Casandra. Meski ingin memaki Casandra dengan kata-kata kasar, namun Bryan berpikir itu hal yang sia-sia untuk dilakukan. Karena semua sudah terlanjur terjadi pada Casandra.
Sakit memang mengetahui orang yang kita cintai, kita jaga dengan sepenuh hati. Bahkan menekan hasrat kita pada pasangan kita, namun pada akhirnya dia berakhir dengan orang lain.
Bryan mencoba bersikap dewasa saat ini. Mencoba menerima apa yang sudah digariskan pada cerita cinta mereka.
Bahkan Bryan sudah menyiapkan dirinya, jika kalau memang perjalanan cinta mereka cukup sampai di sini.
Bryan tidak mau bersikap kasar pada Casandra. Di samping dia adalah seorang perempuan, biar bagaimanapun Casandra pernah mengisi hari-harinya menjadi lebih indah dan penuh warna.
"Katakan sejujurnya, Cas. Sebelum aku kembali pada kehidupanku yang lalu," lirih Bryan menatap Casandra dengan sebuah tatapan kekecewaan yang teramat dalam.
"Maksud kamu apa, Beib?" Casandra masih belum mengerti arah pembicaraan mereka. Sementara yang lain diam dan menyimak. Tidak mau terlalu mencampuri permasalahan yang tengah di hadapi oleh Bryan dan Casandra.
"Katakan siapa dia?" kata Bryan.
Yang Bryan inginkan saat ini adalah Casandra berkata jujur padanya dan menceritakan semuanya. Dengan begitu dia bisa menerima Casandra dan juga bayi yang tengah di kandung kekasihnya itu.
Casandra diam, memikirkan apa maksud pertanyaan dari Bryan. Lama termenung, Casandra mukai mengerti apa yang diinginkan Bryan ketika dia mengingat bagaimana dirinya bisa berpindah ke sofa ini.
Bahkan Casandra tidak mampu untuk menatap wajah Bryan yang masih meminta penjelasan darinya. Dia tidak cukup berani mengatakan siapa ayah dari anak yang ada di rahimnya.
"Katakan saja, Cas. Kita bisa merawatnya bersama," pinta Bryan menatap sendu Casandra. Dan itu semakin membuat Casandra bersalah pada Bryan.
"Tidak bisa, Bry. Kita sudah tidak bisa bersama lagi."
Sakit, itulah yang dirasakan Casandra saat ini. Sangat berat baginya memutuskan hubungannya dengan Bryan. Mereka telah melalui masa-masa suka dan duka bersama. Bahkan Bryan lah orang yang telah menyelamatkan dirinya dari rumah bordir.
"Aku akan menerima anak ini, Cas. Kita bisa hidup bahagia bertiga." Bryan masih tetap pada keiinginan nya. Membuat Dirga yang berada di sana merasa bangga dengan anak angkatnya tersebut. Bryan lebih memilih mengesampingkan egonya daripada menghakimi kekasihnya. Demi keluarga yang bahagia seperti impiannya.
"Tidak bisa, Bry!" ucap Casandra seraya menepis pelan tangan Bryan yang tengah menggenggam tangannya.
"Kenapa, Cas! Kenapa?" teriak Bryan yang tidak berhasil meluluhkan hati kekasihnya.
"Karena aku kotor, Bry! Aku wanita hina. Aku tidak pantas bersanding denganmu, Bry. Kau bisa mencari wanita yang lebih baik lagi." ucap Casandra berderai air mata. Dia tidak bisa menahan emosinya lebih lama lagi. Dia tidak mampu melihat Bryan semakin tersakiti karena kesalahan yang dia lakukan. Casandra lebih memilih mundur, dan membawa rasa cintanya pada Bryan ke tempat yang jauh, kelak.
Setelah mengatakan itu, Casandra mengecup lembut bibir Bryan di hadapan semua orang. Lalu beranjak dari duduknya dan melangkah menuju pintu keluar.
Namun, sebelum dirinya benar-benar keluar dari rumah keluarga Natakusuma, Casandra menoleh ke belakang.
"Aku mencintaimu, Bry. Hiduplah dengan baik." ucap Casandra tersenyum manis kepada Bryan. Lalu dia benar-benar meninggalkan Bryan.
Semua yang ada di sana tidak berani berkomentar. Bahkan Shakki dan Ayumna yang terkenal cerewet di keluarganya, hanya bisa meneteskan air mata melihat kepergian Casandra. Mereka tau, ini semua juga berat untuk Casandra.
"CASANDRA....!!!" teriak Bryan terdengar begitu pilu.
Kenapa aku sendiri juga mewek saat menulis part ini😭