
Nafas Langit terasa tercekat saat mendengar kabar dari Franky tentang keadaan Ayumna, istrinya. Dia langsung meninggalkan kliennya begitu saja. Dan pergi menuju rumah sakit yang terdekat dari tempat terjadinya kecelakaan tersebut.
Langit mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh. Pikiran dan perasaannya tidak karuan saat ini.
"Bertahan lah, Sayang. Kamu pasti kuat. Demi anak kita, demi keluarga kecil kita," lirih Langit. Tanpa disadari air matanya pun menetes.
Langit memukul stir mobil dengan keras. Kesal dengan lalu lintas yang macet. Kepalanya keluar dari jendela mobil dan berteriak tidak jelas pada pengendara yang ada di depannya.
Sementara itu di rumah sakit, terlihat Dion tengah memeluk istrinya. Mencoba menenangkan hati sang istri yang masih terlihat syok dan terus terisak melihat keadaan menantu kesayangan mereka.
"Bagaimana keadaan menantu kita, Pa? Menantu kita pasti baik-baik saja, kan?" tanya Diana di sela isak tangisnya. Karena hingga kini dokter yang menangani Ayumna belum juga keluar dari ruangan Ayumna.
"Kita doakan saja, Ma. Semoga Ayumna dan bayinya selamat." ucap Dion berusaha menenangkan istrinya.
Sementara itu Franky jatuh tersungkur tidak jauh dari Dion dan Diana berdiri.
"Kamu apa-apaan Lang!" bentak Dion saat melihat Langit melayangkan bogemannya kepada Franky.
Langit baru saja tiba dan melihat Franky duduk di depan ruangan istrinya di rawat. Dia langsung menghadiahi Franky sebuah bogeman tanpa aba-aba terlebih dahulu. Karena merasa murka pada Franky yang tidak becus menjaga istrinya.
"Menjaga Ayumna saja tidak becus!" murka Langit pada Franky. Ia kembali melayangkan bogeman nya pada Franky, namun tangkis oleh Bryan yang juga baru datang.
Bryan memukul Langit untuk menyadarkan adik iparnya tersebut. Jika menuruti emosi, Bryan ingin sekali membunuh Langit karena tidak bisa menjamin keselamatan Ayumna.
"Kata itu harusnya aku tujukan untukmu, Lang!" ucap Bryan tenang namun penuh penekanan. Matanya menatap tajam ke arah Langit yang tengah mengusap darah di sudut bibirnya.
"Apa maksudmu, Bry?" tanya Langit.
"Aku menjaga Ayumna dengan baik, meskipun kau tidak ada disampingnya. Tapi semenjak dia aku pasrahkan padamu, kau tidak becus menjaganya." ucap Bryan. Tangannya ditahan oleh Casandra yang berada di sampingnya saat Bryan ingin melayangkan pukulan lagi pada Langit.
"Bi, hentikan. Ini di rumah sakit," bisik Casandra menahan tangan Bryan.
Bagaimana bisa dirinya akan dipisahkan dengan Ayumna. Langit tidak sanggup dan tidak siap untuk itu.
Sementara Diana mengusap lengan suaminya. Menyuruh nya untuk melerai mereka.
"Hentikan!" bentak Dion saat mereka kembali saling melayangkan pukulan. Karena tidak terima dengan kata yang diucapkan.
"Daripada kalian bertengkar di sini, lebih baik kalian pergi!" sarkas Dion dengan nada tinggi.
Bryan dan Langit menghentikan tindakan mereka. Lalu Langit menghampiri orang tuanya. Begitu pula dengan Bryan.
"Bagaimana keadaan Ayumna, Pa?" tanya Langit khawatir.
"Masih ditangani oleh dokter, Lang," jawab Diana. Karena Dion masih kesal dengan sikap Langit. "Harusnya kamu itu mendoakan istri dan calon anakmu, supaya selamat. Bukan malah berkelahi." lanjut Diana lagi.
Langit terdiam. Wajahnya menampakkan suatu kegelisahan yang amat besar. Pasalnya dokter yang menangani Ayumna belum juga keluar hampir satu jam yang lalu.
Bryan nampak lebih gelisah dari Langit. Ia tidak mau jika sampai terjadi apa-apa dengan adiknya itu. Lama terpisah, dan baru bisa berkumpul lagi setelah melalui berbagai halangan untuk bisa ada di sisi sang adik.
Tidak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan IGD. Langit dan Bryan langsung mendekat ke arah dokter tersebut.
"Bagaimana dok, keadaan istri saya?" tanya Langit begitu khawatir.
"Bagaimana dok, keadaan adik saya?" tanya Bryan kemudian.
Lelaki paruh baya itu menatap Langit dan Bryan secara bergantian. Ia menghela nafas kemudian berkata.
"Keadaan pasien....,"
Aaahhh aku tak sanggup melanjutkannya🙈🤣