
"Ju-juga a-apa, Mas? Kamu jangan aneh-aneh!" ingat Ayumna.
Namun, peringatan Ayumna tidak berarti apa-apa bagi Langit. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Membuka knop pintu dengan tangannya yang berada di bawah tubuh Ayumna. Meletakkan dengan pelan tubuh istrinya di pinggiran bathtub, lalu mengisinya dengan air hangat dan menuangkan sedikit minyak dengan aroma yang sangat harum. Mampu merilekskan pikiran yang lelah.
Setelah air penuh, Langit menyuruh Ayumna untuk berendam di dalam bathub tersebut. Ayumna pun mengikuti apa yang di perintahkan oleh suaminya. Meski rasa malu tetap menyeruak dalam dirinya, namun untuk sekarang memang ini yang di butuhkan tubuhnya. Berendam di air hangat untuk merilekskan tubuhnya yang di gempor Langit hampir semalaman.
Mengingat hal itu, wajah Ayumna kembali bersemu merah. Dan itu tak luput dari tatapan Langit yang memang belum keluar dari kamar mandi.
"Kamu keluarlah lebih dulu, Mas. Aku ingin berendam sejenak," pinta Ayumna tanpa melihat ke arah Langit. Karena kondisi Langit juga polos seperti dirinya. Bedanya, sekarang tubuhnya tertutup oleh busa sabun.
"Kita berendam bersama, Ay." tanpa permisi, Langit masuk ke dalam bathub tersebut dan duduk tepat di belakang Ayumna.
"Mas ... aku hanya ingin mandi!" Ayumna kesal dengan sikap Langit. Karena kini tangannya mulai meraba bahunya.
"Memang kita mau ngapain selain mandi?" goda Langit, "apa kamu ingin melakukan hal lebih selain mandi bersama?" bisik Langit dengan nada sensual tepat di depan telinga Ayumna.
Hembusan nafas Langit yang menyapu di permukaan telinganya, membuat jantung Ayumna berdetak kencang. Bahkan sekarang buku kuduknya berdiri serta tubuhnya menegang.
"Eengghh ... Mass ... aku capek," desah Ayumna, karena Langit menyentuh kan lidahnya ke telinga Ayumna. Sesekali menghembuskan kasar nafasnya di sana.
"Aku belum, Ay. Dan aku masih menginginkan ini," bisik Langit sembari kedua tangannya meraih dua aset kembar milik Ayumna. Eh, ralat! Milik Langit sepenuhnya.
Ayumna semakin menggelinjang tidak karuan saat jemari Langit mencubit puncak benda tersebut secara bersamaan. Suara seksinya pun kembali terdengar, dan itu memunculkan senyuman kemenangan dari bibir Langit. Karena dia berhasil meningkatkan libido istrinya.
"Kamu harus kerja, Mas. Bagaimana jika nanti kamu di pecat sama atasan kamu?" di tingkat kesadaran yang sedikit, Ayumna menyuruh Langit untuk bekerja dan ia lupa jika saat ini waktu menunjuk jam makan siang.
Langit menjeda kegiatannya sementara, ia menatap Ayumna dari arah samping. Langit tidak percaya, selama ini istrinya itu tidak mengetahui pekerjaannya. Baguslah kalau kamu tidak mengetahui pekerjaanku, Sayang. Dengan begini, aku lebih mudah menjalankan tugasku.
Setelah itu Langit mengangkat tubuh Ayumna dan membawanya di bawah shower. Langit menekan tubuh Ayumna di kaca pembatas kamar mandi tersebut. Lalu mengungkung tubuh Ayumna dari belakang. Tentu saja, apa yang di lakukan Langit sekarang membuat Ayumna kaget dan tidak percaya.
"Huustt, aku sudah minta ijin hari ini pada atasanku. Dan sekarang giliran kamu menuntaskan tugasmu." bisik Langit sembari tangannya meraba tidak tahu aturan.
Tanpa sepengetahuan Ayumna, Langit diam-diam merapalkan doa berbuka puasa. Eh, ralat! Doa sebelum menyantap Ayumna untuk kesekian kali.
Ayumna hanya bisa pasrah dengan apa yang di lakukan Langit. Bahkan, kini tubuhnya menikmati setiap sentuhan yang Langit berikan. Dan desahan demi desahan dari mulut Ayumna pun keluar memenuhi ruang kamar mandi tersebut. Tentu saja, suara Ayumna yang seksih itu semakin memicu rasa lapar Langit. Yang tidak pernah kenyang menyantap istrinya.
Mereka melakukan berbagai posisi hanya dalam hitungan tiga puluh menit. Langit merasa kasihan pada Ayumna, karena perut mereka belum terisi apapun dari semalam. Dan di hentakan terakhirnya, Langit masih sempat merapalkan doa sembari mengecup kening Ayumna yang kini berada di atas pangkuannya.
Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thaiyyibah.
Artinya: Ya Allah jadikalanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (shaleh).
Langit mengecup kening istrinya yang penuh peluh tersebut dengan begitu mesra. Di lihatnya wajah Ayumna yang kelelahan karena perbuatannya, di tambah lagi perutnya belum terisi apapun.
"Mass ... sudah, ya?" pintanya dengan tatapan sendu. Karena Langit belum juga berniat untuk melepaskan diri.
Langit tersenyum melihat Ayumna yang merengek padanya seperti anak kecil. Begitu menggemaskan sekali. Ia menyibakkan anak rambut yang menutupi sebagian wajah cantik Ayumna. Lalu mengecup bibir Ayumna sekilas. Sebelum Langit melepaskan diri, ia sekali lagi merapalkan doa tepat di atas kepala Ayumna.
Alhamdulillahilladzii khalaqa minal maa i basyaraa.
Artiya: segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air m a n i ini menjadi manusia (keturunan).
Dan setelah doa itu selesai di rapalkan, Langit melepas diri lalu mengangkat tubuh istrinya dan di bawa kembali di bawah pancuran shower.
Mereka mengakhiri kegiatan mereka yang sempat tertunda, lalu makan siang bersama di dalam apartemen Langit yang sebelumnya ia pesan melalui jasa pesan makanan.
Aku heran, kenapa aku hapal banget doa begituan🙄