
Ayumna menatap Jesicka dengan bibir yang cemberut. Membuat Jesicka tidak tahan dan segera menjawab pertanyaan Ayumna.
"Papa dan Mama merestui hubungan kita, Ay. Kamu tenang saja," jawab Jesicka dengan mata yang berbinar bahagia.
"Syukur deh, kalo gitu! Tinggal jawab dari tadi aja kok ribet banget!" ucap Ayumna ketus karena masih kesal dengan dua sejoli yang kompak mengerjai dirinya.
"Lagian sih, jiwa ingin tahumu terlalu besar. Eh, kamu nggak apa-apa emang, belama-lama di sini? Nggak bakalan marah tuh, perjaka tua? Apa ... Jangan-jangan sekarang sudah tidak perjaka lagi?" goda Jesicka pada Ayumna sembari menaik turunkan alisnya.
"Apa sih! Ya sudah, aku mau berkunjung ke rumah Om Hendra dulu."
Ayumna segera pamit pada Jesicka. Karena tidak mau jika sahabatnya itu melihat wajahnya yang blushing karena malu dengan kata-kata yang di ucapkan oleh Jesicka.
Boro-boro mau melakukan itu. Berada di dekat Langit saja sudah membuatnya kehilangan oksigen. Apalagi jika harus bergelut di atas ranjang. Bila-bila ia mati terkena serangan jantung mendadak. Iisshh apa sih, yang aku pikirkan. Nih otak kayaknya minta di laundry deh! Ayumna menggeleng kepala agar pikiran kotornya segera hempas dari kepalanya.
Sebelum sampai di parkiran rumah sakit, ia sempat melihat Gio yang sedang berbincang di lorong sebelah parkiran dengan seseorang perempuan. Mereka terlihat akrab.
Ada desiran rasa sakit yang menyerang di hatinya. Namun, segera ia tepis rasa itu meskipun sia-sia. Tidak dapat di pungkiri, melupakan seseorang yang kita cintai itu sungguh menyakitkan. Dan lebih baik terkena tusukan benda tajam di tubuhnya. Meskipun luka dan sakit masih bisa di obati. Sedangkan, bila hati yang terluka tidak akan ada penawarnya. Kecuali cinta yang baru.
Ayumna membuka pintu mobil lalu duduk di bagian kemudinnya. Sebelum menyalakan mesin, ia sempatkan untuk mengirim pesan pada Langit, suaminya.
Ayumna
Dan pesan itupun terkirim. Ayumna tidak langsung menghidupkan mesin mobilnya. Ia menunggu balasan dari Langit. Ayumna sadar, kini dirinya sudah bersuami. Hal yang paling wajib di lakukan saat hendak keluar adalah meminta ijin dari suaminya terlebih dulu. Dan Ayumna berusaha akan menerapkan itu pada dirinya. Karena sekarang yang bertanggung jawab atas dirinya adalah Langit.
Tidak sampai lima menit Ayumna menunggu, ia menerima telpon dari Langit. Dengan sigap Ayumna menggeser tombol warna hijau ke arah kanan.
"Hallo, Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam. Kamu di mana, Ay?" tanya Langit dengan nada yang sangat lembut.
"Aku masih di rumah sakit, Mas. Oh, ya! Apa boleh aku pergi mengunjungi Om Hendra dan Tante Mayang?" tanya Ayumna dengan antusias.
Langit tidak langsung menjawab. Ia terdiam sejenak lalu membuka suaranya.
"Kamu diam di tempatmu sekarang. Aku akan menjemputmu, kita berkunjung bersama ke kediaman Om Hendra."
Setelah mengatakan itu, langit menutup sambungan telponnya. Lalu menatap Jesselyn yang masih memainkan perannya. Posisinya sekarang sedang duduk bersimpuh di depan Langit.
Ya, kini Langit berada di sebuah restoran yang terletak di lantai dua hotel Abinaya. Tempat tinggal Jesselyn selama ini. Setelah pergi meninggalkan rumah sakit Mahardika tadi, Langit mengemudikan mobilnya menuju hotel tempat Jesselyn menginap. Ia ingin segera menyelesaikan masalahnya dengan Jesselyn.
Ingat ya gaes, like di setiap partnya. Karena like dari kalian, merupakan anugrah bagiku😚