
Franky terkejut, karena Ayumna sudah tidak ada di dalam cafe tersebut. Padahal lima belas menit yang lalu ia masih melihat istri atasannya itu berbincang hangat dengan temannya.
Franky menghampiri meja Shinta dan bertanya keberadaan Ayumna. Shinta menjawab Ayumna sudah pergi dari sepuluh menit yang lalu. Shit! Dia menyadari keberadaanku. Umpat Franky karena terkecoh oleh seorang wanita.
Langit mendengar semua pembicaraan Franky dengan seseorang di balik telepon. Ia merasa geram dan sangat marah karena ketidakbecusan Franky dalam menjaga istri tersayangnya.
"Cepat temukan Ayumna dan pastikan dia tidak apa-apa!" perintah Langit. Ia mendesah kesal. Bagaimana Franky bisa teledor menjaga Ayumna.
Setelah mengucapkan perintahnya pada Franky, Langit memutuskan sambungan telepon mereka.
"Kamu sebenarnya di mana, Sayang?" lirih Langit menatap foto Ayumna di layar depan ponsel miliknya dengan raut muka yang sangat khawatir.
Sementara seseorang yang berada di ruangan yang sama dengan Langit, tersenyum tipis. Ia harus memanfaatkan situasi seperti saat ini. Situasi yang sangat menguntungkan baginya.
"Maaf, Lang, jika karena permintaanku membuatmu salah paham dengan istrimu." ucap seorang wanita yang di gosipkan bersama Langit tersebut.
Langit mendengus kesal menatap Jesselyn, mantan kekasihnya itu. Ia tadi hanya menolong Jesselyn karena dia jatuh tepat di depan Langit berdiri.
Waktu itu, Langit bersama Samuel serta manajer resort yang terletak di pulau Dewata itu sedang mengelilingi resort tersebut. Rencananya Langit membeli resort itu untuk Ayumna. Sebagai hadiah ulang tahun istrinya yang jatuh pada bulan Juni. Tepatnya kurang satu bulan lagi.
Jesselyn melihat Langit di resort tersebut, yang kebetulan dirinya sedang berlibur di pulai itu dengan para teman sosialitanya. Jesselyn melangkah mendekat ke arah Langit berada. Dirasa sudah cukup dekat, Jesselyn berpura-pura jatuh karena tertabrak oleh seseorang yang lewat. Padahal dirinyalah yang memang dengan sengaja melakukan itu.
"Apa yang kau rencanakan!" sarkas Langit pada Jesselyn yang saat ini duduk di sofa depannya.
"Apa maksudmu, Lang? Apa kau menuduh aku yang melakukannya?" tanya Jesselyn dengan mata yang berbinar ingin menangis.
"Jangan mengelak Jess! Aku tau, kau yang merencanakan semua ini agar hubunganku dengan istriku merenggang, bukan?" Langit tersenyum sinis pada Jesselyn. Ia tak menyangka, wanita yang dulu pernah sangat ia cintai bisa berperilaku seperti itu. Sangat licik.
"Meskipun aku memang menginginkan itu terjadi, tapi aku bukan yang menyebarkan berita ini! Apa kau lupa profesi ku sebagai apa?" tanya Jesselyn menatap Langit begitu sinis. Ia tidak terima jika dituduh seperti ini. "Kalau kau lupa, aku seorang model yang terkenal, Lang! Dan kau pasti tahu, di setiap pergerakan tubuhku, pasti ada sebuah kamera yang selalu siap membidikku di manapun aku berada." lanjut Jesselyn dengan begitu sombong.
Langit tidak memungkiri itu. Ia kemudian merutuki kebodohannya kenapa menolong Jesselyn waktu itu. Langit melupakan sebuah fakta kalau Jesselyn adalah seorang publik figur, yang sangat diburu oleh wartawan untuk dijadikan sebuah konsumsi publik nantinya.
"Siapkan jet pribadiku!" perintah Langit pada Samuel yang juga berada di ruangan yang sama.
Samuel mengangguk kemudian menghubungi bawahannya untuk menyiapkan semuanya. Ia tahu kemana tujuan tuannya kali ini.
"Apa kau mau pulang ke Jakarta? Boleh aku ikut pulang bersamamu?" dengan tidak tahu malunya Jesselyn berkata seperti itu. Membuat Langit semakin geram pada wanita yang ada di hadapannya sekarang.
Ingat! like setelah kalian baca cerita ini😌