
"Ay... Kamu kenapa?" tanya orang itu dengan raut muka yang sangat khawatir.
Dengan langkah penuh gelisah karena melihat Ayumna menangis, Langit segera meraih tubuh istrinya dan mencoba menenangkannya.
"Ay...tenang dulu. Coba tarik nafas dalam-dalam...," Ayumna pun mengikuti intruksi dari Langit. "Lalu keluarkan," lanjut Langit.
Dan Ayumna melakukan itu beberapa kali hingga emosinya stabil. Kemudian Langit menarik Ayumna kembali ke pelukannya. Dan Ayumna merasa nyaman di pelukan sang suami. Emosinya pun perlahan sirna.
Ayumna menikmati pelukan dari Langit. Seolah melupakan persoalan yang selama ini mereka hadapi. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Ayumna merasa ada yang aneh di area perutnya. Ia mencoba menahan.
Lima detik.
Sepuluh detik.
Lima belas detik.
Dua puluh detik.
Satu menit.
Dan... Ayumna tidak bisa menahan lagi gejolak di dalam perutnya. Ia segera melepas diri dari Langit dan langsung berlari menuju wastafel yang ada di dapur. Karena wastafel yang ada di dapur lah yang lebih dekat jaraknya.
Semua orang memandang khawatir ke arah Ayumna. Terutama Langit yang melihat Ayumna muntah-muntah di wastafel tersebut.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Langit dengan lembut mencoba mendekat ke tempat Ayumna berada.
Namun, belum sempat Langit mendekat, Ayumna segera mengibaskan tangannya ke arah Langit.
"Stop, Mas!" seru Ayumna. Dan itu berhasil membuat Langit menghentikan langkahnya dengan raut muka gelisah.
"Ada apa, Sayang?" tanya Langit tidak mengerti. "Aku mengkhawatirkan mu." Langit mencoba melangkah lebih dekat lagi.
Namun belum sempat ia mengayungkan kakinya, Bryan segera mencekal tangan Langit. Langit menoleh ke arah Bryan ingin protes. Bryan hanya menggeleng dan menyuruh Langit untuk diam menuruti kemauan Ayumna.
Bryan dan Casandra mengerti penyebab sikap Ayumna yang seperti ini. Karena mereka berdua lah yang mendengar nasehat-nasehat dari dokter yang memeriksa Ayumna beberapa hari lalu.
Sedangkan Langit tidak mengerti dengan sikap Ayumna. Ia mengira Ayumna masih marah terhadapnya.
"Sayang... Aku minta maaf. Kejadian yang sebenarnya itu tidak seperti yang terlihat difoto. Aku hanya reflek menolongnya saat dia akan jatuh di dekatku. Nggak ada maksud lain, Sayang. Kamu bisa tanyakan itu pada Samuel." Langit mencoba menjelaskan dengan hati-hati. Takut-takut jika Ayumna bertambah marah padanya.
Perut Ayumna kembali bergejolak, saat hidungnya mencium aroma yang keluar dari tubuh Langit. Ayumna kembali muntah-muntah hingga badannya terasa lemas. Casandra yang berada lebih dekat dari Ayumna, mencoba memegang tubuh Ayumna yang terlihat sangat lemas.
"Mas... Aku mohon. Sebaiknya Mas jangan mendekat. Aku tidak tahan dengan aroma tubuhmu." ucap Ayumna dengan wajah yang sedikit pucat. Karena semua makanan yang ia makan, keluar semua hingga menyisakan cairan yang terasa pait di lidah.
Dikata seperti itu, Langit kemudian mencium tubuhnya sendiri. Ia merasa tidak ada yang salah dan tidak ada yang bau dari tubuhnya. Sangat wangi malah.
Marko menahan tawanya saat Langit melakukan hal konyol tersebut. Marko mengenal Langit sebagai pengusaha muda yang terpandang. Dan sangatlah konyol jika ada yang tau seorang Langit dikatakan bau oleh istrinya sendiri.
"Mas tidak bau, Sayang." ucap Langit lembut. Dan dia tetap melangkahkan kakinya mendekati sang istri. Karena tidak tahan melihat wajah Ayumna pucat seperti itu.
Casandra yang peka dengan keadaan Ayumna, mencoba menghentikan langkah Langit.
"Maaf, Tuan. Sebaiknya anda berhenti di sana dan menjaga jarak dengan Ayumna." ucap Casandra dengan sopan.
"Dia istriku!" gertak Langit pada Casandra. Langit tipikal orang yang tidak mau diatur oleh orang lain. Termasuk Casandra yang baginya orang asing.
Bryan sangat geram melihat sikap adik ipar sekaligus sahabatnya itu, lalu ia mendekati Langit dan memukul kepala Langit agak keras.
"Anak lo nggak mau dekat sama lo, bege!" kesal Bryan pada Langit yang tidak mau mendengar ucapan orang lain.
"Hah! Anak?" Langit nampak terkejut tetapi matanya menampakkan sinar bahagia.
Alhamdulillah ya Mas Langit. Kamu akan jadi Daddy ter ter pokoknya😂