Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Menyebalkan



Setelah menempuh waktu selama kurang lebih satu jam, kini taxi yang Ayumna tumpangi sampai di Desire Club. Sebuah Club yang cukup besar dan sangat ramai.


"Terimakasih, Pak." Ayumna memberi lima lembar uang berwarna merah pada sang sopir dengan bibir naik ke atas.


"Kembaliannya, Nona!" teriak sang sopir karena Ayumna sudah melangkah menjauh dari mobilnya.


"Untuk anak Bapak!" teriak Ayumna sambil melambaikan tangannya ke arah sang sopir. Sopir itu mengangguk dengan penuh senyuman.


Ayumna sampai di Desire Club tepat pukul tujuh malam. Suara dentuman musik yang sangat keras terdengar dari depan Club tersebut.


Ayumna melangkah masuk ke dalam Club seraya membawa tas, yang berisi beberapa pakaian serta berkas-berkas penting miliknya.


"Hai, Mark!" sapa Ayumna pada Marko yang sedang meracik minuman untuk pelanggan.


Marko menoleh ke asal suara. Matanya membola, begitu terkejut mendapati Ayumna yang tengah duduk di kursi depannya dengan memamerkan deretan gigi putih yang dimiliki dokter seksi tersebut.


"Biasa aja kelles! Nggak usah gitu ngeliatnya," protes Ayumna karena sampai saat ini Marko hanya bengong saja menatap dirinya.


"Aku nggak sedang mabuk, kan?" Marko mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia sampai menampar pipinya pelan untuk menyadarkan dirinya jika saja ini hanya ilusi semata.


"Sialan! Kayak liat hantu aja." kesal Ayumna. Kemudian melempar Marko kacang kulit yang ada di atas meja bartender itu.


Marko tertawa saat melihat kekesalan di wajah teman sekaligus bosnya tersebut. Sudah lama sekali mereka tidak bertemu. Tepatnya Ayumna yang tidak pernah berkunjung ke Desire Club semenjak menjadi seorang dokter.


"Ada angin apa, yang membawa dokter seksi ini hingga datang jauh-jauh ke sini?" tanya Marko seraya menaik-naikkan kedua alisnya. Tidak lupa dengan senyuman jahilnya pada Ayumna.


"Sialan Lo!" umpat Ayumna.


Marko semakin terkekeh mendengar umpatan Ayumna. Marko begitu merindukan sosok Ayumna yang begitu bar-bar, sebelum menjadi seorang dokter.


"Ada masalah apa?" tanya Marko dengan wajah yang serius.


"Apa dia sering ke sini?" tanya Ayumna dengan binar mata penuh kerinduan.


Marko tahu betul siapa yang sedang di tanyakan oleh temannya itu. Karena Marko hidup dengan mereka dari mereka kecil. Hingga suatu kejadian yang memisahkan mereka, lalu mempertemukan mereka hingga saat ini.


"Dia selalu datang akhir pekan. Berharap, kamu juga datang." jawab Marko.


Ayumna menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lalu menempelkan kepalanya di atas meja bartender. Seolah ingin menaruh sejenak beban hidup yang selama ini ia jalani.


"Apa aku harus memaafkannya? Setelah apa yang ia perbuat padaku, Mark?" tak terasa air matanya keluar membasahi pipi mulusnya.


Marko yang melihat itu, merasa kasihan kepada Ayumna. Mereka berdua adalah temannya sedari kecil. Meski perbedaan umurnya dengan Ayumna sangat jauh, Marko selalu berusaha menjadi teman sekaligus kakak yang siap menjadi curahan hati Ayumna.


"Ikuti lah apa kata hatimu." hanya itu yang mampu Marko ucapkan.


"Bahkan sekarang orang terdekat ku mengkhianatiku, Mark." Ayumna semakin terisak dalam tangisnya. Tak memperdulikan ada beberapa pasang mata yang memperhatikannya.


Marko tak kuasa melihat Ayumna seperti itu. Kemudian yang dilakukannya adalah memutar langkahnya menghampiri Ayumna.


"Jangan nangis di sini. Nanti dikira aku berbuat jahat padamu. Meskipun aku juga mau berbuat mesum padamu," canda Marko yang mendapat sebuah cubitan keras di lengannya.


"Menyebalkan!" Marko merangkul bahu Ayumna dan membawa dokter seksi itu masuk lebih dalam lagi di Club tersebut.


Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan perasaan yang sesak di dada.


"Maaf," ucap seseorang itu.


Jangan lupa, like, komen dan kasih hadiah😁