Touch Me, Hubby

Touch Me, Hubby
Asal Mula Bar Ayumna



Setelah makan siang, Ayumna dan Langit berpamitan kepada mereka untuk pulang ke rumah mereka. Di dalam mobil, Langit baru sadar ingin menanyakan asal usul bagaimana istrinya itu bisa memiliki sebuah bar. Padahal dia seorang dokter.


"Sayang," panggil Langit pelan tanpa menoleh ke arah Ayumna. Karena matanya fokus pada kemudinya.


"Apa, Mas?" jawab Ayumna sambil memasukkan makanan ringan ke dalam mulutnya. Sekarang ini, Ayumna suka sekali mengemil. Entah itu snack atau makanan ringan buatan sendiri.


"Boleh, Mas tanya?" kata Langit takut jika itu akan membuat Ayumna tidak nyaman.


"Apa sih, Mas?" tanya Ayumna dengan mulut yang penuh oleh makanan. Semenjak hamil, Ayumna selalu merasa tidak sabaran akan suatu hal. Dan emosinya cepat sekali berubah-rubah.


Langit memikirkan kembali pertanyaan yang akan ia pertanyakan pada sang istri. Namun, jika tidak dia tanyakan itu akan mengganggu pikirannya. Dan rasa penasaran nya lebih dominan.


"Tapi kamu jangan marah dulu, ya?" kata Langit mengingat akan emosi Ayumna yang tidak stabil.


"Cepetan, iihh!!" Ayumna semakin tidak sabar.


Tuh, kan! Belum ditanya aja udah ngegas. Keluh Langit yang hanya mampu dia ucapkan di dalam hati. Karena jika dia ucapkan secara langsung, konsekuensi yang dia dapat akan sangat merugikan dirinya sendiri. Dan Langit tidak ingin mengambil konsekuensi tersebut.


"Bagaimana bisa kamu memiliki sebuah bar, Sayang?" tanya Langit pelan dan penuh kehatian.


Ayumna nampak berfikir sejenak. Dia mengingat kapan pastinya memiliki Bar tersebut. Hingga suatu ingatan yang sudah sangat lama itu muncul.


"Beli dari teman." jawab Ayumna singkat, setelah mengingat seseorang yang sangat dia rindukan. Merek terakhir bertemu beberapa tahun lalu.


"Kok bisa?" tanya Langit sedikit kaget. Untuk apa istrinya itu beli sebuah bar. "Maksudku tidak adakah cerita dibalik semua itu?" Langit meralat pertanyaannya. Takut jika istrinya yang sedang hamil muda tersebut salah presepsi lagi tentang pertanyaannya.


"Mas mau dengar ceritanya, nggak?" tanya Ayumna sangat antusias. Raut wajahnya berubah manis, sangat menggemaskan sekali bagi Langit. Tidak seperti sebelumnya yang terlihat garang semenjak hamil.


"Boleh. Mas mau dengar." kata Langit lembut lalu mencium punggung tangan Ayumna. Membuat wajah Ayumna tersipu malu.


"Waktu itu aku beli dari seorang teman yang membutuhkan biaya untuk pengobatan anakny yang masih kecil," Lalu Ayumna menceritakan semua awal muka dia bertemu dengan Johan. Pemilik bar sebelum Ayumna.


Waktu itu, Sherly di rawat di rumah sakit prayoga selama satu bulan penuh. Dan tentu saja itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.


Johan yang tidak punya apa-apa lagi, kemudian menawarkan bar pada Ayumna yang kebetulan sangat dekat dengan Sherly. Karena Ayumna selalu mengajak ngobrol gadis kecil tersebut.


Awalnya Ayumna hanya memberikan uang itu secara cuma-cuma. Namun Johan menolak dengan tegas. Dia berkata bahwa mempunyai sebuah bar yang terletak di pinggiran kota.


Ayumna pun langsung menyetujuinya. Dan tetap memberikan hak penuh pada Johan untuk mengelola Bar tersebut. Namun, beberapa tahun lalu Johan pamit pulang ke negaranya, untuk memperkenalkan Sherly pada keluarga besarnya. Dan ternyata Sherly adalah anak dari hubungan terlarang Johan dengan pelanggan bar miliknya.


Kemudian Ayumna menyuruh Marko, yang notabennya adalah orang yang paling dia percaya saat itu. Dan Marko dengan senang hati untuk menjalankan bisnis tersebut.


"Lalu, kapan kamu terakhir bertemu dengan Johan?" tanya Langit penasaran dengan sosok Johan.


"Sudah tiga tahun yang lalu." jawab Ayumna seraya mengangkat wajahnya menghadap ke atas.


"Apa kamu merindukannya?" tanya Langit karena melihat ada genangan air di ujung mata sang istri.


"Aku hanya merindukan Sherly. Dia gadis yang malang. Lahir ke dunia tanpa diinginkan oleh Ibunya sendiri. Berbagai cara telah Johan lakukan untuk menyelamatkan Sherly. Karena Ibunya Sherly berusaha berkali-kali menggugurkan kandungannya." ucap Ayumna. Tangannya tergerak mengusap lembut perutnya sendiri.


"Mama akan selalu menyayangimu, Sayang." lirih Ayumna mengusap perutnya sendiri. Langit tersenyum bahagia melihat itu. Dia akan seperti Johan, yang berusaha mati-matian melindungi keluarga kecilnya dari musuh orang tua Ayumna.


Jangan lupa like, vote, serta kasih gift. Okey😉