
"Ah, i-itu...," ucap Tanisha gugup. Sementara Devan semakin mendekat kearahnya.
Devan semakin mendekat kearah Tanisha. Melupakan rasa sakit di dadanya. Yang hanya ingin ia lakukan sekarang adalah membungkam mulut gadis yang berani menertawakan statusnya.
Bukan karena Devan tidak tampan, ataupun tidak laku. Devan justru sangat laku dikalangan para wanita kelas atas. Mungkin karena Devan seorang pengacara muda yang handal dan juga tampan, tentunya.
Banyak dari kliennya yang menjodohkan Devan dengan anaknya, atau bahkan kliennya sendiri yang menawarkan diri mereka hanya untuk hubungan semalam saja dengan Devan.
"Apa yang kau tertawakan gadis kecil? Apa itu lucu?" tanya Devan penuh intimidasi.
Tanisha diam membeku di tempatnya. Ia bahkan tidak berani menatap kearah Devan.
Devan menyeringai saat melihat raut ketakutan pada wajah gadis kecilnya itu. Ia semakin mengikis jarak diantara dirinya dan Tanisha.
"Kau jangan keterlaluan kalau ingin posisimu aman, Dev...!" ucap Ayumna tangannya seraya menarik telinga Devan.
"Aakhh... Sakit, Na! Aku ini seorang pasien, loh! Bagaimana bisa ada seorang dokter yang menganiaya pasiennya sendiri." protes Devan.
Ayumna semakin menekan tangannya pada telinga Devan. Ia tidak habis pikir dengan sahabat suaminya ini. Bagaimana bisa disaat seperti ini, Devan masih akan memanfaatkan waktu untuk mengambil keuntungan pada gadis di hadapannya itu.
"Jangan banyak protes! Cepat duduk di kursimu. Lalu kita segera melakukan pengobatan pada lukamu yang terbuka," intruksi Ayumna tidak bisa di ganggu gugat. "Atau kau memang memanfaatkan lukamu ini untuk memeras gadis ini, Dev?" tebak Ayumna tepat sasaran.
Devan hanya meringis saat Ayumna menebak seperti itu. Ayumna menggelengkan kepala. Sementara Tanisha merasa geram karena sedari tadi dipermainkan oleh Lajom tersebut.
"Ya sudah Kak, karena Kakak ini sudah diobati dan ternyata kenalan dokter. Saya mohon pamit." ucap Tanisha dengan sopan pada Ayumna yang tengah mengobati luka Devan.
"Terimakasih ya?" Ayumna menoleh lalu tersenyum ramah pada Tanisha.
Kemudian Tanisha melangkahkan kakinya menuju pintu keluar yang terdapat di sebelah kanan ruangan tersebut. Sebelum sampai di dekat pintu, ada suara yang tengah menahan dirinya.
"Berhenti!" pekik Devan.
Setelah Ayumna selesai memasang kasa dan plester, tentu saja yang dilapisi berbagai obat. Devan beranjak dari tidurnya lalu melangkah menyusul Tanisha yang hampir sampai di pintu.
Ayumna terkejut dengan tindakan Devan. Ia hanya akan mengamati tingkah dua anak manusia itu saat ini.
"Devan." ucap Devan seraya mengulurkan tangannya pada Tanisha.
Tanisha tak langsung menyambut uluran tangan Devan. Ia menatap tangan itu lalu menganggukkan kepalanya tanpa ada niatan menyambut. Setelah itu, Tanisha langsung berbalik arah dan keluar dari ruangan tersebut.
Hal itu membuat Devan mengepalkan tangannya. Ia merasa direndahkan oleh gadis kecilnya itu. Bisa-bisanya kau menolak uluran tanganku. Kau salah memilih lawan, gadis kecil. Geram Devan dalam hati.
Seminggu telah berlalu dari kejadian itu. Kini Devan mendapat tugas dari Langit untuk menyelidiki seseorang. Dan Devan sekarang berada diluar negri hanya untuk mengintai orang itu.
Sementara di tempat lain, Langit sedang berpacu dalam menggapai puncaknya. Suara erangan serta desahan bercampur menjadi satu.
"Mas, turun!" kesal Ayumna namun tak di gubris oleh Langit. Langit masih sibuk memainkan miliknya di dalam tubuh Ayumna dengan tempo lambat.
"Kenapa, Sayang? Bukankah begini lebih terasa?" goda Langit dengan tersenyum miring.
"Aku capek, Mas! Ini sudah yang ke berapa kita melakukannya? Bahkan kamu cuma memberi aku jeda beberapa menit dari semalem." kesal Ayumna pada Langit karena suaminya itu tidak kunjung melepasnya.
Jangan lupa like nya😘