
"Aakhh...!" pekik Devan semakin keras saat tangan gadis cantik yang menolong dirinya itu menekan tepat di bagian luka Devan.
Gadis itu kaget, dia hanya mendorong dada Devan dengan pelan. Tapi kenapa sampai Devan bisa berteriak seperti itu. Apa dirinya terlalu kuat saat mendorong tangannya? Tanisha rasa tidak.
Tanisha semakin panik saat melihat darah dari balik kemeja yang Devan kenakan.
"Kakak kenapa? Aku hanya mendorong tubuh Kakak dengan pelan. Kenapa bisa sampai mengeluarkan darah seperti itu?" Tanisha panik lalu mencoba membantu Devan berdiri dengan susah payah. Karena perbedaan ukuran badan mereka sangatlah jauh.
Devan tersenyum tipis, entah mengapa ia tidak akan menyiakan kesempatan yang datang padanya. Devan merasa tidak akan melepas gadis ini dengan mudah. Devan tak tau pasti dengan jalan pikirannya. Yang sekarang ia pikirkan, jangan sampai gadis ini menjauh dari jarak pandangnya.
Konyol memang. Tapi begitulah Devan jika sudah merasa nyaman atau penasaran dengan seseorang. Dan lelaki mana yang tidak tertarik saat melihat kecantikan yang Tanisha miliki.
"Kamu harus bertanggungjawab." ucap Devan lirih.
Devan menaruh telapak tangan kanannya di dada seraya bi irnya merintih kesakitan. Dan itu semakin membuat Tanisha panik. Ia tidak tau harus berbuat apa. Ia mencoba menenangkan dirinya lalu berfikir tindakan apa yang harus ia ambil.
"Baikalah, aku akan bawa Kakak ke klinik dekat cafe ini. Aku akan ijin ke bosku terlebih dahulu." dengan pelan Tanisha mendudukkan Devan di kursinya kembali. Lalu Tanisha berjalan ke arah dalam cafe tersebut.
Tidak lama kemudian, Tanisha datang dengan pakaian kasualnya. Di lengkapi tas slempang yang menyampir di pundaknya. Dan itu membuat Tanisha berlipat-lipat kali lebih cantik daripada tadi.
Untuk yang kesekian kali Devan terpana dengan gadis muda yang berjalan kearah nya. Entah kenapa ia masih ingin berlama-lama berada dekat dengan gadis yang belum ia ketahui namanya itu.
"Ayo, Kak!" Tanisha menggandeng lengan Devan membantu lelaki bertubuh lebih tinggi dan besar darinya itu untuk berjalan.
Devan tersenyum geli dengan tingkahnya. Ia merasa sangat konyol melakukan trik ini pada seorang gadis yang terlihat sangat muda di bawahnya.
Padahal kalau dilihat, tubuh Tanisha tidaklah sebanding dengan tubuh Ayumna. Yang mempunyai ukuran bentuk tubuh yang proposional. Bahkan terlihat lebih montok di bagian yang memang seharusnya menonjol.
Mereka berjalan keluar dari cafe tersebut. Tanisha bingung, apa ia akan mengajak Devan untuk menunggu taxi di pinggir jalan, atau memanggil taxi online saja. Namun jika menunggu taxi online, akan lama datangnya.
"Kakak duduk di sini dulu ya? Aku akan mencari taxi di depan sana." pinta Tanisha lalu melangkahkan kakinya.
Belum sempat Tanisha melangkah, tangannya dicekal oleh Devan. Tanisha pun membalikkan tubuhnya, menatap heran pada Devan.
"Ada apa, Kak? Apa masih terasa sakit? Kakak tahan dulu ya. Aku akan segera mendapatkan taxi dan kita pergi ke klinik." Tanisha merasa panik dengan melemparkan berbagai macam pertanyaan. Dan itu membuat Devan terkekeh.
Tanisha mengernyitkan dahinya. Perasaan tidak ada yang lucu deh! Tapi kenapa Kakak ini tertawa? Gumam Tanisha dalam hati.
"Kamu tidak perlu ke depan. Karena aku sudah memanggil taxi online untuk kita. Dan kamu jangan memperlihatkan ekspresi wajahmu yang seperti itu di hadapan lelaki asing, jika tidak ingin mereka menerkammu saat itu juga." Devan gemas dengan mimik wajah Tanisha. Lalu mencubit ujung hidung mancung milik gadis itu hingga sedikit memerah.
"Maksud Kakak, menerkamku yang seperti bagaimana?" tanya Tanisha berpura-pura tidak mengerti. Namun hal itu justru merugikan dirinya.
Jangan lupa like, vote serta kasih bunga😘