
Empat puluh menit kemudian, mobil yang di tumpangi Langit sampai di daerah yang di tuju. Saat melewati jalan menuju markas yang berada di atas bukit, Langit maupun Franky di kejutkan dengan kecelakaan yang di sengaja di depan mata mereka.
Mobil Ranger Over berwarna putih yang berada di depannya sepuluh meter itu, tiba-tiba hilang keseimbangan saat ada mobil berjenis Alphard berwarna hitam datang dari arah yang berlawanan. Mobil berjenis Alphard tersebut, melaju dengan sangat kencang saat meliwati tikungan tajam. Dan hampir menabrak bagian depan mobil Ranger Over.
Entah panik atau bagaimana, si sopir mobil Ranger Over tersebut membanting setirnya ke sisi kiri dengan cepat. Dan naasnya, di sisi kiri jalan tersebut adalah jurang yang cukup curam.
Terdengar jelas di telinga Langit saat itu. Suara teriakan seoarang perempuan yang meneriakkan nama seseorang. Lantas dengan sigap, Langit menyuruh Franky berhenti di tempat kejadian.
Namun, Langit kalah cepat dengan waktu. Mobil Ranger Over tersebut lebih dulu terjun bebas ke dasar jurang. Dan pada saat bersamaan, ia menerima telpon dari bawahannya.
"Ya."
"Maaf, Tuan. Mobil yang di kendarai Simon untuk membawa tawanan kita mengalami kecelakaan. Mobil yang mereka tumpangi jatuh ke dasar jurang, Tuan," lapor seseorang dari seberang telpon. Terdengar suara orang tersebut bergetar takut.
"Apa mobil yang di kendarai Simon, jenis Ranger Over warna putih?" selidik Langit.
"Iya, Tuan!" sahut orang yang berbicara pada Langit di balik telpon itu.
Shit!
Langit keluar dari mobil, lalu menuju tempat kejadian. Sebelumnya ia sudah menyuruh anak buahnya untuk mengikuti mobil berjenis Alphard warna hitam tadi. Ia merasa ada yang tidak beres dengan peristiwa ini.
"Cepat kirim orang ke sini, secepat mungkin!" sarkas Langit saat telponnya di jawab. "Dan juga hubungi Devan untuk segera menuju tempat kejadian secepat mungkin! Blok semua jalan agar tidak ada polisi yang mendekat. Kita selesaikan masalah ini dengan cara kita!" ujar Langit menyeringai. Ia bukan pemuda yang bodoh, yang mudah sekali di tipu.
Kita lihat saja, apa kau bisa melawanku! Langit menyeringai penuh arti. Ia berjalan dengan tenang menuju pinggiran pembatas jalan. Langit melihat ke bawah, tidak ada tanda-tanda mobil meledak. Ternyata, kau tidak bodoh, Simon. Puji Langit pada teman duelnya tersebut.
Sepuluh menit kemudian, bawahan Langit datang dengan jumlah yang cukup banyak. Badan tegap, tinggi dan juga besar serta wajah mereka yang tidak ramah. Di tambah lagi dengan pakaian berwarna hitam semua, membuat mereka terlihat menyeramkan.
Mereka serempak menunduk hormat pada Langit. Lalu melaksanakan tugas mereka masing-masing setelahendapat anggukan dari Langit. Dengan lincah, mereka menuruni area jurang tersebut dengan menggunakan tali. Langit pun juga ikut turun ke bawah, meskipun ia berdebat dulu dengan Franky.
"Maaf, Tuan. Saya tidak akan membiarkan Tuan untuk turun tangan langsung. Biar kami yang melaksanakan tugas ini," cegah Franky dengan sopan. Meskipun Langit usianya lebih muda darinya, namun bagaimanapun Langit tetaplah bosnya sekarang.
"Ini namanya totalitas dalam mengemban suatu jabatan. Aku bisa memberi contoh langsung pada bawahanku. Aku nggak mau duduk manis menunggu hasil, sementara para bawahanku memperraruhkan nyawanya untuk melaksanakan perintah ku. Kamu tahu, aku tidak ingin mengecewakan Om Dirga."
Langit tetap bersikeukuh melakukan niatnya. Franky kagum dengan jiwa pemimpin yang di miliki oleh pemuda yang baru genap berusia dua puluh tahun itu.Tuan Dirga tidak salah memilih keponakannya untuk menjadi pemimpin selanjutnya. Aku akan selalu berada di samping anak ini. Kagum Franky terhadap Langit.
Ingat ya manteman, like di setiap part😘