
Selang beberapa menit, mereka sampai di rumah sakit Prayoga dengan menggunakan taxi online yang sebelumnya Devan pesan.
Tanisha merasa kesal karena Devan tidak mau berobat di klinik dekat cafe Ex Pacar tadi. Devan malah lebih memilih berputar arah menuju rumah sakit Prayoga yang jaraknya lumayan cukup jauh dari tempat awal mereka bertemu tadi.
Setelah mendaftar di resepsionis, Tanisha membantu Devan duduk di kursi roda yang telah disediakan untuk pasien.
Dan yang paling membuat Tanisha jengkel setengah mati pada pria asing itu, disaat Devan menolak bantuan dari perawat dan malah menyuruh Tanisha untuk mendorong kursi roda itu menuju ruangan yang disebutkan.
Dengan bibir yang mengerucut, Tanisha mendorong kursi roda yang ditempati Devan. Semua mata yang melihat mereka sedikit iba, terutama saat melihat tubuh kecil gadis itu yang tengah mendorong kursi roda yang ditempati seorang pria yang berbadan besar dan tinggi.
Sementara di samping mereka ada perawat laki-laki yang mengikuti mereka dengan wajah tertekan.
"Kamu nggak ikhlas nolongin aku?" tanya Devan sembari mengangkat wajahnya keatas untuk bisa melihat wajah cantik Tanisha.
"Ikhlas!" ketus Tanisha. Bagaimana dirinya bisa ikhlas jika pria yang tengah ia dorong ini begitu menyebalkan.
Devan terkekeh pelan mendengar jawaban Tanisha. Lalu ia teringat sesuatu sehingga melontarkan sebuah pertanyaan lagi pada gadis yang tengah jengkel karena ulahnya.
"Oh, ya. Siapa namamu?" Devan mendongakkan kepalanya lagi.
Tanisha diam tak langsung menjawab. Ia lebih memilih fokus menatap ke depan. Dan hal itu membuat Devan menahan rasa geramnya. Ingin sekali dirinya benar-benar membungkam bibir gadis itu.
"Apa aku harus membungkam bibir seksi mu itu? Agar kamu benar-benar tidak bisa menjawab pertanyaan dariku?" Devan merasa geram karena Tanisha tak kunjung membuka suaranya. "Kalau memang iya, dengan senang hati akan aku lakukan." Lanjut Devan sambil menarik rem yang terdapat di roda kursi itu.
Tanisha kaget saat Devan menarik rem di atas roda itu. Ia memasang sikap waspada, karena pria asing didepannya ini selalu bertindak semaunya semenjak mereka bertemu di cafe tadi.
"Dev... Apa yang kau lakukan di sini? Apa lukamu terbuka lagi?" tanya seorang perempuan yang terlihat begitu khawatir pada Devan.
Perempuan itu berjalan tergesa menuju tempat Devan dan Tanisha. Ia sedikit mengernyitkan dahinya saat melihat keberadaan Tanisha di belakang Devan.
"Aku tidak apa-apa, Dok. Ini tadi hanya terkena tekanan sedikit." jawab Devan mengusir rasa khawatir istri sahabatnya itu.
"Tapi kenapa bisa sampai keluar darah? Apa kamu berkelahi lagi?" tebak Ayumna. Ya, perempuan yang menghampiri Devan dan Tanisha adalah Ayumna.
"Sudah aku bilang kena tekanan sedikit. Jangan khawatir berlebihan padaku. Jika Langit mengetahuinya, aku beneran jadi penghuni salah satu kamar mayat di sini." ucap Devan.
"Hei, Lajom! Kalau kamu lupa, aku seorang dokter di rumah sakit ini. Jadi hal wajar aku khawatir sama pasienku sendiri!" Ayumna tersulut emosinya karena perkataan konyol Devan.
Sementara Tanisha berusaha menahan ketawanya agar tidak keluar. Namun saat ia teringat sebutan yang dilontarkan dokter cantik itu pada pria menyebalkan ini, membuat Tanisha tidak bisa menahannya sedikit lebih lama.
"Haha Lajom," kikik Tanisha lirih. Namun masih bisa didengar oleh Ayumna dan Devan. "Laki-laki jomblo!" Lanjut Tanisha terbahak-bahak. Ia tak bisa menahannya lagi.
"Apa ada yang lucu?" Devan memicingkan matanya pada Tanisha.
Sedangkan Tanisha yang tertawa langsung terdiam, saat melihat ada kilatan marah di mata Devan.
"Ah, i-itu...," ucap Tanisha gugup. Sementara Devan semakin mendekat kearahnya.
Jangan lupa like nya😘