
"Dan sekarang, giliran Bibi menikmati hari baru Bibi sebagai narapidana." kata Ayumna membuat Eva takut saat mendengar kata penjara. Dia tidak mau hidup terkurung di dalam jeruji besi. Lalu Eva dengan kuat mendorong tubuh Ayumna ke belakang.
Ayumna hampir saja jatuh ke lantai, jika saja Samuel tidak dengan cepat meraih tubuh istri majikannya itu.
Untung saja saat Ayumna mengatakan itu, bersamaan dengan Samuel keluar dari kamar mandi. Sehingga tidak sampai membiarkan tubuh Ayumna terbentur ke lantai.
Sedangkan Eva langsung lari keluar ruangan, sebelum Samuel menangkapnya. Dia menabrak Langit yang berdiri di depan pintu hingga jatuh.
Kemudian Eva segera berdiri dan berlari menjauh dari Langit. Namun langkahnya kembali berhenti ketika melihat Arya dan Dirga di ujung lorong.
"Berhenti, Eva!" gertak Arya. Lalu melangkah mendekat ke arah Eva.
"Kenapa? Apa kau takut kehilangan orang yang kau sayangi, Sayang?" tanya Eva tersenyum senang bisa melihat wajah tampan Arya yang begitu ia rindukan selama bertahun-tahun.
"Kesabaranku ada batasnya, Eva. Sebaiknya kau menyerah saja dengan tenang." ucapan Arya begitu menyakiti hati Eva.
"Menyuruhku menyerah dengan tenang katamu? Setelah selama ini apa yang aku perbuat agar bisa bersanding denganmu?" tanya Eva dengan sinis. Dia tersenyum miris mendengar perkataan Arya.
Sedangkan Langit ingin mendekat, namun ditahan oleh Ayumna. Membiarkan mereka menyelesaikan dulu permasalahan yang berawal dari rasa cinta Eva untuk Arya.
"Sudah aku katakan dari dulu, aku tidak bisa menerimamu karena aku mencintai Shakki. Dan juga perbuatanmu yang selalu melenyapkan perempuan yang tengah dekat denganku, itu tidak bisa dimaafkan, Eva. Bagaimana bisa aku hidup dengan perempuan sepertimu? Yang tega membunuh orang lain hanya untuk kebahagiaanmu sendiri." ucap Arya.
Terlihat Adi dan Jesselyn baru datang dengan wajah yang khawatir. Begitu pula dengan Shakki yang sangat mengkhawatirkan keselamatan putrinya.
"Semua ini tidak akan terjadi jika kau menerima cintaku, Arya." ucap Eva menatap Arya. Lalu tatapannya beralih pada Shakki yang tengah menggenggam erat tangan Arya, agar Arya tidak meluapkan emosinya pada kakak iparnya tersebut.
Dirga terkekeh mendengar tuduhan Eva padanya. Lalu dengan santainya dia melangkahkan kakinya ke arah Eva. Dan seketika membuat Eva bersikap waspada. Kemudian Eva mengeluarkan senjata api yang ia simpan di dalam tasnya.
"Jangan mendekat!" pekik Eva. Membuat Dirga semakin terkekeh.
"Kau dan aku berbeda, Eva. Aku memang mencintai Shakki. Bahkan Shakki adalah alasan mengapa aku memilih untuk tidak menikah. Namun aku lebih memilih mencintainya dengan caraku. Dengan aku selalu melindunginya dari ular sepertimu. Dan selalu berada di sampingnya sebagai sahabat. Aku merasa lebih bahagia melihat Shakki bahagia dengan keluarga kecilnya. Tidak sepertimu yang harus memaksakan kehendakmu sendiri." ucap Dirga dengan nada tenang. Tidak gentar sedikitpun meski di todong senjata api oleh Eva.
Sementara semua orang yang berada di lorong itu, bersikap siaga dan bersiap untuk menangkap Eva jika wanita itu mencoba lari.
Devan datang dari arah sebaliknya. Dia melangkah dengan santai ke arah Langit. Di tangannya membawa berkas-berkas bukti kejahatan Eva selama ini. Dan Eva bisa menebak apa isi berkas itu.
"Sebaiknya Bibi menyerah saja, sebelum kami bertindak lebih jauh." ucap Bryan mengejutkan Eva. Bryan datang dari balik pintu di sebelah Eva berdiri.
Eva tertawa keras seperti orang gila. Kemudian dia mengarahkan senjata apinya pada Ayumna dan Langit.
"Hahaha... Kalian pasti akan merasa sangat menderita jika mereka mati, kan?" tanya Eva. "Baiklah, akan aku kabulkan." Eva siap menarik pelatuk dari senjata api tersebut.
"Hentikan, Ma!" teriak Jesselyn berlari ke arah Langit dan Ayumna berada. Namun Eva tidak menghiraukan suara putrinya. Dia tetap menarik pelatuk itu dan....
DOORR!!!
Kabor aaahh🏃♀️ Sebelum di santet online sama Mak Emak🤣